
Axel duduk terdiam di meja kerjanya memikirkan yang dikatakan Rea di club waktu itu.
Flash back on
"Kamu tau bunga dipelaminanmu dan juga bunga yang menghiasai seluruh ruangan, kami susah payah mencarinya sampai keluar negeri, hari itu tidak hanya kamu yang sedih, aku dan semua staff yang terlibat juga sedih, bahkan aku sampai menangis," ucap Rea sambil meminum segelas soda yang sudah hampir habis di gelasnya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Axel
"Karena semua itu sangat indah, sangat disayangkan"
"Kenapa kamu bisa beranggapan bahwa aku sedih?"
"Siapa yang tidak sedih ditinggal calon pendamping hidupnya dihari pernikahannya, kecuali kamu tidak mencintainya sama sekali, dan lagi saat itu kamu terlihat begitu marah"
"Aku hanya kesal dipermalukan seperti itu, bahkan paginya aku bersyukur bahwa kemarin tidak jadi menikah"
Rea hampir tersedak soda yang dia minum
"Jangan bilang kamu juga sebenarnya tidak mau dijodohan dengan Selena"
Axel hanya tersenyum sambil menenggak minuman nya "Sepertinya banyak yang kamu tau"
Flash back off
"Hah.. Aku yang gagal menikah kenapa dia yang menangis, gadis aneh"
Seorang laki-laki masuk kedalam ruangan Axel
"Kenapa kamu bicara sendiri?"
"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu?" balas Axel
Jangan bilang masih memikirkan gadis di club yang kamu temui" tebak Rendra teman sekaligus manager di mall milik Axel
"Bukankah kamu sudah tau dia bekerja dimana, kenapa tidak langsung kamu datangi tempat kerjanya," Lanjut Rendra.
"Benar juga," jawab Axel singkat
"Ngomong-ngomong siapa nama gadis itu?"
Axel mengumpat kesal sendiri" kenapa aku bodoh sekali, aku tidak menanyakan namanya"
****
Rea sudah kembali ke Hotel, setelah memeriksa beberapa pekerjaan staff nya, dia masuk keruangannya, membuka group chat yang berisi sahabat-sahabatnya.
Rea : "hey girls, gimana kabar kalian? group sepi nih , pada sibuk ya kalian?"
Sevia : "Hei Re , iya banyak kerjaan dikantorku"
Lisa : "duh ribet dah momong Mika lagi seneng jalan kemana-mana"
Rea : "Mika.., onty Rea kangen nih, kapan pulang Indo?"
Lisa : "ntar lah kalau papinya Mika udah ga hectic sama kerjaan dikantornya biar bisa cuti"
Rea : "aku mau nikah 8 bulan lagi, kalian mau ga jadi bridesmaid?"
Sevia : "serius?? ahhhh selamat Re"
Ivy : "Nikah seneng , giliran hamil ntar kayak gue"
Lisa : "Kenapa Vy? "
Ivy : "banyak dilarangnya sama suami , sebel"
Rea : "hahahaha, kapan due date loe vy?"
__ADS_1
Ivy : "Januari tahun depan"
Lisa : "Btw Re, calon loe Arkan kan?"
Ivy : "Siapa lagi?"
Lisa : "Ya kirain gitu"
Rea : "jadi kalian mau ga? soalnya aku mau nyari kain , biar bisa aku segera kirim ke kalian"
Sevia : "Siap donk"
Ivy : "lebihin kain buat gue, badan gue bengkak mak"
Lisa : "hahahaha, ntar kalau udah lahiran juga kurus lagi , buat aku kirim aja Re, aku usahain datang , meskipun ga janji bisa datang sama papi Mika ya"
Vira :"InsyaAllah aku datang Re, maaf ya ga bisa gabung ngobrol dari tadi, hari ini pesanan banyak banget sibuk di dapur"
Rea : "Oke, makasih ya girls"
Rea memandang HP nya , menggeser kebawah melihat nama Elang dilist chat nya. Setelah Lulus SMA Elang langsung pergi kuliah ke New york, sampai sekarang Rea tidak tau apakah laki-laki itu pernah kembali ke Indonesia, karena Elang sama sekali tidak pernah menemuinya lagi, dia berjuang selama hampir 2 tahun untuk melupakan perasaan nya kepada kakaknya itu, sebelum menerima cinta Arkan.
