Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 96


__ADS_3

Arkan dan Rea berjalan menyusuri jalan setapak dengan pepohonan rindang di sebelah kanan mereka, menikmati angin dan pemandangan pantai yang bisa dilihat dari sebelah kiri mereka. Arkan meraih telapak tangan sang istri, mengaitkan jari jemari mereka, menggenggam erat seolah takut Rea pergi darinya lagi.


"Sayang...." Arkan tiba-tiba menghentikan langkahnya sambil masih memegangi tangan istrinya. Rea yang sudah berjalan otomatis berhenti dan memalingkan badan karena tertahan genggaman tangan Arkan.


"Apa?" tanyanya dengan nada yang masih ia buat tak bersahabat.


"Jika Noah benar anakku, apa kamu bisa menerimanya?" tanya Arkan sedikit ragu.


"Apa kamu yakin ingin membahas hal ini sekarang?" Rea membalas pertanyaan suaminya dengan sebuah pertanyaan juga.


Arkan menganggukkan kepalanya "aku tidak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut," jawabnya.


"Aku akan menerima Noah, seperti kamu menerima anak Axel," ucap Rea.


"Sayang, bukan seperti itu_____"


"Aku sudah berpikir tiga hari ini, jika benar Noah adalah anak kandungmu, aku harus menerimanya." dengan tegar Rea mengucapkan kalimat itu ke suaminya.


"Aku yakin bahwa kamu hanya mencintaiku, kamu tidak punya perasaan apa-apa ke ibunda Noah, kamu bilang hanya one night stands kan? aku akan mempercayai itu, dan terima kasih sudah mau menerimaku, aku juga tidak sempurna, terima kasih masih mau mencintaiku meskipun aku tidak bisa menjaga kesucianku hanya untukmu," lanjut Rea.


Arkan dengan ragu mencoba merengkuh tubuh istrinya, ia merasa lega karena tidak ada penolakan dari Rea, Arkan menyadari bahwa akhirnya ia bisa berbaikan kembali dengan gadis yang sangat dicintainya itu.


"Terima kasih sayang, aku akan berusaha jadi suami dan papa yang baik ke depannya," bisik Arkan di telinga istrinya.


Rea memejamkan matanya sambil menganggukkan kepalanya didada Arkan, ia juga berjanji untuk menjadi istri yang lebih baik untuk suaminya itu.


***


Rea duduk bersebelahan dengan Arkan beralaskan


pasir putih sambil memandang ke arah pantai yang berada dibelakang villa miliknya, mereka melihat burung camar yang terbang saling berlarian di angkasa. Beberapa kali Rea terlihat sibuk merubah posisi duduknya.

__ADS_1


Seringai senyum muncul di bibir Rea menatap wajah berkerut sang suami melihatnya yang sudah mulai tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri karena tengah hamil dua bayi. Rea menggunakan tangan kirinya untuk mengusap pipi Arkan kemudian kembali menatap pantai.


"Sayang, kamu tidak perlu melakukan test DNA ke Noah," ucapnya.


Ia lalu memandangi wajah sang suami kembali. "Jika dia benar anakmu aku tidak ingin sampai kamu merasa bersalah karena sempat meragukan darah dagingmu sendiri, tapi jika dia bukan anakmu aku juga tidak ingin kalau sampai kamu mengembalikan Noah ke ibunya."


"Kenapa?" Wajah Arkan penuh tanda tanya menatap heran ke arah sang istri yang terlihat menyunggingkan senyuman, senyuman manis yang membuat dirinya selalu merasa beruntung bisa memiliki gadis itu seutuhnya.


"Bukankah kamu bilang Samantha memberikan Noah kepadamu karena baik orang tua ataupun kekasihnya tidak menerima anak itu, aku tidak bisa membayangkan anak itu hidup bersama orang yang sama sekali tidak menyanyanginya, sayang, aku tau bagaimana rasanya karena hampir 18 tahun aku mengalaminya." ucap Rea sendu.


"Jadi mari kita besarkan Noah seperti besok kita membesarkan Bebe dan Bubu, meskipun baru sehari bersamanya aku merasa ada ikatan dengan anak itu."


"Re_____"


"Sayang, maaf untuk kali ini aku mohon kabulkan lagi apa yang aku mau, setelahnya aku berjanji akan menuruti semua permintaanmu," pinta Rea.


Arkan menempelkan dahinya ke kening sang istri, berbisik seolah masih menyimpan sedikit rasa bersalah ke Rea. "Maaf dan terima kasih sayang."


