Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 109


__ADS_3

Aura seorang ibu baru terpancar jelas dari wajah Rea, beberapa jam setelah melahirkan bayi kembarnya dia sudah terlihat segar, dengan dikelilingi orang-orang yang mengasihinya, ia terlihat santai duduk bersandar di ranjang pasiennya sambil menatap mertua, mama dan ayahnya yang sibuk memperebutkan ponsel milik sang suami, dimana ada foto dua cucu mereka disana.


"Axel pasti juga punya." Lidia menyambar ponsel yang tengah di pegang anak tirinya dari pada berebut dengan besannya.


Axel terlihat cemberut, laki-laki itu lalu memlih duduk disamping Arkan. "Lama sekali, kenapa bayi kita tidak segera dibawa kemari? tidak ada masalah kan?" tanyanya cemas.


"Tenang saja Ax, mungkin sebentar lagi."


Rea hanya tertawa melihat kedua papa baru yang jelas semalaman tidak tidur karena menunggui persalinannya, namun mereka masih terlihat semangat menunggu perawat membawa bayinya ke kamar.


"Oh ya siapa nama bayi kalian? Apa kalian sudah memberi nama?" tanya Andi penasaran.


"Nama aku serahkan ke mamanya," jawab Arkan sambil tersenyum ke arah sang istri.


"Lalu siapa namanya?" Farhan tak kalah penasaran dengan nama yang akan diberikan Rea untuk cucunya.


Belum sempat Rea menjawab pertanyaan tentang nama anaknya, Kinanti terlihat masuk bersama seorang perawat, meletakkan dua box bayi di samping ranjang Rea. Semua orang sudah berebut ingin menggendong bayi itu, namun dengan sigap sang perawat meminta mereka menggunakan handsanitizer terlebih dahulu.


Ken mengambil satu bayi lalu menggendongnya. "Kalian tahu, kita sudah bisa menebak mana yang Bebe dan mana yang Bubu, golongan darah mereka berbeda."


Rea tersenyum sambil mengulurkan tangannya meminta sang bayi dari gendongan kinanti. Ia tersenyum, menyentuh pipi bayi mungilnya dengan jari telunjuknya, menempelkan hidungnya di hidung bayi mungil itu, sementara Kinanti memgambil bayi kedua.


"Aku sudah memberi tahu Kinanti nama mereka, jadi aku mempersilahkan Ken untuk mengumumkannya," ucap Rea.


"Lihat Ax! kita ayahnya saja tidak diberi tahu nama anak kita, tapi Ken? Wah sepertinya Rea lebih mencintai Ken," canda Arkan.


Kinanti tertawa mendekat ke arah Arkan dan memberikan bayi yang ada didalam gendongannya ke suami calon adik iparnya itu.


"Aku sudah memberi tanda dengan gelang yang berbeda, ini anakmu Ar, Bening."


Semua orang tersenyum, mata Arkan terlihat menggenang, ia menatap ke arah Rea yang sedang menimang bayi satunya, bibir laki-laki itu tersenyum bahagia, perasaan haru seolah menyelimuti hatinya.


Kinanti mengambil bayi ditangan Rea, memberikannya ke Axel, laki-laki itu terlihat begitu hati-hati menerima sang bayi.


"Ini anaknya papi Axel, Embun." ucap Ken.


Axel tersenyum, ia juga benar-benar bahagia, matanya seolah tak mau lepas memandangi wajah bayi kecilnya "Hai Embun, ini papi," bisiknya.


Lidia dan Laras tak membiarkan kedua ayah baru itu lama-lama menimang sang cucu, kedua wanita itu langsung meminta baby Be dan baby Bu dari tangan Axel dan Arkan.


Sementara para wanita sibuk dengan dua bayi mungil itu, Andi dan Farhan berebut nama belakang untuk cucu mereka.


"Bening Pradipta, cucuku harus memiliki nama Pradipta," ucap Farhan.


"Bukankah Embun juga cucumu, minta Axel memberi nama Embun Pradipta, biarkan Bening memakai nama Affandi," balas Andi.


"Tidak bisa, cucuku harus memiliki nama Jordan dibelakangnya." Jordan yang baru masuk ke dalam kamar itu ikut memperdebatkan masalah nama keluarga untuk cucunya.


Kinanti yang berdiri disamping Rea terlihat tertawa menyaksikan perdebatan para kakek, sementara Axel dan Arkan memilih untuk menjauh dan berdiri menyaksikan adegan langka itu.


"Bening Affandi Pradipta, sudah beri nama itu saja," ucap Andi.

__ADS_1


Sekarang giliran Arkan yang tak terima "Seharusnya papa tanya ke pemilik sahamnya ingin diberi nama siapa," canda Arkan.


"Lalu kamu ingin memberi nama siapa dibelakang nama bening?" tanya sang papa.


Arkan memandang Rea, gadis itu terlihat mengedikkan bahunya "Apa?" tanyanya ke sang suami tanpa bersuara.


"Aku tidak bilang akan memberi dia nama belakang, aku akan memberi dia nama depan."


"Banyu Bening."


Arkan menghentikan kata-katanya, matanya masih menatap wajah Rea yang terlihat penasaran sama seperti yang lain.


