Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 35


__ADS_3

Sesampainya di resto Rea mengambil nasi sedikit lebih banyak, berdiri didepan meja prasmanan memilih beberapa lauk yang menurutnya menggugah selera. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang nya, gadis itu menoleh, wajah laki-laki yang sangat dia kenal sudah ada disamping pipinya.


"Apa lauknya enak-enak?" ucap laki-laki itu.


Sontak Rea kaget melihat kekasihnya sudah ada disampingnya.


"Bagaimana bisa kamu ada disini? kapan kamu sampai?"ucap Rea kaget.


Arkan tersenyum "Apa kamu terkejut?" tangannya terlihat meraih piring kosong,


Rea berjalan menuju mejanya, meletakkan makanan yang sudah dia ambil terlebih dulu, Kanaya bertanya tanpa bersuara "siapa?"


"Kekasih ku" jawab Rea, gadis itu kembali untuk mengambil jus dan makanan lagi.


Mia mendekat duduk didekat Kanaya, gadis itu terlihat penasaran siapa laki-laki tampan yang memeluk Rea barusan, yang sekarang sedang terlihat mengambil makanan bersama Rea.


"Dia bilang kekasihnya," ucap Kanaya.


"Sumpah ya demi apa, dia dikelilingi banyak laki-laki tampan dan keren."


Mia sudah kabur dari meja Kanaya saat melihat Rea dan Arkan berbalik mendekat, ia duduk didepan Kanaya, menggeser kursi disampingnya untuk Arkan.


"Apa aku boleh duduk disini?" tanya laki-laki itu ke Kanaya.


Gadis itu mengangguk, kemudian lanjut menikmati makan malam yang belum selesai dia habiskan. Rea memperkenalkan Kanaya ke kekasihnya, laki-laki itu menanyakan beberapa hal hanya untuk sekedar berbasa-basi ke teman calon istrinya, setelah selesai makan Mia terlihat mendekat ke meja mereka, mengajak Kanaya untuk pergi jalan-jalan keluar.


"Apa kamu tidak mau ikut Re?" tanya Mia.


Gadis itu menggelengkan kepala, sambil melihat Arkan yang sedang mengambil buah dan minum. Mia dan Kanaya sudah paham kemudian pergi meninggalkan Rea.


Arkan kembali duduk memakan buah yang baru saja dia ambil, sesekali menyuapkannya ke mulut gadis disebelahnya, Rea menoleh memandang kekasih disampingnya membuat lengan tangannya sebagai tumpuan.


"Kenapa ga bilang dulu sih, ya seganya ngabarin kalau mau nyusul kesini," ucapnya.


"Surprise!" Arkan tersenyum.


"Kamu kangen banget ya sama aku?"


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya "banget."


"Atau jangan-jangan kamu sedang mencoba kabur dari masalah kantor?" tebak Rea.


Arkan terdiam "dari mana kamu tau?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


"Terlihat dari wajahmu, sedang ada yang kamu pikirkan" Rea memandangi wajah calon suaminya itu.


"Ayo kita tinggal disini lebih lama, temani aku jalan-jalan, kepalaku benar-benar pusing dengan masalah kantor," ucap Arkan.


Rea tersenyum, dia senang karena bisa liburan disana lebih lama "mau tinggal berapa lama?"


"Dua hari gimana?"


"Oke" Rea tertawa senang.


Arkan juga tertawa, tangannya sudah mendarat diatas rambut Rea, kemudian mengacak-ngacaknya lembut.


Selesai makan mereka bergandengan tangan naik lift untuk kembali ke kamar. Arkan mendapat kamar yang berada satu lantai diatas kamar Rea.


"Aku mau ke kamarmu dulu," ucap Rea saat mereka berdua berada didalam lift.


"Mau apa? Apa kamu ga capek? ga pengen istirahat?" tanya Arkan bertubi-tubi.


"Enggak, aku masih pengen sama kamu lebih lama, katanya tadi kangen aku?" ucapnya manja.


Padahal sebenarnya didalam otak Rea sudah memikirkan suatu ide gila yang akan dia perbuat ke kekasihnya itu. Arkan hanya tersenyum mendengar kalimat gadisnya, setelah lift terbuka mereka berdua masuk ke kamar milik laki-laki itu.


"Aku ingin membuktikan omongan Kanaya tempo hari,“ bisik Rea dalam hati.


"Apa kamu kepanasan?" tanya Arkan, tangannya terlihat sudah menyambar remote AC untuk menurunkan suhu ruangan.


