Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 68


__ADS_3

Disebuah pantai yang gelap hanya disinari cahaya rembulan, ditemani suara deburan ombak dan angin malam yang berhembus meniup helaian rambut lembut.


Rea baru sadar apa yang akan Arkan lakukan saat melihat laki-laki itu masih terus berjalan meskipun air sudah terlihat menyentuh lututnya.


"Apa dia mau bunuh diri?" bisik Rea dengan sedikit cemas.


Gadis itu berjalan mendekat sambil memanggil nama kekasihnya "Ar ga lucu, balik ga? Aku ga suka kamu bercanda kayak gini"


Arkan bergeming air laut terlihat sudah hampir menyentuh pinggangnya, Rea melepas high heel yang dia pakai, menaikkan sedikit gaunnya kemudian berlari ke arah pantai.


"Ar balik, apa kamu ga kedinginan? bukannya tadi pagi kamu demam."


Kaki Rea menyentuh air, dia tersentak karena air itu benar-benar sangat dingin, gadis itu menunduk melihat kakinya ia ragu untuk melengkah lagi.


"Ar ba----." belum sempat ia meneruskan kalimatnya, sebuah ombak menerjang, ia melihat tubuh Arkan tersapu air bahkan dirinya yang masih berada dibibir pantai sampai jatuh terjerembab.


Setelah air yang menyapu tubuhnya mengalir kembali ke laut Rea berdiri, memandang pantai yang gelap, dia kebingungan tidak melihat sosok Arkan, gadis itu mulai ketakutan dan menangis, berlari hampir masuk ke air sambil berteriak memanggil nama kekasihnya.


"Arkan..., ya Tuhan apa yang terjadi, Arr...Arkan," teriaknya.


Dia jatuh terduduk lemas sambil menangis, tangannya terlihat gemetaran antara kedinginan dan panik.


"Arkan..., Sayang..,"ucapnya lirih sambil terisak.


Rea berusaha bangun untuk meminta bantuan, tapi saat dia berdiri Arkan sudah berada didepannya dengan baju basah kuyup, rambut laki-laki itu juga terlihat berantakan tapi dimata Rea penampilan Arkan malah sangat terlihat tampan.


"A.. pa..ka..mu..su..dah ingat?" tanya Arkan terbata-bata sambil mengusap bibirnya yang basah karena air masuk kedalam mulutnya.


Rea langsung memeluk laki-laki itu, menangis sejadi-jadinya.


"Bodoh dasar laki-laki bodoh," ucap Rea sambil memukuli punggung Arkan dengan tangannya.


"Kalau kamu sampai mati, aku juga tidak mau hidup lagi," lanjutnya.


Arkan memeluk Rea erat "Apa sudah cukup bermain dramanya?"


Gadis itu melepaskan pelukannya kemudian memundurkan badannya menatap wajah Arkan yang terlihat agak pucat karena kedinginan.


"Apa kamu sudah tau?"


"Iya," ucap Arkan sambil menyibakkan rambut yang menempel di pipi kekasihnya.


"Sejak kapan?


"Baru tadi siang."


"Darimana kamu tau?"


"Mama."


"Tante Laras, padahal aku sudah bilang untuk jangan memberi tahu sampai ulang tahunmu."


Arkan merengkuh tubuh Rea yang sedang cemberut memeluknya erat-erat seolah takut kehilangan.


"Jangan hukum aku seperti ini lagi, aku benar-benar takut," bisiknya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak sadar perbuatanmu lebih jahat ke aku, menikahi Selena? Apa kamu pikir aku masih mau menikahimu meskipun kamu sudah menceraikannya?"


"Apa kamu tidak mau? Kenapa?," tanya Arkan.


"Aku tidak mau seumur hidup dicap sebagai perebut suami orang, lagi pula masih banyak laki-laki yang mau denganku," candanya.


"Lalu kenapa kamu mencoba bunuh diri dengan memakan strawberry?"


"Aku bukan mau bunuh diri tapi aku sedang mencoba menyelamatkan dirimu dari pernikahan yang tidak kamu inginkan itu," elak Rea.


"Kenapa kamu ingin menyelamatkan aku? kenapa tidak membiarkan saja aku menikah dan hidup menderita dengan wanita yang tidak aku cintai sama sekali," tanya Arkan sambil melepaskan pelukannya ke Rea.


"Karena aku mencintaimu," ucap Rea sambil menatap mata laki-laki didepannya penuh cinta.


Arkan terdiam memandangi wajah kekasihnya lalu mendaratkan bibirnya ke bibir gadis itu menciumnya dalam penuh kerinduan, mereka merasakan hangat karena desiran dari dalam tubuh mereka, tapi kemudian sebuah ombak menerjang lagi membuat mereka jatuh terjerembab dengan posisi Arkan menindih badan Rea.


"Aku mencintaimu," ucap Arkan berusaha bangun sambil mengerjabkan sebelah matanya karena merasa pedih.


Rea tertawa menarik lengan kekasihnya agar jatuh ke pelukannya.


"Jangan berani mengambil keputusan sendiri jika itu menyangkut kita atau aku akan benar-benar pergi dan tidak akan pernah mau kembali padamu," bisik Rea.


