
Mereka digelandang ke pos security, wanita itu menelpon kekasihnya, Rea juga tak mau kalah, dia menelpon Arkan.
"Itu tadi Axel kan? pria yang ditinggal kabur Selena dihari pernikahannya? pria yang memecahkan dua vas bunga milik vendor" gumam Rea dalam hati
Arkan berlari ke pos security menemukan Rea sedang duduk disana, rambut dan bajunya terlihat berantakan, disampingnya juga duduk seorang wanita yang sama berantakannya seperti kekasihnya, pria yang merupakan calon suami wanita tersebut juga sudah ada disana. Mereka sedang dimintai keterangan oleh pihak keamanan mall.
Arkan mendekat menyentuh bahu kekasihnya, gadis itu mendongak menatap ke arah laki-laki yang dia minta datang tadi, wajahnya terlihat memelas dan sedikit menyesal.
"Nama anda?" tanya seorang petugas keamanan
"Rea"
Security melirik ke arah wanita disebelah gadis itu
"Anda?"
"Celine"
Kemudian security menanyakan apa penyebab dari pertengkaran mereka, kenapa mereka sampai saling jambak didepan umum, mereka tidak ada yang mau mengalah untuk bergantian menceritakan masalah yang membuat mereka bertengkar, saling sahut dan berteriak satu sama lain sampai membuat pusing yang mendengar.
Arkan dan kekasih wanita itu sama-sama menggelengkan kepala dan memijat kening mereka.
"Dia merusak gaun yang mau aku beli seharga 80 juta," ucap Celine
"Kamu yang mulai duluan menyiram mukaku dengan air, lagian aku sudah mengganti kerugian gaunmu," Rea tidak mau kalah
Mereka hampir saling menjambak rambut satu sama lain lagi.
"Kenapa kamu mau menampar pelayan yang cuma menumpahkan sedikit minuman dimeja? Bahkan minuman itu tidak sampai menodai bajumu" tanya Rea kesal "memang kamu siapa berhak main gampar anak orang"
"Terserah aku donk, kamu juga memang kamu siapa?" wanita bernama Celine itu juga tidak mau kalah
Mereka adu mulut lagi sampai membuat security menggebrak meja, baru mereka diam.
"Dengar!" ucap security berkumis tebal itu dengan tatapan mata melotot, wajahnya benar-benar terlihat garang.
"Kalian mau damai? atau saya bawa ke kantor polisi?"
Kedua gadis itu terdiam dan berfikir.
"Saya tidak bisa lama-lama menunggu jawaban dari anda berdua, masih banyak kerjaan saya disini, lebih baik ayo kita ke kantor polisi saja." Security itu sudah berdiri
Rea dan Celine terlihat saling pandang.
__ADS_1
"Tunggu... tunggu pak!" ucap kedua gadis itu hampir serempak
"Bagaimana? Ke kantor polisi atau damai?"
"Damai" jawab mereka kompak
Arkan berjalan keluar Pos keamanan dengan sedikit kesal, meninggalkan Rea yang membuntutinya dari belakang, laki-laki itu menganggap kelakuan kekasihnya sangat kekanak-kanakan, dia tadi datang naik taxi online karena gadis itu bilang dia ke mall naik mobil, Arkan berbalik mendekat meminta kunci mobil Rea, kemudian berjalan meninggalkan kekasihnya lagi yang terlihat berlari mengejar langkahnya. Rea sadar kalau Arkan sedang kesal.
Mereka tidak berbicara sama sekali didalam mobil, Arkan melirik jam di dashboard ingin bertanya apa gadis disebelahnya sudah makan malam, tapi diurungkanya karena dia memang sedang kesal dan marah ke gadis itu.
Arkan mengantar Rea sampai depan pintu apartemennya, menyerahkan kunci mobil Rea kemudian berbalik pergi tanpa mengucapkan satu katapun. secepat kilat gadis itu melingkarkan tangannya dipinggang kekasihnya, memeluknya dari belakang mencegah calon suaminya itu agar tidak pergi.
"Jangan pergi!" pinta Rea
"Kamu tau kan kamu salah?"
Rea hanya mengangguk dibelakang punggung Arkan.
"Jawab" perintah Arkan, suaranya sedikit meninggi
"Iya aku salah, maafkan aku"
"Kenapa kamu mebuang-buang uang 80 juta hanya untuk memuaskan rasa kesalmu?"
Sebenarnya dia juga sangat menyesal mengeluarkan uangnya untuk hal seperti itu, dia bisa saja menggunakan uangnya untuk membeli sebuah televisi besar supaya sofa dirumah yang Arkan beli untuknya memiliki teman.
"Kamu tau banyak orang diluar sana yang masih ga bisa makan Re?"
Rea menunduk dibelakang punggung Arkan, melepaskan pelukannya dari pinggang kekasihnya, semakin menyesali perbuatan nya mendengar ucapan kekasihnya.
"Aku tau," ucap Rea lirih
Arkan membalikkan badannya, melihat gadis kesayangannya itu tertunduk menyesali perbuatannya, matanya sudah hampir menangis.
"Tapi dia menyiramku dengan air dan sebelumnya membentak staffku dia bilang staffku tuli" tangis Rea pecah
Arkan menarik Rea, memintanya membuka pintu kemudian mereka masuk kedalam.
"Sudah jangan menangis"
"Maafkan aku, aku salah, jangan marah!"
Arkan mengehela nafasnya, kemudian memegang tangan gadis yang menunduk didepannya.
__ADS_1
"Re, kamu boleh membalas perbuatan orang yang membuatmu kesal tapi pikirlah beberapa kali sebelum melakukannya, apakah ada manfaatnya atau malah akan merugikan dirimu sendiri" Arkan menasehati.
"Iya aku mengerti, tapi kamu masih marah kan? lihat kamu tidak mau memelukku" Rea terisak
Arkan langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Dasar gadis manja" ucapnya sambil mencium pucuk kepala Rea
Tiba-tiba Rea mendorong tubuh Arkan menjauh dari dirinya.
"Menyesalkan kamu mau menikahi gadis manja?"
"Nah kan malah marah, sudah kita lupakan saja masalah hari ini, oke, jangan sampai hal kayak gini membuat kita bertengkar, kemarikan jarimu"
Arkan mengambil tangan kanan Rea, kemudian mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Rea
"Janji, ayo bilang janji" perintah Arkan
"Iya janji" Rea tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Janji tidak akan berbuat seperti ini lagi"
"Iya janji tidak akan berbuat seperti ini lagi," ucap Rea menuruti perintah Arkan
Arkan tertawa senang, kemudian bertanya ke Rea sambil menyematkan helaian rambut gadis itu yang menutupi pipinya ke belakang telinganya "Apa kamu sudah makan?"
Gadis itu menggeleng.
"Mau makan pizza?"
gadis itu mengangguk.
"Ayolah bicara jangan cuma menggeleng dan mengangguk saja"
"Iya aku mau" jawab Rea
"Mau apa?" tanya Arkan
"Pizza" Rea kemudian memukul lengan Arkan tau kalau sedang dikerjai calon suaminya.
"Pesanlah pizza, aku ganti baju dulu" Rea sudah berjalan meninggalkan Arkan.
"Ikutttt"
__ADS_1
"Enggakkkk"
Rea buru-buru masuk dan menutup pintu kamarnya, Arkan hanya bisa tersenyum melihat kelakuan calon istrinya, yang terkadang sangat dewasa tapi terkadang juga masih seperti anak kecil.