
Seminggu ini Rea memilih untuk tinggal dirumah Jordan, hari itu dia bangun pagi-pagi meraih undangan pernikahan dimeja riasnya, melihat tanggal pernikahan laki-laki yang sangat dicintainya.
Gadis itu mengambil tasnya kemudian turun kebawah tanpa mandi menuju dapur, menyapa pembantu dirumah papa tirinya yang tengah bersiap membuat sarapan.
Rea berpesan untuk menjawab pulang ke apartemen untuk bersiap menghadiri acara pernikahan temannya jika ada yang menanyakan kemana dirinya pergi. Pembantu itu mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaannya, Rea berjalan keluar mencari taksi konvensional untuk pulang.
Sementara Arkan semalaman tidak bisa tidur, bukan karena merasa grogi akan melangsungkan pernikahan melainkan karena merasa sebentar lagi hidupnya akan berakhir.
Laki-laki itu berulang kali melirik jam ditangannya, beberapa menit lagi dia harus berangkat ke rumah Selena bersama keluarga besarnya, kedua belah pihak telah sepakat melangsungkan akad nikah dan resepsi dikediaman mempelai wanita dan dibuat sesederhana mungkin melihat kondisi Selena.
Seusai mandi Rea duduk termenung didepan meja riasnya, tangannya mulai meraih satu persatu skincare dan alat make up yang ada dimeja, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi tangannya mulai menyapukan brush ke wajahnya, setelah selesai dengan riasannya dia berjalan membuka lemari bajunya, mengambil sebuah gaun a-line panjang berwarna silver dengan belahan tinggi.
"Such a good dress before you die" bisiknya.
Gadis itu memakai gaun yang dia pilih tadi, melihat pantulan dirinya sendiri dicermin. Tangannya meraih HP yang dia matikan sejak dari tadi, memasukkannya ke dalam clutch yang terlihat senada dengan gaun yang dia kenakan, tangannya terlihat merogoh sesuatu dari dalam tasnya, kemudian memasukkan benda itu kedalam clutch ditangannya.
Dia turun ke basement berjalan tegap berpura-pura tegar, dengan pasti membawa mobilnya yang baru diantar dari rumah ayahnya menuju acara pernikahan orang yang dia cintai, tangannya menyalakan radio berharap lagu yang diputar penyiar bisa membuat hatinya merasa lebih baik.
No one will win this time
Tidak akan ada yang menang kali ini
I just want you back
Aku hanya ingin dirimu kembali
I’m running to your side
Aku berlari kesisimu
Flying my white flag, my white flag
Mengibarkan bendera putih (menyerah/kalah)
My love where are you?
My love where are you?
Dimana dirimu sayangku?
Whenever you’re ready, whenever you’re ready
Kapanpun kamu siap
Can we, can we surrender?
Bisakah kita, bisakah kita menyerah?
I surrender
Aku menyerah
lagu dari radio yang berjudul Surrender itu malah membuatnya menangis sepanjang perjalanan, suara sang penyayi Natalie Taylor malah makin mengobrak-abrik hatinya, tapi dia tidak mematikan radio mobilnya.
Sementara dirumah, Elang teringat dan membuka benda kecil yang diberikan Karmila kepada dirinya, laki-laki itu terkejut mengusap wajahnya kasar, ternyata flash disk dari Karmila berisi rekaman video dan suara dari Selena.
"Sial kenapa baru aku buka sekarang" umpatnya menyesali kebodohannya sendiri.
Elang mencoba menghubungi Rea tapi tidak diangkat, dia kemudian menghubungi Arkan juga tidak diangkat, laki-laki itu membiarkan ponselnya tergeletak di ranjang tempat tidur, sementara dia sudah keluar dari kamar sedari tadi untuk pergi ke kediaman Selena.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Lidia baru keluar dari kamarnya, Jordan dan Axel sudah berangkat kerja beberapa jam yang lalu, wanita itu merasa kurang enak badan apalagi sekarang dia sedang mengandung hampir tujuh bulan, ia duduk dikursi makan melihat pembantunya yang sedang membersihkan dua sisa piring dimeja kemudian bertanya.
