
"Terima kasih Ar, maaf sepertinya aku sudah mengganggu hubunganmu dengan istrimu."
Samantha mengulurkan tangannya ke Arkan saat laki-laki itu mengantarkannya sampai ke bandara.
Arkan berusaha tetap tersenyum di depan mantan kekasihnya itu, "hati-hati dan jaga dirimu baik-baik," ucapnya.
"Bolehkah kita berpelukan untuk yang terakhir kali?" pinta Sam.
"Sure!" Arkan merentangkan tangannya, memeluk untuk yang terakhir kali wanita yang telah melahirkan Noah ke dunia.
Arkan menunggu sampai Sam masuk ke dalam ruang tunggu penerbangan internasional yang akan membawanya ke Australia, di dalam mobilnya laki-laki itu membuka ponselnya, berusaha mengecek apakah ada pesan dari sang istri di sana, wajahnya terlihat kecewa, nihil. Rea sepertinya benar-benar sudah tak peduli lagi padanya.
Lidia menasihati sang anak, bahwa tindakannya pergi begitu saja dengan membawa kedua anaknya tanpa meminta ijin pada Arkan adalah tindakan yang salah, namun seolah sudah terlalu sakit hati, Rea hanya diam tanpa menjawab omongan sang mama.
"Kalau kamu seperti ini lebih baik mama usir kamu dari sini," bentak Lidia.
Axel dan Jordan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar terlihat terkejut dengan ucapan wanita itu, Rea memilih bangun dari tempat duduknya, menghapus linangan air mata dari pipinya, tanpa membalas sepatah katapun gadis itu pergi meninggalkan meja untuk naik ke lantai atas.
Rea mengemasi semua pakaiannya, meminta kedua pengasuh anaknya untuk mengemasi barang-barang mereka juga.
Axel yang kebingungan tengah berusaha mencegah Rea yang terlihat mondar-mandir mengambil dan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Re, mama hanya emosi tidak usah diambil hati, kamu harus tenang! menurutku ucapan mama ada benarnya, tidak seharusnya kamu meninggalkan suamimu seperti ini."
Mendengar ucapan kakak tirinya, Rea melemparkan bajunya ke lantai, gadis itu menangkup wajahnya, pundaknya bergetar hebat, ia menangis karena terlalu bingung menghadapi masalahnya.
"Aku bahkan merasa tidak sanggup untuk melihat wajah mas Arkan, aku sangat membencinya Ax."
"Jangan berkata seperti itu, aku tau kalian begitu saling mencintai."
Rea menggelengkan kepalanya lalu kembali mengemasi barang-barangnya.
***
Dengan sisa keberaniannya Arkan pergi ke rumah Jordan, mendengar apa yang dikatakan Lidia bahwa dia mengusir Rea wajah laki-laki itu menjadi semakin gusar.
Rea terlihat keluar membawa kopernya diikuti pengasuh Bening dan Embun, melihat sang anak yang benar-benar ingin pergi dari sana membuat Lidia sedikit menyesal. Namun, wanita itu sama sekali tidak berniat mencegah perbuatan sang anak.
"Ayo pulang ke rumah!" bujuk Arkan.
__ADS_1
Rea menatap suaminya dingin, rasa marah dan kecewa terpancar jelas dari sorot matanya, tanpa menjawab ucapan sang suami gadis itu melenggang pergi begitu saja.
"Silahkan kamu pergi dan terus seperti ini, tapi jangan bawa Bening," teriak Arkan.
Rea menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, ia lalu mengambil Bening dari gendongan sang pengasuh, memberikan bayi itu ke tangan Arkan. Semua orang yang ada di sana syok dengan apa yang dilakukan gadis itu.
"Kamu sudah pernah merampas Noah, jadi sebelum kamu merampas Bening aku akan dengan senang hati memberikannya lebih dulu kepadamu, bukan masalah besar untukku kehilangan anak darimu lagi, toh memang beginilah dirimu, tukang rampas, silahkan ambil Bening lagipula dia sudah tidak butuh ASI lagi dariku."
Arkan hanya bisa terdiam mencoba mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut istrinya.
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi Rea dari Lidia, semua orang terkejut bahkan Rea sendiri tak menyangka mamanya akan tega memukulnya seperti itu.
