
Disisi lain disebuah Bandara, seorang laki-laki menggunakan setelan celana jeans , kaos putih dan outer warna navy berdiri menunggu taxi, setelah memasukkan kopernya sendiri kedalam bagasi dia duduk disamping sopir, meminta diantarkan ke alamat yang dia sampaikan.
"Kota ini bahkan masih tidak banyak berubah meskipun sudah 7 tahun" bisiknya dalam hati.
Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, taxi itu berhenti disebuah rumah berpagar tinggi, laki-laki itu turun mengambil dompet disaku celananya kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taxi yang terlihat sedikit bingung , laki-laki itu hanya tersenyum dan dibalas dengan ucapan terima kasih dan anggukan kepala dari sang sopir yang mengantarnya.
Dia sedikit melongok kedalam, memastikan apa ada orang, sebelum tangannya memencet bel, seorang gadis remaja berumur 15 tahun keluar menghambur membukakan gerbang kemudian memeluk laki-laki itu.
"Mas Elang..., Bumi kangen banget" gadis itu melingkarkan tanggannya dipinggang sang kakak.
"Sekarang kamu cantik banget, mas ga nyangka lho," ucapnya sambil melepaskan pelukan adik kecilnya.
"Ayo masuk, mama lagi sibuk nyiapin makan buat mas, papa juga lagi nunggu" gadis itu menarik tangan kakak yang sudah lama tidak dia temui, terakhir tiga tahun lalu kakaknya pulang ke Indonesia.
Maya melihat anaknya datang kemudian memeluknya, begitu juga Banyu, mereka berpelukan lumayan lama melepas rindu satu sama lain.
Elang duduk dimeja makan, Maya terlihat masih sibuk menyiapkan piring dan gelas untuk mereka dibantu seorang pembantu rumah tangga.
"Memang berapa harga tiket New York ke Indonesia sampai kamu tiga tahun ga pulang?" ucap Maya sambil memandang anaknya yang sedang duduk memandangi adik perempuannya, tangannya sudah memegang gelas menuangkan air untuk anak laki-lakinya.
"Memang tiket Indonesia New York berapa sampai mama sama papa ga pernah nengokin aku?" balasnya
Maya memberikan air kepada anaknya sambil memukul pundaknya "dasar, ditanya malah balas nanya"
"Kamu bilang sibuk, jadi mama sama papa juga ga mau lah ganggu kamu, lagian Bumi juga harus sekolah, lomba piano, belum ini itu,"
__ADS_1
"Wah...Bumi kita seorang pianist ya ?" goda Elang sambil mencubit gemas pipi adiknya
"Ih apaan sih mas Elang nyubit-nyubit dikira aku anak bayi" Bumi menghempaskan tangan Elang kesal.
Elang hanya tersenyum mendapati bahwa adiknya sekarang sudah beranjak besar.
"Papa heran kenapa tiba-tiba kamu pulang, apa kamu berhenti dari pekerjaanmu disana?" tanya Banyu
"Iya, dan aku ingin menerima tawaran Ayah" ucap Elang yang membuat papa dan mamanya saling memandang, mereka tau ayah yang dimaksud Elang adalah Farhan.
"Baguslah jadi mama tidak perlu pergi jauh-jauh keluar negeri kalau ingin bertemu kamu," jawab Maya sambil melihat ke arah suaminya, mereka saling memandang
"Jangan sampai dia pulang karena Rea" gumam Maya dalam hati
Memang sudah beberapa kali Farhan menawari Elang untuk mengambil alih salah satu perusahaan yang dia miliki, otomatis jabatan sebagai CEO sudah pasti menjadi miliknya, bahkan jika Elang mau dia ingin menyerahkan semua urusan perusahaannya yang lain ke anak laki-laki nya juga, tapi Elang menolak dengan alasan dia masih betah tinggal di New York, tapi sekarang entah apa yang membuat dia berubah pikiran, pertanyaan yang ingin sekali Maya dengar jawabannya dari mulut Elang.
Next day
Pagi itu ditempat kerja, Rea mendapatkan telpon dari mamanya, Lidia mengajak Rea untuk pergi makan malam bersama tanpa memberitahu dengan siapa mereka akan bertemu di acara makan malam itu, Rea berkata sudah ada janji hari sabtu bersama Arkan, jadi dia menolaknya, mamanya menawarkan hari yang lain, mereka pun sepakat untuk pergi makan malam dihari Minggu. Rea menutup telpon, meletakkan ponsel dimeja kerjanya , kemudian berjalan keluar untuk mengecek pekerjaan staffnya seperti biasa.
Tiba-tiba seorang kurir masuk membawa satu buah bucket bunga berukuran besar , semua mata yang melihat terbelalak karena bunga yang terangkai indah itu ternyata bukan bunga asli, melainkan bunga yang terbuat dari uang pecahan tertinggi yang dikeluarkan oleh negara ini.
"Mba Rea?" tanya kurir itu sedikit agak bingung
"Iya mas saya, ada apa?" Jawab Rea heran
__ADS_1
"Ada kiriman mba, silhakan tanda tangan dibukti terima"
"Bentar-bentar ini apa?" Rea bingung melihat bucket bunga yang terbuat dari uang itu dan tidak mau langsung menerimanya.
Rea mengambil amplop ucapan yang tersemat diantara rangkaian bunga, membuka kemudian membacanya.
Pengganti 70 juta mu. Axel
Rea menghela nafas kasar, tidak mau menerima kiriman itu, tapi sang kurir memelas, berkata kalau pekerjaan pengantarannya akan terganggu jika sampai gadis itu tidak menerima barang yang dia antarkan.
Rea merasa kasihan kepada si kurir, kemudian meminta bukti terima untuk dia tanda tangani. Bucket bunga lebih tepatnya bucket uang itu dia letakkan diruang kerjanya, tidak mungkin juga dibawa pulang ke apartment , bagaimana kalau calon suaminya sampai melihat.
Belum selesai keterkejutannya mendapat bucket uang dari Axel, Rea dikejutkan dengan ketukan dari luar ruang kerjanya.
"Masuk," ucapnya
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Thanks a ton for reading, jangan lupa LIKE KOMEN dan VOTE 💕💕💕