
Tiga bulan kemudian
"Sampai kapan mereka menjadi milik Be dan Bu?" tanya Arkan di balik selimut sambil menyentuh aset berharga milik istrinya yang sekarang sudah di ambil alih oleh kedua anaknya.
"Sampai mereka berumur dua tahun."
Rea tertawa sambil membalikkan badannya untuk membenamkan kepalanya di dada sang suami.
"Ah lamanya!" keluh Arkan.
"Apa kamu lupa? dokter anak Be dan Bu bilang memberi Asi eksklusif selama dua tahun akan membuat mereka lebih kebal dari berbagai macam penyakit nanti."
"Lagipula mahkotaku yang paling berharga masih menjadi satu-satunya milikmu," lanjut Rea.
Arkan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya dan Rea, laki-laki itu langsung melonjak ke atas tubuh sang istri yang terlihat tersenyum melihat ekspresi wajahnya.
"Memang harus menjadi satu-satunya milikku!"
Arkan kembali menciumi ceruk leher sang istri seperti apa yang dia lakukan setengah jam yang lalu.
"Kalau seperti ini, Be dan Bu benar-benar akan segera mendapat adik," ucap Rea sambil menahan desahan yang hampir lolos dari bibirnya karena perbuatan sang suami.
Arkan menghentikan aktifitasnya menatap wajah sang istri yang terlihat memerah karena perbuatannya "kamu bilang ingin sepuluh anak kan?"
Rea hanya menganggukkan kepalanya, pasrah. Arkan mulai menyerang bibirnya, menggigit kecil sambil tersenyum. Gadis itu merasakan adik suaminya menyentuh permukaan perutnya, milik Arkan mulai menegang kembali.
"Satu ronde lagi," bisik Arkan menggoda.
Rea menganggukkan kepalanya, aktifitas malam mereka berdua belakangan memang sering terganggu dengan suara tangisan Bening atau Embun, sebagai orang tua mereka tidak mungkin egois untuk melanjutkan bercinta sementara sang anak seolah meminta perhatian, untuk itu bagi Rea dan Arkan kesempatan emas yang datang tak setiap malam itu tidak ingin mereka sia-siakan.
Seperti sekarang, Arkan berharap mendapatkan ronde ke dua dari permainan ranjangnya dengan sang istri, laki-laki itu mulai mencumbui setiap inci tubuh Rea. Namun sayang di tengah jalan terdengar suara tangisan dari kamar bayi mereka.
Rea terlihat seolah menajamkan pendengarannya, mencari tahu apakah benar suara bayinya yang terdengar, entah mengapa semenjak menjadi ibu, Rea seolah selalu mendengar sang bayi menangis saat ditinggalkan.
"Ada Ax kan?" ucap Arkan saat melihat perubahan raut wajah sang istri.
"Ax baru pulang dari Australia, dia pasti lelah," bisik Rea.
Suara tangisan bayi mereka terdengar lagi, membuat Arkan melompat turun dari atas tubuh sang istri, laki-laki itu menggosok wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya karena sadar harus menghentikan aktifitasnya juga menahan birahi yang tengah berada dipuncaknya, Arkan kemudian memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai begitu juga dengan Rea, mereka berdua bergegas menuju kamar sang bayi.
Disana keduanya mendapati Ax sudah menggendong Bening dan menimangnya, wajah laki-laki itu terlihat benar-benar lelah, namun ia masih mau membantu menjaga kedua bayi kembar Rea. Baik Axel dan Arkan tidak pernah pilih-pilih untuk menjaga dan menenangkan bayi siapa yang menangis lebih dulu, bagi papa papi baru itu baik Bening atau Embun keduanya sama-sama anak mereka.
Rea meminta Bening dari tangan Axel, menimang bayi mungil itu kemudian memberinya ASI, Rea mamandangi bayinya dari balik apron yang ia kenakan, sementara suaminya dan Axel terlihat duduk di sofa.
__ADS_1
"Sebaiknya kita mulai cari nanny untuk mereka," ucap Arkan.
"Kita harus cari yang benar-benar berpengalaman dan handal, aku tidak mau Be dan Bu mendapatkan nanny sembarangan," tambah Axel.
"Sepertinya bulan depan aku ingin membawa Bu dan Be ke rumahku Ax, aku merasa kasihan ke mama Laras karena harus terus menjaga Noah, aku juga kasihan Noah harus bolak balik rumah papa Jordan dan papa Andi setiap hari." Perlahan Rea meletakkan Bening kembali ke box nya setelah bayi itu terlelap.
"Apa kalian tidak kerepotan?" Axel memandang ke arah Arkan, mencoba mencari jawaban.
