
Setelah tiga hari beristirahat dirumah Elang memutuskan untuk masuk kerja, sementara Rea sudah kembali ke apartemennya sejak kemarin, gadis itu tengah bersiap keluar apartemennya seperti biasa untuk menunggu Arkan menjemputnya.
Mobil kekasihnya berhenti tepat didepannya, gadis itu berlari sambil tersenyum masuk kedalam mobil.
"Jangan lari!" perintah Arkan sambil tersenyum kearah Rea, tangannya dengan sigap memasangkan sit belt ke badan gadis itu, tidak lupa ia mencuri ciuman pagi dari kekasihnya.
"Kamu cantik banget sih, tapi lebih cantik lagi kalau rambutnya ga usah diikat kayak gini," ucap Arkan sambil menarik kuncir rambut Rea.
"Aku suka rambut panjangmu," pujinya.
"Ish kamu tu," gadis itu menurunkan sun visor mobil, menggunakan kaca kecil yang menempel disana untuk merapikan rambutnya.
Arkan tersenyum kemudian membawa mobilnya menuju hotel tempat calon istrinya bekerja.
"Oh ya pulang kerja nanti aku mau menemani Elang check up ke rumah sakit, boleh kan?"
"Apa mau aku antar sekalian?" tanya Arkan.
"Ga usah, Elang bilang mau menjemputku."
"Kalau dia bisa datang menjemputmu kenapa tidak sekalian pergi kerumah sakit sendiri?"
Rea menghentikan kegiatan menyisir rambutnya dengan jari, menatap ke arah laki-laki disebelahnya.
"Iya juga ya, apa aku bilang gitu aja ke dia? aku sama sekali ga kepikiran," ucapnya polos membuat Arkan lagi-lagi melengkungkan bibirnya.
"Aku hanya bercanda, temanilah dia tunjukkan bahwa kamu adalah adik yang baik."
Rea menoleh kearah kekasihnya, berpikir bahwa Arkan sepertinya sudah tidak cemburu dengan kedekatannya dengan sang kakak.
"Oh ya aku pengen bikin Elang dekat sama Ken, kalau aku lihat sepertinya Ken masih menyukainya."
"Terus gimana dengan dokter yang bernama Ranu itu? Kasihan juga kalau nasipnya harus sama sepertiku dulu ckckckckck... udah dikejar lama zonk nya juga lama."
Sontak ucapan Arkan mendapat balasan sebuah cubitan di lengan dari Rea, mereka tertawa.
"Aku sudah tanya ke Ken langsung, dia bilang tidak punya hubungan dengan dokter Ranu."
"Hem.. coba saja, siapa tau mereka jodoh."
Setelah sampai didepan hotel Rea melepaskan sit belt nya, sebelum turun ia menoleh ke arah kekasihnya untuk berpamitan, tapi wajah laki-laki itu sudah sangat dekat dengan wajahnya dan lagi-lagi Arkan berhasil mencuri satu ciuman dari gadis itu.
Rea tersenyum menatap lekat mata kekasihnya, belakangan dia merasa sangat bahagia hanya dengan melihat wajah Arkan, sepertinya hatinya sudah sepenuhnya dimiliki laki-laki itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau dinner romantis hari minggu ini?" tanyanya sebelum benar-benar turun dari mobil kekasihnya.
"Kenapa tidak hari sabtunya?"
"Sabtu aku pengen me time."
Arkan hanya mengangguk karena dia sendiri tau bahwa me time itu memang penting untuk menjaga kewarasan, terkadang dia sendiripun ingin sesekali menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri, tapi kembali lagi setiap dia ingin me time selalu teringat kekasihnya, menghabiskan waktu berdua dengan Rea lebih terasa membahagiakan untuknya. Sebenarnya dia ingin bertanya alasan Rea tiba-tiba ingin me time tapi dia urungkan karena dia ingat sabtu ini dia juga ada janji bertemu temannya, mereka akan membicarakan masalah bisnis e-commerce yang ingin dia dirikan.
"Apa kamu ingin aku membooking tempat di restoran yang sama saat aku meminta ijin ke orang tuamu untuk menikahimu?" Arkan masih memandang wajah calon istrinya itu lekat seolah tidak ingin membiarkan gadis itu cepat-cepat pergi dari hadapannya.
"Hem.. Boleh," Rea keluar dari dalam mobil sambil masih menggenggam erat tangan Arkan yang kemudian dia lepaskan pelan-pelan untuk menutup mobil dan membiarkan kekasihnya pergi dari sana.
"I love you," ucapnya lirih sambil melambaikan tangan ke arah calon suaminya.
Rea masuk kedalam hotel, di lobby dia melihat Axel sedang duduk sibuk menatap layar ponselnya, laki-laki itu terlihat mengenakan celana pendek berwarna putih dan polo shirt berwarna biru, sebuah tas raket berwarna hitam ada didekatnya, jelas dia akan pergi bermain tenis, tapi yang paling aneh dari penampilan laki-laki itu adalah ia tidak memakai sport shoes tapi malah mengenakan sandal trepes berlogo hotel miliknya.
Rea mendekat untuk menyapa, mau tidak mau dia harus sopan meskipun sekarang Axel adalah kakak tirinya tapi tetap saja dia CEO ditempatnya bekerja.
