Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 32


__ADS_3

Rea masuk kedalam hotel, saat akan menaiki lift menuju kamarnya dia berapapasan dengan Kanaya.


"Loe belum siap-siap Re?" tanya Kanaya yang melihat baju Rea masih sama seperti saat pertama kali sampai siang tadi.


"Apa pesta nya sudah selesai?"


"Selesai apa? pestanya bahkan belum di mulai, loe tau kan biasa jam karet, sama seperti kamu yang lain juga tadi pada pergi jalan-jalan dulu," ucap Kanaya.


Rea merasa bersyukur kemudin bergegas ke kamarnya, gadis itu mandi, berdandan, lalu naik ke rooftop hotel tempat pesta Celine diadakan.


Suasana sangat meriah disana, teman-teman Celine yang lain terlihat sangat glamor, sementara Rea memilih untuk berdandan sesimpel mungkin.


Rea mendekati Celine yang mengenakan gaun panjang berwarna putih tulang dengan belahan sampai dibawah paha, memberikan kado yang dia beli tempo hari ke Celine, gadis itu langsung membuka hadiah dari Rea, terang saja semua mata terkejut terutama Mia dan Kanaya, karena kado dari Rea adalah sebuah cincin silver yang harga nya terbilang tidak murah.


"Ini cantik sekali Re, terima kasih," ucap Celine.


Ia tersenyum senang melihat temannya itu suka dengan kado yang dia berikan.


Para gadis begitu menikmati pesta itu tak terkecuali Rea, selain band dan penyanyi solo, seorang DJ juga didatangkan Celine kesana.


Rea mendekat ke arah teman-teman Celine untuk berbaur, ia mencoba meminum alkohol seperti yang dilakukan gadis lain disana , alhasil kepalanya pusing, gadis itu mabuk hanya karena meminum dua gelas cocktail, akhirnya Kanaya harus susah payah membantu Rea kembali ke kamarnya.


Setelah membaringkan Rea ditempat tidur, Kanaya mencoba membantu melepas sepatu Rea.


"Re, elo tu ya, tau ga bisa minum, tapi pake acara ikut minum segala," ucap Kanaya sambil susah payah melepas sepatu dikaki Rea.


Setelah memastikan gadis itu baik-baik saja Kanaya pergi dari sana.


Seseorang Pria terlihat masuk kedalam kamar Rea lalu berbicara, tapi ia terlalu mabuk untuk bangun, orang itu hanya meletakkan sesuatu di nakas dan menulis sebuah catatan dengan kertas yang tersedia diatas sana.


Sinar matahari masuk ke dalam kamar melewati jendela yang kordennya tidak sempat ia tutup semalam.


Gadis itu membuka matanya, kemudian duduk bersandar pada kasur memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing. Dia melirik ke arah nakas, HPnya tergeletak disana dengan sebuah kertas diletakkan dibawahnya, ia bergeser meraih HP dan kertas itu.


HPmu ketinggalan dimobil dan beberapa kali Arkan menelpon, aku tidak berani mengangkatnya ~ Elang


Rea memegangi kepalanya, merapikan rambutnya yang berantakan, mencari charger ditasnya lalu menghidupkan HPnya, melihat 15 panggilan tak terjawab dari Arkan dan beberapa pesan juga dari calon suaminya itu.


Rea memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sambil menunggu baterai HPnya sedikit terisi.


Gadis itu berdiri dibawah shower, menarik tuas shower tanpa membuatnya hangat, sesekali menggosok wajahnya sendiri seperti orang yang sedang kebingungan, berpikir apa yang harus dia katakan ke calon suaminya.


Setelah selesai mandi ia duduk di samping ranjang, melepas charger dari ponselnya, belum sempat dia menekan nomor kekasihnya, laki-laki itu sudah menelponnya terlebih dahulu.


Arkan :"Sayang, kamu kemana aja hem? Kenapa semalam tidak membalas pesan dan mengangkat telpon ku?"


Rea hanya terdiam entah kenapa pertemuannya kembali dengan Elang membuatnya merasa bersalah ke laki-laki itu.


Arkan :"sayang.. Rea, apa kamu disana?"


Rea: " hei, maaf sayang semalam HP ku mati"


Arkan :"apa kamu baik-baik saja? tidak ada masalah kan? kenapa suaramu serak begitu?"

__ADS_1


Rea :" aku baik-baik aja, aku habis mandi air dingin, semalam aku mencoba minum padahal hanya sedikit, tapi membuatku mabuk dan sekarang kepalaku masih sedikit pusing"


Arkan :"apa yang kamu minum?"


Rea :"cuma cocktail"


Arkan :"baru sehari udah berani minum ya, nakal banget”


Ucap Arkan dengan nada bercanda yang membuat Rea tertawa.


Arkan :"kalau kamu masih pusing lebih baik istirahat dulu, minta ijin ke temanmu untuk tidak ikut acaranya hari ini"


Rea hanya tertawa dan mengiyakan semua nasihat dari kekasihnya, sebelum menutup telpon laki-laki itu mengancam akan menyusulnya jika ia tidak mengangkat telpon dan membalas pesannya lagi. Ia sudah hampir memasang chargernya kembali saat melihat sebuah pesan masuk


Apa hari ini kita bisa bertemu lagi? ~Elang


Rea kemudian melihat jadwal acara Celine hari ini, baru membalas pesan dari kakaknya.


kamu bisa menjemputku sekitar jam Empat sore ~ Rea


Baik, kabari aku kalau sudah sampai hotel ~ Elang


Gadis itu memandangi layar ponselnya, tiba-tiba dia merasa bersalah lagi pada Arkan, kenapa rasanya berbeda, apa karena ini Elang, laki-laki yang pernah dia cintai di masa lalu, bahkan saat dia makan berdua dan mengobrol dengan Axel dia tidak merasa sebersalah ini ke calon suaminya.