Rea dengan agresif menarik lengan Arkan membuat laki-laki itu terduduk disampingnya, dengan berani Rea naik keatas pangkuan calon suaminya itu, kemudian mendorong tubuh Arkan sampai tertidur diranjang, laki-laki itu membelalakkan matanya, terheran-heran dengan perlakuan Rea.


"Sayang apa kamu tadi salah makan?" tanya Arkan yang kemudian terdiam karena Rea sudah tengkurap diatas badannya, bibir gadis itu sudah mendarat tepat dibibirnya, mau tidak mau dia menikmati ciuman yang kekasihnya berikan.


Arkan membalikkan badan Rea, sekarang gadis itu terkukung dibawah badannya, tangan Rea sudah membuka satu persatu kancing bajunya sendiri, Arkan yang masih menautkan bibirnya ke bibir Rea mengrnyitkan dahi bingung apalagi saat tangan Rea mulai berpindah membuka kancing baju miliknya satu persatu.


Sontak Arkan melepaskan tautan bibirnya dari Rea, berdiri bangun dari posisinya sambil merapikan kancing bajunya yang sudah hampir terlepas semua.


"Apa benar dia tidak normal" bisik Rea dalam hati.


Gadis itu terdiam masih dengan posisi tiduran di ranjang menatap dengan pandangan aneh ke arah laki-laki didepannya.


"Apa yang sedang kamu coba lakukan?" tanya Arkan sambil memegang tengkuk kepalanya bingung.


"Apa kamu tidak ingin melakukan itu dengan ku?" tanya Rea penasaran.


Arkan malah tersenyum "apa kamu sedang mencoba memprovokasi ku? tentu saja aku ingin."

__ADS_1


"Ayo kita lakukan sekarang," ucap Rea dengan wajah serius.


"Sayang..." suara Arkan sedikit meninggi


Rea kemudian bangun duduk ditepi kasur menyibakkan rambutnya.


"Kenapa? apa kamu tidak mau?"


Arkan memandang wajah gadis itu lekat, kemudian berlutut didepan gadis yang sangat dicintainya itu, mengancingkan baju kekasihnya satu persatu sampai ke atas, kemudian tangannya membelai pipi gadis itu.


"Aku laki-laki normal, tidak mungkin aku tidak ingin, apalagi kamu gadis yang sangat aku cintai," ucap Arkan lembut.


"Lalu kenapa kamu menolak?" nada suara Rea sudah terlihat kesal.


"Kamu kenapa tiba-tiba kayak gini? jangan-jangan kamu berpikir aku bukan laki-laki normal?"


Pertanyaan Arkan membuat Rea kaget, perubahan raut wajah gadis itu terbaca jelas oleh calon suaminya itu.


"Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin merusakmu sebelum resmi menjadi suamimu."


Arkan menggenggam tangan Rea yang terlihat mengernyitkan dahinya


“Coba bayangkan kalau kita melakukan perbuatan itu sebelum menikah, lalu ditengah jalan hal buruk terjadi padaku, yang bisa saja membuatku tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatan kita, kira-kira siapa yang dirugikan?”


"kamu tau, mama pernah bilang, dia bersyukur punya dua orang anak laki-laki, karena kata mama punya anak perempuan itu ibarat memegang sebuah telur, jika sampai pecah tidak akan ada yang mau mengambilnya lagi, jadi mama memintaku menjaga kamu baik-baik sampai kita resmi menjadi pasangan suami istri."


Rea terdiam mendengarkan setiap ucapan kekasihnya itu.


"Kita akan melakukannya nanti, dalam situasi yang benar, setalah aku mengucapkan akad didepan ayahmu untuk menjadikanmu istriku" Arkan berdiri dari posisinya, gadis itu mendongak menatap wajah orang yang sangat mencintainya itu.


"Dan kita lihat seberapa kuat dirimu meladeniku nanti," Arkan tersenyum menggoda.


Rea tidak bisa berkata apa-apa, tangannya menarik tubuh Arkan, lalu membenamkan kepalanya di perut sixpack laki-laki itu.


Arkan mencium pucuk kepala gadis itu, kemudian memeluknya, tapi tiba-tiba Rea tertawa cekikikan sendiri sampai badannya bergetar, Arkan melepaskan pelukannya kemudian bertanya.


“Kenapa?”


“Adikmu bangun kan?” Rea tertawa terbahak-bahak, merasakan sesuatu yang mengganjal menyentuh perutnya.


“Sial, ketahuan,” ucap Arkan menahan malu.


Rea kemudian berdiri dari atas kasur “Aku balik ke kamar ya, sampai ketemu besok pagi.”

__ADS_1


Gadis itu kemudian berlari membuka pintu kamar Arkan sambil masih terkekeh.


__ADS_2