
Mengecap manisnya mahligai rumah tangga, begitulah yang sedang dirasakan Rea, Tiga bulan telah berlalu setelah dia sah menjadi istri Arkan. Hari-harinya dilalui dengan sibuk ikut kursus memasak dan mengelola bisnis toko perhiasan yang dia dirikan bersama Mia.
Pagi itu Arkan dan Rea seharusnya sudah bersiap untuk melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Namun, mereka malah masih sibuk bercinta diatas sofa. Arkan berdiri mengancingkan kemejanya, menatap istrinya yang tertawa nakal sambil memakai kembali branya.
"Lama-lama aku bisa dipecat kakakmu kalau setiap hari selalu terlambat datang kekantor," ucap Arkan.
Rea tertawa sambil merapikan bajunya.
"Hari ini tidak usah berangkat kerja saja, ya!" bujuk Rea, gadis itu berdiri mendekat kearah suaminya.
"Oh ya sayang, bagaimana bisnismu dengan temanmu itu, kenapa kamu tidak pernah membicarakan atau membahasnya lagi denganku?"
Arkan terdiam mendengar pertanyaan dari istrinya, laki-laki itu sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Rea membantu memakaikan dasi dileher Arkan, mencium pipi pujaan hatinya sambil berbisik "Jika ada masalah ceritakan saja, siapa tau aku bisa membantumu."
Laki-laki itu agak kaget dengan ucapan istrinya, tapi secepat kilat ia menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Semua baik-baik saja, kami hanya sedang menunggu ahli IT untuk mematangkan konsepnya," dusta Arkan.
Rea menaikkan kedua alis matanya, gadis itu tersenyum kemudian memberikan kecupan dibibir suaminya, menunggu laki-laki itu sampai masuk kedalam mobil dan meninggalkan halaman rumah mereka untuk pergi bekerja.
Rea duduk disofa, terlihat menelpon seseorang dan membuat janji untuk bertemu.
Disebuah ruangan dengan nuansa serba putih, Rea bertemu dengan salah seorang pejabat tinggi sebuah bank, gadis itu berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihhya.
Satu minggu yang lalu seseorang dari bank menelpon ke nomornya, menagih tunggakan cicilan pinjaman yang lumayan besar atas nama Arkan. Rea benar-benar terkejut karena suaminya itu sama sekali tidak pernah bercerita soal pinjaman. Bahkan Rea tahu kalau suaminya ditipu oleh temannya dari orang bank yang mendapatkan alasan itu dari Arkan sendiri.
Rea memilih menutup semua hutang suaminya yang hampir tiga puluh miliyar, dan meminta pihak bank untuk tidak memberitahu laki-laki itu, meminta bantuan jika suaminya membayar cicilan untuk diterima saja dan dimasukkan ke rekening miliknya.
Rea sebenarnya kecewa dengan apa yang suaminya lakuian, tapi untuk menanyakan hal itu ke Arkan dia tidak punya keberanian, mereka baru saja menikah, Rea takut jika hal itu akan membuat mereka bertengkar.
Selepas dari bank Gadis itu memilih pergi menemui Kinanti, ia sudah berniat untuk konsultasi seputar program hamil ke calon kakak iparnya itu.
Rea menunggu hampir setengah jam karena Ken sibuk membantu proses persalinan seorang pasiennya, ia dipersilahkan oleh perawat untuk menunggu diruangan Ken agar lebih nyaman.
"Maaf ya Re lama." Ucapan dari Ken yang masuk kedalam membuat lamunan Rea buyar.
"Tidak masalah, bisa berkonsultasi denganmu saat bukan jam pratik adalah suatu keajaiban dokter Ken," canda Rea.
Kinanti tertawa, mereka kemudian benar-benar membahas seputar program kehamilan, setelah bertanya soal kebiasaan gadis didepannya, Ken menyarankan Rea untuk tidak lagi menggunakan sabun pembersih kewanitaan, karena membilas oragan intim dengan air biasa sudah cukup, ia juga menyarankan Rea untuk mengkonsumsi makanan yang kaya akan asam folat.
__ADS_1
"Dan lagi cobalah untuk tidak langsung bangun setelah berhubungan," ucap Ken.
Calon kakak iparnya itu juga memberikan Rea sebuah catatan berdasarkan siklus menstruasinya. Catatan itu berisikan tanggal yang dapat dijadikan acuan dirinya untuk berhubungan dimana pada tanggal-tanggal itu peluang terjadinya pembuahan cukup besar.
"Jadi aku harus menggoda Mas Arkan ditanggal-tanggal ini?" ucap Rea sambil tertawa.
"Hem dan jangan pikir berhubungan setiap hari itu bagus, ****** juga butuh waktu untuk terbentuk ditubuh pria, jadi untuk program hamil aku sarankan dua hari sekali saja kalian berhubungan."
"Tapi sepertinya itu susah, kami melakukannya hampir tiap hari," jawab Rea jujur membuat Ken tertawa.
