Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 28


__ADS_3

Halo reader, yang udah buka chapter ini, jangan lupa LIKE, KOMEN dan VOTE pencet tanda LOVE buat jadiin novel ini favorite kalian đź’•đź’•


Happy reading, Thank a Ton


*


*


*


*


*


*


Axel duduk didepan seseorang yang terlihat menunduk ketakutan.


"Kamu tau posisimu? kenapa berani-berani nya memecat orang yang tidak membuat kesalahan apa-apa hanya karena ancaman dari seseorang"


Axel berdiri dari kursinya.


"Hotel XX sudah jatuh ke group kami, dan aku tidak butuh orang seperti kamu bekerja untuk group kami, jadi silahkan pergi dari sini"


Flash back on


Axel terlihat menemani seseorang pria tua bermain golf, rambutnya sudah terlihat memutih, tapi pria itu masih terlihat berwibawa dan berkarisma.


"Aku tidak tau kalau kamu akan tumbuh seperti ini, kamu terlihat lebih gagah dari pada papa mu," ucap pria tua itu.


"Jordan berkata anaknya ingin bertemu, jadi apa yang ingin kamu sampaikan?," lanjut pria  itu sambil memukul bola golf kemudian berjalan.


"Anda tau tuan, banyak pengusaha yang benar-benar menjalankan bisnis dengan jujur, tapi sebagain tidak, ini yang membuat masyarakat berfikir kita semua sama"


Axel juga memukul bola golf miliknya.


"Salah satu anak perusahaan tuan melakukan hal tidak terpuji seperti itu," lanjutnya.


Pria itu berhenti kemudian menatap ke arah Axel.


"Salah satu hotel anda memecat seorang karyawannya yang kompeten hanya karena ancaman dari gubernur"


"Lalu apa masalahnya untukmu?" tanya pria itu


"Orang yang dipecat dengan tidak Adil itu adalah orang yang saya sukai"


Pria itu tersenyum. Axel tau kalau pria didepannya paling anti dengan ketidakadilan dan begitu sangat mencintai istrinya.


"Lalu maumu apa? Aku tidak mengurusi hal remeh seperti itu," pria itu kembali berjalan.


"Saya tidak sedang membicarakan hal remeh tuan, saya ingin membicarakan bisnis dengan anda," ucap Axel sambil memukul bola golf nya lagi.


Pria itu menatap ke arah Axel.


"Saya tau tuan ingin mencalonkan diri menjadi presiden untuk periode mendatang, dan memang berniat akan menjual salah satu aset anda untuk bekal mencalonkan diri"


Axel menatap tajam pria tua yang raut mukanya berubah penuh tanda tanya.


"Jual hotel XX ke group kami," ucapnya mantap


"Jadi kamu ingin membeli hotel hanya untuk alasan yang kamu sebutkan tadi?" tanya Pria itu heran.


Axel tertawa " itu salah satunya tuan"


Flash back off


Rea sedang pergi ke salon langganannya, mengingat besok selama tiga hari dia akan berkumpul bersama Celine dan teman-temanya, yang sudah bisa dipastikan teman Celine pasti para anak konglomerat dan sosialita, setidaknya dia juga harus menunjukan siapa dirinya.


Gadis itu sedang menunggu kolam spa yang disiapkan untuknya sambil membolak balik


majalah ditangannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, panggilan dari nomor yang tidak dia kenal, Rea hanya mematikan nada dering ponselnya, tak lama ponselnya berbunyi lagi, akhirnya dia angkat.


"Halo calon adik tiri" suara disebrang sana mengagetkan Rea.


Rea menjauhkan ponsel dari telinganya, kemudian mendekatkannya lagi

__ADS_1


Rea : "halo calon kakak tiri, dari mana dapat nomor HPku"


Axel :"siapa lagi kalau bukan dari tante Lidia"


Rea :"hem... Aku akan buat perhitungan dengan mamaku nanti, seenaknya saja


memberi nomorku tanpa ijin"


Axel :"jangan kamu apa-apakan tante Lidia, kamu tidak ingat dia sedang hamil


adik kita"


Rea :"ishhhh....apa kamu tidak malu?"


