
Sabtu malam Arkan bersiap untuk pergi menjemput kekasihnya, dia berencana mengajak Rea untuk pergi mencari beberapa perabotan dan furniture untuk mengisi rumah baru yang akan mereka tempati setelah menikah, saat hendak keluar kamar, mamanya tiba-tiba masuk kemudian menutup pintu kamar Arkan. Laki-laki itu menatap heran ke arah mamanya.
"Ar, mama tau dua kali kamu ga pulang kerumah, kamu nginep dimana?, jangan bilang ditempat Rea, " tanya Laras
"Iya ma, aku memang nginep di apartemen Rea" jawab Arkan enteng
Mamanya tiba-tiba memukul lengan Anak laki-lakinya itu berkali-kali.
"Ya Ampun, kalian itu belum resmi jadi suami istri, kamu ya, kalau papamu tau bisa dihajar habis kamu" mamanya marah dengan suara pelan takut terdengar sampai keluar kamar.
"Memang mama pikir aku nginep terus ngapain? gituan sama Rea? mama ih pikirannya negatif banget sama calon mantu dan anak sendiri"
"Terus ngapain orang yang udah dewasa nginep berdua kalau ujung-ujungnya ga gituan, ha?, " tanya Laras lagi
"Ngobrol, makan cemilan, nonton drama, ah mama," jawab Arkan sedikit kesal karena memang dia selalu menemani Rea menonton drama saat berada di apartemen gadis itu.
Laras memandang ke arah anaknya dengan sorot mata tidak percaya, Arkan memilih menggenggam tangan wanita itu.
"Ma, aku tau mana yang boleh dilakuin dan mana yang ga boleh, aku sangat mencintai Rea ma, ga mungkin aku berani kayak gitu sebelum dia sah jadi istri aku, lagian kami berdua juga tau batas, ga mungkin berani macem-macem sebelum kami resmi menikah."
Laras terdiam mendengar jawaban dari anak sulungnya itu.
"Tenang aja mama ga akan punya cucu yang lahir kurang dari 9 bulan dari waktu kami menikah nanti," canda Arkan
"Kamu tuh" Laras memukul lengan anaknya lagi
Arkan hanya tertawa, kemudian pamit untuk pergi menjemput Rea.
*******
Arkan dan Rea sudah sampai di sebuah mall, mereka masuk kesebuah toko electronic dan furniture, Arkan melihat-lihat sofa, kemudian meminta Rea berhenti untuk melihat sofa yang dia maksud.
"Buat ruang TV, lihat! " Arkan menunjukkan sofa berwarna maroon yang bisa dibuka bagian dudukannya sampai melebar seperti sebuah kasur, dia menaik turunkan alis matanya menggoda Rea
"Apa'an sih?" Rea tersenyum malu
"Buat kamu nonton drama, ga enak tau tidur di karpet"
Arkan berbicara sambil menganggukan kepalanya ke karyawan toko memberi tanda kalau dia jadi mengambil sofa itu, sifat jahilnya muncul, ia berjalan cepat melewati Rea sambil berbisik "buat gituan juga bisa kok"
"Apa'an sih?" Rea lagi-lagi tersenyum menahan malu.
Mereka lanjut memilih kasur untuk bagian terpenting dari rumah yang tentunya menjadi tempat favorite semua pasangan yang sudah menikah yaitu kamar tidur.
"Aku mau yang ini," ucap Rea ke calon suaminya sambil duduk diatas kasur yang dia maksud.
Arkan sudah hampir berucap akan mengambil kasur yang diduduki Rea kepada pelayan toko, tapi gadis itu kemudian berdiri mencegah kekasihnya, karena dia baru saja melihat harga yang tertera disana.
"Too much ga sih Ar, hampir 100 juta lho "
"Ga too much kalau buat kita nyaman semalaman Re" godanya lagi
Gadis itu lagi-lagi tersenyum menahan malu, pipinya sudah semerah buah tomat masak.