"Pradipta," ucap Arkan.


Farhan melonjak kegirangan, Rea tersenyum sambil berucap tanpa suara lagi "Terima kasih."


Arkan tertawa, ia tahu bahwa istrinya sudah pasti sangat menginginkan nama Pradipta ada dibelakang nama sang anak.


"Lalu akan kamu beri nama panjang apa Embun?"


Pertanyaan Lidia ke Axel membuat semua orang menjadikannya pusat perhatian setelah Arkan, laki-laki itu tersenyum mendekat ke arah sang mama yang sedang menggendong anaknya, Axel mencium pipi bayi mungilnya sebelum mengubah arah pandangannya ke Rea.


"Aku ingin Embun memakai nama keluarga papa dan namaku, apa kamu keberatan?" tanyanya ke Rea.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, bertanda apapun nama yang akan diberikan Axel ke anaknya dia pasti akan menyetujuinya.


"Embun Sky Jordan, itu namamu sayang." Axel kembali mencium bayi merah itu.


Kinanti yang melihat langsung berteriak melarang "No uncle, uncle belum cuci tangan," ucapnya.


Elang mencebik kesal, membuat semua orang tertawa.


Kabar kelahiran bayi Rea sudah menyebar kemana-mana, bahkan pihak rumah sakit menggelar konferensi pers seolah bayi Rea adalah cucu presiden negara ini. Mereka juga memperlihatkan ke wartawan foto bayi yang tengah di gendong papanya masing-masing, tentu saja tanpa menunjukkan wajah kedua bayi itu, karena Rea tidak ingin kedua anaknya sampai terekspos ke publik.


***


Rea memandangi dua bayinya yang tengah tidur di atas ranjang kamar mereka, Axel yang berada di dekatnya terlihat menautkan lengan tangannya didepan dada.


"Apa tidak apa-apa kita meninggalkan mereka untuk beberapa jam?" tanya Axel.


"Hem... setelah acara seremoninya selesai kamu dan Mas Arkan bisa tinggal dulu untuk ikut pesta, aku bisa pulang sendiri."


Rea memandang ke arah laki-laki gagah yang mengenakan setelan jas berwarna hitam disampingnya.


" Ax, Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Terima kasih sudah mau membantu papa Bening, akhirnya dia bisa memiliki sebuah perusahaan sendiri, dia terlihat begitu bahagia." ucap Rea.


"Bukan masalah, aku juga pebisnis jadi itu tidak cuma-cuma."

__ADS_1


Rea tersenyum sambil mendekat ke arah dua bayinya, membenarkan letak guling diantara Bening dan Embun.


Satu minggu setelah istri dan anaknya pulang dari rumah sakit Arkan menggelar acara peluncuran market place yang dia dirikan, seharusnya perusahaan itu akan menjadi kado sebelum kelahiran Bening dan Embun, namun sayang kedua bayi itu memilih lahir sebelum HPL nya.


Tanpa mengetuk pintu Arkan masuk ke dalam kamar, meminta sang istri untuk membenarkan letak dasi di lehernya, Axel yang melihat pemandangan mesra itu memilih keluar dari sana.


Setelah memastikan penampilan laki-laki di depannya sempurna, Rea mengusap bagian dada jas yang dikenakan Arkan, bibirnya menipis menatap wajah suaminya penuh cinta.


"Apa kamu mencintaiku?"


"Tentu saja, kamu tahu pasti hatiku cuma milikmu." Arkan membelai lembut pipi sang istri.


"Apa Bening tidak?" godanya.


Arkan tersenyum, menyentuh dagu sang istri kemudian mencium bibir ranum Rea.


"Milikmu, Bening, Embun juga Noah," ucap Arkan yang langsung kembali mencium bibir istrinya.


Mereka berdua seolah lupa harus pergi segera ke acara peluncuran RBB market, menikmati cumbuan di depan kedua bayi mereka yang terlelap tidur. Rea melepaskan tautan bibir Arkan, ia sadar jika dilanjutkan aktifitas mereka akan menjadi semakin liar dan panas, dia juga sadar masih dalam masa nifas.


Arkan menempelkan keningnya di kening sang istri, matanya yang terpejam perlahan terbuka, bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan.


"Seperti mimpi aku sudah punya tiga orang anak, apa aku sudah tua?" gumamnya.


Rea tertawa mendengar ucapan suaminya, menjauhkan wajahnya dari wajah laki-laki itu, Ia melingkarkan tangannya di lengan Arkan sambil mengajaknya berjalan keluar kamar.


"Aku anugerahi dirimu gelar Hot daddy tahun ini," canda Rea.


"Iyakah? lalu apa hadiahnya untukku?" Arkan mencoba menggoda istrinya.


"Hadiahnya nanti saat masa nifasku sudah selesai."


"Jangan bilang kamu ingin segera punya anak lagi?"


"Memang, aku ingin punya sepuluh anak karena sekarang sudah tiga masih kurang tujuh, dan itu akan menjadi hadiah sekaligus PR untukmu," goda Rea.


_


_


_


_


_


_


Jangan Lupa bagi LIKE dan KOMEN ya 😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2