Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 66


__ADS_3

Rea berjalan keluar dari ruang konsultasi, sudah seminggu dirinya keluar dari rumah sakit, dan ini untuk kali pertama dirinya bertemu psikiater.


Gadis itu berjalan ke arah sopir yang menunggunya, meminta diantar ke toko bunga kemudian Rea pergi ke makam kakeknya, dia terdiam cukup lama disamping pusara sang kakek, dengan khusyuk Ia memanjatkan doa untuk ketenangan kakeknya diatas sana, gadis itu kemudian berbicara sendiri sambil menatap batu nisan yang bertuliskan nama Heru Pradipta, Rea meminta maaf karena jarang berkunjung ke makam kakeknya itu. Tiba-tiba cairan bening menetes dari kedua matanya, cepat-cepat Ia mendongak ke atas untuk menghentikan air matanya.


Gadis itu menyandarkan punggungnya dikursi mobil sambil menatap keluar jendela, lamunannya tersadar saat ponselnya berbunyi, Celine mengajaknya bertemu bersama teman-temannya yang lain.


Rea kemudian meminta kepada sopirnya untuk diantarkan ke kafe dimana dirinya dan Celine janjian untuk bertemu, setibanya disana ia langsung menghambur ke arah teman-temannya, mencium secara bergantian Celine, Mia dan Kanaya.


Mereka bertiga sama sekali tidak tau dengan kejadian yang menimpa Rea, sementara gadis itu juga tidak ingin menceritakan apa yang terjadi kepadanya ke temannya itu.


Mereka bercanda sambil membicarakan bisnis, Rea berniat menanamkan modal ke usaha milik Mia, gadis itu sedang merintis usaha jual beli berlian.


Saat mereka asik bercanda tiba-tiba Celine mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya, dengan cepat Kanaya menyambar dan membuka amplop itu, Rea yang duduk disebelahnya ikut melongok melihat amplop berlogo rumah sakit ternama dikotanya, mata mereka membelalak melihat sebuah foto hasil USG.


Mereka menatap Celine yang sudah tersenyum, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat Kanaya bertanya apakah temannya itu sedang hamil, Celine menganggukkan kepala membuat Rea menangkup kedua tangannya didepan mulutnya tak percaya dan ikut bahagia.


Mereka bergantian memberikan selamat kepada Celine yang sebentar lagi akan menjadi seorang mama.


Rea masih tertawa-tawa saat ponselnya berdering dan sebuah nama muncul disana. Arkan menanyakan keberadaannya.


Gadis itu masih belum selesai dengan sandiwaranya, ia berkata sibuk dan menolak permintaan Arkan untuk bertemu.


Setelah puas bercengkerama dengan temannya Rea memilih pulang ke apartemennya.


Rea berjalan menuju unitnya sambil membalas pesan diponselnya, saat mengalihkan pandangan dari benda pipih itu, dia melihat Arkan yang sudah berdiri sambil bersandar disamping pintu unitnya.


Arkan merasa Rea berubah setelah kejadian dihari pernikahannya dengan Selena, dari segi penampilan rambutnya sekarang sudah tidak panjang, laki-laki itu juga merasa kekasihnya menjadi sering memakai pakaian yang feminin terkesan seksi, Rea juga sekarang lebih sering memakai sopir untuk pergi kemana-mana, dari segi sifat mungkin sangat kentara bagi Arkan, karena gadis itu benar-benar dingin kepadanya.


Rea merasa bahagia melihat kekasihnya ada disana, tapi bagi dirinya show must go on, ia berniat berpura-pura sampai ulang tahun Arkan yang kurang lebih seminggu lagi.


Sementara Arkan kesana selain karena benar-benar merindukan gadis itu, ia juga ingin memberitahu Rea soal Selena yang tengah berada dipenjara karena tuntutan dari papanya, tapi sepertinya dia tidak mungkin bercerita ke gadis itu, yang dia tau Rea melupakan segalanya tentang dirinya dan juga pasti tentang Selena.


"Apa kamu sedang menungguku?" tanya Rea sesaat setelah memasukkan ponselnya kedalam tasnya sambil menatap Arkan yang menurutnya sangat tampan saat memakai baju pernikahannya kemarin.


Arkan tidak berbicara satu patah katapun memilih menggenggam tangan gadis itu menariknya keluar dari apartemennya lagi, Rea sama sekali tidak bingung dengan perlakuan Arkan, ia malah tersenyum dibelakang punggung laki-laki yang sangat dicintainya itu.


