
Kinanti, Arkan dan Axel duduk di hadapan beberapa wartawan, perlahan dokter kandungan itu mulai menjelaskan tentang kondisi kehamilan yang di alami Rea, Ken benar-benar berkata bahwa dirinya lah yang bersalah.
"Pertama saya ingin meminta maaf karena keteledoran saya yang menyebabkan pasien saya atas nama Andrea Bumi Pradipta mengalami hal yang tidak seharusnya dia alami, beberapa bulan yang lalu pasien datang untuk melakukan proses bayi tabung, namun karena ketidaktelitian dan kehilafan, saya memasukkan dua benih ke rahim pasien, satu milik suami pasien dan satu milik saudara Axel."
"Apa pihak rumah sakit tahu? lalu bagaimana tanggung jawab anda sebagai dokter?" tanya seorang wartawan tak sabar.
"Saya pasti akan mendapat masalah jika pihak rumah sakit tempat saya bekerja tau dengan keteledoran saya ini, maka dari itu saya memilih menyimpannya sendiri, lagipula saat mengakui kesalahan fatal yang saya lakukan ke pihak pasien, bu Andrea berkata tetap menginginkan kedua bayi itu, beliau berkata rela mengandung bayi milik kakaknya yaitu saudara Axel."
"Bukankah anda belum menikah? lalu untuk apa anda melakukan prosedur bayi tabung di rumah sakit?" tanya wartawan ke Axel.
"Saya ingin memiliki anak tanpa menikah dengan cara menyewa rahim seorang wanita," jawabnya singkat.
Semua yang ada disana terkejut dengan jawaban Axel.
"Jadi berita yang beredar sekarang ini sama sekali tidak benar, kami mohon semoga kalian semua bisa menulis berita klarifikasi yang tidak memojokkan kami, karena sebenarnya masalah ini adalah masalah pribadi dan bukan konsumsi publik," imbuh Arkan.
"Apakah memang bisa dok seorang wanita mengandung bayi dari dua laki-laki sekaligus?" tanya salah satu wartawan lagi ke Kinanti.
Ken lalu menjelaskan kondisi kehamilan bayi kembar yang berbeda ayah ini disebut superfekundasi hetero paternal, kemungkinannya hanya satu dibanding tiga belas ribu kelahiran bayi kembar, Ken juga memberi contoh beberapa kasus seperti seorang wanita asal Tiongkok yang pada tahun lalu melahirkan bayi kembar yang berasal dari dua ayah yang berbeda.
"Ini kondisi langka, dan kasus ini merupakan yang pertama di negara kita, jadi saya mohon untuk tidak memutar balikkan berita ataupun mencari celah kesalahan untuk menjatuhkan nama baik seseorang dengan keadaan ini, bagaimanapun sang ibu yaitu pasien saya ibu Andrea sangat bahagia dengan kehamilannya, saya juga mohon masyarakat bisa menyambut dengan hangat kelak kelahiran bayi dengan kasus superfekundasi hetero paternal pertama di negara kita ini."
"Saya mohon maaf atas kegaduhan ini, dan saya siap menerima konsekwensi atas keteledoran saya," tutup Kinanti, ia berdiri lalu membungkukan badannya meminta maaf di hadapan kamera awak media.
Ketiganya lalu pergi dari lokasi konferensi pers itu, meskipun para wartawan masih mencecar mereka dengan banyak pertanyaan.
Di rumah sang mertua, Rea nampak menangkup wajahnya menyaksikan berita yang baru saja muncul di televisi, ia masih tak percaya bagaimana mungkin Kinanti benar-benar mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi dirinya, dan lagi suami dan kedua kakak laki-lakinya juga terlibat dengan apa yang baru saja Ken sampaikan. Gadis itu menangis membuat sang mama mertua kebingungan.
***
"Sayang, apa kamu tidur?" bisik Arkan ke telinga sang istri.
Laki-laki itu langsung pulang ke rumah orang tuanya setelah sang mama mengabari bahwa istrinya menangis setelah melihat klarifikasi yang disampaikan Kinanti beberapa jam yang lalu.
Rea yang terlihat berbaring menghadap kesisi kiri ranjangnya bergeming, ia sama sekali tidak menjawab Arkan meskipun dia sedang tidak benar-benar tidur.
