Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 156 EndVer2 MBYDL : 11


__ADS_3

Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰


Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.


_


_


_


_


_


Menggenggam erat tangan Rea, Axel menangis sejadi-jadinya. Rea menatap Ax curiga, air matanya sudah membanjiri pipinya, Ia sadar sesuatu yang buruk telah terjadi.


Ia mendapat transfusi darah, Rea merasa sudah lama operasi itu berjalan, apa yang dilakukan Ken, dimana bayinya, lirih dia bertanya ke Axel. Namun, tak ada jawaban dari laki-laki itu, yang ada hanya air mata, menerka, Rea bertanya ke Ax yang masih menggenggam erat tangannya.


"Dimana dia Ax? mana anak kita?"


Menunduk sambil membenamkan kepalanya disamping kepala Rea, Axel menangis terisak, pundak laki-laki itu bergetar hebat.


"Kenapa tidak aku saja? Kenapa harus dia?" Rea menjerit menyadari bayinya telah tiada, semua orang diruang operasi itu seolah ikut merasakan kesakitan yang dialami Rea.


Kinanti juga terlihat menangis, pundak dokter kandungan itu bergetar, bibirnya mengucapkan kalimat syukur berkali-kali, Axel menatap dengan pandangan terima kasih yang dalam ke arah istri calon kakak iparnya yang terlihat tengah dipeluk oleh salah satu rekannya sesama dokter.


Plasenta di dalam kandungan Rea terlepas sebelum waktunya persalinan, menyebabkan pendarahan hebat di dalam tubuh gadis itu, bayi laki-laki buah cintanya dengan Ax tidak bisa diselamatkan, bahkan Kinanti sempat syok mendapati rahim Rea tak berdenyut.


Selama hampir dua puluh menit tadi Kinanti berusaha mengembalikan denyut rahim Rea, jika tidak kembali dalam tiga puluh menit pengangkatan rahim harus dilakukan dan itu berarti Rea tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi dari rahimnya sendiri.


Melihat ekspresi Kinanti, Ax merasa lega, meskipun Ia terpukul mendapati bayinya tidak bisa diselamatkan, Ia bersyukur bahwa gadis yang sangat dicintainya masih bisa bertahan.


Rea kehilangan hampir delapan liter darah karena kondisi Solusio Plasenta yang dialaminya, gadis itu bingung karena merasa kondisinya tidak sedang kritis tapi dia diinapkan ke ruang ICU. Ia baru sadar dengan kondisinya saat lagi-lagi harus mendapatkan tranfusi darah.


Air matanya mengering, seluruh badannya merasa sakit, tapi bukan sakit karena sayatan bekas operasi yang baru saja dilaluinya, tapi karena Ia kehilangan bayinya.


Ken masuk ke dalam kamar Rea sambil menggendong bayi adik iparnya itu yang telah tiada, memberikannya ke tangan Rea, mereka menangis kembali.


Rea menciumi bayi mungilnya yang terlihat seperti sedang tidur itu, bedanya tubuh bayi itu tak sehangat bayi pada umumnya, memeluk darah dagingnya dengan Axel, Rea kembali meraung seperti orang gila.

__ADS_1


"Maafkan mama! maafkan mama yang tidak bisa menjagamu! anakku."


Melihat adik iparnya, Ken merasa sangat bersalah. Ia memilih keluar dari ruangan itu sambil menghapus buliran air mata yang terus membanjiri netranya.


Ax mendekat, memeluk Rea yang masih terus mendekap erat bayinya. "Kenapa Tuhan menghukumku seperti ini? kenapa bukan aku saja yang mati?"


"Jangan berkata seperti itu, aku mohon!" Ax terus memeluk Rea, sampai gadis itu terlihat agak tenang.


Rea mengusap pipi bayinya, menciumi pipi bayi itu yang dingin. Mengulurkan tangannya, Ax meminta bayi itu dari pelukan Rea.


"Aku akan memakamkannya hari ini juga, kasihan anak kita jika terlalu lama kita membiarkannya seperti ini, kita harus ikhlas!"


Dengan berat hati Rea memberikan bayinya, membiarkan Ax membawa anaknya pergi.


Kabar tentang Rea dan bayinya yang meninggal sudah terdengar ke semua keluarga besar. Merekapun silih berganti mengunjungi Rea di rumah sakit untuk memberi dukungan.


Menggenggam tangan Kinanti yang datang untuk memeriksa dirinya, Rea mengucapkan terima kasih, selama tiga hari dirawat kondisinya terlihat semakin membaik.


"Jangan merasa bersalah Ken! Ax sudah bercerita bahwa kamu dengan sekuat tenaga berusaha menyelamatkan rahimku saat operasi,terima kasih! dari dulu kamu selalu manjadi penyelamatku," lirih Rea.


