
Semilir angin pagi yang sejuk membuat seorang gadis terbuai, matanya terpejam membiarkan angin berbisik dan meniup rambutnya yang tergerai. Rea duduk dihalaman rumah yang sangat sederhana namun asri di salah satu desa masih di pulau yang dia datangi untuk menenangkan diri tiga hari yang lalu.
Dalam pelariannya Rea terus berpikir tentang hubungannya dengan sang suami, ia merasa tahun pertama pernikahannya dengan Arkan begitu berat, begitu banyak cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa mereka. Ia terus menerus berusaha mencari jawaban dari dalam hatinya untuk keberlangsungan rumah tangganya.
Rea hanya sehari bermalam di villa miliknya, ia memilih untuk ikut Ni Putu Santika sang pengurus villa ke rumahnya. Tiga hari sudah Rea menikmati ke sendiriannya, selain menghabiskan waktu untuk berpikir, ia juga menghabiskan waktu pergi berjalan-jalan, berolah raga, dan memanjakan matanya dengan berbelanja.
Dari balai di depan rumah Ni Putu, Rea melihat suami wanita paruh baya itu meletakkan bunga dan dupa sembari berdoa ke yang maha kuasa.
Ni Putu keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi teko kecil, gelas dan kue, meletakkannya didekat Rea, kedua wanita itu saling melempar senyum ramah.
"Mba Rea sudah hamil berapa bulan?" tanya wanita itu sambil menuangkan cairan dari dalam teko.
"Lima bulan Ni," jawab Rea sambil menerima gelas yang ternyata berisi teh dari Ni Putu.
"Ni kira sudah hampir tujuh bulan lho mba, soalnya perut mba Rea gede," ucapnya sambil tersenyum.
"Saya mengandung bayi kembar Ni." Rea membelai perut dengan sebelah tangannya.
"Mba, bukannya Ni mau ikut campur urusan mba Rea, tapi sejak kemarin sebenarnya Ni ingin bertanya, mba Rea tengah hamil dan datang kesini seorang diri tanpa membawa apa-apa, apa mba Rea sedang ada masalah?"
Rea tersenyum getir mendengar pertanyaan dari wanita itu, ia menghela napasnya kemudian menyesap teh dari gelasnya.
"Ni, kalau boleh tau Ni sudah menikah berapa lama dengan I Komang?" tanya Rea.
Wanita itu tersenyum, mengalihkan pandangannya ke sang suami yang sedang memberi makan burung peliharaan mereka.
"Sudah dua puluh tiga tahun," jawab wanita itu.
"Dua hari ini saya tidak melihat anak-anak Ni," Rea menatap penasaran ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Kami tidak memiliki anak mba, saya tidak bisa punya anak," lirih Ni Putu.
Rea terdiam, merasa sangat tidak enak dengan pertanyaan yang dia lontarkan barusan, seharusnya dia sadar bahwa pernikahan atau anak adalah hal paling sensitif untuk ditanyakan ke orang lain.
"Maaf Ni, saya tidak bermaksud___"
"Tidak apa-apa mba, Ni tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu, meskipun tidak memiliki anak, Ni bahagia hidup berdua dengan suami yang mau menerima Ni apa adanya," potong wanita itu.
Ni Putu lalu menceritakan kehidupannya, suaminya adalah mantan narapidana, namun setelah bertemu dengan dirinya laki-laki itu berubah menjadi orang yang lebih baik, bahkan suaminya sama sekali tidak pernah berniat meninggalkan Ni Putu meskipun tahu wanita itu tidak akan pernah bisa memberinya keturunan. Merasa wanita itu sudah menceritakan kehidupan pribadinya, Rea juga memilih bercerita tentang masalahnya.
"Sebenarnya saya kesini setelah bertengkar dengan suami saya Ni," lirihnya.
"Kami berpacaran bertahun-tahun tapi pernikahan kami belum ada satu tahun, suami saya baru saja jujur bahwa dia pernah melakukan cinta satu malam dengan seorang wanita saat kami masih berpacaran dan ternyata dia memiliki anak dari wanita itu," cerita Rea.
Rea meneteskan air mata, membuat Ni Putu merasa iba, ia menggenggam tangan gadis di depannya, menepuk punggung tangan Rea seolah memberi tahu bahwa tidak apa-apa untuk menangis dan mengungkapkan luka hatinya.
"Saya tidak bisa menerima Ni, apalagi dia juga mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati saya," isak Rea.
"Saling memaafkan, menerima kekurangan adalah kunci keharmonisan rumah tangga mba," ucap wanita itu lagi.