"Sadar Re! mama tidak tahan jika kamu terus bersikap seperti ini." Lidia berteriak sambil menangis histeris.
Jordan memilih menengahi pertengkaran anggota keluarganya, Ia memegang pundak Rea, menepuk lalu mengusap pundak anak tirinya itu lembut.
"Ayo, jangan seperti ini Re, semua bisa dibicarakan baik-baik, kalian semua sedang emosi, tidak baik berbicara saat sedang emosi karena bukan memecahkan masalah tapi akan hanya menambah masalah."
Jordan berusaha menarik Rea untuk masuk kedalam rumah lagi. Namun, gadis itu bergeming.
"Re, selama ini papa tidak pernah meminta ataupun memohon sesuatu kepadamu, sekali ini saja papa minta ayo masuk, kita bisa bicara lagi nanti."
Melihat Jordan yang mengiba, akhirnya gadis itu luluh, ia bersedia kembali masuk ke dalam rumah.
***
"Sayang, apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkan aku?" Arkan menggunakan kedua lututnya untuk bertumpu di depan Rea yang tengah duduk di tepi ranjang kamarnya.
"Jika tidak untukku bisakah kita berbaikan demi anak kita?" bujuknya.
"Maaf, tapi untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa memaafkanmu dengan mudah Ar, aku sangat kecewa, aku merasa sama sekali tidak mengenalmu."
"Re___,"
"Aku sedang berpikir mungkin dari dulu sebenarnya kamu memang tidak benar-benar mencintaiku Ar, perasaanmu sebenarnya mungkin hanya perasaan tidak ingin kehilangan karena kita sudah terbiasa bersama sejak kecil."
"Re__,"
"Untuk Noah sepertinya memang harus aku ikhlaskan semuanya, dari awal aku memang tidak memiliki hak sama sekali ke anak itu, lagipula aku sudah tidak bisa menanyakan bagiamana perasaannya, dia sudah pergi." tetesan air mata Rea jatuh mengenai punggung tangan Arkan.
__ADS_1
Gadis itu lantas berdiri, mencoba pergi dari kamarnya. Namun, dengan cepat Arkan menyambar tubuh istrinya, merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, tapi apa yang kamu ucapkan tentang perasaanku itu salah besar, aku benar-benar mencintaimu, aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirimu."
Pelukan Arkan semakin erat, namun Rea sama sekali tidak membalas memeluk tubuh laki-laki itu. Gadis itu memilih terjaga semalaman dari pada harus tidur satu ranjang dengan suaminya.
***
"Kenapa belum tidur?"
Rea masih terus memandang ke arah kolam renang, mengabaikan pertanyaan Axel kepadanya.
"Apa begitu sulit memaafkan? bahkan dulu kamu bisa memaafkan perbuatan bejatku yang menurutku lebih parah dari kesalahan Arkan saat ini."
Rea memalingkan wajahnya, menatap manik kelam milik laki-laki yang ia tahu masih mengharapkan dirinya itu.
"Kenapa kamu tidak mencarikan Embun seorang ibu Ax?" tanyanya tiba-tiba.
"Aku sudah pernah bilang bahwa cukup dirimu yang menjadi ibu Embun."
"Bukan karena dirimu masih mengharapkan aku kan?" pertanyaan Rea membuat Axel salah tingkah.
"Mana berani aku mengharapkan_____"
"Ax___"
Axel terdiam menatap gadis di sampingnya yang terlihat melipat kedua tangannya di depan dada, bahkan gadis itu memotong ucapannya sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Apa kamu mau menjalin hubungan spesial denganku?"
"Apa?" Axel melebarkan kedua matanya tak percaya dengan ucapan adik tirinya.
"Haruskah aku ulangi?"
"Re____"
"Berikan aku jawaban segera!" Rea menipiskan bibirnya, berlalu meninggalkan Axel yang terlihat kebingungan.
Belum sempat Rea menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai atas, Axel terlebih dulu meraih pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku tau kamu sedang marah dan mengucapkan hal tadi dalam kondisi emosi, tapi jika kamu menginginkannya, ayo kita lakukan."
Datar, Rea sama sekali tak menunjukkan ekspresi keterkejutan ataupun senang.