"Udah ah ayo kita pulang aja, kamu bikin aku jadi mikir yang macam-macam dari tadi, " Rea menarik tangan Arkan keluar toko
Arkan hanya tertawa, menarik Rea kekasir dulu untuk membayar dua furniture yang dia pilih tadi. Sambil menunggu transaksi Arkan bertanya ke Rea apa hari ini cukup belanja furniture nya, Rea menjawab sudah dan berkata besok dia akan mencari perabotan dan furniture lagi sendiri karena belanja dengan laki-laki itu membuat dia berpikir dan membayangkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
Arkan tertawa sambil memberikan kartu debitnya kepada Rea.
"Pin nya tanggal lahirmu," bisik Arkan
"Ga usah, nanti aku beli pake uangku sendiri aja" tolak gadis itu yang membuat raut muka Arkan berubah.
"Kamu sudah ngluarin uang banyak Ar, itu kan bakal jadi rumahku juga," ucap Rea memberi penjelasan.
Arkan masih terdiam dengan raut muka yang masih sama, mau tidak mau akhirnya Rea menerima kartu itu dari pada membuat calon suaminya marah.
"Aku juga ingin menunjukkan ke kamu kalau calon suamimu ini punya banyak uang," ucap Arkan menggoda.
Rea hanya tersenyum.
Setelah selesai membayar dan menetapkan waktu pengantaran, Rea menggandeng tangan Arkan keluar.
"Calon suami tajirku, nonton yuk"
"Aku anggap kamu ngajak aku kencan duluan" Arkan tertawa senang
*****
Selesai nonton mereka makan di sebuah restoran yang masih ada didalam mall. Jam 10 malam Arkan mengantar Rea pulang. Didalam mobil mereka terlibat percakapan yang cukup serius bagi seorang Rea
"Ar, kamu tau kan aku ga bisa masak, apa ga masalah buat kamu?"
"Ga masalah, kita bisa pake layanan pesan antar makanan, atau mencari asisten rumah tangga, karena aku jadiin kamu istri bukan buat masakin aku atau buat bersihin rumah"
"Terus buat apa?" tanya Rea
"Pendamping hidup lah, ibu dari anak-anak kita nanti" Arkan menggenggam tangan Rea
Arkan mengantar Rea sampai kedepan pintu seperti biasa, ragu ingin menginap lagi atau tidak karena sudah diwanti-wanti mamanya tadi. Akhirnya Arkan memilih untuk pulang, toh juga Rea tidak menawarkan dia untuk menginap. Arkan hampir berbalik pulang, tiba-tiba HPnya berbunyi, nomor yang tidak dia kenal menelpon semalam ini. Arkan mengangkat telponnya terdengar suara perempuan disana. Setelah ia menutup telpon, Rea bertanya
"Siapa?"
"Selana"
Wajah Rea tiba-tiba berubah.
"Untuk apa dia menelpon semalam ini?"
"Dia sekarang ada di kafe XX, dia minta bertemu"
"Apa kamu ingin menemuinya?" tanya Rea
"Tidak" jawab Arkan
"Ayo kita temui dia, beraninya dia menelpon calon suamiku meminta bertemu malam-malam" Rea sudah menarik tangan Arkan untuk keluar dari apartemen lagi, Arkan tersenyum karena tau Rea sedang cemburu.
Rea berkata akan duduk agak jauh dari Arkan, tapi meminta Arkan untuk menyalakan HPnya dan menelpon ke ponselnya agar dia bisa mendengar apa yang akan Selena bicarakan.
Gadis itu duduk agak jauh tapi masih bisa melihat dengan jelas tempat duduk Selana dan Arkan.
Arkan sudah menelpon HP Rea seperti yang dia mau. Rea memandang ke arah kekasihnya yang sudah duduk didepan Selana sambil mendengarkan suara mereka dari HPnya
"Arkan"
__ADS_1
"Hai Sel, ada apa malam-malam begini meminta aku kesini "
"Aku hanya ingin bertemu, aku tidak tau kamu sudah pulang dari Inggris, kamu apa kabar?"
"baik, kamu sendiri gimana?"
