
Beberapa jam yang lalu
Arkan mencoba menghubungi ponsel Rea, pria itu cemas karena sudah lebih dari dua jam dan pujaan hatinya itu sama sekali tidak mengirimkan pesan atau kabar. Ragu, Arkan mengingat flash disk dan ucapan laki-laki bernama Adam yang mendatanginya satu hari yang lalu, ucapan Adam tentang istri dan kakak iparnya terngiang di telinganya. ia lantas membawa mobilnya menuju ke kantor, setengah berlari ke ruang kerjanya Arkan mencari benda kecil itu dari tumpukan berkas di mejanya.
Perlahan ia membuka laptop, memasukkan flash disk itu ke port USBnya, tangannya mulai menggerakkan kursor untuk membuka folder yang ada di dalam sana. Terkejut bahkan patah hati ia rasakan saat melihat deretan foto Rea bersama Axel, ia menangkup kedua sisi kepalanya mendengarkan suara sang istri disana.
"Aku mencintaimu Ax, tapi aku juga sangat mencintai Mas Arkan."
Nanar matanya saat kembali menatap foto Rea yang tengah masuk ke dalam apartemen dan keluar bersama Axel. Arkan menutup paksa laptopnya tanpa sempat mematikan benda itu, hatinya terasa sakit, ia hanya bisa menunduk terdiam dalam ruangannya yang sepi. Cukup lama laki-laki itu berpikir sampai memutuskan pergi dari kantornya untuk bersiap datang ke acara double date yang telah direncanakan istrinya.
***
"Kamu tahu aku pernah melakukan cinta satu malam dengan Sam bahkan memilik anak dari perbuatan itu, sekarang jawab jujur! apa dalam hatimu kamu ingin membalas perbuatanku? pernahkah terpikirkan olehmu untuk melakukan one night stand dengan pria lain atau berselingkuh di belakangku?"
Rea terdiam, Kinanti dan Elang sampai menahan napas menunggu jawaban dari gadis itu.
"Aku tidak pernah berpikir atau berniat melakukan cinta satu malam dengan siapapun, tapi iya aku ingin membalasmu dengan ber.....,"
Rea terkejut, Arkan seketika merangkum pipinya, mencium bibir ranumnya di depan mata Elang dan Kinanti sehingga dirinya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kesal, Elang melempar serbet ke arah Arkan lalu menyambar tangan kekasihnya untuk pergi dari sana.
Bukan tanpa alasan Arkan melakukan hal itu di depan kakak iparnya dan Kinanti, ia sendiri tak menyangka bahwa Rea tidak akan menyangkal pertanyaannya tentang perselingkuhan. Ia hanya tak ingin sampai orang lain tahu bahwa istrinya berselingkuh, bagaimanapun istri bagaikan pakaian untuk suami, jadi tidak mungkin Arkan menelanjangi dirinya sendiri di depan orang lain.
" Ayo kita pulang!" ucap Arkan setelah melepaskan tautan bibirnya, laki-laki itu berdiri begitu saja meninggalkan Rea yang masih duduk terdiam, gadis itu hanya berpikir bahwa sang suami tengah marah karena panggilan telpon yang tidak dia balas beberapa jam yang lalu.
"Kenapa sepertinya kamu tiba-tiba marah?" tanya Rea saat mereka berada di dalam mobil untuk pulang ke kediaman Andi, padahal saat bertemu tadi Arkan terlihat biasa saja.
Diam, mata Arkan terus menatap jalanan, raut wajahnya yang menyiratkan kekecewaan jelas terbaca oleh Rea.
"Apa karena aku tidak menjawab telponmu tadi?"
"Kemana dirimu sampai tidak menjawab panggilanku berkali-kali?"
__ADS_1
Mobil mereka berhenti di lampu merah, Arkan menatap wajah gadis di sebelahnya penuh tanya.
"Aku menemui Axel, dia sedang dirawat di rumah sakit."
Menaikkan kedua alis matanya, lagi-lagi Arkan dibuat terkejut dengan kejujuran istrinya,"Kenapa dia?"
"Dia baru selesai menjalani operasi usus buntu."
"Kenapa harus diam-diam menemuinya, bukankah aku bisa mengantarmu? ada apa?"
Rea hanya terdiam, seperti anak kecil yang tertangkap basah berbohong oleh ayahnya, ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Arkan.