Rea melepaskan pelukan Ni Putu lantas menghapus air mata yang membanjiri pipinya, menatap wanita itu yang terus menepuk-nepuk punggung tangannya seolah berusaha memberi rasa tenang kepadanya.
***
Sore harinya Rea berjalan di sekitar rumah Ni Putu sambil membawa dompet kecil ditangannya, tanpa sengaja seseorang menyenggol lengannya membuat dompet miliknya jatuh, bukannya meminta maaf orang itu meninggalkan Rea begitu saja, gadis itu berusaha mengambil dompet miliknya namun kesusahan karena terganjal perutnya yang sudah membesar, berkali-kali Rea berusaha sambil sesekali menyibakkan rambutnya, ia hampir berjongkok saat seseorang meraih dompet itu dan memberikan kepadanya.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Rea heran saat melihat siapa yang membantu dirinya.
"Dasar gadis nakal, apa kamu sadar sudah membuat semua orang khawatir," ucap Elang.
__ADS_1
Rea memutar kepala dan bola matanya melihat ke arah belakang Elang seolah ingin memastikan bersama siapa kakaknya itu datang.
"Tenang saja aku sendirian, tiga hari yang lalu Arkan menelpon dan menanyakan keberadaanmu, dia menceritakan apa yang terjadi diantara kalian, aku ingat sebelumnya ayah bercerita bahwa beliau baru saja memberikan villanya yang ada di Bali untukmu, maka dari itu aku menebak kamu pasti kabur kemari," cerita Elang.
"Maaf sudah membuatmu khawatir," lirih Rea.
"Jangan hanya minta maaf padaku, kamu juga harus minta maaf pada suamimu, tante Lidia dan mertuamu, mereka semua juga khawatir." Elang menasehati adiknya yang terlihat menunduk seolah tak memiliki keberanian menatap matanya.
"Ayo pulang!" bujuk Elang sambil menggenggam tangan Rea.
"Tidak, aku masih ingin disini," ucap Rea sambil melepas tangan kakaknya.
"Re, kamu_____"
"Aku tau aku keras kepala, tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki anak dari wanita lain, tolong hargai keinginanku." Rea berjalan meninggalkan Elang yang masih berdiri mematung diposisinya. Laki-laki itu mengejar sang adik lalu berjalan mensejajarinya.
"Baiklah terserah dirimu, tapi ijinkan aku untuk ikut jalan-jalan, aku juga butuh liburan rasanya stress," ucap Elang sambil meregangkan kedua lengannya.
Rea berhenti melangkah, ia menoleh sambil tersenyum melihat ke arah Elang, gadis itu menggoda sang kakak dengan wajah yang dibuat menjengkelkan "Apa kamu melamar ken tapi ditolak? Kinanti masih tidak percaya kalau kamu benar-benar mencintainya kan? iya kan?"
Elang yang merasa gemas melihat muka adiknya memilih mencubit kedua pipi adiknya, Rea kesal membalas sang kakak dengan mencubit paha laki-laki itu, mereka tertawa lalu lanjut menyusuri jalanan berdua.
***
Sementara di waktu yang sama Axel meminta bertemu dengan Arkan, mereka duduk berhadapan di sebuah kafe yang terlihat sepi. Axel menyodorkan ponselnya, Arkan terkejut menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tajam, ternyata Axel menunjukkan percakapan pesan antara dirinya dan seseorang, dan beberapa foto Rea disana.
"Sebelumnya aku mau minta maaf, satu bulan ini aku meminta seseorang untuk mengikuti Rea, aku hanya takut sesuatu terjadi pada anakku yang berada di dalam kandungannya."
Awalnya Arkan merasa kesal dengan perbuatan Axel yang memata-matai istrinya, tapi dalam keadaan seperti ini ternyata tindakan Axel memberikan manfaat juga, ia bisa tau keberadaan Rea, alih-alih marah Arkan mengucapkan terima kasih kepada Axel. Ia langsung memilih pulang ke rumahnya, mengepak beberapa baju untuk meyusul istrinya ke Bali.
__ADS_1
Axel masih terdiam duduk di kursinya meskipun Arkan sudah setengah jam pergi dari sana, pandangannya seolah menatap ice latte miliknya yang berada di atas meja, akan tetapi pikirannya terbang memikirkan keadaan Rea dan bayinya. Terlintas di benak Axel untuk menyusul sendiri gadis itu saat orang suruhannya memberi informasi soal keberadaan Rea di Bali. Namun, niat itu ia urungkan. Ia tidak ingin seolah mencuri kesempatan ditengah masalah rumah tangga Arkan dan orang yang di cintainya.