"Maafkan aku, aku menyesal otakku tidak bisa berpikir jernih jika menyangkut dirimu."


Arkan membalikkan badannya, mereka berdua berbaring diatas pasir pantai yang basah sambil bergandengan tangan, menatap ke arah langit melihat bulan yang sinarnya menerangi pantai malam itu.


"Punggungku rasanya geli," ucap Rea.


"Beraninya memakai baju seperti itu didepan banyak orang, bukannya aku sudah pernah bilang kamu hanya boleh memperlihatkan tubuhmu hanya padaku."


"Aku besok pasti demam lagi, "ucap Arkan lirih.


Rea kembali tertawa mendengar kalimat pujaan hatinya.


"Tenang saja aku akan merawatmu kalau kamu sampai sakit."


❤❤❤❤❤


Dan benar saja Rea akhirnya menemani Arkan, karena mereka sama-sama masuk rumah sakit karena demam dan gejala hipotermia.


Mereka memilih kamar kelas satu dengan dua ranjang pasien, tidak masalah dengan kamar yang sedikit sempit dan fasilitas jauh dibawah VVIP yang penting mereka bisa bersama.


Rea meminta perawat memasang infus di tangan kanannya, sementara Arkan meminta dipasang di tangan kirinya, tujuannya agar mereka bisa saling bergandengan tangan.


Elang yang duduk dikursi sambil menyilangkan kaki terlihat memijat-mijat dahinya melihat adik dan calon iparnya yang tengah berbaring di ranjang sambil berpegangan tangan tersenyum dan saling memandang, seolah dunia hanya milik mereka berdua.


"Kalian benar-benar sakit atau sedang sengaja pindah kencan ke rumah sakit?" tanyanya.


Arkan melepas genggaman tangannya ke Rea kemudian duduk menyandarkan punggungnya diranjang.


"Kakak ipar berbaik hatilah, kami ini benar-benar sedang sakit," ucap Arkan.


Rea yang juga sudah duduk menganggukkan kepala sambil memasang wajah sendu menatap ke arah kakaknya.


"Ah kalian membuatku mual," sindir Elang yang memilih berdiri dan membuka pintu untuk keluar dari sana, tanpa ia duga ternyata Ken sudah berdiri dibalik pintu kamar itu.

__ADS_1


Seketika Elang menarik tangan Kinanti melarangnya untuk masuk kedalam


"Tidak usah dibesuk mereka tidak sakit hanya pura-pura."


Kinanti membelalakkan matanya sedikit tidak percaya, ia sedikit melongok dari balik pintu untuk melihat kedalam, Rea melambaikan tangan kearah dirinya sambil tersenyum.


"Sepertinya sebentar lagi mereka jadian," ucap Rea.


❤❤❤❤❤


Arkan dan Rea kemudian menghabiskan waktu dengan menonton sebuah acara plesiran di televisi karena tayangan itu sebuah ide muncul dikepala Arkan.


"Ayo kita ajak Elang dan Ken liburan bersama, bagaimana kalau pergi ke Villa om Farhan?"


"Aku tidak yakin Ken bisa karena dia sibuk sekali, tapi akan aku coba membujuknya," ucap Rea sambil turun dari ranjang pasiennya menyeret tiang infus ditangannya mendekat ke arah ranjang kekasihnya.


"Apa?" tanya Arkan heran melihat kekasihnya yang berdiri disamping ranjangnya.


Rea mencondongkan badannya berbisik merayu "Vitamin C please!"


Arkan tersenyum dengan tangan kanannya menarik lembut dagu Rea mencium bibir ranum kekasihnya melakukan french kiss favorite mereka, mengubah posisi kepala mereka kekanan dan kekiri sambil sesekali tersenyum.


Gagang pintu kamar mereka terlihat bergerak ternyata Elang dan Ken yang datang lagi bermaksud untuk membawakan mereka makanan, pasangan yang sedang bercumbu itu mendengar suara pintu terbuka tapi tetap bergeming dan terus menikmati apa yang mereka lakukan, secepat kilat Elang menutup mata Kinanti dengan telapak tangannya, gadis itu mencoba menurunkan tangan Elang berkali-kali tapi laki-laki itu langsung menariknya keluar.


"Sungguh mataku ternistakan," gerutu Elang.


Ken hanya tertawa sambil menunduk melihat tangan Elang yang masih menggenggam erat tangannya, ia tersenyum sambil mengangkat kepalanya, Ken kaget melihat Ranu yang sudah berdiri dikoridor menatap tajam ke arah dirinya.


Ranu merasa cemburu melihat Elang yang menggandeng tangan gadis yang dia sukai, memandang laki-laki dihadapannya dengan sorot mata membenci. Elang mempererat genggaman tangan ke Kinanti dan dengan penuh percaya diri menarik tangan gadis itu melewati Ranu yang hanya bisa terdiam terpaku.


Ken sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Ranu ke Elang, dimana ibunda laki-laki itu merendahkannya hanya karena dirinya seorang anak adopsi. Entah bagaimana sebenarnya perasaan Elang ke gadis itu hanya dia sendiri yang tau, yang pasti dia merasa tidak suka jika Ken mendapat penghinaan seperti itu.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


To be continued

__ADS_1


__ADS_2