Setibanya dirumah, suaminya itu langsung masuk ke kamar sementara Rea memilih mengetuk kamar sang mertua untuk melihat kedua puterinya.
"Embun dan Bening sudah tidur, kamu tidur juga sana, biar malam ini mama yang menjaga mereka," ucap Laras.
Gontai Rea berjalan ke kamarnya, melihat sang suami sudah berganti baju dan berbaring di atas tempat tidur, gadis itu memilih untuk melepas semua perhiasan yang ia kenakan lalu berjalan ke kamar mandi, mengguyur badannya dengan tetesan air dingin dari shower.
Rea meringsek ke tempat tidur, duduk bersila di samping Arkan yang ia tahu sedang marah kepadanya, mengusap punggung tangan suaminya sambil menunduk, seolah ingin mengakui semua kesalahannya malam itu juga, tapi belum sempat ia mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya Arkan sudah menerkamnya, mendorong tubuhnya jatuh ke ranjang kemudian menciumi bibir, leher dan dadanya.
Kasar, tak seperti sikap Arkan biasanya saat mengajaknya bercinta. Rea diam tak berdaya menerima perlakuan suaminya itu, bahkan saat Arkan dengan paksa menarik piyama yang ia kenakan ia masih membisu. Laki-laki itu terus mencumbuinya dengan kasar, Arkan baru berhenti saat melihat linangan air mata membasahi pipi Rea.
"Katakan, apa dari sini kamu sudah bisa memilih siapa yang lebih bisa memuaskanmu di atas ranjang? atau kamu ingin aku melanjutkannya sampai akhir?"
Pertanyaan Arkan bagaikan anak panah tajam lagi beracun, mengonyak sampai ke relung hati Rea. Gadis itu sadar maksud pertanyaan yang dilontarkan Arkan, suaminya itu jelas sudah tahu bahwa ia berselingkuh dengan Axel.
"Apa kamu menikmati cumbuannya? jawab!" sedikit membentak, Arkan bangun dari posisinya begitu juga dengan Rea yang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang.
"Apa sebegitu bencinya dirimu ke aku? apa sebegitu parahnya hatimu membenciku sampai kamu ingin membalas perbuatanku dengan hal yang sama? bukankah kamu bilang sudah memaafkanku?"
Rea masih saja terdiam, air matanya semakin deras membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu menyakiti hatiku Re? ternyata kamu belum berubah sama sekali, katakan di depanku sekarang apa kamu menikmati bercinta dengannya?" tanya Arkan.
Rea menggelengkan kepalanya cepat, meraih tangan Arkan untuk digenggamnya erat, "Aku tidak pernah melakukan hal itu dengan Ax, aku bersumpah!"
"Tapi kamu mencintainya kan?" Arkan meneteskan air mata, membuat Rea semakin dibelenggu rasa bersalah di dalam hatinya.
Gadis itu semakin terisak, "Jangan menangis sayang aku mohon jangan menangis!" Rea memohon, menangkup sebelah pipi Arkan yang sudah basah, Ia menunduk sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali, memukuli dadanya sendiri dengan sebelah tangannya. Bagi Rea melihat Arkan menangis jauh lebih menyakitkan dari apapun, tapi meskipun demikian Ia terus saja melakukan hal bodoh yang bisa menyakiti laki-laki itu.
Menunduk, Arkan berbisik di atas kepala Rea "Aku harus apa sekarang Re? aku harus bagaimana? aku merasa bersalah, aku sadar semua ini salahku, aku menyesal. Seharusnya aku jujur kepadamu, seharusnya dari awal aku tidak perlu berbaik hati kepada Axel, atau dari awal kita memang seharusnya tidak perlu bersama agar tidak saling menyakiti sampai seperti ini."
Rea mengangkat kepalanya, menggeleng dan masih terus menangis, "Tidak, jangan bicara seperti itu, aku menyesal, aku minta maaf sayang, aku salah, tapi kamu harus percaya, aku benar-benar sangat mencintaimu, aku sebenarnya menemui Ax hanya untuk berpamitan kepadanya, aku berjanji tidak akan menemuinya lagi."
Rea meringsek, memeluk tubuh suaminya erat, membiarkan kepala Arkan jatuh ke pundaknya. Keduanya seolah ingin saling meluapkan emosi dengan tangisan malam itu.
-
-
-
-
-
-
-
-
🤧🤧🤧🤧
__ADS_1