Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 108


__ADS_3

"Noah, kenapa ngomong gitu ke mama?" tanya Arkan setelah sang istri menceritakan apa yang dikatakan Noah tadi siang kepadanya.


Arkan yang berdiri sambil menggendong sang anak yang tengah sibuk bermain dengan robot-robotan kecil di tangannya itu terlihat heran, ia masih tidak percaya sepenuhnya dengan cerita sang istri.


"Karena mereka bilang aku bukan anak mama," jawab Noah polos.


"Siapa yang bilang?" tanya Arkan penasaran.


"My Schoolmate," lirih anak itu


Rea yang sedang duduk sambil memperhatikan kedua laki-laki yang sangat ia sayangi itu tentu saja terkejut mendengar jawaban Noah.


"Mereka bilang apa?" Andi yang muncul dari lantai atas terlihat ikut menanyakan hal itu kepada sang cucu, pria itu meraih Noah dari gendongan sang anak, memangkunya duduk sambil bersandar di sofa.


"Apa yang di katakan teman sekolah mu?" tanyanya lagi.


"Mereka bilang aku tidak mirip mama."


Semua orang yang ada disana saling melempar pandang sadar bahwa Noah pasti sudah sedikit mengerti dengan kondisinya yang ditinggalkan sang ibu kandung begitu saja.


"Noah, kamu tau? adik bayi dalam perut mama ini salah satunya juga nanti mungkin terlahir tidak mirip papa, bisa saja mirip om Axel."


Rea memandang ke arah suami dan papa mertuanya, bagaimanapun yang diucapkan Rea ada benarnya, dan dia tidak sepenuhnya berbohong kepada anak itu.


"Apa menurutmu adik bayi bukan anak mama? padahal mama yang melahirkannya nanti?" lanjut Rea.


Anak itu meletakkan mainannya di pangkuan sang kakek, wajahnya terlihat berpikir.


"No," jawabnya.


"Nah...makanya, Noah itu anak mama Rea dan papa Arkan," ucap Andi sambil mencium pipi anak itu.


"But, I think my mom is Samantha."


"Tapi aku pikir mamaku adalah Samantha," ucap Noah.


"No, your mom is her."


"Bukan, mamamu adalah dia." Andi menunjuk ke sang menantu.


Noah menganggukkan kepala, kemudian menyandarkan kepalanya di dada sang kakek.


Setelah kejadian itu Rea semakin over protective ke Noah, ia bahkan langsung menemui sang guru untuk membicarakan hal itu.


***


Mendekati hari kelahiran anak mereka, Rea dan Arkan seperti pasangan yang tidak memiliki rumah sendiri, mereka terkadang tiga hari tinggal di rumah Andi, dua hari di rumah Jordan, sisanya mereka pulang ke rumah sendiri, itupun jika waktunya memungkinkan bagi keduanya.


Hari ini mereka pergi ke rumah Jordan, di sana Axel sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Bebe dan Bubu. Ketiganya terdiam memandangi dua buah box bayi yang sudah diatur Axel di sana.


"Apa kalian yakin anak kalian nanti mau tidur di box bayi?"


Ucapan Lidia membuat ketiganya terkejut, Axel yang melihat sang mama masuk sambil menggendong Ale langsung meminta sang adik dari gendongan sang mama, Ale sekarang udah hampir berusia dua tahun, anak laki-laki itu benar-benar akan menjadi om yang paling imut untuk Bebe dan Bubu.

__ADS_1


"Rea waktu bayi bisa tidur nyenyak di kasur, tapi kalau mama pindah ke box bayi ga sampai sepuluh menit dia akan bangun dan menangis."


Lidia mendekat ke arah anak gadisnya yang terlihat tersenyum mendengar cerita sang mama.


"Semoga Bubu saja yang seperti itu," canda Arkan.


Axel yang mendengar hanya tertawa, laki-laki itu membanggakan dirinya sendiri dengan berkata sudah benar-benar siap menjadi ayah siaga untuk anaknya nanti.


"Hari perkiraan lahirnya masih dua minggu lagi kan?" tanya Lidia yang mendapat anggukan kepala anaknya.


"Tapi kamu harus sudah benar-benar siap, biasanya bisa maju dari HPL."


