Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 143 MBYDL : EndVer1 bag.10


__ADS_3

Elang berjalan meninggalkan Rea yang terlihat menyandarkan kepalanya di meja bar, laki-laki itu mendekat ke arah Arkan yang terlihat masuk ke club untuk mencari keberadaan dirinya.


Melihat punggung gadis yang sangat ia kenal, Arkan mengernyitkan dahinya menatap Elang yang semakin berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa maksudmu ingin berbicara soal Rea, aku pikir kita akan berbicara berdua tanpa ada dia?"


"Aku ingin memberimu bukti bahwa adik kesayanganku ini benar-benar masih mencintaimu, aku tidak ingin kalian sampai berpisah hanya karena kesalahpahaman bodoh yang kalian berdua lakukan."


"Untuk apa kamu melakukan ini Lang?"


"Agar kalian bisa kembali bersama, apa lagi?"


Arkan hanya tersenyum, bahkan tanpa Elang melakukan hal ini Ia juga tidak berniat berpisah dari gadis yang sangat dicintainya itu. Dengan isyarat mata Elang meminta adik iparnya mendekat. Arkan duduk di sebelah kanan Rea, sementara Elang kembali ke tempatnya dikiri gadis itu.


"Apa dia mabuk?" bisik Arkan tanpa bersuara.


Elang menenggak minuman dari gelas kristalnya sambil menganggukkan kepalanya.Rea mengangkat kepalanya, menyibakkan rambutnya memandang ke arah sang kakak, gadis itu tidak menyadari bahwa sang suami berada di sampingnya.


"Re, jika sekarang Arkan ada disini apa yang ingin kamu katakan kepadanya?" tanya Elang, matanya menatap Arkan yang berada di belakang Rea, meminta laki-laki itu untuk mendengarkan apa yang akan diucapkan istrinya yang sudah Ia berikan talak satu itu.


Rea hanya terdiam, ternyata pancingan Elang tidak mengenai targetnya. Arkan tersenyum, melambaikan tangannya untuk memesan segelas minuman ke bartender.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, meraih gelas minumannya lagi, menenggaknya sampai habis kemudian meletakkan dahinya kembali ke kemeja.


"Kamu masih mencintainya bukan?" tajam, Elang menanyakan pertanyaan itu ke Rea tetapi pandangan matanya dia arahkan ke Arkan yang sedang memegang gelas, laki-laki itu meletakkan kembali gelasnya yang bahkan belum sempat Ia sesap minuman di dalamnya.


Rea menggelengkan kepalanya lagi masih dengan posisi dahi diatas meja, "Aku tidak hanya masih mencintainya, aku sangat mencintainya." samar isak tangis terdengar dari bibirnya.


"Tidak ada satu malam pun yang aku lewati tanpa memikirkannya tiga bulan ini," ucap Rea sambil terisak, pundaknya bergetar hebat. "Aku menyesal dengan perbuatanku yang mengecewakan dirinya, aku sudah bersalah ke semua orang, aku juga bersalah pada Bening dan Embun."


"Jika aku bilang masih sangat mencintaimu dan ingin bersamamu lagi, apa kamu mau kembali kepadaku?" Arkan sedikit menunduk bertanya ke telinga gadis itu.


Rea menegakkan badannya, menatap Elang penuh tanda tanya, gadis itu berpikir sedang berhalusinasi mendengar suara Arkan, perlahan sambil mengerjabkan mata Rea menoleh ke belakang seolah mencari keberadaan sang pemilik suara, ia lalu menoleh ke kanan mengernyitkan dahinya menatap Arkan, tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


"Aku pasti mabuk sampai berhalusinasi melihat dia ada disebelahku," ocehnya sambil menghapus sisa air mata di pipinya. "Aku pasti sudah gila, aku besok harus menghadiri acara penting," lanjutnya sambil berusaha berdiri, terlalu mabuk ia tak sadar besok hari libur.


Dengan gontai Rea menyambar tasnya, Ia berjalan sempoyongan meninggalkan kedua laki-laki yang sangat dekat dengannya itu.


"Apa kamu tidak ingin mengantarnya pulang?" Elang melotot ke arah Arkan, melihat laki-laki itu yang malah santai menenggak minumannya.

__ADS_1


Arkan berdiri dan tersenyum, menepuk pundak Elang, sedikit berlari mengejar Rea yang sudah tak terlihat punggungnya, gadis itu terlihat berdiri di luar club sambil memegang ponsel untuk memesan sebuah taksi online.


Menebak apa yang dilakukan istrinya itu, Arkan mengambil mobilnya, berhenti di dekat Rea berdiri, tanpa curiga gadis itu membuka pintu penumpang, masuk ke dalam masih dengan keadaan tidak sepenuhnya sadar.


"Sesuai aplikasi ya Pak," ucapnya.


Arkan yang mendengar hanya tersenyum kemudian melajukan mobilnya menuju rumahnya. Melihat Rea yang tidur Arkan memilih untuk menggendong gadis itu ala bridal style menuju kamar. Membaringkan istrinya itu ke ranjang, melepas sepatu dan menyelimuti tubuh Rea.


