Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 38


__ADS_3

Tiga hari sebelum lamaran, Arkan masih disibukkan dengan masalah pekerjaan, sementara Rea sibuk membantu Agni untuk menyusun laporan keuangan yang morat-marit. Beberapa kali notifikasi pesan dari HP Rea berbunyi, tapi gadis itu memilih untuk fokus pada niatnya membantu menyelesaikan laporan keuangan hotel.


Sampai dihari Sabtu, Rea datang ke rumah ayahnya, melihat beberapa orang sibuk sedang menyiapkan tenda, kursi dan dekorasi untuk acara nanti malam.


Gadis itu duduk disalah satu kursi sambil melihat orang yang sibuk lalu lalang, membuka pesan di ponselnya, ada beberapa pesan dari Axel, Rea tidak berniat membalasnya, nanti saja pikirnya setelah acara lamarannya selesai dia akan mengajak Axel bertemu, sekalian mengucapkan terima kasih telah meminjamkan yacht miliknya.


Gadis itu lebih tertarik pada pesan yang dikirim oleh calon suaminya.


“See you tonight my fiancée”


Pesan singkat dari Arkan membuat dia tersenyum bahagia, tapi ia heran kenapa kakaknya tidak mengirimkan pesan kepadanya sama sekali.


Apa kamu benar-benar tidak bisa datang malam ini?


Gadis itu menunggu lama tapi tetap tidak ada balasan dari Elang.


Malam yang ditunggu Rea dan Arkan akhirnya datang, sebentar lagi Arkan akan pergi kerumah Farhan untuk melamar secara resmi anak gadisnya.


Semua keluarga besar dan teman dekat Arkan sudah berkumpul, setelah semua siap mereka berangkat menuju kediaman Farhan.


Rea terlihat menggunakan atasan kebaya berwarna nude dengan bawahan kain batik yang motifnya membuat ia terlihat semakin cantik dan anggun, tatanan rambutnya juga sangat bagus membuat gadis itu terlihat sangat mempesona. Gadis itu tiba-tiba merasa gugup, apalagi setelah mamanya masuk kekamar dan berkata rombongan keluarga Arkan sudah sampai, dan dia diminta untuk segera keluar.


"Ma aku gemeteran," ucapnya.


Lidia mendekat, sedikit merapikan tatanan rambut anak gadisnya.


"Ini baru lamaran gimana kalau nanti pas akad nikah," ucap Lidia.


"Ayo keluar jangan biarkan calon suamimu menunggu lama, dia pasti sudah tidak sabar melihat calon istrinya yang cantik ini."


Rea tersenyum memegang tangan mamanya, Lidia merasakan tangan anaknya sedikit dingin.


Gadis itu duduk dikursi keluarganya yang ditata berhadapan dengan kursi untuk keluarga Arkan, mereka berdua duduk tepat berhadapan, mata laki-laki itu berbinar melihat calon istrinya yang begitu anggun malam ini.


Arkan begitu terpesona dengan kecantikan Rea, dia menangkupkan kedua tangan menutupi hidung dan mulutnya menunjukkan ketakjuban melihat calon istrinya, atau mungkin barangkali malah sedang menyembunyikan perasaan grogi yang tengah menderanya.


Seseorang yang dituakan di keluarga Andi mulai berbicara, menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang kesana, sampai pada tahap dimana Arkan harus mengutarakan sendiri maksud dan tujuannya datang malam itu bersama keluarga besarnya.


Arkan berdiri diikuti mama dan papanya ,begitu juga Rea yang berdiri diapit ayah dan mamanya.


Dada mereka sudah berdetak tak karuan, Rea sesekali meremas ujung kebaya yang dia pakai.


"Andreadina Bumi Pradipta, mungkin kamu tidak mengingat ini, tapi sampai detik ini aku masih mengingat apa yang kamu katakan hari itu."


Rea sedikit terkejut tapi hanya bisa tersenyum menutupi perasaannya didepan orang-orang yang ada disana.


"Kamu pernah berkata ingin memakai kebaya berwarna nude dihari lamaran kamu, mendengar itu aku berkata akan memakai baju batik yang senada dihari yang sama."


Rea kaget dengan ucapan Arkan begitu juga orang-orang disana, bagaimana mungkin laki-laki itu masih mengingat apa yang dikatakannya saat mereka masih duduk dibangku SMA.

__ADS_1


"Dan disinilah kita sekarang, berdiri berhadapan, kamu benar-benar memakai kebaya berwarna nude seperti yang pernah kamu katakan, dan aku memakai baju batik senada dengan kebaya yang kamu pakai malam ini, kamu benar-benar terlihat sangat sempurna, dan aku bahagia keinginan kita bisa terwujud dihari yang sama."


Kalimat Arkan membuat Rea benar-benar tidak bisa membendung air mata yang sudah di tahan, Air matanya menetes, Lidia buru-buru memberikan tisu ke anaknya.Tak hanya Rea semua orang yang mendengarpun merasa ikut terharu.


