Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 84


__ADS_3

Disebuah kamar rumah sakit Arkan terlihat duduk sambil merebahkan kepalanya disamping tubuh istrinya, air matanya jatuh tak tertahankan lagi, mengingat beberapa jam yang lalu saat ia mendapati tubuh istrinya tergeletak dilantai kamar mandi.


Tangannya membelai pipi gadis yang masih tak sadarkan diri itu, pikirannya kembali mengingat ucapan dokter yang menangani Rea di UGD tadi.


"Istri anda memang sedang hamil, usia kandungannya saya perkirakan masih sekitar enam minggu, tapi sepertinya ia baru saja mengkonsusmi obat penggugur kandungan, untung saja anda cepat membawanya kemari jika tidak istri anda akan kehilangan bayinya dan bahkan bisa mengancam nyawanya."


Arkan tercekat mendengar penuturan dokter, ia tidak percaya bagaimana mungkin Rea berbuat hal semacam itu, karena ia tahu pasti gadis yang sangat dicintainya itu begitu menginginkan seorang anak darinya.


Kinanti dan Elang datang, orang pertama yang Arkan kabari adalah kakak iparnya. Laki-laki itu menjelaskan apa yang terjadi kepada istrinya, baik Kinanti dan Elang sama-sama terkejut dengan penuturan Arkan.


"Penggugur kandungan?" tanya Kinanti "Tidak mungkin Ar, aku tau dia benar-benar ingin segera memiliki anak denganmu," imbuhnya.


Arkan hanya terdiam, sementara Elang terlihat begitu cemas dengan kondisi adiknya.


"Lalu bagaimana? apa kandungannya baik-baik saja?"


Arkan menganggukkan kepalanya "Dokter berkata kemungkinan Rea baru sekali itu meminumnya, kandungannya tidak apa-apa, Dokter memberikan obat penguat kandungan dan vitamin."


Mereka bertiga memilih untuk berada dikamar itu tanpa beranjak sedikitpun dari tempat mereka duduk, dengan setia mereka menunggui Rea sampai sadar dari pengaruh obat yang diberikan oleh Dokter.


Akhirnya setelah tiga jam lamanya, Rea mulai membuka matanya, menatap Kinanti yang duduk disamping ranjangnya.


"Ar!" panggil Kinanti untuk memberi tahu laki-laki yang tengah duduk sambil mendongakkan kepalanya disandaran sofa bahwa istriya sudah sadar.


Arkan bangun dan langsung menghampiri Rea, menggenggam erat tangan istrinya seolah takut kehilangan.


"Apa ada yang sakit?" tanyanya, air mata jatuh membasahi pipi laki-laki itu.


"Jangan menangis!" lirih Rea, kristal bening juga menetes dari pipinya.


Kinanti memilih menjauh setelah membantu Rea duduk bersandar diranjangnya, ia lalu duduk disamping Elang yang hanya bisa memandangi pasangan suami istri yang seolah tengah dirundung pilu itu, padahal mereka seharusnya bahagia karena sebentar lagi akan memiliki buah hati.


"Sayang, kenapa kamu melakukan hal itu? apa kamu tidak menginginkan anak kita?" pertanyaan itu keluar dari bibir Arkan dengan nada terpaksa.


Rea hanya menggelengkan kepala.


"Ceraikan aku, aku ga pantas buat kamu, aku kotor," isaknya.


Arkan terkejut dengan kalimat istrinya, begitu juga dengan Ken dan Elang yang ada disana.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa tiba-tiba bicara hal tidak masuk akal seperti itu lagi?"


"Aku tidak bisa menjaga kesucianku hanya untukmu, aku takut kalau aku mengandung anak orang lain," tangis Rea pecah, menggema didalam kamar pesakitan itu.


"Apa maksudmu?" Arkan menatap ke arah istrinya dengan pandangan penuh tanya. Namun, tidak terlintas sedikitpun dibenaknya bahwa istrinya berselingkuh dibelakangnya.


Akhirnya Rea bercerita tentang apa yang terjadi kepadanya. Arkan terlihat sangat marah, ia langsung pergi dari ruangan itu, meninggalkan Rea yang menangis meraung sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.


Kinanti mendekat memeluk tubuh Rea, sementara Elang berlari mengejar sang adik ipar.


"Mau kemana?" tanya Elang sambil terus mengejar laki-laki itu. ia meraih tangan Arkan tapi ditepis oleh laki-laki itu.


