
"Ada satu cara, tapi ini tidak bisa dilakukan disini, kamu harus pergi keluar negeri," Kinanti melepas pelukannya ke Rea.
"Cara apa?" Rea menghapus air matanya, menunggu penjelasan Kinanti.
"Test DNA janin" ucap Kinanti.
-
-
-
-
Dua hari kemudian sebelum meninggalkan rumah sakit, Rea dan Arkan duduk diruang praktik Kinanti, mendengarkan solusi yang disarankan oleh dokter spesialis kandungan sekaligus calon kakak iparnya itu.
"Untuk tahu siapa ayah dari dalam kandungan Rea kita bisa melakukan test DNA dari janin yang masih ada dalam kandungan, sampelnya bisa diambil dari cairan amnion atau dari villi chorialis pada saat usia kandungan 10-12 minggu, bicarakanlah dulu dengan Axel karena kita juga butuh sampel DNA miliknya.
Rea terdiam menatap kearah jendela mobil, masih mengingat ucapan Kinanti.
"Kamu tidak boleh stress, pikirkanlah hal-hal yang membuatmu bahagia, janinmu sekarang masih sangat kecil, ukurannya sebesar biji opium, ingat bayi itu kemungkinan anak Arkan, jangan berbuat sesuatu yang mungkin akan kamu sesali nanti."
Arkan menggenggam tangan Rea sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Jordan untuk menemui Axel. Laki-laki itu berpikir semalaman, sehancur apapun perasaannya, sebenci apapun dia kepada Axel, menjaga hati sang istri adalah prioritasnya, tak mudah untuk dirinya, tapi akan lebih menyakitkan jika dia harus kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
"Kita hadapi bersama, apapun yang terjadi aku akan selalu berada disisimu," ucap Arkan.
Lidia menghambur saat melihat anak perempuannya datang, Rea memang tidak ingin sama sekali dibesuk keluarganya saat berada dirumah sakit.
Melihat gadis itu datang bersama suaminya, Axel hanya bisa memandang dengan ekspresi datar. Mereka kemudian berbicara diruang kerja Jordan.
Arkan menjelaskan apa yang disarankan Kinanti kepada dia dan Rea tadi.
"Kenapa tidak menunggu sampai bayi itu lahir baru lakukan test DNA?" tanya Axel.
"Menunggu? Kamu pikir aku akan dengan suka rela mengandung anakmu?" jawab Rea ketus.
"Jika dari hasil test DNA bayi ini adalah anakmu aku akan menuntut ke pengadilan, sampai diberikan ijin secara legal untuk menggugurkannya," lanjut Rea.
Semua orang terdiam, tidak menyangka bahwa Rea sampai punya pikiran seperti itu.
Akhirnya tanpa perdebatan mereka memutuskan untuk menyetujui saran dari Kinanti, dan mengikuti apapun kemauan Rea.
Saat semua orang akan beranjak pergi dari sana Axel meminta ijin berbicara berdua dengan adik tirinya itu. Rea awalnya menolak, tapi Axel terus memohon.
Rea menatap kearah suaminya yang menganggukkan kepala sambil menggenggam erat tangannya sebelum melepaskannya dan keluar dari ruangan itu.
"Bicaralah! katakan apa yang ingin kamu katakan, aku tidak ingin berlama-lama disini," ketus Rea.
"Aku ingin meminta maaf, maaf sudah membuatmu terluka," ucap Axel.
__ADS_1
Rea hanya tersenyum sinis. "Permintaan maafmu tidak akan merubah apapun."
"Re, aku mohon padamu," lirih Axel.
"Jika nanti hasil test DNA menyatakan bahwa bayi dalam kandunganmu adalah anakku, aku mohon jangan buang dia, aku mohon lahirkan dia kedunia, setelahnya aku berjanji akan membawanya pergi jauh," pinta Axel, suaranya tercekat seolah menahan sesak didadanya.
"Apa kamu tidak terlalu serakah meminta itu kepadaku? Kamu sudah hampir menghancurkan rumah tanggaku Ax, menghancurkan hidupku. Jika suamiku itu tidak berhati malaikat, apa kamu pikir dia masih bisa bersikap setenang itu tadi? melahirkan anakmu? Jangan mimpi!" Rea keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu kasar.
Axel terdiam, perasaannya benar-benar kalut.
❤❤❤❤❤
Malam harinya tak seperti biasa Rea memilih tidur membelakangi Arkan, ia masih memikirkan soal siapa ayah dari bayi yang ada dikandungannya. Suaminya menggeser badan memeluk tubuh Rea dari belakang, menciumi rambut istrinya penuh kasih sayang.
"Kenapa belum tidur?" bisik Rea.
"Bagaimana mungkin aku bisa tidur kalau kamu membelakangiku seperti ini," jawab Arkan.
Rea tersenyum kemudian membalikkan badannya, menelusupkan kepalanya didada bidang Arkan.
"Aku yakin dia anak kita." Arkan membawa tangannya ke perut sang istri, membelainya penuh kasih.
"Bagaimana jika tidak?" suara Rea masih terdengar biasa tapi air mata sudah deras mengalir membasahi pipinya.
"Jika tidak, dia tetaplah anakmu, aku mungkin bukan ayah biologisnya, tapi aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri."
Rea menatap Arkan sambil berlinangan air mata.
Arkan mencium pucuk kepala istrinya dan berbisik "Kamu terlalu meremehkan cintaku sayang, aku tidak mencintaimu hanya untuk mendapatkan tubuhmu, lebih dari itu aku mencintaimu karena hatimu, dan jangan lupa masih ada kemungkinan lima puluh persen bayi ini anak kita, aku akan lebih giat berdoa agar kemungkinan itu menjadi seratus persen."