"Aku membawa orang tuaku kesini beserta keluarga besarku, ingin membuktikan keseriusan hubungan kita kepada keluarga besarmu, terutama kepada om Farhan dan Tante Lidia”


Rea bergumam dalam hatinya “Rea jangan mewek please jangan”


“ Aku Affandi Arkana Putra ingin meminta kamu Andreadina Bumi Pradipta untuk menghabiskan sisa umur bersama, membina biduk rumah tangga, saling menjaga, menyayangi dan mencintai untuk selamanya, Aku ingin menjadikan kamu istriku, maukah kamu menerima lamaranku didepan orang-orang yang kita sayangi malam ini? "


Arkan baru menurunkan microphone dari tangannya, Rea sudah menghambur ke arah Arkan, tidak peduli berapa puluh pasang mata yang melihat, Arkan mendekap gadis yang menangis haru itu di pelukannya.


"Mba Rea, belum muhrim ya" canda sang tetua keluarga, membuat Rea seketika melepaskan pelukannya ke Arkan, semua orang tertawa melihat kekonyolan Rea.


"Ya meskipun kita semua sepertinya sudah tau jawaban mba Rea, silahkan dijawab mba biar terkesan lebih formal," ucap pak tetua lagi


Gadis itu tersenyum melihat Arkan yang tertawa, Laras memberikan tisu kepada Arkan untuk menghapus air mata calon istrinya itu.


Rea tidak kembali ke posisinya, dia memilih tetap berdiri didekat calon suaminya yang sedang menggenggam erat tangannya, ia menyodorkan microphone ke arah Rea.


"Aku mau" dan jawaban yang keluar dari mulut Rea hanya sesingkat itu.


Kemudian dia memeluk Arkan lagi tidak peduli dengan orang-orang yang melihat, tangis harunya pecah dipelukan calon suaminya.


"Aku mencintamu" bisik Arkan sambil mengusap lembut punggung gadis yang makin mengeratkan pelukan kepadanya.


Acara dilanjutkan, Arkan menyematkan cincin dijari manis Rea, begitu juga Rea, dia menyematkan cincin dijari Arkan, kemudian mencium punggung tangan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi imamnya itu.


Mereka benar-benar bahagia, seluruh keluarga besar larut dalam suasana malam itu, tak terkecuali dua pasangan yang sedang di mabuk cinta, mereka menerima banyak ucapan selamat dari keluarga dan teman dekat mereka yang menghadiri acara itu.


Arkan terlihat berkali-kali menciumi punggung tangan tunangannya, tanpa memperdulikan orang-orang yang geli melihat kelakuan mereka.


Pesta selesai tapi laki-laki itu belum mau pulang dari kediaman calon mertuanya. Dia masih asik duduk mengobrol dengan Rea ditengah-tengah kesibukan orang yang mulai membersihkan tempat acara.


Seseorang yang mereka kenal baik datang mendekat, Rea kemudian berdiri memeluknya, orang itu juga memberi pelukan kepada Arkan.


"Selamat untuk kalian," ucap Elang.


Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, ekspresinya benar-benar tidak terbaca.


"Kenapa baru datang?" tanya adiknya.


"Tiket pesawat habis semua untuk hari ini, mungkin karena weekend, aku dapat penerbangan malam, oh ya mama dan papa meminta maaf karena tidak bisa datang, tapi berjanji akan datang saat pernikahan kalian" jawab Elang.


Rea dan Arkan tersenyum.


"Ayah dimana?"tanya Elang.


"Mungkin sudah tidur, kamarmu sudah disiapkan, masuklah pasti kamu lelah," ucap Rea.

__ADS_1


Elang menganggukkan kepalanya kemudian masuk kedalam rumah. Rea memandangi punggung kakaknya yang berjalan menjauh.


"Sayang, kamu mau tidur disini atau pulang ke apartement?" tanya Arkan.


Rea yang masih memandangi punggung kakaknya itu menoleh.


"Sepertinya aku akan tidur disini, barang-barangku belum aku bereskan, aku lelah," jawab Rea suaranya sudah menunjukkan bahwa dia sudah mengantuk.


"Bukan karena ada Elang kan?" Arkan menyentuh pipi wanitanya, menggoda.


"Apa kamu mau menginap sekalian disini?masih banyak kamar," Rea melingkarkan kedua tangannya di pinggang orang yang selalu bisa membuat dirinya merasa spesial.


"Apa boleh?"


Rea mengangguk "iya"


"Sekamar?"


"Tidak, bisa kena marah Ayah nanti” Rea tertawa, Arkan pun ikut tertawa kemudian mendaratkan bibirnya di kening Rea.


"Ayo masuk, aku akan pulang setelah melihatmu masuk ke rumah."


Gadis itu tersenyum, berjalan masuk kedalam rumah dengan tangan melingkar dilengan Arkan.


"Aku tidak percaya 6 bulan lagi kita akan menikah," ucapnya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Adegan lamaran di part ini terinspirasi dari kisah nyata, semoga feel romantisnya dapet 😊


Terima kasih sudah membaca 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2