
Matahari mulai meninggi, menandakan bahwa saat itu tengah hari. Di sebuah kafe Elang dan Ken sedang duduk bersebelahan, Ken terlihat asik makan sambil menatap layar ponsel miliknya, gadis itu sedang membuka sebuah website untuk mencari referensi mobil seperti yang sangat dia inginkan selama ini.
Elang bertopang dagu menatap gadis disebelahnya yang antusias menjelasakan panjang lebar alasannya kenapa ingin sekali membeli mobil. Ia heran beberapa kali gadis itu menolak saat ia menawarkan untuk membelikannya.
"Ken, ayo kita menikah saja!" ucap Elang.
Pertanyaan itu membuat dokter manis berambut lurus itu hampir saja tersedak kentang goreng yang dia makan.
"Kamu bercanda?" tanya Ken sambil menyesap minumannya.
"Bulan depan ayo kita temui papamu, aku serius," jawab Elang.
Ken terdiam, memikirkan begitu cepat Elang ingin mengajaknya ke jenjang yang lebih serius, padahal mereka baru sekitar lima bulan menjalani hubungan sebagai pacar, bukannya tidak bahagia mendengar kalimat yang Elang ucapkan barusan, tapi sebenarnya Ken masih belum seratus persen percaya dengan perasaan Elang kepadanya.
"Apa kamu ingin segera menikah karena Rea sudah menikah?" tanya Ken tiba-tiba.
Elang menegakkan badannya, sedikit terkejut dengan ucapan kekasihnya itu.
"Jujur padaku, apa kamu benar sudah melupakan perasaanmu ke Rea?" Ken menggeser posisinya untuk mendekat ke arah laki-laki yang dia kejar saat SMA itu.
Melihat Elang yang terdiam, Ken tersenyum sambil memegang punggung tangan kekasihnya "Tidak bisa menjawab kan? apa aku hanya pelarian?" godanya.
Elang menatap tajam kearah gadis disebelahnya, mencoba merangkai kalimat agar Ken tidak salah paham kepadanya.
"Aku menyayangi Rea karena dia adikku, tapi sekarang aku mencintaimu karena kamu masa depanku."
Pipi Ken bersemu merah, sebuah ciuman mendarat dibibirnya membuat kedua matanya membelalak lebar. Gadis itu memukul pundak kekasihnya gemas "Ini tempat umum tau, bisa-bisanya."
Ken menengok ke sekitar, ia takut kalau sampai ada orang yang melihat perbuatan Elang kepadanya tadi.
"Jangan berani menciumku ditempat umum!" ancam Ken ke Elang.
__ADS_1
Laki-laki itu hanya tertawa melihat kekasihnya salah tingkah.
Sementara diwaktu yang sama Rea sibuk membaca buku tentang kehamilan dirumahnya, ia duduk sambil meluruskan kakinya disofa, telinganya mendengarkan alunan musik klasik yang dipercaya dapat membuat bayi dalam kandungan merasa bahagia. Ia memilih mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu me time nya.
Gedoran pintu dan bunyi bel rumah yang berulang membuat Rea sedikit terganggu, dengan malas ia membuka pintu.
Rea terkejut mendapati Cindy yang tengah meringis kesakitan berdiri didepan rumahnya sambil memegangi perutnya.
"Re, bisa bawa aku ke rumah sakit? aku berulang kali menelpon Bara tapi tidak diangkat, aku juga mencoba menelponmu berkali-kali tadi."
Wajah Rea berubah menjadi ekspresi bersalah, penuh penyesalan ia memaki dalam hati kenapa sampai mematikan ponsel miliknya tadi. Ia lalu masuk kedalam mengambil kunci mobil dan tas kemudian dengan susah payah membantu Cindy masuk kedalam mobilnya.
"Apa sudah due date mu?" tanya Rea cemas saat berada didalam mobil.
Cindy hanya bisa menggangguk, keringat sudah membanjiri wajahnya, gadis itu terlihat menahan tangis.
"Apa sakit sekali?" pertanyaan Rea terdengar begitu konyol untuk diucapkan saat kondisi seperti itu.
Sesampainya dirumah sakit Cindy dibawa oleh suster untuk diperiksa, Rea panik mencoba menghubungi Arkan, tapi suaminya itu tidak mengangkat telponnya.
"Ini kan jam istirahat, dimana sih dia?" gerutu Rea.