Rea terdiam, baginya Arkan adalah laki-laki terbaik yang Tuhan kirimkan kepadanya.
❤❤❤❤❤
Tiga minggu telah berlalu, Rea mendapatkan morning sickness parah, apa yang dia makan tidak bisa ia telan, tubuhnya seolah hanya mau menerima buah-buahan. Ia lemah wajahnya pucat, membuat Arkan yang pagi itu akan berangkat kerja memilih untuk ijin dan membawa istrinya ke rumah sakit.
Ken memeriksa keadaan Rea, meminta gadis itu berbaring untuk melakukan USG kandungan. Mata Ken berbinar menatap kelayar monitor disampingnya.
"Re, kamu mengandung bayi kembar."
Wajah Ken terlihat sumringah, begitu juga Arkan, Rea yang selama ini masih setengah hati mengetahui terdapat kehidupan didalam tubuhnya sontak juga ikut merasakan perasaan bahagia.
"Aku akan meresepkan vitamin untuk mengurangi morning sickness nya, kamu harus lebih ekstra menjaga kandunganmu karena ada dua janin didalamnya," papar Kinanti.
"Kamu cukup datang satu bulan lagi jika semua baik-baik saja, lalu jika kamu masih ingin melakukan test DNA janin, aku akan menghubungi temanku di Singapore untuk menyiapkan semuanya."
"Aku tetap ingin melakukannya Ken, jadi tolong bantu aku!" pinta Rea.
Selepas dari sana pasangan suami istri itu memilih pergi kerumah Farhan. Arkan yang berkata tiba-tiba ada urusan meminta Elang menjaga istrinya.
__ADS_1
Farhan yang sudah tau apa yang terjadi pada anak perempuannya tidak bisa berkomentar apapun, ia hanya meminta Rea untuk tetap menjaga kandungannya dan selalu bahagia.
Elang terlihat ikut senang mendengar adiknya mengandung bayi kembar.
"Wah.... aku tidak bisa membayangkan langsung mendapat dua keponakan, apalagi jika keduanya memiliki sifat sepertimu," ledek Elang.
Rea hanya tertawa, sejenak ia lupa akan permasalahan siapa ayah biologis dari bayinya.
Sementara itu Arkan tengah duduk berhadapan dengan Axel disebuah kafe. Axel memulai pembicaraan terlebih dahulu, mereka secara bergantian mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan.
"Aku ingin memohon padamu," ucap Axel.
"Katakan!"
"Jika nanti dari hasil test DNA anak yang dikandung Rea adalah anakku, jangan biarkan Rea melalukan apa yang pernah dia ucapkan."
"Kamu pikir Rea sejahat itu? Aku juga tidak akan membiarkannya, karena aku yakin bayi yang dikandung istriku adalah anakku, jadi jangan terlalu percaya diri."
Axel mengehela napasnya panjang.
❤❤❤❤❤
Satu bulan telah berlalu, Rea menatap perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit. Morning sickness nya sudah sedikit reda karena vitamin yang diberikan Kinanti.
Arkan membuka ponselnya membaca sebuah artikel sambil memandang kearah istrinya.
"Disini dikatakan jika hamil anak kembar perutmu memang akan terlihat jauh lebih besar dari pada wanita yang hamil tunggal," papar Arkan.
Rea mendekat lalu berdiri didepan suaminya yang sedang duduk ditepian ranjang, ia meraih ponsel ditangan Arkan, membaca artikel yang laki-laki itu buka, sementara Arkan sibuk menciumi perutnya.
"Apa kamu sudah merasakan bayi kita menendang?"
"Belum, aku belum merasakannya." Rea melempar ponsel Arkan ke kasur, membawa tangannya untuk membelai rambut suaminya yang masih sibuk menciumi perutnya.
"Besok kita harus bertemu Ken, dia bilang minggu depan kita bisa terbang ke Singapore untuk melakukan test itu," ucap Rea.
Arkan mendongak, untuk sejenak mereka saling beradu pandang.
"Aku sudah siap dengan segala kemungkinan sayang, tapi entah kenapa aku masih takut, dan ketakutanku masih sama, aku takut bahwa bayi ini bukan anakmu."
"Aku yakin dia anakku, jadi jangan khawatir," jawab Arkan.
Mereka akhirnya melakukan tes untuk mengetahui bayi siapa yang ada dikandungan Rea. Ternyata hasil tes tidak langsung bisa keluar saat itu juga. Pihak rumah sakit berkata akan mengirim hasilnya ke Indonesia.
Belakangan Axel selalu berdoa disepertiga malamnya, meminta agar bayi didalam kandungan Rea adalah benar-benar anaknya.
"Hamba tidak bisa memiliki wanita itu, hamba mohon jadikanlah bayi yang ada dikandungannya adalah benar anak hamba."
Axel tidak bisa kembali memejamkan mata sampai matahari terbit, ia terdiam menatap keluar jendela kamarnya.
__ADS_1
"Re, aku harap bayi itu anakku, karena memiliki anak darimu sudah cukup untukku, setidaknya dia adalah bukti bagaimana aku sangat mencintaimu, meskipun kehadirannya dirimu anggap sebuah kesalahan."
Mereka bertiga dihinggapi rasa cemas, karena hari itu Kinanti akan memberi tahu hasil test DNA janin yang ada dalam kandungan Rea.