Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 70


__ADS_3

Rea mengajak Cindy ke apartemennya, sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, sesampainya disana Arkan memilih masuk kedalam kamar calon istrinya untuk tidur, memberi ruang agar dua teman lama itu bisa berbicara dengan santai.


Cindy masih saja terdiam, tangannya terlihat memegang cangkir teh yang disuguhkan Rea yang bahkan sama sekali tidak dia minum.


"Bagaimana kabarmu Sin?"


Gadis itu hanya terdiam tangannya terlihat gemetar, Rea memegang tangan temannya berusaha memberi kekuatan bahwa tidak apa-apa untuk bercerita kepadanya.


Cindy mulai bercerita bahwa dia memang memiliki hubungan spesial dengan Bara, bahkan laki-laki itu berencana untuk menjadikan dia istri keduanya. Pertemuan dirinya dengan suami Celine terjadi saat tanpa sengaja dia merusakkan kemeja yang di laundry Bara di tempat dia bekerja. Gadis itu tersenyum getir merasa bagaimana bisa ceritanya sangat mirip dengan dongeng Cinderella.


Saat menjalin hubungan dengan Bara, laki-laki itu juga telah bercerita bahwa dia akan menikah, tapi ia memohon kepada Cindy untuk tidak meninggalkannya, cerita Cindy yang berkata bahwa Bara merasa terkekang dan merasa tidak bahagia bersama Celine membuat hati Rea sebagai wanita merasa sakit, apalagi alasan Bara yang tidak bisa melepaskan istrinya karena merasa terlalu banyak berhutang budi.


Cindy sudah pergi dari apartemen dengan meninggalkan sejuta pertanyaan di pikiran Rea, ternyata gadis yang ia lihat beberapa hari yang lalu di sekitar perumahannya bersama Bara adalah benar teman SMA nya itu, suami Celine membeli rumah disana untuk mereka tinggali bersama.


"Bagaimana mungkin aku bisa bertetangga dengan selingkuhan suami temanku yang merupakan temanku," gumam Rea yang bingung sambil memegang kedua sisi kepalanya.


Arkan keluar dari kamar kekasihnya, melihat calon istrinya yang terdiam duduk dimeja makan, laki-laki itu mendekat mengusap punggung gadis itu dari belakang, menciumi pucuk kepala Rea.


"Cindy berkata tidak bisa menolak laki-laki kaya yang bahkan berkata mencintainya," ucap Rea sambil mendongak menatap Arkan yang berdiri disampingnya.


"Apa Cindy bukan wanita baik-baik sekarang? Apa dia sudah berubah bukan lagi Cindy yang aku kenal dulu?"


Arkan yang ditanya tidak menjawab, laki-laki itu lebih memilih merengkuh punggung Rea, menyandarkan kepala gadis itu diperutnya.


Rea memejamkan matanya mengingat kembali kalimat Cindy kepadanya.


"Untukmu yang tidak pernah kekurangan materi sejak kecil tentu tidak akan pernah merasakan hidup sepertiku, bahkan kamu memiliki pria yang seumur hidupnya mencintaimu, aku pernah berkata bahwa didunia ini ada orang yang beruntung dan tidak beruntung, aku tidak mau selamanya menjadi orang tak beruntung itu, aku lelah."


❤❤❤❤❤


Keesokan paginya Rea hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju tempat kerjanya, Arkan yang fokus mengemudi sadar bahwa kekasihnya itu masih memikirkan masalah temannya kemarin.


Arkan menasehati Rea agar tidak perlu merisaukan masalah rumah tangga orang, gadis itu hanya menghela napas mendengar nasihat calon suaminya.


"Bahkan menikah bukan jaminan mendapat akhir kisah cinta yang bahagia," ucapnya sebelum melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil Arkan.


Arkan menggenggam tangan Rea yang mendapat balasan sentuhan lembut dari sang empunya.


"Apa tidak ada ciuman untukku?" tanyanya sambil mengulas senyum dibibirnya.


Rea tersadar bahwa dari tadi dia bersikap dan memasang muka yang pasti sangat membuat kekasihnya merasa kurang nyaman, gadis itu meminta maaf.


