
Elang sedang berada di ruang kerja ayahnya, mereka berdiskusi serius soal perusahaan mana yang ingin ia ambil alih diantara kedua perusahaan ayahnya yang sama-sama bergerak di bidang industri.
"Aku akan mengambil alih perusahaan ayah yang ini," ucap Elang sambil tangannya mengetuk sebuah dokumen perusahaan yang dia sudah pelajari di meja.
"Apa kamu serius? Perusahaan itu sedang ada sedikit masalah."
"Iya aku tau, maka dari itu aku ingin menjadikan ini tantangan pertama, agar orang juga bisa menilai diriku layak mengambil alih perusahaan ayah, bukan hanya sekedar dicap karena aku anak ayah," jawab Elang dengan penuh percaya diri.
"Apa kamu tau calon adik iparmu general manager disana?" tanya Farhan.
Elang hanya menegakkan sedikit alis matanya
"Apa ada masalah?"
"Tidak, ayah hanya memberitahu saja," jawab Farhan sambil berdiri dari kursinya.
"Bilang saja kapan kamu mau mulai mengambil alih dan bekerja, nanti ayah akan minta Andi untuk mengurus semuanya."
Farhan sudah berdiri didekat pintu untuk keluar ruangan, sementara Elang mengekor dibelakang.
"Apa kamu ada waktu?" tanya Farhan ke anak laki-lakinya.
Elang menganggukkan kepala
"Ayo kita pergi menembak, ajak lah Rea!"
Elang kemudian berjalan ke kamar Rea yang berada tidak jauh dari ruang kerja Farhan. Mengetuk pintu kamar gadis itu. Adiknya keluar dengan muka masih sedikit mengantuk, melihat kakak nya yang sudah berdiri didepan pintu tersenyum ke arahnya.
"Em...ini masih pagi, ada apa?" tanya nya sambil menguap masih menahan kantuknya
Elang tertawa melihat wajah lucu Rea yang baru bangun tidur.
"Ayah mengajak pergi menembak, cepatlah mandi," ucap Elang sambil mengacak-ngacak rambut Rea yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan.
"Aku tunggu sarapan dibawah," lanjut Elang sambil pergi berlalu meninggalkan adiknya yang terdiam didepan pintu.
Rea tersenyum kemudian bergegas ke kamar mandi, dia sempatkan membuka ponselnya mengirim sebuah pesan ke Arkan.
Selesai mandi Rea turun dari lantai atas berjalan menuju ruang makan, disana dia hanya menemukan ponsel Elang yang tergeletak di atas meja makan, gadis itu mengambil gelas dan menuangkan segelas air, melihat menu sarapan pagi itu, menekuk sedikit bibirnya.
Elang keluar dari dapur menggeser kursi untuk Rea, meletakkan dua potong sandwich dimeja.
"Buatku?" tanyanya penasaran.
"Tentu" ucap Elang sambil berlalu untuk duduk dikursinya.
Gadis itu tersenyum, duduk dan menikmati apa yang kakaknya buat untuknya.
"Bagaimana enak?"
Rea manganggukkan kepalanya karena mulutnya penuh dengan potongan sandwich buatan Elang.
"Sumpah, rasanya lebih enak dibanding yang biasa aku beli di restoran cepat saji."
Elang melahap sandwich ditangannya sambil tersenyum.
"Ayah sudah berangkat duluan karena ada urusan, nanti akan menyusul kita," ucap Elang setelah menghabiskan sarapannya.
"Aku lupa, sebentar aku ambil tas dulu diatas." Rea meminta ijin kakaknya kemudian berlari menaiki anak tangga.
Setelah mengambil tas Rea mengajak kakaknya pergi ke garasi untuk mengambil mobil, membuka pintu garasi otomatis dirumah ayahnya.
Elang sedikit membelalakkan matanya mendapati lebih dari sepuluh mobil berjajar rapi didalam sana.
Rea tersenyum melihat kakaknya yang sedikit keheranan kemudian menyenggol lengan laki-laki itu, berjalan masuk ke garasi diantara deretan mobil yang terparkir, gadis itu berbalik saat sudah berada didepan mobil yang kuncinya sedang dia pegang, menatap ke arah kakaknya yang masih berdiri mematung didepan pintu garasi.
"Apa kamu bisa mengendarai banteng?" tanya Rea menggoda Elang sambil membuka pintu mobil berwarna biru didepannya.