Mereka terdiam cukup lama menyelami kembali perasaan masing-masing, Rea melengkungkan bibirnya, menjauhkan wajahnya dari sang suami, dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah curiga dengan sangaja ia menyipitkan kedua matanya lalu mencubit perut Arkan.


Arkan memilih bangun lalu berdiri di didepan istrinya yang masih duduk sambil mengusap bekas cubitan Rea yang masih membekas sakit di perutnya.


"Itu, dia yang memberi ide." Arkan menunjuk Elang yang terlihat berjalan ke arah mereka bersama Ken.


Rea mengulurkan tangannya meminta sang suami untuk membantunya berdiri, Ia lantas berbalik menatap kesal ke arah kakaknya, berjalan cepat sambil meniup telapak tangannya membuat Elang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Laki-laki itu memilih menjatuhkan kantong yang dia bawa kemudian berlari menghindari amukan sang adik.


Kinanti dan Arkan tertawa, gadis itu lalu memungut kantong plastik yang dijatuhkan Elang, sambil berteriak ke arah Rea.


"Heh... Ibu hamil jangan lari-lari!" larangnya.


"Sayang hati-hati!" teriak Arkan tak kalah khawatir melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


Elang masuk kedalam villa lalu duduk di sofa memakai tangannya sebagai tameng untuk menghindari tamparan adiknya yang sedang mengincar lengan tangannya. Berkali-kali mencoba tapi gagal, akhirnya Rea memilih berhenti mencoba memukul kakak laki-lakinya itu.


"Apa kamu mau aku menjadi janda muda? bisa-bisanya memberi ide gila meminta Mas Arkan makan udang yang jelas-jelas membuatnya alergi," gerutu Rea.


Elang akhirnya menurunkan tangannya dan sebuah pukulan berhasil mendarat di lengan kekarnya, bukannya sang korban yang menjerit kesakitan tapi malah si pelaku, Rea mengusap-usap telapak tangannya yang terasa sedikit panas setelah memukul kakaknya.


"Nah kan sakit kan?" cibir Elang yang langsung mengambil tangan sang adik kemudian mengusap dan meniup telapak tangan Rea.


Suara Arkan yang pura-pura batuk membuat keduanya memalingkan muka, entah kenapa dia merasa kakak ipar dan istrinya terlihat sangat serasi, meskipun Arkan tahu pasti bahwa tidak mungkin keduanya menjalin hubungan spesial, tapi tetap saja sebagai laki-laki ia merasa sedikit cemburu.


Ken yang melihat kekasih yang baru saja melamarnya memegang tangan wanita lain hanya tersenyum. Ia mendekat kemudian mencubit pipi Elang gemas.


"Hayo pegang-pegang tangan istri orang, bisa kena bogem lho, " ledek Kinanti.


Elang malah menempelkan tangan Rea ke pipinya seolah mengejek Arkan, membuat adik iparnya itu meraih sebuah bantal sofa kemudian melempar ke arah kakak iparnya.


"Durhaka Ar, gue kakak ipar loe," gerutu Elang.


Rea tertawa mendekat ke arah suaminya, memeluk pinggang Arkan dengan sebelah tangannya, tanpa rasa malu mencium sekilas bibir laki-laki itu di depan Ken dan Elang.


"Kamu tau aku cuma milikmu," bisik Rea ketelinga sang suami.


Arkan tersenyum membalas ciuman sang istri dengan sebuah kecupan dikening, ia lantas menggenggam tangan Rea untuk menariknya masuk ke dalam kamar. Bak Miss Universe Rea melambaikan tangan ke arah Ken dan kakak laki-lakinya sambil tersenyum manis.


"Mentang-mentang udah baikan langsung ngamar," ejek Elang sambil memungut bantal sofa yang dilemparkan Arkan dari lantai.


"Re, kita beliin air kelapa buat kamu nih," panggil Kinanti sesaat sebelum Rea masuk kamarnya.


Rea melepaskan tangannya dari genggaman sang suami untuk berbalik dan meraih kantong yang disodorkan Ken kepadanya, membiarkan sang suami masuk ke dalam kamar terlebih dulu. ia lantas berucap terima kasih kepada Elang, tentu saja bukan karena idenya yang meminta sang suami memakan makanan yang membuat alerginya kambuh, tapi untuk memberi tahu Arkan bahwa dirinya ada disana.


Elang mengernyitkan dahi membuat Rea juga melakukan hal yang sama, karena Elang berkata sama sekali tidak memberi tahu Arkan perihal keberadaannya di Bali.

__ADS_1


"Lalu siapa?" tanya Rea heran.


"Coba kamu tanya langsung ke suamimu Re," saran Kinanti yang dari tadi juga ikut mendengarkan pertanyaan Rea.


__ADS_2