
Keesokan paginya Rea mendapati Arkan yang masih terlelap disampingnya, gadis itu tersenyum memandangi wajah belahan jiwanya, menggosokkan hidungnya ke hidung suaminya, dia ingat berjanji akan pulang kerumah mertuanya pukul sembilan pagi.
Matanya melirik kearah jam yang menunjukkan hampir pukul sepuluh dan bahkan Arkan masih belum bangun karena aktivitas mereka semalam. Rea merasa badannya pegal bahkan mahkota diantara pahanya terasa tak karuan, ia memilih bangun untuk pergi membersihkan diri.
Saat keluar dari kamar mandi Rea mendapati suaminya sudah duduk diranjang sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Peluk!" ucap Arkan manja. Rea mendekat melakukan apa yang suaminya minta.
"Apa terasa sakit?" bisiknya.
"Hem...kamu mengoyaknya," ucap Rea.
Arkan melepaskan pelukannya sambil tertawa memandang wajah gadis didepannya "Ayo kita ulangi dirumah mama," ucapnya menggoda.
Rea mencebik sambil memukul paha suami nakalnya "Mandi sana! bukankah kerabatmu akan pulang hari ini, ayo kita pasti sudah ditunggu!"
Laki-laki itu malah menyentuh dada istrinya yang membuat gadis itu berteriak "Sayang!" pekik Rea.
Arkan melompat dari atas kasur sambil terkekeh berlari masuk kedalam kamar mandi.
Sesampainya dirumah mertuanya Rea terlihat sedikit khawatir jika nanti ditanya soal malam pertama oleh mertua dan kerabat suaminya. Benar saja dia menjadi bahan ledekan karena baru datang pukul sebelas dari janjinya pukul sembilan.
Sesekali Rea tersipu saat paman Arkan bertanya kepada suaminya berapa ronde yang mereka mainkan semalam, gadis itu memilih pergi kedapur mengambil segelas air dingin, membuat semua orang tertawa melihat kesalah tingkahannya.
Setelah semua kerabat pulang Laras menyuruh anak dan menantunya beristirahat dikamar, wanita itu tahu dari wajah menantunya yang terlihat masih kelelahan.
Rea masuk kekamar Arkan, matanya berbinar melihat tumpukan hadiah disana, saat tangannya ingin meraih satu buah kado untuk dibuka tiba-tiba suaminya masuk kemudian mengunci pintu. Ia kaget berpaling dari tumpukan kado memandang heran kearah Arkan. "Untuk apa dikunci?" tanyanya penasaran.
"Agar tidak ada yang masuk." jawab Arkan sambil menaik turunkan kedua alis matanya.
Laki-laki itu mendekat kemudian mendorong tubuh Rea sampai terjerembab diatas kasur, gadis itu mengedipkan matanya tak percaya, berpikir apa suaminya ingin mengajaknya bercinta lagi disiang bolong seperti ini.
"Apa?" Tanya Rea saat melihat Arkan yang sudah berada diatas badannya.
"Apa lagi membuat Rekan junior lah," jawab Arkan.
laki-laki itu hampir mencium bibir Rea tapi tiba-tiba Aryan muncul dari samping ranjang miliknya, sontak Arkan melompat terkejut mendapati adiknya berada didalam kamarnya.
"Loe ngapain disitu?" tanya Arkan ke Aryan dengan sedikit kesal.
Rea yang kaget langsung berdiri dari kasur merapikan baju dan rambutnya.
__ADS_1
"Kamu habis nangis?" tanya Rea saat melihat mata adik iparnya sembab.
Aryan hanya mengangguk "aku dikatain gendut sama cewek yang aku suka mba," ucapnya sambil menghentak-hentakan kakinya.
Arkan malah tertawa mendengar ucapan adiknya
"Loe ditolak cewek? siapa? kan loe emang gendut."
Aryan tidak menjawab pertanyaan Arkan, ia terdiam mengingat Bumi yang bermain piano dipesta pernikahan kakaknya kemarin.
"Terus loe ngapain nangis dikamar gue bukannya loe punya kamar sendiri?" tanya Arkan kesal.
"Kamarku dipakai anak paman, kenapa sih mas Arkan jahat banget? aku lagi patah hati tau," Aryan sudah menggembungkan pipinya yang memang sudah gembul itu.
"Loe tu ya baru gitu aja udah nangis, lembek banget sih kayak Yupi," ejek Arkan.
Rea hanya mendengarkan perdebatan antara suami dan adik iparnya itu, Aryan kemudian berlari menuju pintu menggoyang-goyangkan gagang pintu yang tidak mau terbuka. Sadar pintu itu dikunci oleh kakaknya, ia memutar tuas kunci dengan kasar membuat anak kunci kamar Arkan patah.
Arkan yang melihat perbuatan adiknya melotot dan menghentak-hentakkan kakinya persis seperti yang Arkan lakukan tadi, istrinya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sang suami yang ternyata sebelas dua belas dengan adik iparnya.
"Gue mau ena-ena tau, kan loe sih," ucap Arkan sambil mendekat mencoba membuka kunci kamarnya yang nampak tinggal setengah bagian saja.