Elang terlihat tersenyum sambil berjalan mendekat kea rah adiknya
"Sama saja seperti mengendarai kuda jingkrak kan?"
Mobil itu melesat membawa pergi mereka berdua menuju lapangan tembak.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin bekerja di salah satu perusahaan ayah?" tanya Elang memecah keheningan didalam mobil.
"Mau, aku sedang melirik bisnis ayah yang ada di Bali"
"Hotel?"
"Iya, aku senang bekerja di hotel, karena bisa bertemu banyak orang yang berbeda setiap hari, menemukan kejadian-kejadian yang tidak terduga."
"Kejadian seperti apa contohnya?"
"Seperti pengantin wanita yang kabur meninggalkan mempelai pria dihari pernikahannya, disiram segelas air oleh calon klien," cerita Rea sambil tertawa
Mulut Elang mengaga "Wow disiram air, apa seorang Rea pernah mendapat perlakuan seperti itu?"
"Jangan kamu pikir aku tidak membalas, aku balas gadis itu dengan menyiram segelas jus ke wajahnya."
Elang tertawa terbahak
"Tidak hanya itu, aku merusak gaun yang akan dibeli gadis itu seharga 80 juta."
"Apa tidak berlebihan?" tanya Elang lagi.
"Hem.. Kalau itu aku sedikit menyesal, bahkan aku kena marah Mas Arkan dan kamu tau gadis itu sekarang malah jadi temanku, namanya Celine yang kemarin mengadakan bridal shower itu."
"Sepertinya kamu sangat memuja Arkan, sampai memanggil nya dengan sebutan Mas."
"Aku hanya ingin menghormatinya didepan orang lain, tidak mungkin aku memanggil calon suamiku dengan hanya nama panggilannya saja kan?"
"Jadi sewaktu dirumahku kamu memanggil namaku dengan imbuhan Mas karena juga untuk menghormatiku?"
"Iyalah,kamu kan Mas Elang kakakku"
Lagi-lagi Elang hanya tersenyum
"Apa kamu tidak ingin dengar cerita soal wanita yang kabur dihari pernikahannya?"
"Hem.. Bagaimana dengan itu, aneh sekali bukankah kalau sudah sampai mau menikah harusnya mereka saling mencintai"
"Wanita itu bernama Selena anak Gubernur kota ini, dan calon suaminya yang ditinggal kabur bernama Axel, calon kakak tiriku"
"Iya, mama sebentar lagi mau menikah dengan seorang pria dan itu papanya Axel."
"Tante Lidia mau menikah lagi?"
"Iya, awal bulan"
"Dan kamu tau yang paling mengejutkan adalah alasan Selana anak gubernur kabur dari pernikahannya karena dia mencintai laki-laki lain, dan laki-laki itu adalah Mas Arkan," lanjut Rea.
"What??" sontak Elang membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Beberapa kali gadis itu membuat aku bertengkar dengan Mas Arkan, semoga sekarang dia sudah sadar dan tidak akan pernah mengganggu hubungan kami lagi,"
Rea bercerita sepanjang jalan, sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di parkiran lapangan tembak.
"Ayah sudah ada disini," ucap Rea sambil melirik mobil ayahnya.
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam, melihat ayah mereka sedang berdiri menembak beberapa kali ke arah target.
"Kamu bisa menembakkan Lang?" ejek Rea ke kakaknya.
"Kamu pikir 7 tahun di New York yang aku lakukan cuma kuliah dan bekerja? Aku juga belajar bagaimana menjadi bagian dari Klan Pradipta."
Rea tertawa mendengar jawaban kakaknya.
"Sebentar lagi kamu juga harus merelakan Thomas menjadi milikku, seperti yang pernah kamu janjikan dulu," ucap Elang sambil memakai kaca mata hitam miliknya berjalan cepat meninggalkan Rea, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
"Dia masih mengingat janjiku ternyata" bisik Rea dalam hati.
Laki-laki itu berdiri mensejajari ayahnya yang sedang fokus menembak, didekat mereka sudah tersedia headphone dan bermacam-macam jenis senapan, Elang meraih headphone memakainya kemudian mengambil senapan berjenis metrillo.
Rea mensejajari kakaknya, juga memakai headphone dan kacamatanya mengambil senapan rifle sama seperti yang sedang dipakai ayahnya.
"Klan Pradipta tidak pernah menembak menggunakan senapan seperti itu," ejek Rea.
