
"Pembohong, kamu bilang tidak punya perasaan apa-apa ke Selena, tapi dengan mudahnya kamu mau menikahi dia, hebat Ar kamu benar-benar hebat," ucap Rea sambil tersenyum pilu.
Arkan hanya bisa terdiam mencoba mendekat ke arah gadis itu yang perlahan memundurkan badan menjauh darinya.
"Jangan pernah menemui aku lagi, jangan pernah berani memperlihatkan wajahmu ke aku," bentaknya sambil menangis.
Rea melepaskan cincin tunangannya dari jari manisnya, melemparkan benda berwarna silver itu ke arah Arkan.
"Aku benar-benar benci sama kamu."
Rea berlari keluar pintu kamar Arkan, menuruni anak tangga kemudian berlalu tanpa menyapa orang-orang yang ada diruang tamu, tangannya meraih handle pintu mobil Axel yang terparkir dihalaman, yang dia tau tidak sempat dikunci oleh kakak tirinya itu.
"Jangan menyetir dengan kondisi seperti ini!" Axel memegang tangan Rea yang sudah hampir membuka pintu mobil miliknya.
"Ayo aku antar pulang," ucap Axel.
Gadis itu malah menangis tersedu-sedu, Axel merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.
"Jangan seperti ini Re, ini bukan dirimu," ucap Axel.
Axel membuka pintu penumpang memapah Rea masuk kedalam, kemudian dia mengganggukkan kepala ke Andi dan Laras yang sedari tadi melihat mereka dari depan pintu untuk berpamitan pulang.
Sepanjang perjalanan Rea hanya terdiam, tidak ada satu katapun keluar dari bibirnya.
Axel pun tidak berani mengajak bicara gadis disebelahnya itu.
"Antar saja aku ke apartemenku!" hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Rea.
"Apa kamu tidak ingin tidur dirumah mama saja?" tanya Axel.
Gadis itu terdiam, akhirnya Axel dengan berat hati mengantar Rea pulang ke apartemennya.
Sesampainya disana gadis itu masuk kedalam tanpa berkata apa-apa bahkan tidak menutup pintu unitnya, akhirnya Axel yang menutup pintu dan memilih pulang meninggalkan gadis itu sendirian.
Rea masuk kedalam kamarnya, membenamkan mukanya ke bantal, menangis lagi disana. Hatinya benar-benar hancur rasanya lebih sakit dari sekedar patah hati.
Rea berlari kekamar mandi tanpa melepas bajunya mengguyur seluruh badannya dengan air dingin, kembali menangis dibawah guyuran shower, dia berhenti menangis setelah merasa kedinginan dan merasa napasnya menjadi tidak beraturan.
Gadis itu duduk dimeja riasnya memandangi wajahnya sendiri sambil menyisir rambutnya, air matanya menetes lagi tapi buru-buru dia hapus sambil sesekali mengambil napas dari mulutnya, tangannya membuka laci dimeja riasnya menggambil sebuah gunting, mengeluarkannya dengan sedikit ragu kemudian mulai menggunting rambut panjangnya sendiri.
Ia berdiri membuka lemari bajunya, memilih baju yang terbuka, memesan taxi online untuk pergi kesuatu tempat, sebelum keluar dari apartemennya Ia sempatkan mengganti password pintu tempat tinggalnya itu.
Dengan gaun diatas lutut dan sepatu hak tinggi, Rea masuk ke club malam setelah pergi kesalon untuk merapikan rambutnya, ia memotong rambutnya sebahu, disana ia memesan banyak minuman yang diniatkan untuk dihabiskannya sendiri.
Seteguk dua teguk akhirnya terus-terusan, gadis itu sedang berusaha membuat dirinya mabuk, tapi entah kenapa meskipun sudah banyak yang dia tenggak dia masih bisa merasakan sakit dihatinya.
Dua orang laki-laki tak dikenal duduk didepan Rea mencoba menggodanya, gadis itu malah tersenyum menanggapi dan mengobrol, dua laki-laki itu dengan senang hati mendengarkan omongan Rea yang sama sekali tidak mereka mengerti.
__ADS_1
"Lihat apa potongan rambutku bagus? dia bilang suka rambut panjangku, aku benci mengingatnya jadi aku memotong rambutku pendek," oceh Rea yang sudah mabuk sambil meniup-niup poni diatas dahinya.
"Menurut kalian apa yang harus aku lakukan ke laki-laki brengsek seperti itu, pembohong, penipu!"
"Tinggalkan saja, masih ada laki-laki baik seperti kami yang dengan senang hati rela menjadi kekasihmu," mata kedua laki-laki itu saling melirik licik.
"Lalu apa yang harus aku perbuat ke gadis tak tau malu itu, padahal dia yang berlari kedepan mobilku, kalau sampai dia lumpuh kenapa aku yang disalahkan?"
Rea tertawa cekikikan kemudian menangis, membuat dua laki-laki itu saling pandang.
"Ayo kita pergi dari sini" ajak kedua laki-laki itu.
Gadis itu sudah mabuk, satu orang pria melingkarkan tangan dipundak Rea untuk memapahnya berdiri, tiba-tiba sebuah tangan menepis tangan pria itu.