"Apa aku masih menyimpan perasaan ke dia?" bisik Rea dalam hati, kemudian merebahkan badannya diatas kasur.


Setelah lelah dengan pikirannya sendiri, ia bersiap-siap keluar kamarnya untuk turun sarapan, saat keluar dari kamar dia melihat Kanaya yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Udah bangun loe Re?" Tanya Kanaya sambil tertawa menutup pintu kamar nya.


"Gue lah siapa lagi," ucap gadis itu.


Rea cuma bisa nyengir "makasih ya."


Kanaya mengangguk kemudian mereka berjalan menuju lift.


"Oh ya ngomong-ngomong cowok itu siapa Re?"


"Cowok yang mana?"


"Wahhhh parah kamu bener-bener ga sadar ya, untung waktu itu aku masih nungguin diluar" kalimat Kanaya membuat Rea mengernyitkan dahi.


"Jadi pas aku keluar, cowok itu udah ada didepan kamar kamu, dia minta ijin aku buat masuk karena dia bilang barangmu ada yang tertinggal di mobilnya, sopan banget sumpah tapi tetep aja aku nungguin sampe dia pergi," cerita Kanaya.


Rea tersenyum baru sadar siapa yang dimaksud Kanaya “dia kakak gue”


"Kakak Re? eh sumpah ya berapa banyak kakak loe yang keren kayak gitu sih selain Axel" Kanaya geleng-geleng kepala tak habis pikir.


Mereka berdua terus mengobrol sampai masuk ke restoran hotel untuk sarapan.


Sebuah bus sudah menunggu para gadis itu didepan hotel, mereka seru-seruan didalam bus, menyanyi, bercanda, bahkan bergantian bercerita tentang hal-hal jorok, Rea tau teman-teman Celine rata-rata gadis dari keluarga terpandang, tapi ternyata para gadis itu juga bisa berkata dan menertawai hal-hal jorok seperti memasukkan dan menjilat benda milik lawan jenis ke mulut, yang menurut Rea amat sangat menjijikan.


Tiba-tiba Rea ingat dia harus menghubungi Axel, jangan sampai laki-laki itu lupa akan janji nya, karena bisa-bisa membuat dia malu dihadapan Celine dan teman-temannya.

__ADS_1


Kamu tidak lupa janji mu kan? ~ Rea


Tidak langsung ada balasan, gadis itu menghela napas kesal. Selang beberapa menit barulah notifikasi pesan HPnya berbunyi


Tenang saja, yacht itu pasti sedang menuju kesana sekarang ~ Axel


Terima kasih ~ Rea


Apa hanya ucapan terima kasih? membawa yacht kesana tidak gampang tau ~ Axel


Jadi apa yang kamu minta sebagai imbalan ~ Rea


Pergi makan malam bersama denganku ~ Axel


Ax kamu kan tau aku sudah punya kekasih, pergi makan malam berdua? kamu gila, bagaimana kalau sampai kekasih ku tau? ~ Rea


Bilang saja kamu pergi makan malam dengan calon kakak tirimu, selesai. Apa masalahnya? Kekasihmu pasti tidak akan berpikir macam-macam karena tidak mungkin ada kakak yang menjalin hubungan special dengan adiknya, tapi jikapun ada bukankah tidak akan mejadi masalah besar ~ Axel


Rea mendengus sedikit kesal, tidak mengerti apa maksud pesan Axel barusan.


"Maksudmu apa?" ucapnya lirih, kemudian meletakkan HP dipangkuan nya, tidak ingin membalas pesan laki-laki itu lagi.


Bus tiba disebuah tempat wisata berupa tebing-tebing tinggi dengan ukiran-ukiran gambar di dindingnya, Rea keluar melihat sekeliling lokasi wisata itu yang terbilang sangat ramai, melihat beberapa pasangan yang sedang melakukan foto preweding, dan orang-orang yang sibuk ber swafoto, ia memandang alas kakinya tidak mungkin dia berjalan keatas dengan memakai heel, bodohnya semua alas kaki yang dia bawa bermodel tinggi, akhirnya dia membeli sepasang sandal yang banyak di jual pedagang sebagai souvenir disana.


Gadis itu naik keatas sendirian, semua teman nya sudah menyebar entah kemana.


Pandangannya menerawang jauh, dia tiba-tiba berpikir lebih baik tidak ikut saja tadi, karena disana benar-benar panas.


Celine datang mendekat ingin membuat Rea kaget dengan mengejutkannya dari belakang, tapi sayang teriakannya sama sekali tidak membuat gadis itu kaget.


"Kaget donk" Celine memasang muka cemberut.


Rea hanya tertawa mengejek "kamu kayaknya ga punya bakat ngerjain aku deh."


Celine tersenyum kemudian berdiri disamping Rea "Loe kenapa sih kayak ga nikmatin acara gue, atau loe lagi banyak pikiran?" Tanya Celine.


"Keliatan ya?" Rea tersenyum kecut.


"Banget, by the way kemarin siang loe pergi kemana kalau boleh tau.”


Rea memandang Celine


"Gue sempet nyari loe mau ngajak makan siang bareng, eh loe nya ga ada dikamar" lanjut Celine.


"Cel.,"


"Apa?"


"Kalau gue sekarang ijin pergi dari acara lo gimana? lo keberatan ga?"


"Mau kemana emang nya?"


"Ada yang musti gue lakuin"

__ADS_1


Celine memandang heran ke arah Rea karena wajah gadis itu berubah serius.


__ADS_2