"Kenapa minta maaf, aku minta cium sayang," ucap Arkan manja dan sebuah kecupan lembut berhasil mendarat manis dibibirnya.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


Rea duduk dimeja kerjanya, mulai membuka laptop dan melihat berkas laporan yang harus dia kerjakan, sesekali ia beristirahat untuk meregangkan punggungnya, gadis itu kaget saat Agni masuk kedalam ruangannya dengan menggendong anak kecil yang dia tau adalah Misya, anak Agni dan mantan suaminya yang sudah wanita itu ceraikan beberapa bulan yang lalu.


"Re, tolong bantu aku menjaga Misya, mantan suamiku beberapa kali ingin mengambilnya secara paksa dariku, aku merasa dia terus membuntutiku aku tidak bisa menitipkan Misya ditempat ibuku" pinta Agni.


Wajah wanita itu terlihat sangat kuatir , Rea berdiri dari kursinya mendekat ke arah Agni melihat Misya yang sedang terlelap digendongan bundanya, Agni lalu menyerahkan anaknya kepelukan Rea.


"Aku akan mengambil Misya nanti, aku akan pergi menemui pengacaraku untuk membicarakan masalah ini," ucap Agni sambil terburu keluar dari ruangan itu.


Rea merasakan sesak didadanya merasa nasip anak yang sekarang berada didekapannya tidak jauh beda dengan nasipnya dulu, ia lalu keluar menuju meja resepsionis meminta untuk dibukakan satu buah kamar.


Saat berbalik mengikuti langkah bell boy yang dia mintai bantuaan untuk membukakan pintu, Axel ternyata sudah berdiri disana memandanginya dari jarak lima meter.


Laki-laki itu mendekat kemudian meminta kunci dari tangan bell boy memasukkannya kekantong baju Rea, tangannya meraih Misya yang ada digendongan gadis itu.


Mereka naik kelantai tujuh dimana kamar yang diminta Rea berada, ia terlihat mengusap pipi Misya yang ada dipelukan Axel, anak itu menggeliat.


"Divorce?" tanya Axel setelah Rea menceritakan alasan Misya ada bersamanya.


Axel sengaja menyebutkan kata cerai dalam bahas Inggris karena kuatir jika anak dalam gendongannya ternyata tidak sepenuhnya terlelap.


"Her Ex have an affair," jawab Rea dengan bahasa yang sama sambil merogoh kunci kamar dari kantong bajunya.


Setelah berada didalam kamar Rea memilih mengatur suhu pendingin ruangan, sementara Axel terlihat keluar menuju balkon kamar setelah membaringkan Misya diatas kasur, Rea ikut keluar berdiri disamping Axel.


"Bagaimanapun keadaannya setiap anak pasti mengharapkan sebuah keluarga yang utuh," jawab Axel.


"Terkadang aku bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak menciptakan seluruh mahkluknya bahagia, kenapa harus ada si miskin dan si kaya, si beruntung dan si kurang beruntung, si jahat dan si baik," ucap Rea.


"Lalu apa kamu sudah menemukan jawabannya?" tanya Axel.


"Belum, apa kamu tau?"


"Aku juga tidak tau, tapi mungkin karena Tuhan ingin memberikan pelajaran hidup untuk hambanya, Tuhan itu maha baik semua yang ditetapkan Tuhan pasti mempunyai hikmahnya sendiri," jawab Axel.


"Apa menurutmu berselingkuh dan bercerai juga ada hikmahnya?" tanya Rea lagi.


"Pasti."


"Ada dua hal yang sangat tidak ingin aku alami dalam hidupku, Aku tidak ingin sampai diselingkuhi atau bercerai, maka dari itu aku memilih menikah dengan laki-laki yang benar-benar mencintaiku." Rea tersenyum kearah Axel, ia sedikit kaget karena laki-laki itu ternyata sudah menatap tajam ke dirinya.


"Aku mencintaimu," ucap Axel sambil menatap mata Rea lekat.

__ADS_1


Seketika senyuman hilang dari bibir gadis itu saat mendengar kalimat Axel, kakinya bergetar ia memundurkan sedikit badannya menjauh dari laki-laki itu.


"Apa masih ada kesempatan untukku agar kamu bisa memilihku?"


Axel masih berusaha meskipun dia sudah bisa menebak apa jawaban Rea atas pernyataan cintanya, dan benar saja sebuah kalimat penolakan lolos begitu saja dari bibir gadis didepannya.


"Tidak ada, hatiku sudah tertutup untuk semua pria kecuali Mas Arkan."


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Don't forget to


LIKE 👍

__ADS_1


VOTE ⭐⭐⭐⭐⭐


ADD ❤


__ADS_2