Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 136 MBYDL : EndVer 1 bag.3


__ADS_3

Sudah satu minggu kemelut rumah tangganya berjalan, seolah masih saja tidak ada jalan untuk keluar dari jeratan nestapa yang membuat Rea terpisah dari orang-orang yang sangat dicintainya. Gadis itu terdiam di depan meja riasnya, menatap ponselnya yang tergeletak di hadapannya, Ia berniat menanyakan kabar sang suami yang sedang menghukumnya dengan tegas.


Ragu, tangannya meraih benda berbentuk persegi panjang itu, nampak oleh matanya deretan panggilan tak terjawab dari Axel juga beberapa pesan dari laki-laki itu.


Rea memilih menghubungi suaminya, meminta ijin apakah dia boleh sekedar berpamitan ke hotel tempat ia bekerja? Rea juga menanyakan apakah boleh melihat Embun, karena seminggu ini dia juga diharuskan memendam rindu mendalam ke bayinya itu.


Lama panggilan telponnya tak diangkat oleh Arkan, sampai Rea hampir putus asa dan menjauhkan benda pipih itu dari telinganya sebuah suara yang menggetarkan hatinya menjawab di seberang sana.


"Halo."


Rea memejamkan matanya, menghela napas. Dadanya terasa mendesir melepas rindu hanya dengan mendengar suara laki-laki yang sangat dicintainya itu.


"Ada apa?" tanya Arkan.


"Apa aku boleh ke Sky hotel? aku ingin mengundurkan diri dan sekaligus berpamitan ke rekan kerjaku," ucap Rea.


Lama ia menunggu jawaban, sampai sebuah kalimat lolos dari mulut Arkan "Boleh, silahkan!"


"Apa kamu benar-benar ikhlas mengijinkan?" tanya Rea ragu.


"Iya dan katakan juga pada Axel, aku ingin bertemu kalian berdua." Sebuah nama tempat dan jam Arkan sebutkan, setelahnya laki-laki itu langsung mematikan sambungan telpon sang istri, tanpa memberi kesempatan lagi istrinya untuk berbicara.


Belum sempat Rea meletakkan ponsel miliknya, benda itu kembali bergetar. Kaget, suara isak tangis terdengar dari si penelpon.


"Re, apa kamu dirumah?" Kinanti terisak membuat Rea cemas dengan apa yang sebenarnya terjadi, bukankah pernikahan Ken dan sang kakak tinggal tiga minggu lagi.


"Aku di rumah, apa yang terjadi Ken?" tanya Rea cemas.


***


Selang beberapa jam Ken sampai di rumah Rea, gadis itu langsung menghambur memeluk sang calon adik ipar sambil menangis, melihat calon kakak iparnya seperti itu Rea benar-benar kebingungan, ia memapah Ken untuk duduk di sofa, mengambilkan segelas air memberikannya ke Ken sambil menepuk punggung dokter kandungannya itu.


"Ada apa? Apa ada masalah dengan Elang?" tanya Rea, meskipun dia juga sedang dibelenggu masalah rumah tangganya, ia merasa tidak bisa abai dengan masalah calon kakak ipar sekaligus teman baiknya itu.

__ADS_1


Ken menggelengkan kepalanya, mengusap air matanya, dokter cantik itu terlihat sedikit tenang sekarang.


"Sunny...," ucapnya.


Mendengar nama gadis yang merupakan adik tiri Ken disebut Rea mengernyitkan dahinya, gadis yang mana dulu melirik Arkan dan berkata rela untuk dijadikan istri ke dua suaminya itu entah kenapa membuat Rea merasa benci meski hanya mendengar namanya.


"Kenapa Sunny? Ada apa?"


"Dia kekasih ayahmu!"


Rea terkejut, pikirannya langsung kosong mendengar ucapan Kinanti barusan, bibirnya tersenyum getir mendengar fakta tak masuk akal yang baru saja dia dengar.


"Kekasih ayah? Sunny?" Rea terbata-bata masih menganggap Kinanti bercanda.


Beberapa jam yang lalu


Elang turun dari kamarnya berniat untuk sarapan, alangkah terkejutnya dia melihat calon adik iparnya yang merupakan adik tiri dari Kinanti sedang berada disana dan duduk di meja makan bersama ayahnya, Elang semakin terkejut saat Sunny terlihat begitu mesra ke Farhan, mengambilkan sarapan untuk ayahnya bahkan mengusap ujung bibir Farhan dengan tissue.


Kalut, Ken menampar pipi Sunny di depan calon mertuanya, ia marah mengetahui fakta bahwa ternyata selingkuhan Farhan yang membuat Selomita murka dan meninggalkan Gema begitu saja adalah sang adik tiri. Setelah mencaci maki Sunny, Ken pergi begitu saja, ia merasa malu ke Elang, bahkan gadis itu menghempaskan tangan calon suaminya itu saat berusaha mencegahnya pergi.


