
Setelah mengenakan baju kembali, Arkan meminta sang istri untuk menunggunya. Mereka berencana untuk pulang bersama ke rumah lebih awal.
Rea tersenyum memandangi wajah suami yang merupakan sahabat masa kecilnya itu, sejenak dirinya kembali mengingat pertemuannya dengan Selena di toko buah beberapa jam lalu sebelum dia pergi menemui Axel.
Selena menyapa Rea terlebih dulu, merasa sama-sama sudah tidak ada masalah atau bermusuhan, keduanya memilih mengobrol di sebuah kafe yang letaknya berada tak jauh dari toko buah itu.
"Bagaimana kabarmu dan Arkan? Aku dengar kalian sudah memiliki anak." Selena terlihat biasa saja, jelas dia bukanlah Selena yang Rea kenal dulu.
"Iya, kami memiliki dua orang puteri kembar namanya Bening dan Embun," jawab Rea dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Aku benar-benar ke Granada Re seperti saranmu waktu itu, beberapa bulan ini aku menghabiskan waktu dengan berkeliling dunia."
"Syukurlah Sel, aku senang kembali bertemu dan melihatmu seperti ini." Rea masih tersenyum sambil menyesap coffelatte miliknya.
Dengan sedikit ragu Rea memberanikan diri bertanya kepada Selena tentang sesuatu yang membuatnya amat sangat penasaran.
"Sel, apa mungkin kamu mengenal wanita bernama Samantha?"
Selena mengernyitkan dahinya, sedikit terkejut dengan pertanyaan Rea tentang wanita itu. "Apa Sam yang kamu maksud mantan kekasih Arkan?"
Rea menganggukkan kepalanya cepat, menata hatinya untuk siap mendengarkan fakta yang akan dia dengar dari mulut Selena.
"Dia pacar Arkan saat awal kuliah, tapi mereka sepertinya berhubungan tidak lebih dari satu tahun, atau mungkin cuma lima sampai enam bulan lalu mereka berpisah."
"Apa kamu yakin? hanya hitungan bulan?" cecar Rea.
"Yakin, karena aku sudah menyukai Arkan dari awal kuliah, entah apa yang membuat Arkan lebih memilih gadis itu dari pada aku." Selena tertawa, memandang Rea dengan wajah berseri.
Rea terlihat terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar, ternyata benar bahwa Arkan tidak berselingkuh, bagaimana bisa dikatakan selingkuh jika hubungan Arkan dengan Samantha berlaku sebelum mereka menjadi sepasang kekasih.
Ini artinya benar bahwa Noah adalah anak hasil One night stand Arkan dengan Samantha, suaminya itu jujur, Rea mulai berpikir mungkin mereka bertemu kembali setelah tahun berselang lalu melakukan hubungan layaknya suami istri itu hanya untuk kepuasan semalam.
***
Rea masih terus menatap Arkan yang sedang duduk di kursi kerjanya, gadis itu berdiri membuat Arkan terkejut dan langsung menutup file flash disk yang diberikan Adam kepadanya, mencabut benda kecil itu dan menyembunyikannya dibalik tumpukan berkas tanpa sempat mengetahui isinya. Istrinya bergelayut manja dengan memeluk dirinya dari belakang kursi yang tengah ia duduki.
"Kenapa?"
Rea menggelengkan kepalanya di pundak Arkan, tangannya semakin erat memeluk suaminya, "Aku hanya ingin memelukmu, aku suka mencium aroma tubuhmu."
__ADS_1
Arkan mengusap lembut punggung tangan Rea mengecupinya lembut kemudian membuat tangan istrinya membelai pipinya.
"Aku belum mendapat gaun yang cocok untuk ke undangan bersamamu minggu besok, bagaimana kalau Sabtu ini kita pergi ke butik Steve, kita juga harus mencoba baju untuk akad nikah Elang dan Kinanti."
"Apa kamu sudah mendengar penjelasan ayah tentang Gema?" Arkan penasaran, mendongak menatap istrinya yang masih berdiri di belakangnya.
"Belum, nanti akan aku tanyakan ke Elang, Oh ya sayang bagaimana kalau double date Sabtu ini?" mata Rea berbinar seketika saat ide kencan muncul dalam kepalanya.
"Mau kemana?" Arkan tersenyum mendengar kata sayang terucap kembali dari bibir istrinya.
Rea hanya tersenyum, merahasiakan ide yang ada di dalam kepalanya ke sang suami.
***
Bibir Rea tersenyum bahagia, gadis itu berdiri di depan sebuah kaca besar di samping sang kakak yang mensejajarinya gagah dengan setelan jas yang sangat pas di badannya. Rea menghadapkan badan Elang ke hadapannya, membantu laki-laki itu membenarkan letak dasinya kemudian mereka berbalik lagi menatap pantulan diri mereka dari cermin.
"Wah...tak ku sangka mas Langitku sebentar lagi akan memulai lembaran hidup baru," canda Rea.
Elang tersenyum, masih sibuk memastikan penampilannya di depan cermin. Arkan yang terlihat keluar dari ruang ganti mendekat ke arah kakak beradik itu, meminta sang istri untuk merapikan setelan jas yang juga tengah ia coba. Mereka bertiga masih sibuk dengan kaca besar disana.