Axel: "untuk apa malu, orang yang menjalani saja tidak malu"


Rea :"ada apa menelpon? aku sedang sibuk"


Axel :" sibuk apa kamu kan pengangguran"


Rea :" sibuk menghabiskan uang dari mu, kamu lupa? sudah ya"


Rea mematikan telponnya karena kolam spa untuknya sudah siap.


Selesai berganti baju, Rea berencana membeli hadiah untuk Celine, sebelum masuk mobil dia sempatkan mengecek HPnya, ada pesan dari Axel.


Simpan nomorku, beri nama kontak yang bagus.


Rea tidak punya hasrat membalas pesan laki-laki itu.


Rea pergi ke mall menuju kesebuah toko perhiasan, dia masih belum tau kalau mall yang sering dia kunjungi adalah mall milik salah satu anak perusahaan ayah Axel, calon papa tirinya.


Karena dia sudah menjadi member VIP disana, makanya ia lebih sering pergi berbelanja kesana.


Rea melihat-lihat sebuah cincin berwarna silver, dia coba dijari manis tangan kanannya, karena ditangan kirinya sudah tersemat manis cincin dari Arkan.


"Saya ambil ini tolong di bungkus rapi!" ucap Rea.


Gadis itu kemudian menuju kasir untuk membayar cincin yang dia beli, sambil menunggu dia mengecek HP nya lagi, tiba-tiba ada group bernama "Pesta Celine".


Rea sudah tau apa maksud group itu dibuat, ia melihat sebuah foto yang dikirim Celine berisi jadwal kegiatan mereka selama tiga hari, gadis itu terlihat antusias begitu melihat dihari sabtu ada acara ke sebuah pulau yang sudah dipesan private hanya untuk acara Celine, sampai Rea tidak menyadari kasir sudah berkali-kali menyebutkan nominal yang harus dia bayar.


"Delapan puluh sembilan juta delapan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah"


Rea membuka dompet nya tapi sebuah tangan sudah mengulurkan sebuah kartu kredit berwarna hitam.


"Saya yang bayar"


Rea menatap ke arah suara melihat siapa yang berbicara, Kemudian menyingkirkan tangan laki-laki itu.


"Aku punya uang, kamu lupa baru memberikan aku uang tujuh puluh juta"


Ucapan Rea membuat kasir didepannya memandang heran.


Axel menarik kembali kartunya, Rea membayar kemudian bergegas keluar.


"Kenapa sih selalu ketemu kamu kalau aku sedang jalan kesini? jangan-jangan kamu stalker "


Axel hanya tertawa mendengar Rea yang menyebut dirinya seorang penguntit.


"Ada yang bilang bertemu sekali kebetulan bertemu lebih dari tiga kali bisa jadi Jodoh," ucapnya


Rea tiba-tiba berhenti berjalan mendengar ucapan laki-laki itu, hampir saja Axel menabraknya dari belakang.


"Ha...ha..ha..ha" Rea tertawa dibuat-buat kemudian melengos meninggalkan Axel yang masih mengikutinya dari belakang.


Rea sengaja berbelok ke toko underwear selain untuk menghindari Axel dia juga memang butuh beberapa underwear baru.


Axel berdiri didepan toko, dia sedikit ragu, berpikir sebentar kemudian ikut masuk kedalam. Berdiri didekat Rea yang sedang memilih-milih bra dari gantungan.


"Bagus yang warna peach ucapnya"


Sontak Rea kaget kemudian memukul lengan Axel dengan hanger beserta bra yang masih menggantung disana.


"Kamu gila, kenapa mengikutiku sampai kesini?" Rea sudah mulai marah.

__ADS_1


Pelayan toko malah terlihat menertawai mereka. Rea buru-buru menarik tangan Axel keluar toko.