"Aku malu Re, bagaimana mungkin adik tiriku menjadi mamaku?" isak Ken.


Rea terlihat syok, dirinya saja masih dipusingkan dengan masalah rumah tangganya dan sekarang masalah baru datang, gadis itu kemudian berpikir bahwa sebenarnya ini bukan masalah besar karena mau dengan siapa ayahnya berhubungan Rea sama sekali tidak peduli.


Namun, karena wanita yang berhubungan dengan Farhan adalah Sunny, gadis yang lebih muda tiga tahun darinya dan lagi merupakan adik tiri Kinanti, Rea seolah tidak bisa tinggal diam. Ia sudah bisa menghakimi bahwa gadis itu hanya mengincar kekayaan sang ayah dari percakapan gadis itu dengan sang mama saat acara lamaran Elang dan Kinanti.


"Tenangkan dirimu! Jangan memikirkan masalah Sunny dulu, sekarang kamu harus fokus ke pernikahanmu dan Elang, aku tidak ingin sampai terjadi sesuatu dengan rencana pernikahan kalian, apalagi hanya karena gadis itu,"pinta Rea.


Kedua gadis yang duduk bersebelahan itu terlihat sama-sama menunduk. Rea kemudian menceritakan tentang permasalahannya sendiri, membuat Kinanti berpikir bahwa masalah yang membuatnya menangis tadi ternyata tak serumit masalah yang sedang dihadapi Rea.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Aku akan menerima apapun yang menjadi keputusan Mas Arkan, dia sudah berkata ingin mengantarkan aku ke rumah ayah, dalam agama ucapan Mas Arkan sudah merupakan talak satu."

__ADS_1


"Re..," Ken lirih memanggil nama calon adik iparnya itu, memandang Rea dengan tatapan sendu, jelas ia juga merasa prihatin.


Rea menghapus air mata yang menetes di pipinya, "Jika selama tiga kali masa haidku dia tidak mengajakku kembali bersama maka sudah dipastikan talak itu akan naik dengan sendirinya menjadi talak dua, dan setelah tiga kali masa haidku selesai lagi maka bisa dipastikan kami harus berakhir bertemu di pengadilan agama untuk bercerai."


Ken menarik lengan Rea, memeluk gadis itu yang sudah meneteskan kembali buliran-buliran air mata.


"Aku takut Ken, aku takut kehilangan dia, satu minggu ini saja rasanya sangat menyakitkan untukku tidak melihat wajahnya."


"Sabar, aku yakin kalian masih saling mencintai, aku yakin Arkan akan kembali padamu setelah amarahnya mereda."


Rea memeluk tubuh Ken erat, menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu dan masih terus meratapi nasip rumah tangganya.


***


Dengan polesan make up minimalis dan dress berwarna kuning gading bermotif bunga Rea berjalan menuju ruangan Axel yang berada di Sky hotel, tangannya terlihat menggenggam amplop putih yang berisi surat pengunduran dirinya. Ragu gadis itu mengetuk pintu.


"Maaf Ax, aku tidak bisa bekerja lagi disini, maaf," ucap Rea sambil menyodorkan surat pengunduran dirinya.


Ax bangun dari kursinya, mendekat ke arah Rea yang sedang menunduk, gadis itu sama sekali tak kuasa untuk menatap wajah selingkuhannya itu.


"Mas Arkan meminta kita datang menemuinya." Rea menyampaikan sebuah nama restauran dan jam yang disebutkan Arkan tadi pagi, masih menundukkan kepalanya.


"Lihat aku Re! apa Arkan melarangmu sampai seperti ini? Apa dia sampai melarangmu untuk tidak memperlihatkan wajahmu ke aku?" Axel menangkup pipi Rea, mendongakkan wajah gadis itu secara paksa untuk menatapnya.


"Katakan!" lirih Ax.


Melihat mata Rea yang berkaca-kaca membuat Axel tak kuasa untuk tidak merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya. Ax memeluk tubuh Rea erat, meskipun Rea mengelak Axel memaksa gadis itu dengan tenaganya. Pundak Rea bergetar bibirnya terkatup menahan isak tangis.


"Aku sangat merindukan Embun, aku merasa bukan ibu yang baik Ax, aku merasa bersalah ke mas Arkan, ke dirimu bahkan ke semua orang."


Axel makin memeluk erat tubuh Rea, berbisik lirih ke telinga gadis yang sangat dia cintai itu," Embun baik-baik saja, aku akan bicara pada Arkan soal Embun, jadi jangan menangis lagi."


"Aku tidak bisa melihatmu terus seperti ini, haruskah aku merelakanmu untuk yang kesekian kali?"

__ADS_1


__ADS_2