"Bagaimana dengan Gema? apa anak itu masih di rumah ayah?" tanya Arkan ke sang kakak ipar.
"Kenapa kamu tidak membelikan dia rumah? malah mau tinggal di rumah yang dia beli sendiri." Penasaran, Rea menatap heran ke arah sang kakak.
"Dia tidak mau dan aku tidak ingin berdebat dengannya, aku tidak ingin masalah sepele yang sebenarnya tidak begitu penting menjadi besar dan merusak hubungan kami."
Rea terdiam, merasa tertampar dengan ucapan Elang meskipun dia tahu kakak laki-lakinya itu tidak sedang menyindir dirinya.
"Ayah berselingkuh dengan Selomita sepuluh tahun yang lalu, dan wanita itu marah besar karena sekarang ayah juga sedang berselingkuh dari dirinya."
"Apa?" Arkan terkejut, sementara Rea hanya menunjukkan ekspresi datar saat kata selingkuh diucapkan sang kakak. " Berarti ayah berselingkuh saat masih menjadi suami mama Lidia?"
Elang menganggukkan kepalanya,"Semoga Gema tidak menuruni sifat ayah, karena tidak mungkin aku," ucap Elang.
Rea masih terdiam, bagaimana mungkin bisa ketidaksetiaannya itu ternyata diturunkan dari sang ayah. ia memandang ke arah Elang berniat jujur dengan apa yang dilakukannya di depan suami dan kakaknya, " Bukan Gema, tapi mungkin a...."
Sayang sebelum Rea menyelesaikan kalimatnya, Elang langsung menoleh ke belakang melihat Ken keluar dari ruang ganti bersama Steve dan asistennya, mata laki-laki itu terlihat berbinar melihat calon istrinya yang begitu anggun dengan sebuah ball gown berwarna putih.
Arkan memeluk pinggang Rea, tersenyum melihat dua orang yang sebulan lagi akan menjadi pasangan suami istri itu. Lirih Arkan berbisik ke telinga sang istri, " Mereka akan bahagia seperti kita kan?"
__ADS_1
Rea menatap wajah Arkan, laki-laki itu terus tersenyum melihat Elang dan Ken yang sedang berbincang dan tertawa bersama Steve, " Sayang aku ingin pergi ke salon setelah ini, apa bisa menungguku di rumah mama? sekalian mengawasi Bening dan Embun, aku berjanji akan pulang sebelum acara double date kita."
Arkan mengernyitkan dahi, " Apa tidak perlu aku antar?"
"Aku bisa naik taksi." Rea tersenyum menutupi maksud sebenarnya apa yang ingin dia lakukan.
Gadis itu terlihat masuk ke dalam sebuah taxi online, tanpa sadar Johan sudah mengamati dirinya semenjak datang ke butik Steve tadi, laki-laki itu cepat menghubungi Axel, mengirimkan beberapa foto Rea dan Arkan yang bergandengan tangan masuk ke butik.
Ax melempar ponselnya ke atas meja lalu duduk terdiam di sofa apartemennya, menatap benda pipih miliknya itu yang tak lama mengeluarkan bunyi nyaring, dengan malas ia meraih ponselnya. Namun, mendapati Rea yang menelpon laki-laki itu tersenyum.
"Ax, apa kamu ada di apartemen? aku ingin kesana untuk mengatakan sesuatu yang penting," ucap Rea.
Ax hanya menjawab pertanyaan Rea dengan kata iya, wajahnya berubah khawatir seolah bisa menebak apa yang akan dikatakan gadis itu kepadanya. Entah apa yang ada dipikirkan laki-laki itu, ia keluar dari apartemennya mencari orang di sekitar sana, matanya tertuju pada seorang laki-laki yang tengah mangkal di atas motor. Axel lantas mengajak laki-laki itu ke sebuah gang sempit.
"Maaf pak, apa saya tidak salah dengar?" tanya laki-laki itu heran.
Axel menggeleng," aku akan memberimu dua juta, tendang bagian ini dengan kakimu." Ax menunjuk luka bekas operasinya dari balik baju yang ia kenakan.
Masih tak habis pikir, tapi laki-laki itu tergiur dengan besaran uang yang Ax tawarkan.
***
Axel meringis kesakitan memegangi perutnya sambil berjalan menuju unitnya kembali, dirinya bukan sedang berakting, tapi laki-laki tadi benar menendang perutnya dengan sekuat tenaga, tanpa Ax sadari Rea sudah berjalan di belakangnya, gadis itu sedikit berlari melihat Ax yang membungkuk tertatih memegangi perutnya.
Rea meraih lengan laki-laki itu, cemas mendapati wajah Axel sedikit pucat. " Kenapa? apa yang terjadi? Ax?"
Laki-laki itu jatuh berlutut, mendapati darah merembes dari baju Axel, seketika Rea panik. Ax roboh, kepala laki-laki itu jatuh ke pundaknya.
_
_
_
_
_
Kalau nyesek baca MBYDL 🤭 kalian bisa baca novel Na satunya ya yang on going juga judulnya Bukan Kontrak Pernikahan, ga bikin emosi kok suer ✌
__ADS_1