Menyadari sesuatu yang tidak beres akan terjadi, Elang cepat-cepat menyusul Arkan yang sudah masuk kedalam mobil dan pergi dari rumah sakit, ia membuntuti mobil Arkan, Elang sudah bisa menebak kemana sang adik ipar akan pergi.


Benar saja, Arkan mendobrak masuk ke rumah Jordan. Lidia dan suaminya terkejut mendapati menantunya yang masuk tanpa menyapa mereka. Arkan mencari keberadaan Axel. Lidia dan Jordan yang merasa ada yang tidak beres mengikuti menantunya itu dengan perasaan cemas.


Arkan yang sudah terbakar emosi langsung menghantam muka Axel yang sedang berdiri diujung bawah anak tangga. Axel tersungkur, laki-laki itu sudah bisa menebak apa yang terjadi, ia kemudian menyentuh ujung bibirnya yang terlihat mengeluarkan darah.


Lidia berteriak lalu menutup mulut dengan kedua tanggannya, terkejut dengan apa yang barusan terjadi didepan matanya.


Elang yang masuk dengan tergesa-gesa mencoba menghalangi Arkan untuk tidak melayangkan bogem mentah ke Axel lagi.


"Ada apa ini kenapa tiba-tiba ribut?" tanya Jordan khawatir.


"Dia memperkosa Rea." lirih Arkan sambil menghantamkan pukulan ke wajah Axel lagi.


Kalimat Arkan membuat Lidia dan Jordan terkejut, bahkan Lidia sampai merasa badannya limbung.


"Axel! apa benar yang Arkan bilang?" Jordan membentak anak laki-lakinya.


Axel berdiri dari posisinya. "Aku tidak akan minta maaf karena aku tidak menyesal melakukan perbuatan itu." ucapnya.


Arkan semakin meradang. Ia memukul lagi laki-laki brengsek yang berkata tidak menyesali perbuatan bejatnya itu. Kali ini Elang membiarkan adik iparnya karena merasa Axel memang pantas mendapat pukulan itu.


"Kalau kamu mengganggap Rea sudah tidak suci karena aku sudah menyentuhnya, bagaimana kalau kamu ceraikan dia, aku akan dengan senang hati menikahinya."


"PLAK" Satu tamparan mendarat dipipi Axel dari Lidia.


"Kurang ajar, beraninya kamu berkata seperti itu, ha? Apa kamu sudah gila, apa yang kamu lakukan ke Rea, kalau sampai terjadi apa-apa karena tindakan bodohmu, aku pastikan membunuhmu dengan tanganku sendiri" ucap Lidia.

__ADS_1


"Rea sudah melakukannya, sekarang dia ada dirumah sakit karena mencoba meminum obat penggugur kandungan, dokter bilang kalau sampai tadi Arkan terlambat membawanya ke rumah sakit, Rea bisa saja kehilangan nyawa." Elang menceritakan keadaan adiknya dengan sedikit pilu.


"Apa maksudnya?" tanya Axel.


Arkan sudan mencengkeram kerah baju laki-laki didepannya, tapi kali ini Axel memberi perlawanan dengan mencengkeram balik baju Arkan. Menatap wajah suami dari orang yang dicintainya dengan mimik kebingungan.


"Rea hamil, dan dia berpikir itu adalah anak loe brengsek!" pekik Arkan, Axel terlihat lemas dan dengan mudah membuat Arkan memukul wajahnya lagi. Laki-laki itu jatuh terduduk dan diam.


Jordan hanya bisa mematung, sementara Lidia menangis tersedu-sedu memikirkan kondisi anaknya.


"Jangan pernah dekati istriku lagi, dan jangan pernah menampakkan mukamu didepan kami," ucap Arkan kemudian pergi meninggalkan rumah jordan disusul Elang.


Dirumah sakit Kinanti masih memeluk tubuh Rea, mengusap lembut punggung gadis itu.


"Re, kenapa kamu begitu yakin itu anak Axel?" ucap Kinanti.


"Lalu bagimana jika aku menganggap ini anak mas Arkan tapi setelah lahir anak ini tidak mirip sama sekali dengannya? untuk apa aku susah payah melahirkan anak yang bukan benih dari laki-laki yang aku cintai."


"Ada satu cara, tapi ini tidak bisa dilakukan disini, kamu harus pergi keluar negeri," Kinanti melepas pelukannya ke Rea.


"Cara apa?" Rea menghapus air matanya, menunggu penjelasan Kinanti.


-


-


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like ❤ dan Vote ⭐⭐⭐⭐⭐


Terima kasih


__ADS_2