
Satu bulan Kemudian
Rea berlari menyusuri lorong rumah sakit, gadis itu terlihat cantik menggunakan dress selutut berwarna abu bercorak bunga dengan semburat merah muda, bibirnya terlihat tersenyum saat membuka ruang perawatan. Ia melihat sang mama tengah terbaring dengan selang infus menempel ditangan kirinya.
Gadis itu menghambur memeluk sang mama, mengucapkan selamat atas kelahiran adik kecilnya. Rea menoleh ke arah papa tirinya yang sedang duduk disebalah ranjang Lidia, memberikan pelukan dan ucapan selamat juga, sementara Axel hanya terlihat duduk sambil memandangi punggung adik tirinya.
Seorang bayi mungil terlihat dibawa perawat menggunakan box tempat tidur masuk kedalam kamar, semua orang yang ada disana merasa bahagia tak terkecuali Rea, saat perawat mengambil bayi itu untuk diserahkan digendongannya gadis itu tanpa sadar meneteskan air mata.
"Coba lihat! Lebih pantas jadi anak Rea kan?" Tanyanya sambil menatap ke arah Jordan.
Papa tiri dan mamanya hanya tertawa. Axel yang duduk kemudian berdiri mensejajari Rea yang menimang bayi dalam gendongannya.
"Semoga anda juga segera diberi momongan," ucap perawat yang membuat keduanya gelagapan. Bahkan pipi Rea memerah menahan malu.
"Dia adik saya sus bukan istri," sangkal Axel sambil tersenyum kecut.
Perawat itu terlihat tak enak hati, meminta maaf lalu keluar dari ruang perawatan Lidia.
"Apa dia sudah diberi nama?" Tanya Rea yang masih menggendong sambil mengamati wajah bayi mungil itu ke mamanya.
"Daniel Mars Jordan, panggilannya Ale, Axel yang memberi nama," Jawab Lidia.
Rea melihat ke arah Axel yang masih berada disampingnya, ia tersenyum dan berbisik "nama yang bagus."
Selang beberapa saat Laras beserta suami dan anak sulungnya datang, mereka membawa sebuah bucket bunga besar dengan hiasan balon biru bertuliskan "welcome baby boy".
Arkan menyapa semua orang yang ada disana termasuk Axel yang sedikit menjauh melihat laki-laki itu mendekat ke arah Rea. Arkan melihat bayi yang masih terlelap dilengan calon istrinya. Memeluk pinggang Rea sambil menatap baby Ale.
"Papa doakan kalian besok juga langsung dikasih momongan biar Ale punya teman main."
Semua orang mengaminkan doa Jordan untuk anak tiri dan calon menantunya itu kecuali Axel, laki-laki itu terdiam, patah hati. Bahkan ia sebenarnya masih tidak rela Rea keluar dari pekerjaannya di hotel miliknya.
Sebulan yang lalu
Rea mengemasi barang pribadinya yang masih berada diruang kerjanya. Axel mendobrak masuk membuat gadis itu menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Axel masih berharap gadis didepannya mengurungkan niat untuk keluar dari hotelnya.
__ADS_1
"Maaf, alasanku bukan karena masalah pribadi diantara kita, aku memang ingin keluar untuk fokus mengurus pernikahanku yang tinggal dua bulan lagi," ucap Rea.
Axel terdiam, ia sadar tidak akan pernah ada kesempatan lagi untuknya.
❤❤❤❤❤
Rea dan Arkan berjalan keluar dari kamar rawat Lidia sambil membicarakan perihal Selena yang tidak bisa dijadikan tersangka karena hasil test menyatakan bahwa gadis itu mengalami gangguan kejiwaan.
Rea menghela napas sedikit kecewa karena dia berharap wanita jahat itu bisa mendapatkan hukuman atas perbuatannya di penjara.
Saat mereka tengah berjalan melewati koridor menuju pintu utama rumah sakit, seoarang perawat berlari tergesa menabrak lengan Rea sampai hampir terjatuh, Arkan menghardik perawat laki-laki itu dan memintanya untuk lebih berhati-hati.
Saat diluar gedung nampak kerumunan orang terlihat panik sambil memandang ke atas atap rumah sakit, betapa terkejutnya Arkan dan Rea saat melihat Selena hampir melompat dari atas sana.
"Itu Selena bukan?" tanya Rea sedikit tidak percaya, tapi dengan cepat gadis itu memilih masuk kedalam rumah sakit lagi, bertanya kepada perawat dilantai berapa kamar Selena berada.
Gadis itu naik keatas memakai lift membuat Arkan yang membuntutinya merasa kebingungan.
"Sayang, kamu mau apa?" Tanya Arkan saat melihat sang kekasih menekan lantai dimana Selena sekarang sedang dibujuk oleh keluarga dan dokternya agar tidak melakukan tindakan konyol yang dilarang agama.
"Apa kalau dia mati kamu pikir aku bisa menikah dan bahagia denganmu, ayo bujuk dia!" ucap Rea.
Arkan menolak dengan tegas permintaan calon istrinya itu, mereka berdebat. Beruntung saat tiba dilantai dimana Selena berada, gadis itu sudah terlihat dipelukan sang mama.
"Mungkin nasip kami tidaklah sama, tapi seperti Selena aku juga pernah merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, mengharapkan kasih sayang dari ayah yang tidak pernah menyanyangiku, ya aku pernah menjadi Selena, tapi aku jauh lebih beruntung karena masih ada banyak cinta dari orang lain untukku, mungkin bagi Selena dia sudah tidak memiliki harapan apa-apa karena merasa sama sekali tidak ada yang mencintainya didunia ini."
Rea berlutut dengan kedua kakinya didepan Selena yang terduduk dilantai. Mama Selena melepaskan pelukannya saat melihat Rea ada didepannya, gadis itu merengkuh lalu memeluk Selena, menepuk lembut punggung wanita yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta dari laki-laki yang dia harapkan untuk mencintainya itu.
Rea berbisik ketelinga Selena "Sel, ada sebuah tempat bagus di Granada bernama Alhambra, kamu harus kesana melihatnya dan setelahnya aku yakin kamu pasti akan merasa jauh lebih bahagia."
"Maaf untuk ketidak beruntunganmu, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melepaskan cintaku untuk orang lain. Aku tidak membencimu, aku harap kamu bisa bahagia, laki-laki yang sedang ditakdirkan untukmu pasti sekarang tengah menunggu, jadi jangan berbuat konyol. Berbahagialah! Semua manusia didunia ini berhak bahagia."
Rea masih memeluk tubuh Selena, membiarkan gadis itu menangis dan meraung mengeluarkan emosinya.
-
__ADS_1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Next chapter habis ini mungkin ada penggambaran adegan 21+ please ya yang under mohon bijaksana 😄
Aku udah Warning ⚠ dulu
JANGAN Lupa LIKE ❤ VOTE Dan KOMEN
__ADS_1