"Lagian kamu tu baru nikah tiga bulan Re, masih terlalu dini untuk menghawatirkan soal momongan," ucap Ken heran.
"Temanku banyak yang langsung hamil setelah sebulan menikah, tapi aku tiga bulan masih belum ada tanda-tanda, aku hanya takut bermasalah, apalagi kamu pernah bilang untuk program hamil wanitanya dulu yang harus diperiksa."
Kinanti mengangguk mendengar alasan Rea kemudian bertanya "Apa kamu ingin melakukan HSG?"
"Apa itu?" Rea melebarkan bola matanya karena tidak paham.
"Sejenis foto rontgen untuk melihat saluran tuba, dan biasanya setelah melakukan Histerosalpingografi banyak dari pasienku yang langsung hamil," papar Kinanti.
"Ayo kita lakukan," pinta Rea.
"Tidak bahaya kan?"
"Tidak sama sekali."
"Ayo kita lakukan sekarang."
Kinanti mengernyitkan dahi mendapati gadis didepannya yang sangat tidak sabaran, untung saja Rea datang berkonsultasi setelah delapan hari dari haid terakhirnya jadi tes HSG itu bisa dilakukan.
Rea meringis menahan rasa nyeri diperutnya setelah proses HSG itu selesai. Ia merasa tidak mungkin membawa pulang mobilnya sendiri, akhirnya dia meminta mama mertuanya untuk menjemput dirinya dirumah sakit.
Sesampainya dirumah sang mertua, Rea berbaring dikamar Arkan yang sekarang menjadi kamarnya juga, dengan penuh perhatian Laras membawakan water bag berisi air hangat untuk ditempelkan di perut menantunya.
"Kamu tuh ya Re, dulu mama aja baru hamil Arkan setelah hampir delapan bulan menikah lho."
Gadis yang tengah meringis menahan nyeri diperutnya itu mencoba tersenyum mendengar ucapan sang mama mertua.
"Kira-kira mas Arkan marah ga ya ma kalau tau aku sakit gini?" tanyanya ke Laras.
__ADS_1
"Kamu kan tau suamimu itu paling ga bisa marah sama kamu," jawab Laras.
Rea tertawa, memang benar apa yang dikatakan sang mama mertua, bahkan menghardiknya saja laki-laki itu tidak pernah.
Arkan yang baru pulang kerja terlihat panik saat mendapat kabar dari sang mama kalau Rea sedang ada dirumahnya, Laras melihat Rea yang sedang tidur dan berpikir pasti menantunya itu belum mengabari Arkan bahwa dirinya berada disana.
Arkan masuk kekamar melihat sang istri meringkuk tertidur sambil memegangi perutnya. Ia memilih duduk dibawah memandangi wajah Rea, membelai pipi lalu menyibakkan rambut istrinya. Gadis itu membuka mata mendapati suami tercinta sudah duduk disamping tempat tidurnya.
"Kamu ngapain hem....?" tanya Arkan.
"Aku habis HSG sayang," lirih Rea suaranya masih terdengar serak.
"Buat apa sih? jadi sakit kan?"
"Enggak kok udah agak enakan setelah dikompres hangat," jawab Rea "lagian aku juga pengen tau organ reproduksiku bermasalah atau ga," lanjutnya.
Arkan mengecup kening istrinya penuh cinta. "Oh ya, besok aku harus keluar kota dua hari, kalau kamu takut dirumah sendirian kamu tidur disini aja gimana?"
"Apa aku boleh ke rumah papa Jordan saja? aku kangen Ale." Rea meminta ijin ke suaminya.
"Boleh, apa kamu sudah makan?"
Rea menggelengkan kepalanya "Bisa belikan aku susu untuk program hamil di minimarket ga?"
"Apa kamu benar-benar ingin kita segera punya anak?" tanya Arkan.
"Iya, aku ingin segera punya Arkan versi mini," canda Rea.
Laki-laki itu terdiam, raut wajahnya berubah. Rea bisa menebak mungkin suaminya merasa belum siap jika harus punya anak sekarang karena masalah yang menimpanya.
"Sayang, apa ada masalah?" Rea mencoba memancing suaminya agar mau bercerita tentang keadaannya. Namun, seperti tadi pagi Arkan berkata semua baik-baik saja.
Setelah mandi Arkan keluar untuk membeli susu yang diminta sang istri. Saat sang suami pergi Rea menelpon sang kakak bertanya apakah Arkan ditugaskan perusahaannya untuk keluar kota selama dua hari, Elang menjawab pertanyaan Rea dengan nada sedikit bingung.
"Tidak. Kenapa? apa ada masalah?" tanya laki-laki itu ke adiknya.
"Tidak, aku hanya penasaran, dan tolong jangan beritahu mas Arkan kalau aku menanyakan hal ini ke dirimu," pinta Rea lalu mematikan sambungan telponnya.
"Mau pergi kemana kamu dua hari?" bisik Rea sambil menatap kearah pintu kamarnya.
__ADS_1