Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 75


__ADS_3

Hari pernikahannya sudah hampir dekat, Rea sibuk menghubungi para sahabatnya untuk menanyakan perihal kehadiran mereka sebagai bridesmaid, Ivy, Lisa, Sevia sudah mengabari kesiapsediaan mereka untuk menghadiri acara Rea yang kurang dari dua minggu lagi.


Rea menambah empat orang lagi sebagai bridesmaid nya yaitu Kinanti, Mia, Kanaya dan seharusnya Celine. Tapi karena kondisi Celine yang baru saja melahirkan, maka Rea tidak begitu berharap Celine bisa datang.


Entah apa yang dipikirkan Rea pagi itu, ia membawa sekotak hamper berisi kain yang didalamnya berisi sebuah kertas permintaan menjadi bridesmaid ke rumah Bara yang menjadi tetangganya. Ia berniat untuk menemui Cindy.


Rea menekan bel rumah Cindy yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Rumah Rea bernomor B22 sementara rumah Cindy bernomor B26, hanya berjarak tiga bangunan saja. Ia sudah dua kali menekan bel rumah itu tapi tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Dirinya sudah beranjak pergi saat mendengar suara pintu berderit.


Dengan sedikit cemas Rea mengutarakan niatnya meminta Cindy menjadi bridesmaid di hari pernikahannya nanti, gadis itu tersenyum sambil menerima kotak berwarna silver pink dari tangan Rea.


Cindy meminta gadis itu masuk, mempersilahkan Rea duduk kemudian pergi kedalam untuk meletakkan hamper yang temannya berikan, saat keluar tangan Cindy terlihat membawa nampan dengan secangkir teh diatasnya dan sebuah amplop berwarna coklat. Ia tiba-tiba menyodorkan amplop itu ke Rea.


"Apa ini Sin?" tanya Rea yang terlihat kebingungan.


"Hutangku, maaf baru bisa melunasinya sekarang Re," lirih Cindy.


Rea terperanjat, bahkan dirinya sudah melupakan kejadian saat mereka duduk dibangku SMA, dimana Rea memberikan sejumlah uang kepada Cindy untuk membantu ayah temannya itu membayar hutang ke ayah Karmila yang seorang rentenir.


"Sin, aku bahkan sudah lupa, tidak usah dikembalikan." Rea menyodorkan kembali amplop berisi uang itu.


"Tolong terima Re, aku sudah tidak punya cukup harga diri sekarang, jangan menolak ini, aku mohon!" Cindy mendongakkan kepalanya berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh menetes. Rea memilih manarik kembali amplop dari Cindy, meletakkannya dimeja.


"Kamu sudah hamil berapa bulan?" tanya Rea.


"Delapan minggu." Ada kepiluan didalam jawaban Cindy, gadis itu sedang berusaha tegar.


"Apa Celine baik-baik saja?" lanjutnya.


Rea menganggukkan kepalanya "Dia melahirkan secara sesar dan bayinya lahir prematur, tapi Alhamdullilah bayi dan ibunya sehat."


"Apa aku harus meninggalkan Bara?" lirihnya, air mata sudah menetes dari kedua mata Cindy membuat Rea iba lalu memeluk gadis dihadapannya.


Mereka hanya bisa terdiam sambil berpelukan, hanya isak tangis Cindy yang terdengar. Rea sama sekali tidak tau harus memberi nasihat apa ke teman SMAnya itu, bagaimanapun Cindy pasti sadar bahwa perselingkuhan adalah perbuatan yang paling tidak dibenarkan dalam suatu hubungan.


Rea pamit pulang dan pergi ke rumah Jordan setelah memastikan Cindy tidak menangis lagi. Ia sedang senang menjaga adik bayinya, bahkan Rea sudah terbiasa mengganti popok dan baju Ale setelah mandi.

__ADS_1


Seperti biasa sesampainya dirumah papa tirinya Rea langsung naik keatas menuju kamar baby Ale, saat menaiki anak tangga ia berpapasan dengan Axel yang terlihat memandang dengan tatapan sendu ke arahnya, tak ada senyuman dibibir Axel, laki-laki itu berlalu begitu saja tanpa menyapa Rea.