Rea kembali tersenyum, sebenarnya dari pagi ia memang sudah merasakan ada yang aneh di perutnya, namun masih berpikir itu hanya kontraksi palsu seperti yang dijelaskan Kinanti dan buku tentang kehamilan yang dia baca.


***


Malam harinya gadis itu gelisah, kandung kemihnya seolah dijadikan bantalan empuk oleh kedua bayinya, Rea harus bolak balik pergi ke kamar mandi, sampai saat ia sudah membaringkan tubuhnya di samping Arkan, rasa aneh di perutnya kembali datang, rasa yang berbeda dari yang pertama.


Rea meraih ponselnya membuka aplikasi penghitung kontraksi dan mulai mencatat waktu datangnya, ia memilih memasang earphone untuk mendengarkan musik yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman, berusaha mengatur napasnya saat rasa sakit di perutnya kembali datang.


Namun, sebaik-baiknya gadis itu mengikuti semua anjuran dari kelas hamil yang dia ikuti, melahirkan merupakan pengalaman pertama bagi dirinya, Rea mulai panik saat nyeri semakin terasa di bagian bawah perutnya.


"Sayang bangun!" Rea menggoyangkan tubuh Arkan.


Suaminya terlihat terkejut mendapati wajah sang istri tercinta sedikit pucat.


"Kenapa?" tanyanya panik.


"Anakmu kayaknya mau lahir sekarang," lirihnya.


Arkan yang masih tak percaya langsung meloncat dari ranjangnya, berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan mengganti bajunya, laki-laki itu terlihat panik dan malah menjadi hiburan tersendiri untuk Rea yang sedang menahan sakit dari kontraksi yang dialaminya.


Mereka pergi ke rumah sakit tanpa berpamitan ke orang rumah, berniat mengabari jika memang sudah tahu kondisi pasti keadaan Rea, karena terkadang jika belum ada pembukaan di jalan lahir pasien dipersilahkan untuk pulang lebih dulu.


Sampai di UGD rumah sakit, Rea dipersilahkan oleh Bidan jaga untuk berbaring di atas ranjang kemudian menekuk kedua lututnya guna pemeriksaan pembukaan jalan lahir.


Rea membulatkan bola matanya merasakan sesuatu masuk ke organ intimnya meskipun dia sudah tau betul begitulah cara mengecek pembukaan saat akan melahirkan.


"Sudah pembukaan lima," ucap Bidan jaga itu.


"Dokter kandungan anda dokter Ken bukan?" tanyanya lagi.


Rea hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan sang Bidan, Ia seolah merasa harus menyimpan penuh tenaganya untuk persalinannya yang bisa dipastikan tak lama lagi.


"Dokter Ken masih belum selesai praktik, nanti akan saya sampaikan kalau pasiennya sudah akan melahirkan," ucap Bidan itu.


Rea tersenyum, dia merasa bersyukur karena sepertinya Kinanti masih menjadi dokter pilihan di rumah sakit itu setelah kejadian klarifikasinya yang menggemparkan publik, bahkan pukul satu dini hari calon kakak iparnya itu masih sibuk dengan antrian pasien.


Sebuah kamar VVIP menjadi saksi bisu dimana Rea menahan sakit yang teramat di punggung dan pinggangnya, ia memilih untuk menyamankan diri dengan duduk di birthing ball sambil terus mendengarkan lagu yang membuatnya tenang.


Kinanti terlihat datang setelah praktiknya selesai, membantu mengusap dan memijat pinggang sang calon adik ipar untuk mengurangi rasa sakit.


"Aku tidur bentar ya Re, kalian sebaiknya juga tidur, mungkin subuh aku kesini lagi," pamit Kinanti.

__ADS_1


"Ken apa aku boleh makan cokelat?" tanya Rea sebelum Ken benar-benar keluar dari ruangannya.


"Boleh lah, kenapa tidak?" jawab Ken sambil tertawa mendengar pertanyaan aneh dari pasiennya itu.


Karena tidak ingin meninggalkan sang istri sendirian di kamar dengan kondisi kesakitan, Arkan memilih untuk menelpon Axel, memberi tahu laki-laki itu bahwa Rea akan segera melahirkan.