Sempat terpikir olehnya ingin kabur ke New York menyusul Elang, tapi logikanya tidak pernah mengijinkan, bahwa didunia ini pasti ada satu hal yang tidak bisa didapatkan, karena pada dasarnya semua yang terjadi pada manusia sudah takdir yang digariskan Tuhan bahkan sebelum manusia itu lahir .
Arkan sahabat masa kecilnya yang selama ini selalu ada untuknya, yang begitu tulus mencintainya, terkadang malah membuat Rea ragu apa benar di dunia ini ada orang yang cintanya begitu besar kepada seseorang, bahkan saat Rea berkata menyukai Elang, laki-laki itu tetap bersikeras menunggu Rea dan percaya bahwa pada akhirnya hati Rea akan memilihnya.
Gadis itu akhirnya luluh dengan perasaan tulus Arkan, dan sekarang dia mencintai calon suaminya itu, tapi entah kenapa bibirnya tidak bisa mengatakan kalau dia mencintai Arkan, sepertinya masih ada sebuah ruang kecil dihatinya untuk Elang, perasaannya belum tertuntaskan kepada orang yang pernah berkata padanya bahwa dikehidupan yang akan datang dia tidak ingin dilahirkan menjadi kakak nya.
Rea tersadar dari lamunan nya, ketika seseorang mengetuk pintu dan masuk ke ruangannya.
"Bu Andrea seseorang ingin menemui anda saya minta menunggu di lobby, tapi dia malah memilih ke resto karena dia bilang ingin makan siang"
"Siapa?"
"Em..saya kurang yakin tapi sepertinya, calon pengantin laki-laki yang ditinggal kabur oleh anak Pak Gubernur"
"Axel wi, namanya Axel"
Dewi hanya tersenyum kemudian berjalan mengikuti langkah Rea.
*****
Rea masuk ke resto hotel, berjalan mendekat kemudian berdiri disamping Axel yang terlihat sedang menyantap steak sebagai makan siangnya di lengkapi dengan segelas wine.
"Bisa-bisanya dia makan steak dan minum wine disiang bolong seperti ini," pikir Rea
"Kenapa tuan mencari saya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan
Axel menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengiris daging steak yang sedang dia nikmati, meraih gelas wine kemudian meminumnya seteguk, mengelap mulutnya kemudian berbicara.
"Jadi nama kamu Rea?" Axel menyebutkan nama yang tadi di ucapkan Dewi saat mengantarnya sampai resto.
Laki-laki itu melirik ke arah nametag yang tersemat di baju gadis itu kemudian membacanya "Andreadina Bumi P?, apa kepanjangan dari P nya?" tanya Axel
"Sepertinya anda tidak perlu tau, maaf kalau anda kesini untuk membicarakan urusan pribadi saya tidak bersedia karena saya sedang bekerja," ucap Rea sambil membungkukan badannya sudah hampir berpaling meninggalkan Axel.
"Tunggu, aku kesini ingin mengganti kerugian dua vas yang aku pecahkan"
Flash back on
Axel memasuki hotel, Menuju meja resepsionis
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya bagian resepsionis ramah
"Em...." Axel terlihat berpikir "masa aku bilang aku adalah calon mempelai pria yang ditinggal putri gubernur kabur saat akan melangsungkan pernikahan disini"
"Ah terserahlah" seketika laki-laki itu membuang gengsinya dan mengatakan apa yang baru dia pikirkan tadi.
__ADS_1
Si resepsionis sedikit terkejut tapi bisa segera dia tutupi "baik, jadi maksud tuan bagaimana?"
