
Mobil yang mereka tumpangi masuk kesebuah resort, terlihat beberapa mobil mewah juga sudah terparkir didepan disana.
"Ayo masuk!" perintah Axel.
Rea mengekor dibelakang mengikuti bosnya masuk kedalam, seorang pelayan dengan sigap mengantarkan mereka menuju lapangan tenis yang ada dibagian belakang resort itu.
Axel terlihat mendekat ke seorang laki-laki yang seperti sudah menunggunya dari tadi, sementara dua orang lainnya sudah nampak bermain tenis dilapangan.
"Kenalkan ini Rea," ucap Axel ke temannya.
"Nicholas," ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
Rea menyambut uluran tangan Nicholas sambil membalas senyumnya tadi.
"Nic adalah adik kelasku saat SMA, dia CEO Abi corp," Axel menjelaskan siapa temannya itu ke Rea.
"Abi TV?" tanya Rea penasaran sambil menyebutkan salah satu stasiun penyiaran di negaranya.
Laki-laki bernama Nic itu hanya tersenyum kemudian mereka duduk dibangku yang ada disana.
Rea melihat seorang wanita juga berada disana tapi duduk agak jauh dari mereka, matanya beralih kearah dua laki-laki yang sedang bermain tenis dilapangan, salah satunya Rea kenal betul laki-laki itu adalah staff khusus presiden.
"Untuk apa kamu mengajak ku kemari," bisiknya ke telinga Axel.
"Sudah kubilang urusan bisnis, apa kamu tidak tau tanggal 15 kemarin hotel tidak jadi dipakai untuk acara kepresidenan," bisik Axel.
Rea sedikit terkejut, bagaimana mungkin dia tau kalau saat itu dia masih belum kembali bekerja di hotel, dan lagi dia juga jarang nonton berita di TV.
"Kenapa?" tanya Rea penasaran.
"Jangan terlalu polos Bu Andrea, sekarang aku tau kenapa kamu lebih memilih menjadi asisten GM dari pada mengambil alih bisnis ayahmu, kamu tidak punya bakat didunia seperti ini, dunia bisnis itu keras dan kejam," jawab Axel.
Gadis itu menatap ke arah Axel dengan pandangan tidak suka.
"Penghinaan," pikir Rea.
"Lalu apa tujuanmu membawaku ikut kemari, aku tidak bisa bermain tenis."
"Dekati wanita itu, dia istri yang paling dicintai Rey," Axel menunjuk laki-laki yang sedang bermain tenis di lapangan dengan matanya.
"Dia promotor besar aku ingin event internasional yang akan diadakan perusahaannya bisa memakai hotel kita," lanjutnya.
"Ah.. Sejak kapan tugasku bertambah harus melobbi orang," gerutu Rea.
"Sejak sekarang," ucap Axel dengan isyarat mata lagi memintanya segera mendekat ke wanita itu.
__ADS_1
Gadis itu menuruti perintah atasannya, mendekat ke arah wanita itu kemudian mulai memperkenalkan diri, wanita itu tersenyum ramah, mereka terlihat berbincang sambil sesekali tertawa, kemudian mereka membicarakan soal tas branded karena Rea bercerita dia tidak begitu gemar mengoleksinya.
"Aku juga tidak begitu suka dengan tas-tas bermerk," ucap wanita itu yang Rea tau bernama Samantha.
"Untuk apa membeli tas seharga ratusan juta sampai milyaran rupiah tapi saat dipakai orang tetap berpikir tas kita KW," lanjutnya.
"Saya lebih suka tas ethnic atau tas kulit buatan dalam negeri," ucap Rea.
Dan tiba-tiba mereka menyebutkan secara bersamaan satu merk tas kulit buatan dalam negeri yang cara mendapatkannya harus saling berebut di media sosial dan website resminya. Mereka lalu tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya kita tidak butuh tasnya tapi hanya ingin merasakan sensasi memperebutkannya," ucap Samantha.
"Iya benar sekali, saya sedang menunggu pre order model terbarunya yang saya dapat kemarin," cerita Rea.
"Ah apa kamu mendapatkannya? Beruntungnya."
"Saya hanya iseng dan malah dapat, kalau anda menginginkan besok akan saya berikan saja ke anda."
"Benarkah? Ah terima kasih." Wanita itu tersenyum lebar.