"Apa Rea belum makan?"
"Mba Rea pagi-pagi tadi sudah pergi katanya balik ke apartemen bu, karena Ibu masih tidur mba Rea bilang tidak enak kalau bangunin ibu cuma buat pamitan, jadi cuma nitip pesan katanya mau ke pernikahan temannya."
Lidia menghentikan tangannya yang akan melahap sepotong roti, sejenak berpikir apakah hari ini adalah hari pernikahan Arkan dan Selena.
❤❤❤❤❤
Rea memasuki halaman rumah Selena menunjukkan undangan adalah syarat agar bisa masuk kesana. Mata gadis itu menatap sebuah meja dan kursi dengan tatanan bunga, jelas itu adalah meja dimana Arkan akan mengucapkan akad nikah menerima Selena sebagai istrinya nanti.
Lama gadis itu berdiri kemudian dia melihat Arkan yang begitu tampan memakai basofi berwarna broken white duduk dikursi yang sudah disiapkan.
Elang masih berusaha menghubungi Rea dan Arkan tapi kedua orang itu tidak ada satupun yang berhasil dia hubungi, dengan buru-buru dia mengirim video dan rekaman yang dia dapat dari Karmila ke Arkan dan Rea berharap salah satu diantara mereka membuka pesan darinya.
Rea memilih duduk, tangannya membuka clutch miliknya mangambil ponselnya kemudian menyalakannya. Matanya memandang ke depan terlihat ibunda Selena mendorong anaknya memakai kursi roda, dengan bantuan beberapa orang yang ada disana memapah Selena untuk duduk disamping Arkan.
Hati Rea terasa dicabik-cabik, beberapa kali dia mengehela napas berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Seorang pembawa acara mulai membacakan susunan acara, Rea mendongak keatas berusaha agar air matanya tidak sampai jatuh menetes ke pipinya, gadis itu memilih berdiri menjauh, membuka HPnya melihat sebuah pesan dari Elang.
Rea membelalakkan matanya melihat video dimana Selena sedang berdiri dari kursi rodanya mencoba kebaya pengantin yang Rea lihat beberapa detik yang lalu, wajah Selena terlihat tertawa bahagia.
"Dasar gadis licik," ucap Rea yang kemudian berbalik melihat Arkan yang sudah menjabat tangan papa Selena.
❤❤❤❤❤
Lidia masuk ke dapur membuka kulkas, mengambil kotak strawberry miliknya yang semula separuh tinggal beberapa biji saja. Lidia mendengus kesal bertanya ke pembantunya siapa yang berani menghabiskan strawberry miliknya.
"Apa Rea?" Lidia terkejut mendengar jawaban pembantunya.
"Iya Bu," pembantu itu terlihat takut karena mata majikannya melotot.
"Tadi kamu bilang mba Rea pamit kemana?"
"Kondangan Bu."
"Ya Tuhan Rea," Lidia berteriak histeris membuat pembantunya kaget melihat tubuh wanita itu tiba-tiba limbung, dengan sigap pembantunya menahan tubuh Lidia mamapahnya duduk dikursi makan.
Lidia meraih ponselnya mencoba menelpon Rea tapi tidak diangkat, gadis itu menggenggam HPnya sedang berdiri terdiam masih menatap Arkan yang menjabat tangan pak gubernur.
Lidia berusaha menelpon Laras tapi sayang, wanita itu sedang fokus melihat ke arah anak laki-lakinya yang sedang menjadi pusat perhatian disana.
"Kenapa ga diangkat sih ras?" Lidia sudah berlinangan air mata.
Lidia kemudian mencoba menelpon Andi.
Rea memasukkan HPnya ke dalam clutch tangannya meraih buah yang dia curi dari mamanya, berjalan mendekat kearah meja akad dimana posisi Arkan dan Selena memunggungi dirinya, dia tidak peduli dengan orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh, dia mulai memasukkan buah strawberry itu kedalam mulutnya.
Andi merasakan benda pipih di kantong nya bergetar terus menerus, akhirnya dia berdiri menjauh melihat layar ponselnya yang menunjukkan panggilan dari Lidia, Andi menerima panggilan itu.