"Aku memecahkan 2 vas milik vendor karena marah, dan sekarang aku kesini mau mengganti kerugian yang dialami hotel kalian"
"Maaf tuan, soal vas pihak hotel tidak mengganti sama sekali, karena...." "em... wakil general manager kami yang merupakan penanggung jawab acara hari itu, dia merasa l rusaknya properti milik vendor adalah tanggung jawabnya dan dia mengganti dengan uang pribadinya"
"Apa?"
Axel sangat terkejut berpikir berapa gaji orang itu sampai rela mengganti vas yang dia tau harganya hampir 70 juta .
"Apa ada yang melihat saat aku memecahkan vas itu? "
Dua orang resepsionis itu berbisik, salah satu dari mereka berbicara "sepertinya ada tuan, namanya Dewi setau kami dia pernah bercerita bahwa Bu Andrea sempat mencegah tuan tapi tuan...." tidak melanjutkan perkataan nya
Axel menemukan jawaban yang dia cari dalam kalimat resepsionis itu "Nah.. dia, Bu Andrea, aku ingin bertemu dengan nya"
Flash back off
"Anda tidak perlu mengganti, karena masalah denga vendor sudah selesai" jawab Rea
"Kamu menggantinya dengan uang pribadimu kan? Berapa sisa gaji mu sekarang Jika kamu harus mencicil ganti rugi harga dua vas itu
"Darimana dia tau?" pikir Rea
"Bahkan pasti tidak cukup untuk membayar tagihan listrik di rumahmu" ejek Axel
"Hah..." Rea mendengus kesal dengan omongan laki-laki didepannya
"Saya bisa membayar listrik atau tidak itu bukan urusan anda, maaf saya tidak ingin bermain-main dijam kerja seperti ini"
"Itu urusanku, karena aku yang menyebabkannya," ucap Axel
Rea menatap ke arah Axel, kemudian berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu tanpa berpamitan lagi. Axel terlihat sedikit kesal.
"Wahhh... kenapa aku merasa de javu begini"
Axel kemudian menuju ke kasir resto mengeluarkan kartu untuk membayar tagihan makan siangnya yang bahkan tidak dia habiskan.
Laki-laki itu berlari menyusul Rea yang terlihat sedang berdiri dimeja resepsionis menandatangani berkas. Axel mendekati Rea
"Apa lagi?" ucapnya dengan nada kesal
"Tunggu apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Axel
"Tentu, kita lebih dari sekali bertemu , pertama saat di acara pernikahan anda yang gagal" Rea berkata seenaknya karena sudah sangat kesal " kedua di Mall saat anda melerai perkelahian saya, ketiga kemarin di club dan barusan di resto"
"Bukan, kamu salah, pertama kali kita bertemu bukan di acara pernikahanku yang gagal itu, tapi di taman perumahan Bale Residence, aku pernah melihatmu berolah raga di saat jam sekolah"
"Dan pernah melihat fotomu disebuah akun gosip" batin Axel
Sontak Rea terkejut, jika benar yang dikatakan laki-laki didepannya, bukankah itu sudah lebih dari 7 tahun yang lalu, bahkan dia sudah lama tidak tinggal di perumahan itu, lagipula rumahnya juga sudah dia jual untuk membeli apartment disini.
"Jadi P itu jangan-jangan... " Axel menunjuk name tag dibaju Rea
"Kamu Putri...."
Rea menarik tangan kanan Axel menjauh dari meja resepsionis karena disana ada dua staff yang sedang berdiri dan mendengar pembicaraan mereka tadi.
"Maaf tuan Axel, saya sedang bekerja disini jangan berbicara omong kosong yang tidak perlu dibicarakan"
Axel hanya tersenyum karena sedari tadi Rea tidak sadar masih memegang lengan jas Axel. gadis itu berpaling untuk pergi masuk keruangannya.
"Kamu pasti tidak tau kan? mamamu sedang berkencan dengan papaku" teriak Axel
Sontak Rea kaget dan berbalik menatap wajah Axel yang tersenyum menggoda.
"Apa?" Rea membelalakkan matanya kaget
__ADS_1