Saat Arkan berdiri di depan pintu dan tangannya sudah hampir memegang saklar untuk mematikan lampu, samar ia mendengar isak tangis dari bibir Rea. Gadis itu terlihat menekuk kakinya lalu meringkuk sambil menangis, meratapi rumah tangganya yang berada di ambang kehancuran karena keegoisannya.


Arkan memilih kembali mendekat, berlutut di dekat kepala Rea, menyibakkan rambut istrinya ke belakang telinga, membelai pipi gadis itu yang sudah basah oleh linangan air mata.


"Aku sangat merindukanmu, aku juga tersiksa tiga bulan ini dan sepertinya aku harus mengakhiri ini segera," lirih Arkan.


Rea membuka matanya, tapi gadis itu terlalu mabuk, Ia menatap wajah Arkan yang terlihat tersenyum kepadanya.


"Aku sangat merindukanmu, apa aku harus menunggu tiga bulan lagi? dan setelah itu haruskah kita bertemu di pengadilan untuk merebutkan Bening? tidak, kamu tidak boleh merebut dia dari aku, dia milikku," oceh Rea.


Arkan tersenyum, mendekatkan wajahnya ke Rea, menempelkan keningnya ke kening gadis itu. "Aku mencintaimu, bahkan saat ini aku ingin sekali membawamu dalam dekapanku, tapi sepertinya kita harus menikah kembali, ini sudah tiga bulan lewat satu hari." Arkan tertawa.


***


Mempercepat langkahnya, Rea terkejut melihat Arkan berdiri di dapur dengan kaos santai dan celana pendek, membelakanginya menyiapkan sarapan. Rea mengerjabkan matanya berkali-kali, bahkan sampai mencubit tangannya sendiri untuk memastikan dirinya sedang tidak bermimpi. Setengah berlari Rea memeluk Arkan, melingkarkan tangannya dipinggang laki-laki itu, memeluk suaminya itu erat-erat seolah takut kehilangan lagi.


"Jangan pergi lagi, jangan menjauh dariku lagi, aku sangat merindukanmu," lirihnya sambil masih terus memeluk laki-laki itu.


Arkan berusaha memutar badannya, membuat Rea mau tak mau harus melonggarkan pelukannya. Tersenyum, Arkan merapikan helaian rambut Rea yang terlihat berantakan.


"Sudah bangun, mau sarapan?" tanyanya lembut.


Rea hanya menggelengkan kepala, matanya terus menatap wajah Arkan seolah masih tak percaya suaminya itu kembali ke rumah mereka.


"Tidak mau makan? apa kamu tidak lapar?" seperti orang tua yang bertanya ke anaknya, Arkan juga terus memandangi wajah gadis di hadapannya, dan gadis itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


Rea memeluk kembali tubuh Arkan, membuat laki-laki itu tertawa bahagia, mereka saling mengeratkan pelukan satu sama lain, Rea memejamkan matanya di dada sang suami, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arkan yang selalu ia klaim sebagai bau kasih sayang, di dalam hatinya ia benar-benar bersyukur karena bisa merengkuh kembali cinta yang hilang darinya tiga bulan ini, sementara Arkan terus menciumi kening istrinya untuk melepaskan rindu


"Aku tidak akan pergi lagi, aku janji. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi?" ucap Arkan.


"Syarat Apa?" tanya Rea yang tak mengerti sama sekali.

__ADS_1


"Menikah lagi."


Mendengar ucapan Arkan, Rea terlihat melepaskan pelukannya lalu memundurkan badannya untuk menjauh dari suaminya itu. Menatap tak percaya wajah laki-laki di hadapannya.


"Apa kamu ingin poligami?"


Mendengar pertanyaan sang istri Arkan hampir saja tertawa terbahak-bahak, tapi mendapati Rea yang seperti tak paham dengan maksud kata-katanya, ia ingin mengerjai gadis nakal yang sedang kebingungan itu sekali lagi.


"Aku ingin menikah lagi." Arkan mengulangi ucapannya yang ambigu sekali lagi.


Rea masih tak mengerti, otaknya benar-benar tak terkoneksi dengan benar, gadis itu sudah berlinangan air mata, tak tega Arkan memeluk istrinya, sambil menggerakkan tubuhnya seperti anak kecil.


"Kapan kamu mau menikah lagi? kenapa kamu tega membalasku seperti ini," isak Rea.


"Besok," jawab Arakan sambil tersenyum di atas tangisan sang istri.


"Besok?" Rea membelalakkan matanya. "Siapa gadis itu apa aku mengenalnya? kamu benar-benar tega, kenapa tidak kamu ceraikan saja aku?" Rea memukul dada Arkan kemudian berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Sadar kalau gadis itu masuk ke dalam perangkapnya, Arkan menghubungi semua keluarga terdekatnya.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


KOMEN KOMEN KOMEN


__ADS_2