
Akhir Minggu dua buah sedan dan Van mewah terlihat masuk beriringan ke sebuah komplek perumahan yang tak terlalu besar, ketiga mobil yang semuanya berwarna hitam itu hanya satu yang bisa masuk ke dalam halaman rumah yang akan mereka datangi, sementara yang lain untuk sementara harus terparkir di jalanan komplek.
Rea terlihat turun dari Van mewah bersama Noah yang menggunakan kemeja yang senada dengan baju mamanya. Gadis itu tersenyum melihat calon kakak iparnya tengah berdiri disamping sang papa.
Sangat sederhana, tidak ada tenda ataupun tatanan bunga, hanya dekorasi kecil yang menghiasi ruang tamu sang pemilik rumah, suasana hangat dan kekeluargaan begitu kental terasa saat semua kerabat Kinanti menyambut keluarga Elang dengan senyuman hangat.
Rea menyalami Pak Alif papa Kinanti sang kepala sekolahnya dulu saat masih SMA. Laki-laki itu sudah terlihat lanjut usia namun kesan berwibawanya masih nampak dari raut wajahnya. Gadis itu tersenyum sendiri saat mengingat waktu SMA pernah dimarahi Pak Alif karena mengantar anak perawannya pulang jam dua belas malam bersama Arkan dan Elang.
"Apa bapak ingat saya?" tanya Rea sambil masih menjabat erat tangan Pak Alif. Laki-laki itu membenarkan letak kacamatanya dan mencoba mengingat-ingat siapa gerangan nama gadis dihadapannya.
"Susu strawberry, pingsan dan masuk rumah sakit," ucap Rea.
Pak Alif terlihat membentuk huruf O menggunakan bibirnya lalu tertawa sambil menepuk lengan tangan Rea.
"Ah Iya Rea, ingat bapak ingat," jawab Pak Alif masih dengan gelak tawa.
Mereka lanjut bersalaman kemudian duduk di kursi yang telah disediakan, acara lamaran Elang dan Kinanti pun akan segera dimulai.
Selama prosesi acara lamaran berlangsung, Rea sedikit risih dengan pandangan dari mama titi dan adik tiri Kinanti, apalagi adik tiri Ken yang bernama Sunny, gadis itu dari tadi tak henti-hentinya memandang ke arah suaminya. Bahkan saat acara selesai dan tinggal ramah tamah, gadis itu masih saja menatap Arkan.
Setelah acara itu selesai sebelum pamit Rea meminta ijin pergi ke kamar mandi, saat hendak keluar dari kamar mandi samar ia mendengar perbincangan mama tiri dan adik tiri Kinanti.
"Mba Ken kok bisa ya kenal sama Mas Elang yang kaya raya gitu, beruntung banget deh dia, tapi Ma buat Sunny si Mas Arkan lebih ganteng lebih kalem, coba aja belum nikah pasti bakal Sunny deketin, tapi udah nikahpun gapapa kan Ma kalau dia mau punya dua istri." gadis itu berucap santai lalu tertawa cekikikan.
"Kamu mau jadi nyonya besar? Tuh bapaknya Elang kan malah duda, mending sama bapaknya, kalau mati dapat semua hartanya," sahut sang mama.
Rea mendelik di dalam kamar mandi mendengar percakapan mama dan adik tiri Kinanti, ia tidak menyangka bahwa ternyata manusia macam mereka berdua ternyata masih ada di muka bumi. Rea pura-pura batuk sebelum keluar dari kamar mandi, berucap permisi ke dua orang yang sedang membicarakan ayah dan suaminya tadi, yang tentu saja terkejut karena Rea berarti mendengar percakapan mereka dari awal.
Di dalam mobil Rea terlihat kesal, ia berbicara kepada Noah dalam bahasa Inggris.
"Noah, jangan suka tebar pesona kayak papa kamu ya kalau udah gede," ucap Rea.
Arkan yang duduk disamping istrinya terlihat bingung lalu bertanya apa maksud Rea barusan. Gadis itu kemudian menjelaskan apa yang dia lihat dan dengar tadi, tentu saja masih dalam bahasa inggris. Suaminya hanya tertawa terbahak sambil mencubit pipinya gemas.
__ADS_1
"Ya Tuhan sayang, aku cuma diam aja lho sepanjang acara tadi, tebar pesona gimana?"
"Makanya jadi orang jangan terlalu ganteng ngapa?" ucap Rea sambil menggelembungkan pipinya, sebuah pertanyaan dari Noah malah semakin membuat dirinya kesal.
"Apa mama cemburu?" tanya Noah.
Arkan tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos anak itu ke Rea.
"Enggak, mama ga cemburu. Mama cuma kesal," jawab Rea sambil memalingkan mukanya ke arah jendela mobil.
***
Mereka bertiga memilih menginap di hotel bersama Andi dan Laras, Farhan langsung pulang ke kotanya selesai acara lamaran, sementara Elang memilih tidur dirumah orang tuanya. Rea berkata ke suaminya bahwa ingin mengunjungi Pak Rahmat dan Bi Ulfa, pasangan suami istri mantan pelayan dan supirnya yang kabarnya sekarang tinggal di kota itu juga.