"Maumu apa sih?" tanya Rea jengkel


Axel hanya tersenyum "kembalilah bekerja di hotel!" ucapnya


"Memang kamu siapa, pemilik hotel? Aku sudah dipecat tau, tanpa alasan, tidak diberi pesangon lagi, kejam! " ucap Rea yang berjalan sambil marah-marah.


Axel masih saja mengikuti gadis itu, menarik lengan Rea menahannya agar berhenti berjalan.


"Ayo kita bicara sambil duduk, apa kamu tidak capek?"


"Ga lah aku kesini kan memang mau jalan-jalan," ucap Rea.


Tapi tangan Axel lebih kuat, Rea hanya bisa mengikuti tarikan tangan laki-laki itu yang membawanya kesebuah restoran, Rea akhirnya pasrah, ikut duduk dan mereka mulai memesan.


Makanan dan minuman mereka datang, Rea mengambil sedotan di gelasnya meminum jus alpukat yang dia pesan, sambil melirik ke arah Axel yang tadi memesan milk shake rasa strawberry.


Axel yang sadar akan pandangan mata Rea kemudian bertanya


"Apa? kamu mau?" menyodorkan gelas ke arah Rea.


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku bisa mati kalau minum itu"


Axel mengernyitkan dahi,


"Aku punya  intoleransi makanan, dan itu buah strawberry, terkadang aku bertfikir kalau orang mau bunuh aku gampang banget, tinggal dikasih makanan atau minuman yang mengandung strawberry, terus kunci'in aku digudang, beberapa jam saja kalau tidak ada yang menemukan aku, pasti aku..... ."


"Kamu ngomong apa sih?" Axel terlihat tidak suka, secepat kilat memotong omongan Rea.


Gadis itu malah tertawa terbahak-bahak "Apa kamu takut aku mati? tenang saja aku tidak akan mati sebelum resmi menjadi adik tiri mu"


"Kalau bisa memilih aku tidak ingin kamu menjadi adik tiriku," ucap Axel pelan


"Apa?" tanya Rea penasaran


Pria itu hanya menggelengkan kepala.


Rea mengecek HPnya, dia tau Axel sedang memandanginya saat ini.


"Apa kamu tau persewaan yacht disini? tapi hari Sabtu besok harus sudah sampai pantai XX di kota XX" tanya Rea


"Untuk apa? sepertinya tidak ada, orang yang bisa beli yacht berarti orang yang sudah tidak butuh uang, untuk apa mereka sewakan" Axel memandang Rea dengan wajah penuh tanya.


Gadis itu mencebikkan bibirnya sedikit kesal "temanku mengadakan bridal shower, dia kekurangan satu buah yacht untuk acara nya "


"Aku punya satu, tapi ada di Australia" Jawab Axel santai.


Rea melonjak mencondongkan badannya ke arah Axel.


"Bisa tidak kamu minta orang membawa nya ke XX, bukankah hanya menyebrang sedikit," bujuk Rea


Axel melipat tangan kedepan dadanya "memang kamu pikir menyebrang samudra itu gampang seperti menyebrang trotoar?" laki-laki itu tersenyum sinis.


Rea mencebikkan bibirnya lagi "ah untuk apa punya kakak tiri tapi tidak bisa diandalkan, mengabulkan permintaan kecil seperti ini saja tidak bisa"


Axel mencondongkan badannya ke arah Rea


"Aku turuti maumu, tapi kamu harus mau jadi pacarku"


Rea melengos kesal "aku sudah mau menikah tau, bercandamu tidak lucu"


Axel menyandarkan punggungnya ke kursi "tenang saja akan aku kirim orang untuk membawa nya kesana"


Rea tersenyum senang.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


"Aku ingin kamu membuntuti dia, dua puluh juta sudah aku transfer ke rekeningmu, kamu tau kan apa yang aku mau, semua informasi tentang dia" ucap seseorang dengan pandangan mata membenci.


__ADS_2