Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 115


__ADS_3

Rea duduk di samping makam Noah yang terlihat masih basah dan bertabur ribuan kelopak bunga mawar dan melati segar, tak ada lagi air mata yang terlihat menetes dari manik indahnya.


Kepergian Noah adalah kehilangan terbesar kedua dalam hidupnya setelah kepergian sang kakek saat ia masih duduk di bangku SMA, namun sekarang jelas berbeda, dulu Arkan selalu berada di sisinya, memeluknya dan memberikan kekuataan tapi sekarang ia sendirian, rasa marahnya ke laki-laki itu begitu besar.


Hampir satu jam Rea duduk di dekat pusara Noah, langit sudah mulai gelap, Axel menepuk pundak gadis itu, mengingatkannya untuk segera pulang ke rumah.


"Kembalilah dulu ke mobil, aku akan menyusul sebentar lagi," lirih Rea.


Axel menuruti perkataan Rea, tapi baru saja ia membuka pintu untuk masuk ke dalam mobilnya hujan turun begitu deras.


"Sial!"


Axel membuka bagasi mobil mengambil sebuah payung dan bergegas berlari menghampiri Rea, sayang ia terlambat gadis itu terlihat sudah berjalan menghampirinya dengan rambut dan baju yang basah dengan guyuran air yang tiba-tiba jatuh dari langit.


Ax lantas memegang bahu Rea merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya, mereka berjalan bersisian menuju mobil.


"Bajumu basah sebaiknya kita mampir ke rumah om Andi, oke!"


Tak ada jawaban, Rea hanya terdiam memandangi pepohonan dari balik jendela mobil.


"Re__"


"Hem.. iya kita kesana, aku juga butuh mengambil sesuatu disana," jawabnya.


***


Rea masuk ke dalam rumah Andi yang sudah terlihat sepi, ia melihat sang suami, mertua dan orang tuanya masih berada disana, tanpa menyapa ia langsung menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Kenapa dia?" tanya Farhan ke Axel.


"Kami baru saja kembali dari makam Noah dan Rea kehujanan."


"Apa dia akan terus seperti itu?" Andi menyandarkan kepalanya di sofa sambil mengusap mukanya.


Semua orang terdiam, tak seorangpun yang menjawab pertanyaan Andi. Mereka semua tahu ibunda Bening dan Embun itu selalu bersikap dingin saat sedang marah.


Rea keluar dari kamarnya setelah berganti baju, ia begitu terkejut mendapati Samantha keluar dari kamar Noah.


"Sedang apa kamu di kamar Noah?" amuk Rea.


"Aku hanya ingin mengenang Noah dengan melihat barang-barangnya."


"Untuk apa mengenang Noah?"


"Aku benar-benar merasa kehilangan karena aku ibunya." Sam memegang dadanya, jelas ia juga merasa sangat sedih.


"Ibunya kamu bilang? kalau kamu benar ibunya kamu tidak akan membuangnya, kalau kamu ibunya kamu tidak akan merelakan anakmu pergi dengan begitu mudah."


Suara Rea terdengar sampai kebawah, membuat Arkan langsung berdiri bergegas naik keatas.

__ADS_1


"Karena aku ibunya maka aku memberikan dia ke papanya, aku tau Arkan kaya dan bisa membuat hidup Noah bahagia, karena aku ibunya aku tidak ingin melihat anakku menderita terlalu lama," balas Sam.


Rea terdiam, tangannya mengepal seolah sudah ingin menampar wanita di depannya.


Arkan yang datang langsung memegang tangan sang istri, Rea hanya memandang suaminya sekilas, lalu memalingkan wajah ke Sam kembali.


"Aku tanya padamu Sam, berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Arkan dulu?"


Sam terlihat menatap Arkan, laki-laki itu hanya terdiam.


"Enam bulan," jawab wanita itu ragu.


Rea memejamkan matanya, tanpa berucap sepatah katapun ia melepaskan tangannya dari genggaman Arkan , ia lebih memilih turun ke bawah dari pada melanjutkan perdebatannya dengan Samantha.


"Re sudahlah! di situasi seperti ini seharusnya kita saling menguatkan bukan malah saling curiga dan menyalahkan satu sama lain."


Arkan memegang lengan Rea saat menuruni anak tangga, lagi-lagi genggamannya dihempaskan Rea begitu saja.


"Menguatkan? kamu sudah terlalu kuat Ar, merelakan Noah pergi adalah bukti sekuat apa dirimu."


Sindiran istrinya seolah menghujam tepat di hati Arkan.


"Lalu untuk apa wanita itu ada di sini?"


"Dia tidak memiliki keluarga di negara ini Re, aku yang memintanya datang kemari, sudah seharusnya aku memperlakukan dia selayaknya tamu."


"Apa kamu tidak bisa menyuruhnya tinggal di hotel? atau sebenarnya kamu masih menyimpan perasaan ke dia? ternyata bukan one night stand kan? kamu memang berselingkuh di saat kita menjalin hubungan, pembohong!"


"Mau kemana?"


"Apa pedulimu."


"Kamu istriku dan aku suamimu."


