
Didalam apartemen Arkan dan Rea hanya terdiam, laki-laki itu hanya terus memandangi luka di telapak tangannya sementara kekasihnya hanya terdiam sambil menunduk, mereka seperti sama-sama belum bisa menerima kejadian yang baru saja terjadi ditengah pesta yang seharusnya berakhir bahagia, kejadian tadi benar-benar mimpi buruk untuk semua orang, terutama untuk Rea, ia tidak pernah berharap Elang mengorbankan nyawanya hanya untuk menolongnya seperti itu.
"Apa kamu tidak ingin pergi tidur?" tanya Arkan.
Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya dibawah telapak tangan kekasihnya yang terluka.
"Dua orang yang aku cintai terluka hari ini bagaimana mungkin aku bisa tidur," gadis itu menghela napasnya, dan tanpa sadar memberi tahu tunangannya kalau dia juga mencintai kakaknya.
"Apa kamu menahan pisau sampai terluka seperti ini?"
"Hem, laki-laki berbaju pelayan itu juga hampir menusukku tadi," ucap Arkan.
"Kenapa Elang tidak melakukan hal yang sama, setidaknya dia tidak akan sampai tergolek diruang ICU sekarang, kenapa malah dia memelukku dan menerima hujaman pisau itu ke badannya."
Lagi-lagi kalimat gadis itu membuat hati Arkan sakit, ia berpikir kekasihnya sedang membandingkan dirinya yang hanya terluka ringan dengan Elang yang terluka sampai tak sadarkan diri, sejenak ia merasa gadis didepannya berharap dirinyalah yang terluka parah bukan Elang, berpikir apa gadis itu lebih mencintai kakaknya dibanding dirinya.
Akhirnya malam itu mereka habiskan dengan hanya diam berdua disofa sampai Rea pergi tidur dan Arkan memilih pulang.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, Rea mencoba memejamkan matanya lagi tetapi tetap tidak bisa, ia lalu memilih untuk mandi dan pergi membawa mobilnya ke rumah sakit, dia sempat mendapat telpon dari Maya yang menanyakan kondisi anaknya, wanita itu benar-benar khawatir dan meminta Rea untuk terus mengabari kondisi Elang karena dia baru mendapat tiket pesawat pagi ini.
Sesampainya di rumah sakit Rea mendapati sama sekali tidak ada yang menunggui kakaknya, hatinya sedikit kesal karena saat dia pulang tadi calon mertuanya berkata akan menjaga disana, untunglah saat dia tiba kakaknya sudah dipindahkan ke kamar inap.
Arkan datang ke apartemen Rea setelah diberi tahu orang tuanya kalau Elang sudah dipindahkan ke kamar inap, sesampainya disana dia mendapati apartemen kekasihnya kosong, ia sudah bisa menebak pasti gadis yang dicintainya itu sudah pergi ke rumah sakit lebih dulu.
Benar saja saat sampai didepan kamar inap Elang dia sudah mendapati Rea ada disana, gadis itu duduk disamping ranjang kakaknya yang masih belum sadarkan diri, tangannya terlihat menggenggam erat tangan Elang, Arkan mendengar dengan jelas gadis itu terisak, kemudian memilih menutup pintu kembali, Rea yang mendengar suara pintu ditutup menghapus air matanya kemudian keluar, ia mendapati Arkan berdiri disana dan tiba-tiba marah.
"Apa sih maksudnya tante Maya sama om Andi, kalau dari awal ga mau jagain Elang lebih baik bilang, dari pada meninggalkannya disini sendirian, kalau terjadi apa-apa gimana coba? aku sadar disini keluarganya memang cuma aku, ga ada yang benar-benar peduli sama dia," ocehnya.
"Sayang, maksudmu apa sih? mama sama papa baru pulang setalah kakakmu dipindahkan ke ruang inap, semalaman mereka menjaga disini."
__ADS_1
"Kalau bener kayak gitu kenapa ga telpon aku? aku bisa langsung kesini, coba pikirkan kalau terjadi apa-apa diantara waktu saat orang tuamu pulang sampai aku tiba kemari, siapa yang akan disalahkan? dan kamu tau? aku benar-benar ga akan bisa hidup kalau sampai terjadi apa-apa ke dia."