Calon suaminya itu mengajak dirinya pergi naik mobil, dari jalan yang mereka lewati Rea yakin Arkan pasti membawanya kerumah yang rencananya akan mereka tempati setelah menikah nanti.

__ADS_1


Sesampainya disana Arkan turun dari mobil untuk membuka gerbang rumah, sementara Rea masih duduk didalam mobil sambil memandang ke depan, ia sedikit kaget melihat laki-laki yang dia kenal keluar dari rumah yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya, laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk seorang wanita, Rea semakin terkejut karena dia yakin laki-laki itu adalah Bara suami Celine dan yang bersama dengannya adalah teman baiknya waktu SMA yaitu Cindy.


Mobil Bara melewati mobil Arkan dimana Rea masih ada didalamnya, gadis itu menatap mobil itu penuh tanya, ia masih tidak percaya dan berharap apa yang dia lihat itu salah.


"Jika itu benar Bara dan Cindy, mereka...,"


Rea tersadar dari pikirannya saat Arkan membuka pintu tempat duduknya untuk membawa mobilnya masuk kedalam, wajah gadis itu terlihat bingung membuat laki-laki disebelahnya bertanya ada apa, Rea hanya menggelengkan kepala menutupi perasaan aneh dihatinya tentang apa yang baru saja dia lihat.


"Tidak mungkin aku bercerita ke Arkan, sama saja aku membongkar sandiwaraku sendiri," gumamnya dalam hati.


Mereka masuk kedalam rumah, Rea pura-pura bingung dan bertanya rumah siapa itu, Arkan terlihat merogoh kantong celananya mengeluarkan sebuah kunci, meraih tangan kanan gadis itu kemudian memberikan kunci itu ke Rea.


"Ini rumahmu," ucap Arkan.


Gadis itu pura-pura mengernyitkan dahinya, tapi didalam hati ia tersenyum bahagia.


"Rumahku? kapan aku membelinya, bahkan aku tidak ingat sama sekali membeli rumah ini," jawabnya sambil memutar matanya melihat sekeliling rumah itu.


"Baru beberapa bulan yang lalu."


Arkan terlihat tersenyum getir, menatap gadis yang dicintainya sambil berpikir bahwa Rea benar-benar sudah melupakan dirinya dan semua kenangan mereka.


"Wah tak salah kalau aku anak mantan seorang artis, lihat berbakat sekali diriku bermain sandiwara," bisiknya dalam hati.


"Kamarmu bukan disitu, tapi disini," ucap Arkan sambil membuka pintu kamar mereka.


Laki-laki itu masuk kedalam, Rea tersenyum kemudian berjalan untuk ikut masuk, saat didalam kamar gadis itu memutar kepalanya melihat sekeliling masih melancarkan aksi sandiwaranya, matanya berhenti menatap Arkan yang duduk ditepian ranjang yang terlihat sedang memperhatikan dirinya.


Rea memilih untuk berhenti dengan kekonyolannya, mendekat dan duduk disamping Arkan. Mereka terdiam cukup lama sampai laki-laki itu bertanya apakah Rea masih tidak mengingat dirinya.


Gadis itu tersenyum, dia memang sangat mencintai Arkan tapi dia juga sepertinya masih sakit hati sampai-sampai berniat mengerjai Arkan seperti ini.


"Aku tidak mengingat dirimu lebih dari seorang teman, apa benar kita memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman?" tanya Rea.


Arkan hanya terdiam.


"Kalau benar kita memiliki hubungan istimewa, apa dirimu membuat kesalahan sampai aku sama sekali tidak mengingat kenangan tentangmu sedikitpun?"

__ADS_1


Arkan masih terpaku bibirnya kelu menatap wajah gadis yang sangat dikasihinya itu.


"Ar jika kamu adalah laki-laki istimewa buatku, tidak mungkin aku melupakanmu, aku bahkan mengingat Elang, aku mengingat semua orang yang sangat berarti dihidupku."


Rea memandang Arkan, ekspresi wajah laki-laki itu benar-benar berubah pucat.


"Maaf sayang maaf, aku kesal kepadamu ijinkan aku seperti ini satu minggu lagi."


"Apa kamu sedang jujur bahwa sebenarnya Elang masih ada didalam hatimu?"


Mereka terdiam saling pandang, dimana yang satu dihinggapi rasa penyesalan yang besar sementara yang lain masih terus berpura-pura untuk membalas rasa kesalnya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Jangan Lupa tinggalkan jejak ya reader


LIKE 👍


KOMEN 💋

__ADS_1


VOTE 🌟🌟🌟🌟🌟


__ADS_2