Rea hanya terdiam, tidak ingin meminta penjelasan atas sikap Axel kepadanya. Ia memilih langsung masuk kedalam kamar Ale, melihat Nanny yang sedang menggendong adiknya.


Lidia memilih menyewa jasa seorang pengasuh dari agen penyalur pekerja untuk menjaga Ale, pagi sampai sore ia pergi untuk mengurus kembali sekolah model yang dia tinggalkan selama mengandung.


Lidia juga berpikir ada Rea yang bisa membantu menjaga Ale karena sekarang anak gadisnya itu menjadi pengangguran, ia tenang karena Rea begitu sayang kepada adiknya. Seperti sekarang dengan telaten Rea memberikan susu formula dari botol untuk Ale, menimang bayi itu sambil mengajaknya berbicara.


Sementara itu diruang kerjanya Arkan menekuk wajahnya, memegangi kedua sisi kepalanya, temannya yang sangat dia percaya membawa kabur semua uang darinya yang akan dipergunakan untuk membangun bisnis e-commerce mereka.


Beberapa kali laki-laki itu menghentak-hentakan kakinya kesal, meratapi kebodohan yang dia lakukan, uang puluhan miliyar melayang karena dirinya yang terlalu percaya kepada seseorang.


Ia berniat melaporkan temannya kepolisi. Namun urung dia lakukan mengingat pernikahannya yang akan berlangsung sebentar lagi. Arkan menggigit bibir bawahnya bingung haruskah memberi tahu masalah ini ke calon istrinya.


Pukul lima sore Arkan pulang dan langsung menjemput Rea dirumah Jordan, mendapati calon suami dari orang yang dia suka berada dirumahnya wajah Axel berubah kesal. Sapaan dari Arkan hanya dibalas dengan senyuman sekilas yang dia paksakan.


Arkan tau ada yang aneh dari sikap Axel kepadanya, ia pun menanyakan hal itu ke calon istrinya, awalnya Rea tidak ingin menjawab pertanyaan dari Arkan, tapi ia sadar apapun masalahnya tidak boleh ada yang disembunyikan ke laki-laki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.


"Axel berkata mencintaiku," ucap Rea saat mobil yang dikendarai Arkan berhenti diperempatan lampu merah. Laki-laki itu terkejut menatap ke arah gadis disampingnya.


Rea hanya mengangguk, gadis itu tidak ingin meneruskan perbincangan soal dirinya dan Axel, ia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya soal pekerjaan calon suaminya.


Arkan hanya menjawab bahwa pekerjaannya baik-baik saja, ia lebih tertarik untuk bertanya lebih dalam soal hubungan calon istrinya dengan sang kakak tiri. Arkan pun tak berniat bercerita soal dirinya yang kehilangan uang dengan nominal miliyaran.


"Kamu benar tidak memiliki perasaan ke dia kan?" Arkan mulai mencecar Rea soal hubungannya dengan Axel.


"Demi Tuhan sayang, dihatiku cuma ada kamu," jawab Rea tegas.


"Bagaimanapun akau akan menikahi Bumi yang dicintai Langit," ucap Arkan "Terkadang aku masih merasa minder, dua Langit yang mencintaimu itu benar-benar jauh diatasku."


Rea menghela napas mendengar perkataan kekasihnya.


"Apa kamu sedang berbicara soal harta?" tanya Rea.


Arkan terdiam, mengingat dirinya yang sudah tidak punya apa-apa karena ditipu temannya.

__ADS_1


"Biarpun tidur dijalanan asal denganmu aku rela," ucap Rea "Tapi aku yakin kamu tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi kepada kita," lanjutnya sambil tertawa.


Arkan hanya tersenyum simpul, memilih menggenggam tangan calon istrinya.


"Aku sudah harus menghafalkan kalimat akad kita bukan?" tanya Arkan sambil memandang kearah Rea.


"Hem.... Kamu harus berhasil mengucapkannya dalam satu kali tarikan napas, dan jangan sampai keliru," ancam Rea.


"Bagaimana kalau sampai keliru?" Canda Arkan.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu."


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Terima kasih sudah mau baca tulisan receh aku, jangan lupa Like 👍 dan Vote 🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


__ADS_2