"Selamat pagi pak," ucapnya sambil menundukkan kepalanya kemudian segera berlalu menuju ke ruangannya.
Langkah kakinya terhenti saat laki-laki itu memasukkan ponselnya ke kantong celana dan membuka mulutnya.
"Bu Andrea, temani saya untuk bertemu dengan seseorang," ucapnya sambil berdiri dan menenteng tas raketnya.
Rea sedikit bingung untuk menentukan maksud dari ucapan atasannya barusan apakah itu sebuah perintah atau permintaan.
"Ikut saya sekarang!" perintah Axel.
"Tapi maaf pak, saya harus bekerja," jawab Rea yang sebenarnya sudah ingin sekali berbicara non formal ke Axel jika didekat sana tidak ada teman kerjanya.
"Ini juga pekerjaan, kita akan bertemu calon klien penting," ucapnya.
Melihat tatapan staff dan bell boy yang ada disana Rea kemudian berbalik mengikuti langkah kaki atasannya.
Didalam mobil Rea hanya terdiam sambil berpikir kemana mereka akan pergi dan akan bertemu siapa, karena tumben Axel membawa sopir dan memakai sebuah sedan mewah, bukan SUV yang biasa dia pakai.
"Apa Elang sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Axel memecah keheningan.
"Sudah dari tiga hari yang lalu, tapi sore ini dia masih harus check up ke rumah sakit."
"Aku tau kamu bukan sekedar adik baginya, tante Lidia sudah cerita semuanya."
Rea terkejut, bagaimana mungkin mamanya bisa seember itu.
__ADS_1
"Sebenarnya tanpa tante Lidia ceritapun aku sudah bisa menebak kalau kalian pernah saling menyukai."
"Bagaimana mungkin aku tidak tau? saat dia terluka kamu memeluknya sambil menangis seperti orang gila."
Mobil itu berbelok kesebuah mall yang sangat familiar untuk Rea.
"Untuk apa kesini?" tanyanya heran.
"Kita akan berolah raga tidak mungkin kamu memakai baju seperti itu," ucap Axel santai sambil melihat penampilan Rea.
Gadis itu merasa heran kenapa laki-laki ini bisa mengajaknya ke mall yang sama sekali belum buka untuk umum. Mereka masuk kesalah satu toko perlengkapan olahraga, Axel duduk meminta gadis itu untuk memilih baju olahraga.
Rea mengambil sebuah celana trainning panjang berwarna hitam dan sebuah kaos dry fit berwarna pink, dia juga mengambil sebuah sport jaket berwarna pink.
Sebelum keluar dari kamar ganti Rea menatap dirinya sendiri didepan cermin dan tertawa, ia terlihat konyol dengan baju olahraga yang melekat dibadannya tapi kakinya masih memakai high heel setinggi 10 centi akhirnya dia memilih melepas sepatunya.
"Apa dia tidak berniat membelikanku sepatu sekalian," gumamnya
Saat keluar dari kamar ganti Rea sudah tidak melihat Axel duduk ditempatnya tadi, laki-laki itu sudah berdiri didepan susunan sepatu yang terpajang rapi di rak toko itu, tangannya terlihat memegang sebuah sepatu berwarna navy.
Axel tiba-tiba memegang pundak Rea dengan kedua tangannya menyuruhnya duduk kemudian laki-laki itu berjongkok bertumpu pada satu lututnya, memakaikan sepatu yang dia pegang kekaki adik tirinya.
"Pas kan?" ucapnya sambil menatap ke arah Rea.
Sontak gadis itu teringat adegan romantis yang selalu dia lihat didrama favoritenya. Axel berdiri kemudian memanggil pelayan toko yang berdiri didekat sana.
"Carikan size 42 untukku," perintahnya.
Rea memandangi si pelayan toko yang langsung masuk kedalam tempat penyimpanan menuruti perintah Axel.
"Apa kamu berencana membeli sepatu yang sama, kamu kira kita pasangan?" tanya Rea sedikit heran.
Pelayan toko itu datang kemudian menyerahkan sepatu yang sama seperti yang Rea kenakan, Axel langsung duduk tangannya terlihat menunjuk sebuah kaos kaki yang tergantung didisplay toko, dan dengan sigap pelayan toko mengambilkan barang yang laki-laki itu tunjuk.
"Iya kita couple, bukankah kita pasangan kakak adik," ucapnya sambil memakai sepatunya.
Rea hanya tersenyum menatap ke arah Axel sambil memakai sebelah sepatunya, laki-laki itu juga terlihat tersenyum.
Pelayan toko menyerahkan sebuah paper bag berisi baju kerja yang Rea kenakan tadi, dengan agak sedikit berbisik gadis itu menanyakan sesuatu ke pelayan toko.
"Apa sudah dibayar?"
Pelayan toko terlihat tersenyum "untuk itu gampang mba, pak Axel kan pemilik mall ini paling nanti sekretarisnya yang bayar."
__ADS_1
Rea sedikit terkejut mendengar fakta yang baru saja dia ketahui, gadis itu keluar toko setengah berlari menghampiri Axel.
"Pantas aku sering bertemu dia disini," gumamnya dalam hati.