Kenapa dia berbicara halus sekali kepada wanita lain, gumam Rea
"Tidak baik, kamu pasti sudah dengar aku kabur di hari pernikahanku"
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu?"
"Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai, kami dijodohkan"
"Sebaiknya kamu pulang Sel, orang tuamu pasti sangat kawatir"
"Apa kamu masih tidak bisa menerima perasaanku?"
Arkan hanya terdiam, sementara Rea yang mencuri dengar sudah terbakar api cemburu.
"Aku mencintaimu, kenapa kamu tidak bisa menerima perasaanku?"
"Aku sudah mau menikah" jawab Arkan, tapi sial HPnya tiba-tiba mati, Rea kaget dan penasaran apa jawaban kekasihnya.
Arkan terlihat berdiri, beranjak pergi meninggalkan Selena, tiba-tiba gadis itu memeluk Arkan dari belakang. Rea menggebrak meja, membuat orang di sekitarnya kaget, tapi tidak membuat Selena melepaskan pelukannya ke Arkan, Arkan berusaha melepaskan pelukan Selena, dia terkejut melihat Rea sudah memegang tangan gadis itu duluan dan menghempaskannya lepas dari pinggang nya.
"Apa kamu sudah gila" teriak Rea "berani-beraninya memeluk calon suamiku"
Selena terdiam kaget dia mencoba mengingat dimana pernah bertemu Rea karena wajahnya tidak begitu asing.
"Cukup lari dan mengacaukan pernikahanmu sendiri, jangan mengganggu hidup orang lain, gadis tak tau malu," ucap Rea sambil menarik tangan Arkan keluar kafe.
Selena hanya terdiam, Arkan cukup senang dengan apa yang dilakukan Rea, apalagi menyebut Selena gadis tak tau malu.
*****
Rea masih cemberut dan menahan rasa panas didadanya, memutar tombol AC dimobil Arkan agar lebih dingin sambil mengibas-ngibaskan krah bajunya. Arkan hanya bisa diam dan fokus menyetir.
"Apa dia sudah gila? aku heran ternyata ada gadis yang sangat tidak tau malu seperti dia hidup dibumi ini"
Arkan masih terdiam, karena kalau sampai salah bicara urusan dengan Rea bisa panjang.
"Berani-beraninya memeluk kekasihku seperti itu, kalau sampai dia tadi berani menciummu, akau akan merobek mulutnya"
Arkan tersenyum melihat Rea yang terlihat menggemaskan saat marah seperti itu, apalagi marah karena cemburu, artinya Rea sangat tidak ingin kehilangan dirinya.
"Sudahlah Re, sabar" Arkan memegang tangan kanan rea dengan tangan kirinya.
"Kamu tidak pernah nonton drama? perempuan itu bisa saja tiba-tiba melukai dirinya sendiri agar kamu mau bersamanya, atau mencoba bunuh diri didepan orang tuanya supaya orang tuanya datang dan memohon cintamu untuk anaknya" Rea berbicara dengan nafasnya yang memburu menahan marah.
Arkan tiba-tiba menepikan mobilnya dipinggir jalan, melepaskan sitbelt nya kemudian memalingkan wajah Rea kearah nya, mencium bibir gadis disampingnya, sontak Rea hanya bisa terdiam, menikmati french kiss yang laki-laki itu berikan. perlahan Arkan melepaskan bibirnya dari bibir Rea, mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya.
"Kamu terlalu marah sampai lupa memakai sitbelt, bahaya tau" kemudian Arkan memasangkan sabuk pengaman ke badan Rea.
"Aku senang kamu cemburu, tapi aku bukan laki-laki di drama yang kamu tonton itu, mau apapun yang Selena lakukan, aku tidak akan peduli, karena yang aku pedulikan cuma kamu."
"Hapus nomor Selena dari kontak HPmu" Rea bersungut-sungut
__ADS_1
"Ayo kita temui orang tuamu saja, aku akan minta lamaranan dan pernikahan kita supaya dipercepat, sebenarnya aku juga tidak sabar menunggu terlalu lama."
Rea hanya terdiam, tidak bisa berbicara apa-apa lagi.