Arkan terdiam mendengar kalimat yang terlontar dari mulut gadis didepannya.
"Apa kamu juga akan seperti ini seandainya aku yang terbaring disana?"
"Jangan menanyakan hal yang tidak sedang aku bahas denganmu Ar,"
"Ar? Hah...." Arkan mendengus kesal.
Rea tersadar jika dia tidak memanggil tunangannya itu dengan sebutan sayang, tapi dia sedang marah, ia pun enggan untuk membenarkan ucapannya.
"Aku langsung datang ke apartemenmu setelah orang tuaku pulang dan memastikan keadaan Elang baik-baik saja, mereka memintaku untuk menjemputmu dan bergantian menjaganya, mereka sudah hampir 9 jam menjaga kakakmu itu begadang tidur diluar, apa kamu tidak memikirkan itu? Apa hanya karena ini kamu sampai marah seperti ini? Apa bukan karena kamu masih mencintai dia sebagai laki-laki bukan sebagai seorang kakak?"
Arkan berbicara dengan nada tinggi membuat Rea sedikit terkejut karena selama ini kekasihnya itu tidak pernah sedikitpun berteriak kepadanya.
"Aku ga mau berdebat sama kamu," ucapnya sambil berlalu masuk kedalam kamar Elang meninggalkan Arkan yang menahan sesak didadanya, laki-laki itu melampiaskan emosinya dengan memukul tembok yang didekatnya dengan tangan kanannya yang masih terluka.
Pukul sembilan pagi Maya datang bersama suaminya dan Bumi, wanita itu langsung menghambur ke arah anaknya yang masih belum sadarkan diri, menangis disamping ranjang Elang sambil mengusap pipi anaknya, Rea hanya bisa terdiam mematung, gadis itu baru buka suara saat Banyu menanyakan secara langsung penyebab anaknya terluka.
Tak berapa lama setalah ibunya datang Elang membuka matanya, membuat Rea menghela napas lega tapi kemudian memilih keluar dari ruangan sambil menahan air matanya, Elang menatap ke arah adiknya yang malah pergi melihat dia sudah sadar, mata Maya terlihat mengikuti pandangan mata anaknya, wanita itu juga hanya bisa menghela napasnya.
"Syukurlah," ucap Maya berkali-kali sambil terisak.
"Mas Elang coba sebutin nama aku siapa?" ucap adiknya yang juga terlihat menangis.
"Gadis jelek."
"Ish masih bisa bercanda, ayo jawab yang benar," gadis itu merajuk.
__ADS_1
"Bumi," jawab Elang lemah.
"Syukurlah Mas Elang ga amnesia," celetuknya membuat Elang tersenyum mendengar candaan adiknya.
"Mas Elang itu ketusuk Bum, bukan kepentok," ucap Banyu sambil mengelus rambut anak gadisnya.
Rea kembali ke ruangan bersama dokter Ranu, ternyata gadis itu keluar untuk memanggil dokter.
Ranu memeriksa tanda vital Elang, berkata jika semua normal dan baik-baik saja, jika keadaanya terus stabil dan semakin membaik mungkin tiga sampai empat hari lagi ia sudah bisa pulang. Semua orang lega mendengar apa yang Ranu sampaikan.
Ranu keluar dari ruangan melihat Ken sudah berdiri didekat sana, mereka berjalan bersama menuju ke ruang dokter.
"Apa pasienmu baik-baik saja?" Tanya gadis itu.
"Pasien yang mana?"
"Ish..yang barusan kamu periksa," Ken terlihat sedikit kesal.
"Kenapa tiba-tiba penasaran, apa kamu mengenal laki-laki yang tertusuk itu?"
"Hem, dia teman SMA ku dulu."
"Dia baik-baik saja, pacarnya sepertinya yang tidak baik-baik saja, ia menemuiku sambil menangis saat memneritahu kalau kekasihnya sudah siuman, sepertinya dia takut sekali kehilangan laki-laki itu,"cerita Ranu.
"Gadis itu bukan pacarnya, tapi adiknya."
"Hah? serius? aku pikir kekasihnya, karena ia terlihat sangat khawatir, dan saat di UGD aku melihat gadis itu sangat kacau."
Ken hanya terdiam tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Ranu.
__ADS_1