Ia mencoba sedikit tenang, lalu entah kenapa Axel adalah orang kedua yang terlintas di dalam pikirannya, ia menelpon laki-laki itu, saat panggilannya dijawab oleh Axel hatinya begitu lega. Rea meminta Axel untuk datang ke rumah sakit, karena dia sangat bingung dan takut berada disana sendirian.
Suster keluar dan berkata bahwa Cindy memang sudah waktunya untuk melahirkan, maka Ia akan segera dipindahkan ke ruang bersalin, suster itu lalu menanyakan keberadaan suami Cindy untuk dapat segera mengurus administrasi. Rea terpaksa berbohong dan berkata bahwa suami Cindy sedang keluar negeri dan dia adalah saudaranya.
Rea semakin panik saat para tenaga medis seperti terlihat kelimpungan, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi, seorang dari mereka berkata bahwa Cindy tidak mungkin melahirkan secara normal, tindakan operasi harus segera dilakukan dan itu butuh persetujuan suaminya.
Rea sedikit lega karena Axel sudah datang, ia memegang lengan laki-laki itu sambil menangis karena ketakutan. Mendengar apa yang dikatakan suster didepannya Axel berucap bahwa dia akan mengurus semua administrasi. Rea bersyukur menatap wajah Axel yang seolah menjadi penyelamat bagi dirinya terlebih Cindy.
"Kamu bisa bercerita nanti, yang penting temanmu dan bayinya selamat dulu," ucap Axel sambil berlalu untuk pergi kebagian administrasi.
__ADS_1
Rea dan Axel duduk diruang tunggu, tangan Rea gemetaran, ia sangat ketakutan. Gadis itu awalnya tidak begitu percaya bahwa melahirkan itu mempertaruhkan nyawa. Namun, setelah melihat Cindy ia sadar bahwa kalimat itu benar adanya.
Axel dengan berani memegang tangan Rea sambil membisikkan kalimat untuk menenangkan gadis itu "Tidak usah khawatir, temanmu itu pasti akan baik-baik saja."
Selang satu jam, suara tangis bayi terdengar dari dalam, mata Rea berbinar sambil tersenyum lega menatap ke arah Axel yang juga terlihat tertawa, karena mengira Axel adalah ayah dari bayi itu susterpun memanggilnya untuk mengadzanni bayi Cindy. Axel terlihat ragu-ragu menatap ke arah Rea.
"Anggap saja latihan sebelum melakukannya ke Bubu nanti," ucap Rea.
Dari balik kaca Rea dan Axel memandang wajah anak Cindy yang berjenis kelamin laki-laki, Rea menceritakan soal sahabatnya itu, kemana sang suami sampai dia melahirkan seorang diri.
"Semua orang memiliki jalan cerita yang berbeda dihidupnya," bisik Axel, matanya masih menatap bayi Cindy yang berada didalam box kaca.
"Semoga kamu tidak menyesal mengandung anakku."
Rea hanya terdiam, dia bingung menanggapi omongan laki-laki disampingnya.
"Tidak, aku tidak akan pernah menyesali hadirnya Bubu, bayi tidak mengerti urusan orang dewasa Ax, dia hanya mahkluk lemah tak berdosa," Rea memandang bayi Cindy dengan tatapan nelangsa.
Axel tersenyum, memandangi wajah gadis disebelahnya yang mengetuk-ngetuk kaca seolah tengah membelai bayi temannya.
Disisi lain, di sebuah coffee shop Arkan terlihat memegang samping kepalanya, laki-laki itu menghembuskan napasnya kasar kemudian menjambak rambutnya sendiri.
Arkan lalu memandangi anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun yang sedang duduk dihadapannya, wajah anak itu blasteran, matanya sedikit abu-abu kecokelatan, tapi rambutnya berwarna hitam.
Satu jam yang lalu seorang wanita yang pernah dia kenal mengajaknya bertemu, apa yang disampaikan oleh wanita berkebangsaan asing itu membuat Arkan benar-benar ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga.
"Sial! bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal bodoh seperti itu?" umpatnya.
Arkan membentur-benturkan kepalanya dimeja, anak kecil dihadapannya turun dari tempat duduknya, anak itu kemudian berjalan dan berdiri disamping kursi Arkan, memegang lengan laki-laki itu dengan kedua tangan mungilnya.
"Are you oke, uncle?" tanyanya.
__ADS_1
(Apa paman baik-baik saja?)