Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 144 MBYDL : EndVer1 bag.11


__ADS_3

Terdiam, bingung, kalut, dan merasa sakit hati. Rea bahkan tidak menyiapkan baju untuk pernikahan suaminya, ia menangis semalaman. Bahkan tidak mau beranjak dari kamar.


Laras dan Lidia yang telah bersekongkol dengan Arkan mendatangi gadis itu, membujuk Rea agar mau bersiap-siap pergi ke pernikahan suaminya.


"Kok belum siap-siap nanti kamu terlambat, semua orang sudah menunggu di hotel."


Lidia yang memang mantan artis sangat lihai dalam memainkan perannya untuk membantu Arkan membohongi anaknya, seolah tak peduli dengan perasaan Rea yang sakit hati karena merasa akan di madu oleh sang suami.


Lidia mendekat ke arah lemari baju milik Rea, mencoba memilih kebaya yang dia rasa pantas untuk dipakai anaknya.


Laras yang duduk di ujung ranjang di samping menantunya juga menjajal kemampuan aktingnya, wanita itu mengusap punggung tangan Rea penuh kasih sayang seperti biasa.


"Kamu harus menerima keputusan Arkan, bagaimanapun ini yang terbaik untuk keluarga kalian." Meskipun terdengar bijaksana tetapi ucapan Laras terdengar menyakitkan hati.


"Bagaimana mungkin kalian membiarkan Mas Arkan menikah lagi? aku memang membuat kesalahan fatal dengan berselingkuh, tapi lebih baik Mas Arkan meninggalkan aku dari pada memilih menikah lagi seperti ini, aku ga bisa Ma." Menghapus air matanya, Rea benar-benar terluka.


"Semua sudah terjadi. Sekarang ayo cepat ganti baju, setelah menikah lagi, kalian boleh melakukan apapun semau kalian."


Rea tidak menyadari bahwa ucapan sang mama dan mertua tidak ada satupun yang menjurus bahwa Arkan akan menikah dengan wanita lain. Namun, karena terlalu sedih ia masih tidak menyadarinya sama sekali.


Dengan polesan make up tipis dan tatanan rambut ala Lidia dan Laras, Ketiganya sampai di hotel dimana Arkan akan menikah lagi.


Laras memberi tahu sebuah nomor kamar ke Rea dan berkata bahwa anak sulungnya berada disana.


"Apa dia berada di sana bersama calon istri keduanya?"


Pertanyaan Rea membuat Laras dan Lidia saling melempar pandang. Secara diplomatis keduanya menjawab agar Rea pergi untuk mengeceknya sendiri.


Perlahan dan sedikit ragu, gadis itu menaiki lift menuju kamar yang disebutkan Laras, tangannya gemetar, ia sampai meremas bagian dada kebaya berwarna nude yang dia kenakan, dimana kebaya itu adalah kebaya pertunangannya dengan Arkan dulu. Jemarinya berlarian berusaha menghapus air mata yang menetes di pipinya.


Rea mengetuk pintu kamar itu, mendapati Arkan yang membuka entah kenapa hatinya semakin pilu, meskipun suaminya itu tersenyum manis kepadanya.


Arkan berusaha meraih tangan Rea, secepat kilat gadis itu menepisnya, masih saja tersenyum, Arkan kemudian meraih paksa tangan Rea dan menariknya untuk masuk ke dalam.


"Masuklah!"


Pandangan mata Rea langsung tertuju pada ranjang berukuran king size dengan sprei putih khas kamar hotel, di atasnya ada dua buah handuk yang di lipat membentuk burung bangau, bahkan ada lambang cinta dari susunan kelopak mawar merah di atas ranjang itu.


"Cih, apa kamu ingin aku melihat kamar pengantinmu yang akan kamu pakai untuk bercinta dengan istri keduamu? Aku tak sudi, dimana dia? Aku kemari hanya ingin melihat wajahnya, aku ingin memastikan apakah dia lebih cantik dari aku." Rea tidak bisa membendung emosinya.


Arkan malah tersenyum, menarik pinggang gadis itu agar menempel padanya di depan sebuah cermin besar yang menempel di dinding kamar hotel itu.


"Dia ada disini."

__ADS_1


"Mana? aku tidak melihatnya." Rea memalingkan mukanya seolah tak sudi menatap wajah Arkan.


"Lihatlah ke cermin!" bisiknya.


Rea menuruti ucapan suaminya itu, keningnya berkerut heran, karena jelas dia hanya melihat pantulan Arkan yang sedang menempel padanya.


"Dia yang harus aku nikahi lagi, Andreadina Bumi Pradipta," lirih Arkan.


Rea sontak terkejut, menatap wajah suaminya dengan penuh tanda tanya, Ia bingung dan masih tidak bisa mencerna maksud ucapan Arkan.


Laki-laki itu menggenggam tangannya erat, "Dengarkan aku! talak yang aku berikan sudah lewat dari tiga bulan, jadi kita harus menikah lagi agar bisa kembali bersama."