"An tolong, apa kamu lihat Rea disana, dia sedang mencoba bunuh diri, Andi tolong aku!" Lidia terdengar menangis tersedu-sedu.
"Tenang lah Lid, bicara yang jelas," ucap Andi.
"Apa kamu lihat Rea disana, tolong cegah dia, dia membawa hampir separuh strawberry milikku, kalau sampai dia memakannya habis, aku ga tau apa yang akan terjadi please An please!"
__ADS_1
Andi mengerti apa yang Lidia maksud kemudian melihat ke arah orang-orang yang hadir berusaha menemukan Rea.
Laki-laki itu melihat Rea sedang berjalan mendekati meja akad, benar saja gadis itu terlihat memegang strawberry dan sudah hampir memakan buah itu, tapi Andi sendiri tidak tau entah buah yang keberapa.
Seketika Laras dan Arkan pun terkejut melihat pria itu berlari dan terlihat sangat kuatir.
“Terima kasih Tuhan, jika harus mati setidaknya aku tidak mati hanya karena meratapi rasa sakit hatiku, aku bisa menyelamatkan laki-laki itu dari perempuan jahat dan licik seperti Selena,” bisik Rea dalam hati sambil memasukkan strawberry kedalam mulutnya.
"REAAAA JANGAAANNN!" teriak Andi yang membuat Arkan menoleh dan melepaskan tangan papa Selena.
Gadis itu tersenyum melihat Arkan berdiri, memakan buah strawberry ke empatnya, sontak Arkan berlari menghambur ke arahnya.
Rea sudah merasa jantungnya berdetak cepat, mulai merasakan dadanya sesak, dan badannya terasa mulai lemas, sesekali dia mengambil napas dari mulutnya.
Semua orang terkejut merasa heran dengan apa yang sedang terjadi, Laras dan Andi juga berlari mendekat ke arah gadis itu.
Arkan sudah berdiri didepan Rea yang mengulurkan ponsel ke arahnya, berusaha menunjukkan video yang dikirim Elang ke dirinya.
"Ini mungkin adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan untukmu," ucapnya sesaat sebelum tangannya lemas, Rea jatuh sebelum ponsel yang dia pegang diterima tangan Arkan.
Arkan meraih tubuh Rea mencoba mencegah kepala gadis itu agar tidak sampai membentur tanah.
"REEAAA," pekik Arkan.
Laras memungut HP Rea melihat video yang ingin dia tunjukkan kepada Arkan, seketika wajahnya berubah benci, Andi mengambil HP dari tangan istrinya melihat ke arah Selena, gadis itu tanpa sadar sudah berdiri dari kursinya.
"Gadis penipu," ucap Andi penuh emosi.
Arkan menganggkat tubuh Rea, Selana berlari berusaha menarik lengan Arkan.
"Kamu ga boleh pergi Ar, kamu sudah berjanji menikahi ku," pekik gadis itu.
"Janji apa? dasar wanita licik pembohong, lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu," ucap Arkan yang pergi menuju mobilnya disusul Andi dan Laras.
Mereka tidak perduli dengan para tamu dan orang tua Selena, mereka ingin segera membawa Rea kerumah sakit.
Arkan terlihat sangat panik, papanya meminta laki-laki itu duduk dibelakang bersama Rea yang tak sadarkan diri, Andi masuk kemobil diikuti Laras yang keluar dari kursi belakang berpindah kesamping suaminya yang memegang kemudi. Air mata Arkan menetes melihat tubuh Rea yang pucat.
"Re, kenapa kamu sampai berbuat nekat kayak gini, please jangan tinggalin aku, please!" ucap Arkan sambil menciumi kening gadis itu.
Sesampainya di UGD Rea dibawa masuk kedalam untuk mendapat penanganan dokter, sementara mereka yang mengantar hanya dipersilahkan menunggu diluar, Andi menelpon Lidia meminta maaf karena tidak bisa mencegah tindakan Rea dan mengabari kalau mereka sekarang sedang berada dirumah sakit.
-
-
-
-
-
-
LIKE 👍
KOMEN 💋
LOVE 💖
__ADS_1
Thank a Ton