
Setelah menempuh perjalanan hampir lima belas menit, mobil Rea terlihat masuk ke sebuah halaman rumah sakit. Panik, gadis itu langsung berlari masuk ke dalam. Arkan yang juga sudah memarkirkan mobilnya terlihat terburu-buru mengejar sang istri. Laki-laki itu memanggil nama istrinya sambil meraih pergelangan tangan Rea.
"Re, ada apa?"
Kaget, seketika Rea membalikkan badannya, wajahnya begitu cemas, melihat Arkan air matanya yang sudah tak terbendung lolos begitu saja dari netranya.
"Ax bilang Embun sakit," lirihnya.
Mereka lantas berlari menuju ruang perawatan anak, melihat Rea datang bersama Arkan, Ax terlihat biasa saja. Rea langsung menghambur ke ranjang sang bayi, dimana Embun tengah tertidur dengan selang infus yang terpasang di kakinya.
"Embun kenapa ma?" tanya Rea ke sang mama yang tengah duduk di samping ranjang sang cucu.
"Kemarin badannya demam, mama pikir karena akan tumbuh gigi, tapi demamnya semakin tinggi, dan tadi dia kejang."
Axel memilih pergi keluar ruangan, duduk di kursi yang ada di depan ruang perawatan di susul oleh Arkan. Diam, keduanya sama-sama dihinggapi rasa bersalah melihat kondisi anak mereka yang sedang terbaring lemah.
"Seharusnya aku percaya nasihat mama untuk menghubungi atau mengantar Embun ke Rea," Sesal Axel.
"Semua karena aku yang melarangmu untuk menemuinya, iya kan?" sambung Arkan.
"Mama sudah bilang untuk memberi Embun obat demam setiap empat jam jika demamnya masih tinggi, tapi aku lupa dan malah ketiduran." Hembusan napas Axel yang berat menegaskan seberapa besar penyesalannya sebagai seorang ayah yang gagal menjaga anaknya.
Mereka terdiam kembali, Arkan mengusap mukanya seolah berusaha menghilangkan kantuk dari matanya, sebenarnya Ia sangat merasa bersalah.
"Ar...."
"Ax...."
Keduanya terdiam seketika, menyadari bahwa sama-sama ingin mengungkapkan sesuatu, Axel dan Arkan saling pandang. Mereka akhirnya tertawa serempak untuk menghilangkan rasa canggung.
"Kamu dulu yang bicara!" Pinta Axel ke suami adik tirinya itu.
Arkan menghela napasnya, seolah apa yang akan dia ucapkan adalah sesuatu yang berat. "Maaf, sepertinya ini salahku Ax, tapi kamu pasti paham betul semua ini aku lakukan karena aku ingin mempertahankan rumah tanggaku."
Axel menatap Arkan, Ia menebak bahwa Arkan sebentar lagi pasti akan menyampaikan keputusan atau pendapatnya melihat kondisi Embun sekarang.
"Aku benar-benar membencimu Ax, banyak hal yang bisa aku jadikan alasan untuk membencimu, sejak aku mendapati kenyataan pahit kamu menggauli istriku dengan paksa, saat aku tahu Rea juga mengandung anakmu dan saat aku tahu kalian berselingkuh di belakangku."
__ADS_1
Axel menunduk, entah kenapa meskipun Arkan sedang tidak dalam mode menyindirnya, Ia selalu merasa sangat buruk jika harus disandingkan dengan suami gadis yang dicintainya itu.
"Ax, aku akan membiarkanmu sekali lagi, kamu boleh bertemu dengan Rea, kamu boleh menghubunginya kapan saja, tapi pastikan hanya untuk kepentingan Embun, aku mencoba memberimu kepercayaan satu kali lagi Ax, berusahalah untuk tidak membuatku kecewa lagi kali ini, jika kamu tidak bisa dipercaya aku akan membawa pergi keluargaku ke suatu tempat dimana dirimu tidak akan pernah bisa menemukan kami lagi."
Diam, benar-benar merasa bersalah Axel sampai tak berani lagi menatap wajah Arkan. "Apa kamu masih akan terus seperti ini ke Rea? bersikap dingin? mengabaikannya?."
"Iya, aku akan terus seperti ini setidaknya sampai Adam menjalankan rencananya, aku tidak ingin Rea terlibat dalam masalah ini, lalu apa kamu sudah mendapat informasi dari Johan?"
"Sepertinya dia akan menjalankan rencananya saat acara penghargaan dari Kementrian Ekonomi satu bulan lagi," beber Axel.