Axel yang panik, berlari keluar rumah tanpa mengganti bajunya, sesampainya di sana ia meletakkan bungkusan yang dia bawa di meja, mendekat panik ke arah adik tirinya, laki-laki itu hanya bisa menepuk pundak Rea, entah kenapa wajahnya terlihat begitu sedih, mungkin karena Ia merasa tidak bisa berbagi rasa sakit yang tengah dirasakan gadis yang dicintainya itu.


Arkan mendekat memberikan cokelat yang sudah ia buka ke sang istri, mereka tertawa melihat Axel yang panik bahkan sampai tidak mengganti bajunya.


Rea menarik-narik ujung kaos polos berwarna putih yang dipakai Axel sambil menggoda, "Serius kamu mau menyambut kelahiran anakmu dengan kaos belel dan celana pendek seperti ini Ax?"


Axel yang baru sadar terlihat sedikit malu, ia berkata akan menelpon sang mama untuk membawakan baju ganti nanti.


Rea terlihat meremas sprei ranjangnya saat merasakan sakit yang tak tertahankan, semua pelajaran yang dia dapat untuk menghadapi persalinan seketika buyar tergantikan dengan tangisan.


"Ar, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya Axel panik.


Arkan yang juga terlihat bingung terlihat mengusap dan memijat punggung sang istri seperti yang Kinanti lakukan tadi.


"Apa mau operasi saja?" tanya Axel lagi.


Rea menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus meringis menahan nyeri. Axel memilih memanggil bidan jaga di luar, betapa terkejutnya laki-laki itu saat melihat bagaimana cara sang bidan memeriksa pembukaan jalan lahir.


Arkan memakai telapak tangannya untuk memalingkan kepala Axel yang terlihat terbengong dan hampir saja melihat milik pribadi sang istri.


"Loe jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," ujar Arkan.


"Bukan maksud Ar," jawabnya.


"Sudah pembukaan sempurna, saya akan segera mengabari dokter Ken, apa suaminya ingin menemani?" Bidan itu terlihat bingung karena ada dua laki-laki yang tengah menunggui Rea disana.


"Saya yang akan menemani, saya suaminya," ucap Arkan.


Axel hanya mengiyakan karena ia sadar akan posisinya.


***


Kinanti terlihat santai memakai sarung tangan bedah dan membiarkan perawat memakaikan masker untuknya, sementara wajah Arkan terlihat panik di samping sang istri yang sedang berjuang melahirkan anaknya ke dunia.


"Ken, santai banget sih loe," tanya Arkan yang ikut pucat melihat gadis yang dicintainya kesakitan seperti itu.


"Gue mah udah biasa kali Ar ngadepin orang lahiran," jawab Ken.


"Ampun kalian kenapa malah ngobrol?" Rea marah mencengkeram lengan sang suami, membuat beberapa orang yang ada disana tertawa.


Dengan arahan Ken, Rea berhasil melahirkan bayi pertamanya, hanya selang beberapa menit bayi keduanya juga lahir dengan kondisi sehat, kedua bayi mungil itu terdengar menangis bersahutan, membuat Axel yang tengah menunggu di luar terlihat bahagia.


Arkan menciumi wajah sang istri berkali-kali, Rea hanya bisa menangis di lengan sang suami. Mereka benar-benar merasa bahagia saat kedua bayi itu ditengkurapkan ke dada ibunya, bibir mungil dan pipi merah keduanya begitu menggemaskan.


Seorang perawat memanggil Axel untuk masuk ke dalam. Ax hanya bisa memandang dari kejauhan, melempar senyum ke arah Rea yang masih terbaring lemah dan Arkan yang masih setia berada disampingnya, sementara kedua bayi yang baru saja Rea lahirkan mendapat perawatan dari Bidan.


"Karena kita tidak tau mana Bubu dan mana Bebe, maka kalian bisa mengadzani dua-duanya, tak masalah kan?" ucap Kinanti sambil menyerahkan bayi pertama ke Arkan, sedangkan seorang Bidan memberikan bayi kedua kepada Axel.

__ADS_1


"Untuk test DNA hasilnya tidak bisa langsung keluar, tapi semoga golongan darah keduanya berbeda jadi kita bisa menebak lebih dulu mana yang Bubu dan mana yang Bebe," lanjutnya.


Arkan dan Axel hanya mengiyakan omongan Kinanti, mereka sibuk memandangi bayi mungil yang berada di tangan mereka masing-masing.


__ADS_2