Di dalam kamar hotel Noah terlihat tidur diantara Arkan dan Rea yang sama-sama masih terjaga, gadis itu mengusap rambut Noah yang seperti poni, sementara Arkan memandangi wajah sang istri dengan sorot memuja.
"Sayang, setelah kerumah pak Rahmat ayo kita jalan-jalan dulu sebelum pulang, aku sangat penasaran dengan pantai yang pernah kamu dan Elang datangi dulu," lirih Arkan.
"Oh ya Elang tadi mengirim pesan, dia memang sudah membooking sebuah penginapan dan pantai itu untuk satu hari, tapi aku malas karena keluarga Ken juga diundang, bukannya apa-apa adik tirinya pasti ikut," bisik Rea sambil memasang muka masam.
"Lihat! bahkan kamu ingat namanya," sindir Rea dengan raut wajah yang semakin kesal.
Arkan hanya terkekeh, ia tidak menyangka istrinya bisa begitu cemburu hanya dengan hal yang menurutnya sepele dan tidak perlu dipikirkan, jika saja diantara mereka sedang tidak ada Noah yang tengah tertidur pulas, laki-laki itu sudah ingin menerkam sang istri.
Arkan bangun lalu mendekat ke arah Rea, meminta istrinya untuk bangun dan mengikutinya berjalan keluar kamar, laki-laki itu ternyata berjalan ke kamar sebelah untuk mengetuk pintu kamar milik orang tuanya.
Laras terkejut saat anak laki-lakinya meminta bertukar kamar dengannya.
"Apa'an sih Ar? ganggu aja," ucap Laras sambil bersungut kesal.
"Iya Mas Arkan ngapain sih? Ayo balik kasihan Noah sendirian," pinta Rea.
Arkan bergeming, tiba-tiba sang papa mendekat dari dalam kamar menuju pintu keluar, Andi menarik tangan istrinya. "Ayo kita tidur sama cucu kita," ucapnya.
__ADS_1
Laras hanya bisa mengikuti tarikan tangan suaminya, wanita itu mengepalkan lalu mengangkat tangannya ke atas seolah hendak memukul anak laki-lakinya. Arkan tertawa kemudian menarik Rea masuk ke dalam dan menutup pintu.
Laki-laki itu menarik tangan sang istri memintanya berbaring kemudian memeluknya erat. "Kamu sepertinya lebih menyayangi Noah dari pada aku sekarang, lantas bagaimana kalau besok anak kita lahir, aku jadi nomor berapa?" keluhnya.
"Ish...dasar, masih mending aku kan cemburunya? Kamu malah cemburu sama anak sendiri," cibir Rea.
"Hem... rasanya jiwa kekanak-kanakanku enggan berbagi perhatianmu dengan siapapun, bahkan anak kita," bisik Arkan yang terlihat memejamkan matanya.
Rea menempelkan tangannya ke pipi sang suami, membelainya penuh cinta sambil mendaratkan ciuman di bibir Arkan.
Arkan menyergap tangan Rea, matanya terbuka dan dengan senyuman jahil menatap ke arah istrinya"Jangan menyentuhku seperti ini, kamu membuat sengatan sampai adikku bangun sayang."
"Aku lelah, aku mau tidur," potong Rea sambil membalikkan badannya membelakangi sang suami.
"Kenapa? Nah kan malah aku di cuekin," rengek Arkan.
"Posisi tidur miring ke kiri sangat dianjurkan untuk ibu hamil," jawab Rea.
"Ayolah! Sayang," bujuknya ke sang istri.
"Aku lelah jika harus bermain di atas saat ini, carilah gaya lain yang aman untuk dilakukan pasangan yang istrinya tengah hamil." Rea mencoba memberi alasan lagi.
Arkan membalikkan badannya, membenamkan mukanya ke bantal lalu menghentakkan betis kakinya bergantian, tangannya meraih ponsel miliknya yang berada diatas nakas, ia mulai menjelajahi internet mencari referensi.
***
Di dalam kamar yang seharusnya milik anaknya. Andi tak hanya memandangi Noah yang sedang tertidur, laki-laki itu seolah meneliti satu persatu bagian wajah anak itu dan mencocokkannya dengan wajah sang putra sulung. Laras hanya bisa menatap apa yang sedang suaminya lakukan sambil sesekali mengusap rambut anak itu.
"Apa kamu akan benar-benar melakukan test DNA diam-diam?" tanya Laras.
Andi menganggukkan kepalanya. "Aku berpikir alasan sebenarnya Rea tidak mau melakukan tes DNA adalah karena dia takut, menantumu itu takut kecewa atau bahkan tidak bisa menerima jika Noah memang anak biologis suaminya, dengan tidak melakukan tes DNA akan lebih mudah bagi Rea, lebih mudah berpikir bahwa Noah adalah anak yang dibuang dari pada menerima kenyataan kalau Noah adalah darah daging Arkan," jawab Andi.
"Sepertinya kamu sangat paham sifat menantumu," gumam Laras.
__ADS_1
"Bagaimana tidak paham? dia sudah seperti anak kandungku sendiri." Andi meluruskan badannya menatap langit-langit kamar hotel itu sebelum diam dan tertidur.