"Apa dia benar-benar ingin membunuhmu dan menjadikan aku pelakunya?" Arkan tertawa miris, tak habis pikir dengan rencana Adam yang disampaikan Axel kepadanya.
Axel mengnggukkan kepala. Ia pun juga tak habis pikir dengan jalan pikiran Adam, haruskah ia meminta maaf dan berlutut di bawah kaki laki-laki itu? Ax bingung, masih tak menyangka bahwa memecat Adam akan membawa dampak serumit ini.
"Lalu apa yang ingin kamu sampaikan tadi?" pertanyaan Arkan membuyarkan lamunan Axel.
Laki-laki itu memilih bangun dari kursinya, memasukkan salah satu tangannya ke dalam kantong celananya sementara sebelah tangannya ia gunakan untuk menepuk pundak Arkan.
"Akan aku sampaikan jika Rea mau kembali kepadamu," candanya sambil berlalu masuk ke dalam kamar inap Embun.
"Apa maksudmu? tentu saja Ia mau kembali padaku, Hei!" Arkan terlihat kesal, ia menggerutu sambil mengekor Ax masuk ke dalam.
"Maaf Ar, aku salah dan aku sadar terlalu serakah, tapi aku mohon jangan buat Rea terlalu lama bersedih, dua bulan dekat dengannya aku mendapati bahwa dia tak sekuat seperti apa yang dia tunjukkan." Ax menatap Arkan dengan raut wajah penuh penyesalan. "Aku sadar dari awal meskipun Rea berkata mencintaiku, tapi di dalam lubuk hatinya tidak pernah ada ruang untukku."
"Lalu apa tujuanmu datang menemuiku? hanya ingin menjelaskan perasaanmu? jika tentang Rea, aku bisa mengurus istriku sendiri," sinis Arkan.
"Bukan, ada hal lain yang ingin aku sampaikan, aku mohon dengarkan baik-baik!"
Axel mulai menceritakan secara runtut ke Arkan perihal Adam, bahkan niatan Adam yang ingin membunuhnya dan menjadikan Arkan kambing hitam juga Ax ungkapkan secara terperinci.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" Arkan meminta sebuah penegasan.
"Kita jebak dia, aku juga tidak bisa percaya lagi kepada Johan, maka dari itu aku meminta seseorang secara diam-diam mengikuti dan menggali informasi tentangnya."
"Lalu apa informasi yang kamu dapatkan?"
"Istrinya bekerja di bagian administrasi rumah sakit dimana Kinanti bekerja," beber Axel.
__ADS_1
"Jadi apakah...?" Arkan terlihat berpikir, ia masih mencoba merangkai kepingan informasi yang berada di dalam otaknya.
"Benar, istrinya yang meletakkan alat untuk merekam percakapan saat Rea memeriksakan kandungannya dulu."
Terungkap, satu persatu teka teki tentang masalah yang menimpa mereka mulai menemukan titik terang.
***
Rea terlihat tertidur dengan posisi kepala bersandar pada ranjang Embun, sementara satu tangannya berada diatas tubuh anaknya. Arkan mendekat, membenarkan letak selimut Embun, sekilas Ia mencuri pandang untuk menatap wajah istrinya.
"Ar, apa kamu benar-benar akan menceraikan Rea?" tanya Lidia yang sedari tadi memang tak beranjak dari kamar rawat sang cucu.
Terdiam, Arkan terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan mertuanya. "Jika mama menjadi aku, apa mama mau kembali dengan orang yang telah mengkhianati mama?"
"Kalian berdua itu sama saja, Rea merasa kamu mengkhianatinya karena memiliki anak dari wanita lain, dan sekarang kamu merasa dikhianati karena Rea bermain api dengan laki-laki lain, kalau kalian terus-terusan saling membalas seperti ini lebih baik kalian berpisah saja." ucap Lidia tegas.
"Pernikahan bukan sebuah permainan bukan juga perlombaan, dimana ego diantara kalian berdua harus ada yang menang." Lidia terdengar sedikit tegas.
Arkan menatap Rea yang masih terlihat terlelap di samping ranjang Embun, lirih laki-laki itu berucap, "Asal mama tahu, aku sama sekali tidak ingin membalasnya."
Setelah mendengar suara pintu tertutup Rea menegakkan tubuhnya, ternyata gadis itu tak sepenuhnya tidur, Ia memandang Embun dengan penuh rasa bersalah, Rea berdiri sambil menghapus pipinya yang basah, saat berbalik ia terkejut mendapati Arkan tengah duduk di sofa sambil menatap ke arahnya, sementara sang mama sudah tidak ada di ruangan itu.
-
-
-
-
-
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Beberapa bab lagi menuju Ending Versi pertama ya 🥰