__ADS_1
"Ken ada disini, apa kamu ingin menemuinya?"
Tak ada jawaban, yang terlihat bergerak hanya tangan gadis itu, Rea menghapus buliran air mata yang jatuh di pipinya.
"Sayang___,"
"Tok..tok.. tok"
Ketukan dari luar pintu kamar mereka membuat Arkan berhenti sesaat dari usahanya membujuk sang istri, ia mendekat untuk membukakan pintu.
Kinanti masuk ke dalam ruang pribadi calon adik iparnya, duduk di ujung ranjang menepuk betis kaki gadis yang tengah merajuk itu.
"Re, apa kamu marah?"
Hening, tak ada jawaban dari Rea. Kinanti menghela napasnya kasar, masih berusaha membujuk gadis itu agar mau bicara.
"Aku tau aku salah karena tidak meminta persetujuanmu, tapi menurut kami ini lah solusi yang terbaik diantara semua solusi yang ada."
"Kenapa kamu melakukan itu Ken? kenapa mengorbankan masa depanmu hanya untuk aku?" lirih Rea.
"Dan apa kamu tau? aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, bukankah sudah sepatutnya kakak melindungi adiknya? atau jangan-jangan kamu masih menganggapku orang asing?"
Rea terkejut dengan ucapan Ken, ia lantas bangun dari posisinya dan duduk, gadis itu tiba-tiba memukul paha calon kakak iparnya berkali-kali.
"Bodoh... bodoh, bagaimana bisa kamu menghancurkan hidupmu sendiri? dan berkata jahat seperti itu kepadaku?"
Rea menangis terisak membuat Kinanti langsung memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
"Iya aku bodoh, kamu boleh mengataiku sesukamu, tapi setelahnya kamu harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ingat! ibu hamil harus bahagia agar bayi dikandungannya juga ikut bahagia," ucap Ken.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? bagaimana jika kamu di pecat dari rumah sakit tempatmu bekerja? bagaimana jika kamu Kehilangan ratusan pasien karena masalah ini?" Rea masih terisak.
"Aku akan menikah dengan CEO kaya, punya adik ipar seorang pengusaha, jika tidak bisa menjadi dokter lagi bukankah aku bisa menjadi seorang sosialita?" Ken tertawa, melepaskan pelukannya ke Rea, tersenyum sambil menghapus sisa air mata di pipi gadis itu.
"Semua akan baik-baik saja, kamu harus selalu sehat, aku tidak sabar menunggu kedua keponakanku lahir, aku penasaran siapa nama yang akan kamu berikan ke putri cantikmu nanti."
__ADS_1
Rea tersenyum, menggenggam erat tangan Kinanti, ucapan maaf dan terima kasih berkali-kali ia ulangi.
"Apa kamu mau tau siapa nama keponakanmu nanti? tapi janji jangan beritahu siapapun sampai mereka lahir," pinta Rea.
Ken mengangguk antusias, mendengarkan dua buah nama yang dibisikkan Rea kepadanya, bibirnya tersenyum sambil meletakkan telunjuknya memberi tanda diam.
"Pokoknya aku ingin kamu yang membantu persalinanku nanti, aku tidak mau dokter yang lain," rengek Rea.
"Hem... pasti, tenang saja, kalau kamu masih berniat melahirkan normal kamu harus mulai fokus ke persiapan persalinan, pikirkan hal-hal positif, belajar napas yang benar, jangan pernah absen ikut senam hamil, dan yang pasti harus bahagia."
"Ayo turun, di bawah ada empat laki-laki yang sedang mencemaskan dirimu," ucap Ken sambil berdiri dari atas ranjang.
"Empat?" tanya Rea heran.
"Apa aku harus mengabsen mereka? Elang, Arkan, Axel dan Noah."
Rea seolah baru tersadar menepuk keningnya sendiri " Ya Tuhan, aku lupa makan siang Noah, dia sudah makan belum ya?"
Rea cemas, berjalan keluar kamarnya dengan terburu-buru untuk melihat sang anak laki-laki.
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
Terima kasih untuk terus lanjut baca novel receh aku, jangan lupa LIKE , KOMEN dan RATE Bintang 5 🥰