"Jangan berkata seperti itu! sudah seharusnya kakak melindungi adiknya, cepatlah pulih agar kita bisa berkumpul kembali," ucap Ken sambil mengusap rambut adik iparnya.


Duduk di samping pujaan hatinya yang tengah berbaring, Ax mengusap lembut pipi gadis itu, linangan air mata kembali membasahi pipi Rea begitu juga dengan Axel, laki-laki itu menyandarkan kepalanya di samping bantal Rea, membuat jarak antara wajah mereka hanya hitungan centi.


"Maafkan! aku tidak bisa menjaganya dengan baik Ax!"


Menggeleng, Ax sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu keluar dari bibir Rea. "Semua sudah takdir, tidak ada yang salah."


"Apa Tuhan marah pada kita? sampai mengambil dia yang bahkan belum kita beri nama," lirih Rea.


"Tidak, Tuhan itu maha baik Re, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, mungkin Tuhan ingin kita memulai hubungan kita dari awal dengan benar."


"Ax, setelah keluar dari sini aku ingin pergi ke makam anak kita."


Mengangguk, Axel mencium sekilas kening Rea, "Cepatlah sembuh, supaya kita bisa cepat berkunjung ke makamnya."


***


Mencoba menata hidup kembali, Rea tengah berusaha keluar dari jeratan masa lalunya. Menikah dengan Arkan, hidup bahagia, memiliki dua anak dengan dua laki-laki yang berbeda, memilih berselingkuh lalu bercerai, dan sekarang kehilangan bayinya yang bahkan belum sempat ia beri nama.

__ADS_1


Memeluk Rea, Ax menciumi pipi gadis itu penuh cinta.


"Apa kamu tidak ingin pergi jalan-jalan?"


"Aku malas, aku ingin di sini saja," Jawabnya.


"Satu bulan ini kamu benar-benar tidak pernah menginjakkan kaki keluar apartemen Re, apa kamu tidak bosan? Ayo kita ajak Bening dan Embun jalan-jalan ke pantai lagi seperti waktu itu."


"Ax.... "


"Hem.... "


"Apa orang sepertiku masih pantas untuk hidup bahagia?" tanya Rea yang masih memandang jauh ke pemandangan di depan balkon apartemennya.


"Apa yang kamu katakan?ha? Tentu saja, apa salahmu sampai tidak berhak untuk hidup bahagia?" Menciumi pundak Rea, Ax sadar bahwa wanitanya itu masih dirundung duka.


"Ax, apa kamu yakin aku wanita yang baik? kamu jelas tahu bahwa aku berselingkuh saat masih menjadi istri seorang laki-laki."


"Dan selingkuhanmu itu aku." Ax semakin mempererat pelukannya.


Tertawa, entah apa yang membuat Rea merasa geli.


"Apa kamu ingat Re? aku pernah berkata tanpa sengaja bertemu sekali atau dua kali mungkin kebetulan, tapi jika sudah lebih dari tiga kali itu berarti takdir." Membalikkan badan Rea, Ax merangkum pipi gadis itu.


"Aku percaya sedari awal bahwa kamu adalah takdirku. Mari kita mulai lembaran baru dan meninggalkan semua kenangan yang menyakitkan di belakang."


Ax mendekatkan wajahnya, mencium bibir Rea yang perlahan memejamkan matanya, menikmati cumbuan dari laki-laki yang bisa memberikannya kenyamanan.


Melepaskan tautan bibirnya, Rea berlahan membuka matanya. Ia masih mendapati kedua tangan Ax menyentuh pipinya.


"Aku mencintaimu Re, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu denganku?"


Air mata Rea menetes, rasanya ada sebuah desiran hangat yang mengaliri seluruh tubuhnya. Ia hanya bisa mengangguk, membiarkan laki-laki di hadapannya kembali menciumnya.


Memeluk tubuh Rea yang telah memberikan warna lain dalam hidupnya Ax berjanji untuk tidak akan pernah menyakiti gadis itu.


Ax kenapa kamu melamarku dengan bertanya seperti itu? bukan seperti kebanyakan laki-laki lain yang hanya berkata mau kah kamu menikah denganku?


Karena aku ingin kita bersama selamanya, jadi jika terjadi sesuatu nanti di dalam perjalanan rumah tangga kita, aku akan mengingat bahwa aku tidak hanya sekedar memintamu untuk menikah denganku, aku memintamu menghabiskan sisa hidupmu denganku, yang berarti selamanya sampai maut memisahkan kita. Aku akan bertanggung jawab dengan permintaanku, dan kamu juga harus bertanggung jawab dengan persetujuanmu.

__ADS_1


satu bab lagi 🥰


__ADS_2