__ADS_1
Elang menatap adiknya, yang bersiap menembak target berwarna merah disebrang sana, kemudian melirik ke arah ayahnya yang memegang rifle seperti anak gadisnya.
Elang tertawa, melihat Rea tersenyum menang.
“Lalu kenapa ini juga disiapkan?” gerutu Elang sambil meletakkan Metrillo handgun yang dipegangnya, menggantinya dengan senapan rifle.
Dorrr
Rea melepaskan tembakannya mengenai tepat disasaran bernilai sepuluh poin, tersenyum mengejek ke arah kakaknya.
Sesuai melakukan kegiatan yang membuat jantung berdetak kencang itu, ayah dan kedua anaknya duduk berbincang disebuah meja bundar sambil menikmati kopi.
Rea membuka HPnya melihat apakah ada balasan pesan dari Arkan, dia tadi sempat mengirim pesan menanyakan apakah Arkan bisa menemani nya malam ini ke pesta pernikahan Celine.
"Maaf sayang malam ini masih banyak keluarga besar yang menginap dirumah, mereka mengajak pergi makan malam, aku tidak enak kalau tidak ikut karena beberapa dari mereka khusus pulang dari luar negeri untuk menghadiri acara pertunangan kita kemarin, maaf tidak bisa menemani mu"
Rea menghela nafas kemudian membaca sebuah pesan dari teman barunya.
Ajak lah calon kakak tirimu ke pesta Celine malam ini, please! ~ Mia
Rea tersenyum membaca pesan Mia, kemudian mengirimkan pesan ke Axel
Apa malam ini kamu sibuk? Bisakah menemani ku ke Pesta pernikahan temanmu ~ Rea
Axel langsung membalas pesan dari Rea
Kemana tunanganmu? bukannya kemarin kamu bertunangan. ~ Axel
Kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, aku bisa mengajak orang lain, maaf mengganggu ~ Rea
Secepat kilat Axel membalas
Aku tidak sibuk, jam berapa dan dimana aku harus menjemputmu, dan baju warna apa yang kamu pakai, agar aku bisa menyesuaikan ~ Axel
Rea terlihat senang, kemudian menyebutkan warna baju yang akan dia pakai dan mengirimkan alamat apartemennya ke Axel.
Gadis itu memasukkan HPnya kedalam tas, meminum kopi miliknya sambil mendengarkan perbincangan Elang dan ayahnya.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Farhan.
Kedua Anaknya terdiam, Rea fokus menikmati kopinya, karena dia tau pertanyaan itu pasti bukan untuk dirinya tapi kakaknya.
Elang baru sadar kalau pertanyaan itu ditujukan ke dirinya saat Rea melirik nya.
"Belum yah," jawabnya singkat.
"Apa kamu mau ayah kenalkan dengan anak gadis kolega ayah?"
Rea meletakkan cangkir nya terlihat antusias menunggu jawaban kakak laki-laki nya.
"Terima kasih yah, tapi Aku belum mau memikirkan soal wanita, untuk sekarang prioritas terbesarku adalah perusahaan yang akan aku ambil alih," jawab Elang tegas.
"Jadi perusahaan mana yang Mas Elang akan ambil alih?" tanya Rea penasaran.
Elang menyebutkan nama perusahaan yang dia maksud dan Rea hanya manggut-manggut.
"Kamu tau, seandainya Rea belum mempunyai laki-laki yang dia sukai, Ayah juga pasti akan menjodohkannya," ucap Farhan.
"Banyak kenalan ayah yang ingin menjadikan Rea calon menantunya," lanjut Farhan.
Rea hanya tersenyum, bersyukur dia sudah memiliki Arkan, jika tidak bisa dipastikan dia juga akan berakhir dengan perjodohan demi keuntungan bisnis masing-masing pihak.
"Oh ya apa ayah tau? Mama akan menikah lagi sekitar awal bulan depan," cerita Rea.
Farhan terlihat sedikit terkejut "Oh ya?" jawabnya menutupi rasa keterkejutan yang jelas nampak dari wajahnya.
"Baguslah, " jawabnya kemudian.
Selesai dari lapangan tembak, Rea meminta Elang untuk diantar ke apartemennya.
"Apa mau mampir masuk kedalam?" tanya nya setelah mobil berhenti didepan gedung apartemen.
"kapan-kapan saja aku mampir," tolak Elang.
__ADS_1
Rea baru masuk kedalam setelah melihat mobil yang dikendarai kakaknya pergi meninggalkan gedung.