"Maka dari itu kita harus mulai mencari pengasuh, kita bisa ambil empat pengasuh, dua untuk di pagi hari dan dua untuk di malam hari, bagaimana?"
"Ide bagus." Axel setuju dengan Arkan begitu juga Rea yang hanya mengiyakan ucapan sang suami.
"Oh ya Ax, apa kamu sudah menemukan penyebar berita,foto dan video tentang kita dulu?" Rea sangat penasaran melipat kedua tangannya ke depan dada sambil menatap Axel dan sang suami.
"Belum, orang yang aku perintahkan mencari tahu belum menemukan siapa si pelaku, laporan terakhir dari Johan nomor itu berasal dari luar pulau, setelah diperiksa lagi, nomor itu terdaftar dengan identitas palsu."
"Johan? Siapa Johan?" Arkan terlihat penasaran.
Axel menatap wajah adik tirinya lalu menoleh ke arah Arkan "orang yang aku minta membuntuti Rea waktu itu."
"Apa dia bisa dipercaya?" Rea terlihat sedikit tidak yakin.
"Hem... tentu bisa." Axel menjawab seolah yakin dengan orang suruhannya.
Setelah memastikan kedua bayinya tenang dan kembali terlelap tidur Rea kembali ke kamarnya, sementara Arkan masih terlihat berbincang dengan Axel di depan kamar Bening dan Embun.
[ Aku sudah bilang jangan telpon aku, ada apa? ]
Tak lama sebuah pesan balasan muncul dari orang yang dituju, alis mata Rea terlihat sedikit naik ke atas membaca balasan pesan itu.
[ Suami anda sudah menemukannya, wanita itu sekarang tidak tinggal di Inggris tapi di Australia ]
Rea menggenggam erat ponselnya, hatinya kembali dihantui perasaan bimbang, sudah beberapa bulan belakangan ini dirinya meminta seseorang untuk mengawasi Arkan, suaminya itu diam-diam mencari keberadaan Samantha, ibu kandung Noah, entah apa yang Arkan inginkan setelah menemukan wanita itu, yang jelas Rea sangat penasaran dan sekarang dirinya diliputi perasaan curiga ke suaminya itu.
Arkan masuk ke dalam kamar melihat sang istri yang tengah duduk di ujung ranjang, Ia lalu menciumi kening sang istri bertubi-tubi.
"Apa ingin melanjutkan yang tadi?" Arkan mencoba menggoda sang istri.
Rea menggeleng, mencakup kedua telapak tangan suaminya kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah Arkan.
"Aku lelah, bolehkan aku tidur di pelukanmu?" lirihnya.
Arkan melepaskan tangannya, membelai pipi Rea lembut penuh kehangatan, Ia lalu memposisikan dirinya diatas ranjang, laki-laki itu menepuk dadanya sambil membuka lengan tangannya lebar-lebar, Rea tersenyum sambil meringsek ke arah sang suami, gadis itu membenamkan kepalanya ke dada Arkan, menghirup aroma tubuh laki-laki itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Aku mencintaimu sayang," bisik Arkan.
Rea hanya terdiam, ia mempererat pelukannya ke sang suami.
"Aku juga sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu tidak pernah mau terbuka kepadaku? berapa banyak rahasia yang kamu simpan Ar? aku merasa bodoh, perlahan aku merasa seolah tidak mengenalimu lagi." Lirih Rea dalam hati.
"Sayang," Rea memanggil suaminya dengan sedikit bergetar.
"Ada apa? hem."
"Aku tiba-tiba ingin pergi piknik tapi hanya berdua denganmu, sambil membawa bekal aku ingin menggelar tikar di bawah pohon rindang dan melihatmu tidur di pangkuanku."
"Ayo kita lakukan! tapi kita harus mencari waktu yang tepat dulu, ingat sekarang sudah ada Bening dan Embun." Arkan mengusap lembut rambut Rea.
"Hem..., aku sangat bahagia memiliki mereka, aku masih tidak menyangka kedua mahkluk mungil itu berasal dari perutku."
"Tidurlah, ini sudah tengah malam, nanti biar aku saja yang bangun kalau Be dan Bu menangis," Arkan kembali menciumi kening sang istri bertubi-tubi.
"Terima kasih." Rea semakin mempererat pelukannya.
_
_
_
_
_
Baca Novel di Mangatoon or Noveltoon gratis ya guys, so jangan lupa apresiasi Nasya dengan tekan :
LIKE👍
Tinggalkan KOMEN 💋 meskipun cuma next 🤭
RATE Bintang 5
dan bagi VOTE kalian jika berkenan.
Add Favorite Novel ini juga jangan lupa
Terima kasih
__ADS_1
Love you a TON
Na_Ma