Disela perbincangannya Rea sedikit demi sedikit meluncurkan jurus melobinya agar wanita itu mau merekomendasikan SKY hotel ke suaminya.
"Huh..." Rea menghela napas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi mobil yang akan membawanya dan Axel kembali kehotel.
"Sepertinya aku yang bermain tenis tapi kenapa malah kamu yang seperti kelelahan," ledek Axel.
Axel hanya tersenyum sambil menenggak air mineral dari botol yang dia pegang "Berterima kasihlah padaku, aku sedang mengajarimu cara berbisnis, sekarang setidaknya kamu harus mulai berpikir untuk mengambil salah satu bisnis ayahmu."
Rea lagi-lagi menggelengkan kepala "dulu aku memang ingin sekali mengambil alih salah satu bisnis ayahku tapi entahlah semakin kesini aku malah ingin menjadi ibu rumah tangga saja," ocehnya.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin jadi istri yang baik untuk Arkan dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami nanti."
"Entahlah hanya ingin saja," jawaban yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak sesuai dengan isi hatinya, Rea kemudian memilih memalingkan wajahnya melihat keluar jendela mobil.
"Gila apa aku sedang takut membuat Axel tak enak hati kalau berkata jujur, ah dasar wanita," gerutunya.
Sampai di hotel mulai dari satpam, bell boy sampai resepsionis memandang heran ke arah dirinya yang memakai baju olahraga dan turun dari mobil CEOnya, gadis itu tersadar kemudian berlari ke kamar mandi untuk segera mengganti bajunya.
"Apa hubunganmu dengan Pak Axel?" tanya Agni penasaran disela istirahat siang mereka.
"Dia kakak tiriku mba," jawab Rea.
Terang saja wanita itu kaget dan hampir saja tersedak minuman fermentasi yang baru ia tenggak.
__ADS_1
"Belum ada sebulan mamaku menikah dengan papanya." jawab Rea enteng sambil menyeruput minuman fermentasi seperti yang Agni minum.
Jam lima sore Rea sudah berdiri didepan pintu hotel menunggu Elang untuk menjemputnya, ia tersenyum saat melihat sang kakak menurunkan kaca jendela mobil kemudian melambaikan tangan kepadanya.
"Dapat nomor antrian berapa?" tanyanya sesaat setelah mobil Elang meninggalkan hotel.
"Dua," jawab Elang
"Semoga tidak lama, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?" wajah Elang terlihat sangat penasaran
"Rahasia, nanti biarkan aku yang menyetir," pinta Rea.
Dirumah sakit mereka duduk bersebelahan sambil menunggu panggilan periksa ke dokter, Rea sesekali menoleh dan matanya berkeliling berharap bertemu Ken disana tapi nihil, alhasil malah muncul ide dikepalanya.
"Lang hari minggu malam apa kamu ada acara?"
"Tidak, kenapa?"
"Aku ingin mengundangmu makan malam, mau ya?" bujuknya.
"Hem," jawab Elang singkat sambil berdiri karena namanya sudah dipanggil perawat untuk masuk menemui dokter.
Gadis itu tidak ikut kedalam, tangannya mulai mengambil ponselnya kemudian mengetikkan sebuah pesan.
"Ken aku ingin mengundangmu dinner minggu malam, datang ya" ~ Rea.
"Baiklah" ~ Ken.
Rea tersenyum melihat balasan singkat dari gadis yang dia harap bisa menjadi kakak Iparnya itu, ia kemudian menulis pesan untuk Arkan.
"Sayang, malam ini keapartemen ya!," ~ Rea
"Baiklah," ~ Arkan
"Ih kompak banget mereka," gerutunya.
Belum sampai memasukkan ponselnya ke dalam tas, Rea melihat Elang sudah keluar dari ruang periksa dokter.
"Kok cepet?" tanya gadis itu penasaran.
"Dokter Ranu hanya melihat bekas lukaku, dia bilang jahitannya sudah tertutup sempurna, ayo pulang! katanya mau pergi kesuatu tempat," ajak Elang.
Gadis itu mengadahkan tangannya, laki-laki itu tau apa yang adiknya inginkan, ia terlihat merogoh saku celananya memberikan kunci mobil ke Rea.
__ADS_1
"Ayo Mas Elangku!" gadis itu melingkarkan tanggannya ke lengan kakaknya, menariknya untuk segara keluar dari sana.