"Lepaskan!" perintah laki-laki itu.
"Memang kamu siapa?" pria yang memapah Rea terlihat memasang wajah garang.
Dua penjaga club tiba-tiba masuk dan melerai mereka "tuan tolong lepaskan Nona itu," ucap salah satunya.
Kedua pria itu kemudian tersadar bahwa laki-laki didepannya bukan orang sembarangan.
Setelah kedua laki-laki itu pergi, Axel memberikan sejumlah uang kepada penjaga club yang membantunya tadi.
Axel terlihat menunduk dan mengucapkan terima kasih kepada bartender yang menghubungi dirinya dan memberitahu bahwa Rea tengah mabuk sendirian di club.
❤❤❤❤❤
Sampai dirumah gadis itu terlihat masih tertidur, Axel menggendong adik tirinya kedalam, terlihat Lidia dan Jordan yang masih duduk diruang tengah berdiri cemas melihat Rea yang berada digendongan Axel.
"Kenapa dia Ax?" tanya Lidia kawatir sambil mendekat ke arah anak tirinya itu.
"Dia mabuk ma, biar Axel bawa ke kamarnya dulu."
Lidia menggangguk kemudian ikut naik ke atas bersama suaminya, wanita itu berjalan pelan-pelan karena usia kandungannya juga sudah mulai besar.
Axel membaringkan Rea dikasur, melepaskan heel yang gadis itu kenakan, sementara Lidia sudah menangis di pelukan Jordan.
"Kenapa bisa anakku juga bernasip seperti ini, diperlakukan jahat olah orang yang dia cintai," ucap Lidia pilu.
Jordan hanya terdiam mengusap lembut punggung istrinya.
"Ayo kita keluar biarkan Rea istirahat" ajak Jordan sambil memapah istrinya.
"Kamu juga butuh istirahat," lanjutnya.
Axel melihat kedua orang tuanya sudah keluar kamar, tapi laki-laki itu tidak langsung ikut menyusul, dia memilih memandangi wajah gadis yang tengah tertidur itu lekat, Axel melihat cairan bening menetes dari sudut mata Rea, Ia mendekat kemudian menghapus air mata itu.
__ADS_1
"Apa kamu begitu sangat mencintai Arkan? sampai didalam mimpimu pun kamu masih menangisi dia," bisik Axel.
Axel kemudian beranjak pergi setelah menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Rea, ia masuk kedalam kamarnya sendiri, merebahkan dirinya di kasur lalu mengusap wajahnya kasar.
❤❤❤❤❤
Sementara Arkan hanya mengurung diri dikamarnya, bahkan saat mamanya meminta dia untuk makan dia tetap mengunci diri.
Andi mengetuk pintu kamar anaknya dia tau pasti anak sulungnya itu belum tidur, dia membuka pintu kemudian masuk melihat anaknya yang sedang duduk ditepi ranjang, pria itu memilih berdiri didepan anaknya.
"Kamu laki-laki kan Ar? kalau kamu memang laki-laki kamu harus bertanggung Jawab dengan keputusanmu, kalau kamu memang mau menikahi Selena kamu harus bersikap gantle, yang harus kamu ingat jika dia sudah menjadi istrimu nanti kamu harus memperlakukan dia selayaknya istri, kamu harus mencintainya menafkahi dia lahir dan batin," ucap Andi.
Arkan hanya terdiam.
"Papa tau kamu berkorban seperti ini karena sangat mencintai Rea," Andi menepuk pundak anaknya.
Tanpa dia duga anaknya menangis, Andi menghela napas kemudian memeluk Arkan.
"Laki-laki tidak boleh cengeng apalagi kamu sudah mau menjadi imam bagi seorang wanita," ucap Andi.
Laras yang melihat kedua laki-laki yang dicintainya dari balik pintu terisak menutup mulutnya dan sesekali menghela napas merasakan sesak didadanya juga.
"Gadis itu rapuh, aku sangat takut kehilangan dirinya jadi aku berusaha menjaganya.Tapi keputusanku mungkin terlalu kejam, aku menyakiti dengan dalih melindungi. Biarkan saja hidupku hancur karena hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan. Sebuah takdir menyedihkan, takdir yang tidak dapat kuhindari untuk menikahi wanita lain, tapi bagiku hanya ada satu orang yang akan selalu aku cintai, REa" ~ ArKAN
❤❤❤
"Aku mengenalmu Ar, aku tahu perasaanmu bahkan tanpa kamu katakan, tapi kenapa memutuskan seperti ini? Inikah akhir kisah kita? Bukankah ini sangat kejam? Baru saja aku yakin bahwa kamu adalah takdirku,
tapi kenapa? kenapa Ar?"
"Kamu adalah orang yang paling aku cintai Ar, juga yang paling menyakiti. Aku berharap angin bisa membawaku pergi jauh, aku sudah tidak punya harapan untuk cinta yang menyakitkan ini, aku menyerah," ~ Rea
-
-
-
-
-
-
Terima kasih untuk para Reader yang sudah mau baca
Please LIKE 👍
__ADS_1
Jangan lupa KOMEN 💋