"Suruh wanita itu pergi dan aku akan tinggal, jika wanita itu masih disini aku pergi." menatap tajam, mata Rea terlihat penuh dengan kemarahan bercampur kekecewaan.


"Bisakah untuk sekali ini kamu kesampingkan egomu, hatiku juga sakit Re, aku juga hancur melihat anakku pergi."


"Hancur, menyesal, sakit, jangan lagi kamu ucapkan kata-kata itu padaku, karena aku tidak akan peduli, kamu sudah mengambil keputusan sendiri tanpa mendengarkan aku, artinya kamu tidak menganggap aku istrimu lagi, jadi aku juga tidak akan menganggap kamu suamiku."


"Rea!" Lidia bangun dari tempatnya "Kamu ga boleh ngomong kayak gitu, marah boleh tapi jangan sampai mengucapkan kalimat seperti itu."


"Silahkan mama bela menantu kesayangan mama, aku sama sekali tidak peduli."


Semua orang memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan dengan gadis yang sedang dibakar amarah itu, mereka lebih memilih membiarkan Rea pergi bersama Axel.


***


"Re___"

__ADS_1


"Jangan nasihati aku Ax! aku sedang tidak ingin mendengarkan saran apapun."


Axel menghela napasnya menatap jalanan dan kembali fokus membawa mobilnya pulang.


Rea langsung masuk ke kamar untuk melihat kedua bayinya, ia meminta si pengasuh beristirahat karena sadar beberapa minggu belakangan para pengasuh bayinya sudah bekerja begitu keras.


Seolah tahu mamanya datang Bening menangis, Rea menggendongnya bermaksud memberikan ASI, untuk sesaat Bening terdiam menyusu namun tiba-tiba bayi itu menangis sangat kencang, Rea yang panik masih mencoba tenang dan mencari tahu apa yang diinginkan Bening.


Sang pengasuh sampai harus masuk ke dalam kamar lagi mendengar bayi asuhannya menangis sampai meraung, dengan sigap sang pengasuh mengambil alih bayi itu dari tangan sang mama.


"Oh ya Bu, ASI perah buat Bening dan Embun sudah menipis stoknya," ucap Dewi pengasuh Bening.


"Oh ya mba, coba nanti saya pumping, kalau Bening udah tenang tinggal aja biar sama saya, mba bisa istirahat lagi," ucap Rea sambil mengambil alat pemerah ASI miliknya.


Setelah Dewi keluar, Rea mulai memompa ASI sebagai stok saat dia tidak bisa menyusui bayinya secara langsung.


Sudah hampir satu jam ia mencoba pumping, bahkan asetnya terlihat sampai memerah, namun setetespun ASI tak dihasilkan.


Sekarang giliran Embun bangun dan menangis, digendongnya bayi itu lalu Rea coba untuk menyusuinya, namun hasilnya sama seperti Bening tadi, Embun juga tidak mau diam, Sari pengasuh Embun mencoba membantu Rea dengan memberi bayi itu stok ASI perah yang baru saja dihangatkan.


Rea terduduk di sofa menunduk dan terdiam, ia sudah bisa menebak bahwa stress membuat ASInya tak mau keluar, ia menyesal, merasa berdosa dengan kedua bayi kembarnya.


Ax masuk ke dalam kamar, dengan berbisik Sari memberi tahu apa yang terjadi kepada tuannya. Axel mendekat lalu berjongkok di depan Rea sambil memegangi kedua lutut gadis itu.


"Hei, tidak apa-apa kita bisa memberi mereka susu formula," bisik Axel.


Rea menggelengkan kepalanya " Kamu tau kan aku punya intoleran makanan dan Arkan juga punya alergi, tidak segampang itu Ax memberi mereka susu formula, aku tidak ingin terjadi apa-apa ke mereka."


"Aku akan menelpon dokter anak mereka untuk bertanya."


"Ini sudah malam."


"Apa kamu meremehkan aku? bahkan jika aku memintanya datang sekarang aku yakin dokter anak Be dan Bu tidak akan menolak."


Axel bercanda sambil mencoba mengintip wajah Rea yang masih menunduk. Kekonyolannya itu berhasil membuat Rea tersenyum dan memukul pundaknya.


Mereka saling melempar senyum, untuk sesaat Rea bisa melupakan lara hatinya.


"Apa kamu ingin pergi ke taman bermain yang dulu pernah kita datangi? aku akan membooking roller coaster untukmu seharian."


"Benarkah? kenapa tidak sekalian kamu minta pengelolanya untuk menutup taman bermain itu seharian untukku."


Rea berdiri dari posisinya, bibir gadis itu kembali terlihat tersenyum tipis.


"Aku mau kebawah untuk makan, siapa tau ASIku akan keluar lagi setelah makan," ucap Rea setelah memastikan Bening dan Embun kembali terlelap.


"Mau menemaniku Ax?" tanyanya.


Axel berdiri dari posisinya, menatap Rea dengan perasaan tidak enak, "Sebenarnya makan malam di bawah sudah habis, aku yang terakhir makan." laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Aku akan membelikanmu sesuatu, tunggu ya!"


Axel setengah berlari keluar dari kamar, laki-laki itu benar-benar keluar rumah hanya untuk mencarikan Rea makan.


__ADS_2