Bibir Rea kelu, netranya mulai berkaca-kaca lagi.


"Aku Afandi Arkana Putra ingin kembali bersamamu Andreadina Bumi Pradipta, apa kamu mau?"


Seolah tengah dilamar untuk yang kedua kali oleh laki-laki yang sama, Rea benar-benar merasa melayang dengan ucapan Arkan, derai air matanya tak terbendung. Ia memeluk erat tubuh laki-laki yang sangat dicintainya itu.


Arkan kembali mengulangi pertanyaannya, "Apa kamu mau? apa kita bisa kembali seperti dulu lagi dan melupakan semua masalah dan mimpi buruk kita kemarin?"


Rea hanya menjawab dengan anggukan kepala berulang-ulang di dada Arkan. Ia benar-benar merasa bahagia.


"Ayo kita turun ke bawah, aku harus mengucapkan kalimat akad lagi di depan ayahmu, papa dan juga kakakmu." Tangan Arkan menghapus air mata bahagia di pipi Rea, tanpa gadis itu sadari suaminya juga meneteskan air mata.


Keduanya sama-sama tertawa dan berpelukan erat kembali. Setelah puas berpelukan keduanya berjalan bergandengan tangan menuju rooftop hotel tempat mereka menikah dulu. Keluarga besar mereka sudah menunggu disana, Rea langsung menghambur ke arah Bening dan Embun yang berada di gendongan pengasuhnya. Menciumi pipi anak-anaknya penuh kebahagiaan.


Setelah melakukan ijab qobul ulang Arkan mencium kening istrinya, semua orang merasa bersyukur dan ikut lega, akhirnya drama rumah tangga pasangan itu berakhir dengan sebuah kebahagiaan.


Setelah menyantap beberapa hidangan, Arkan menarik tangan Rea, berusaha membawa gadis itu pergi dari sana, semua orang yang melihat hanya tertawa.


"Nitip Bening dan Embun, aku dan mamanya ada urusan penting, sampai jumpa saat makan malam nanti," bisik Arkan ke Laras.


Wanita itu tahu dengan jelas maksud anaknya. Menepuk punggung Arkan gemas, Laras lalu menggoda menantunya sampai pipi Rea menjadi semerah tomat.


"Mau apa sih?" Rea bertanya manja ke Arkan yang menggenggam erat tangannya.


"Mengesahkan hubungan kita lagi."


"Bukankah sudah sah, kurang apa lagi?" Rea masih saja berpura-pura tak mengerti maksud dari suaminya.


Arkan membuka pintu kamarnya, menarik Rea yang tak beranjak dari depan pintu dengan sedikit kasar, membuat gadis itu menabrak badannya.


"Nakal," bisik Rea.

__ADS_1


"Kamu yang nakal." Arkan mengunci pintu kamar hotel lalu menggunakan sebelah tangannya untuk menarik pinggang istrinya, sementara tangan yang lain mulai membelai pipi Rea.


"Katakan! kamu milik siapa?" Arkan melarikan bibirnya ke kuping Rea, menghembuskan napasnya disana, membuat Rea menggeliat geli.


"Milik Bening dan Embun," jawabnya sambil mengulas senyum di bibirnya.


"Nakal, aku akan memberimu pelajaran karena sudah membuatku sangat menderita." Arkan mulai menciumi leher Rea, membuat bekas merah keunguan disana.


"Aagh." Suara seksi itu lolos dari bibir Rea dan membuat eargasme pada pendengaran Arkan.


"Aku tidak bawa baju ganti," bisik Rea.


"Tidak usah khawatir, aku sudah membawakan bajumu."


"Jadi semua ini idemu untuk mengerjaiku? jahat!"


Arkan melepaskan pelukannya, memandang cinta pertamanya itu dengan tatapan hangat dan penuh kasih. "istri nakal memang harus diberi pelajaran, anehnya entah kenapa aku selalu tidak bisa lari darimu, aku begitu mencintaimu Re, sangat, tapi apakah dirimu sama?"


Rea merangkum pipi sahabat jadi cintanya itu, meraih tengkuk Arkan agar kening mereka saling menyatu. "Tentu, aku juga sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh lagi, tapi berjanjilah satu hal padaku, jangan pernah merahasiakan apa-apa lagi dariku."


Arkan mengangguk, bibir mereka menyatu. berawal dari ciuman kasih sayang antar dua mahkluk yang saling mencinta, berlanjut dengan ciuman penuh kerinduaan antar dua orang yang lama tak bertemu dan berakhir dengan ciuman panas antar pasangan yang ingin merengkuh nikmat surga duniawi.


"Beri aku kenikmatan yang hilang tiga bulan ini," bisik Arkan yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan Rea yang barada di atas pangkuannya, laki-laki itu sibuk bermain dengan dua benda kenyal milik sang istri. Pakaian mereka sudah bercecaran entah kemana.


"With my pleasure," lirih Rea sambil menggigit bibir bawahnya.


_


_


_


_


_


_


_


_


Like Komen vote ya guys 🥰

__ADS_1


__ADS_2