"Ena-ena apa'an mas? bikin Rekan junior?" tanya anak itu ke kakaknya yang sedang kesal.
"Sakit tau, tu mba Rea apa mba ga nyesel punya suami suka KDRT gini?" celetuk Aryan yang mulutnya langsung dibungkam oleh Arkan, mereka bergulat sampai jatuh ke lantai.
Rea hanya tertawa melihat kelakuan dua laki-laki yang umurnya terpaut sepuluh tahun lebih itu, memilih menelpon mama mertuanya yang ada dilantai bawah untuk menolong mereka yang terkunci didalam.
Beberapa saat kemudian dari luar kamar terdengar suara orang yang sedang berdiskusi bagaimana cara membuka pintu itu tanpa merusaknya, dua suara diantaranya sudah bisa dipastikan milik Laras dan Andi, Rea memilih membuka kado yang dia dapat dari teman-temannya, ia duduk dilantai disusul Aryan dan Arkan.
"Pelan-pelan!"
Andi memicingkan matanya mendengar suara menantunya dari dalam.
"Enggak bisa, aku ga tahan."
Andi memandang ke arah Laras, mereka saling pandang dengan tukang yang sedang fokus memperbaiki pintu kamar.
"Maklum Pak, pengantin baru," ucap Laras sedikit malu, wanita itu mencubit pinggang suaminya.
.
__ADS_1
"Awww...," terdengar suara dari dalam.
Andi melonjak tanpa sadar, membuat Laras kaget, tukang yang memperbaiki pintu hanya tertawa.
"Selesai Pak," ucap si tukang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Iseng Andi berteriak dari luar "Kalian udah selesai belum?" laki-laki itu terkekeh sontak istrinya lagi-lagi mencubit pinggangnya.
"Belum masih lama."
Andi terpingkal tapi seketika diam karena sadar yang menjawab bukan Arkan, suara itu milik anak bungsunya Aryan, ia memandang ke arah Laras yang sudah memegang gagang pintu, saat pintu dibuka mereka melihat kedua anaknya dan menantunya sedang sibuk membuka kado dengan posisi membelakangi pintu.
Aryan terlihat memegang satu kado dan sibuk membukanya, sementara Rea berebut sebuah kado dengan Arkan yang ternyata dari Elang.
Gadis itu ingin membuka bungkusnya dengan pelan agar tidak rusak atau merobek kartu ucapan didalamnya, sementara Arkan sudah tidak sabar melihat kado apa yang diberikan kakak iparnya.
"Kenapa sih dia iseng banget ngebungkus kado berlapis-lapis gini," gerutu Arkan saat berhasil merebut kado itu dari tangan istrinya.
Andi dan Laras saling pandang, kemudian menutup pintu kamar Arkan dengan pelan, Andi berjalan cepat sambil tertawa sementara Laras mengejar kemudian memukul punggung suaminya, mereka sama-sama tertawa geli karena berpikir menantu dan anaknya sedang membuat cucu untuk mereka tadi.
"Ah capek ah," ucap Aryan sambil meletakkan kado milik kakak iparnya, anak itu berdiri berniat keluar dari kamar kakaknya, Arkan merasa kesal melempar kertas bekas bungkus kado yang sudah dia remas ke arah adiknya.
"Eh pintunya udah bener lho mas," ucap Aryan.
Mendengar omongan adiknya Arkan berdiri, mendorong Aryan untuk segera keluar dari garis pintu kamarnya, mengambil kunci baru yang tergantung diluar kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam rapat-rapat. Seringai nakal muncul dari bibirnya, tapi saat berbalik dia tidak mendapati Rea berada ditempatnya.
Rea yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut mendapat sergapan dari suaminya, laki-laki itu mendorong tubuhnya sampai terpojok kedinding, sekarang wajah Arkan hanya berjarak beberapa mili dari wajahnya.
"Apa kamu tidak lapar?" tanya Rea.
Arkan menggelengkan kepalanya.
"Tapi kita belum sarapan tadi dan ini sudah siang, ayo turun mama pasti sudah memasak masakan kesukaan kita," bujuk gadis itu yang terlihat salah tingkah.
Arkan hanya tersenyum satu tangan digunakannya bertumpu pada dinding untuk membelenggu Rea, sementara tangan yang lainnya ia gunakan untuk menyibak rambut istrinya, Arkan mengarahkan wajahnya keleher Rea menciumi dan menggigit disana.
"ARYAN!" pekik Rea yang membuat Arkan kaget dan memundurkan badannya.
Gadis itu berlari menuju pintu dan bergegas keluar kamar setelah berhasil menipu suaminya, Rea merapikan rambutnya sambil berjalan memegangi dadanya yang sudah berdetak tak karuan.
Arkan ikut keluar mengejar istrinya dari belakang "tunggu sayang!" ucapnya manja.
__ADS_1
Rea hanya geleng-geleng kepala sambil terus berjalan memunggungi suaminya, laki-laki itu tersenyum karena sadar berhasil membuat libido istrinya naik.
"Lihat saja akan aku balas nanti," bisik Rea sambil menuruni anak tangga.