Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 72


__ADS_3

Arkan membuka mata, melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul lima pagi, ia bangun untuk menunaikan kewajibannya, setelahnya laki-laki itu kembali ke ranjangnya bermalas-malasan sambil mengecek apakah ada pesan diponselnya.


Tidak ada pesan dari sang kekasih yang sangat dia harapkan disana, Arkan malah mendapati pesan dari Elang yang tiba-tiba memintanya untuk menemani pergi ke Phuket Thailand. Ia mengumpat membaca pesan dari calon kakak iparnya sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Jam delapan aku tunggu dibandara."


"Kenapa mendadak seperti ini?" tanya Arkan.


"Mau gimana lagi Investor T," balas Elang lagi.


Laki-laki itu melompat dari atas kasurnya melihat huruf T yang berarti mereka akan menemui investor besar, Arkan mengambil koper miliknya lalu memasukkan beberapa baju untuk dia kemas saat itu juga. Ia merasa sangat sial bahkan hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Setelah pamit kepada kedua orang tuanya Arkan buru-buru memesan taksi menuju bandara, bahkan ia tidak sempat memberi tahu Rea perihal keberangkatannya.


Elang sudah menunggu di bandara, dengan polo shirt dan celana jeans pendek berwarna krem, ia terlihat seperti akan pergi piknik ketimbang pergi untuk urusan bisnis.


Arkan dan Elang berjalan bersisian menuju landasan pacu menuju sebuah jet pribadi yang terparkir disana, samar Arkan melihat sosok yang dia kenal sudah berdiri didekat anak tangga pesawat dan tersenyum kearahnya.


Rea berlari mendekat, Arkan menyerahkan kopernya ketangan Elang untuk berlari menghampiri kekasihnya, calon kakak iparnya itu mengomel tapi seketika tertawa melihat dua orang yang dikenalnya berpelukan dan tersenyum bahagia.


Rea melompat kedalam pelukan kekasihnya, membiarkan Arkan memutar badannya beberapa kali diudara, setelah itu mereka berpelukan sambil tertawa-tawa.


"Selamat ulang tahun sayang," bisik Rea mesra "Semoga kamu suka dengan kejutan ini."


Arkan menoleh ke arah Elang yang sudah berdiri disampingnya sambil menyerahkan kembali koper miliknya setengah kesal. Calon kakak iparnya itu berjalan mendekat saat melihat Ken hampir menuruni anak tangga pesawat.


"Apa ini double date?" tanya Arkan ke Rea yang sudah bergelayut manja di pundaknya.


"Bisa dibilang begitu, tapi kita juga akan melakukan foto pre-wedding disana, maaf tidak mengajakmu berdiskusi terlebih dulu karena ini kejutan."


Arkan memakai kaca mata hitam miliknya sambil menggandeng tangan kekasihnya.


"Aku tau kamu pasti akan berkata terserah," ucap Rea sambil tertawa.


Mereka merayakan ulang tahun Arkan yang ke dua puluh tujuh di dalam jet pribadi yang tengah mengudara membelah awan menuju Thailand.


Rea menyalakan lilin diatas kue meminta kekasihnya membuat permohonan sebelum meniupnya, Elang terlihat menyodorkan sebuah kotak ke Arkan dan berkata jam merk ternama dengan harga tidak murah itu adalah hadiah kecil darinya dan Kinanti.


Sementara Rea mencium pipi calon suaminya sambil berbisik mesra berkata hadiah darinya sedang dikirim kerumah calon mertuanya.

__ADS_1


Arkan membelai pipi Rea yang sedang duduk dipangkuanya, mengucapkan terima kasih kepada gadis itu, hampir saja ia mencium bibir kekasihnya didepan Elang dan Kinanti jika calon kakak iparnya itu tidak berdehem untuk pura-pura batuk.


Setelah dua jam perjalanan mereka tiba disebuah villa mewah yang telah Rea sewa untuk bermalam di Negeri Gajah Putih tersebut.


Rea memilih tipe Tree Pool House dua lantai dengan pemandangan hutan hujan tropis Kamala yang meneduhkan untuk tempat mereka menginap.



Kamar tidur di villa itu dikelilingi kaca sehingga mereka bisa melihat pemandangan luar, disana juga ada sebuah kolam renang dan ruang relaksasi.


Rea tentu saja ingin satu kamar dengan kekasihnya tapi karena ada Ken dan kakaknya ia memutuskan memakai kamar terpisah.



Arkan memeluk pinggang kekasihnya yang sedang menatap keluar jendela kaca dari belakang, menciumi pundak lalu pindah ke pipi gadisnya. Rea membalikkan badannya melingkarkan tangannya dileher kekasihnya, mendekatkan wajah satu sama lain kemudian saling menautkan bibir mereka.


Sementara itu Ken dan Elang sedang duduk di ruang makan di bagian bawah villa sambil mengobrol dan menikmati cemilan. Membicarakan hubungan mereka berdua.


"Haruskah aku pergi menemui pak Alif?" tanya Elang.


"Untuk apa?" tanya Kinanti sambil menikmati setoples kacang almond didepannya.


Jawaban Elang membuat Ken terbatuk-batuk, laki-laki itu tersenyum menepuk punggung gadis disampingnya sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Jangan bercanda," ucap Ken setelah meminum air untuk membuat bersih tenggorokannya.


"Aku tidak bercanda, pikirkanlah dulu dan beri aku jawaban segera."


Elang tersenyum sambil berdiri dari kurisinya, memasukkan satu tangannya ke kantong celananya, sementara tangan yang satunya dia gunakan untuk mengusap lembut pucuk rambut Kinanti.


"Aku ke kamar dulu," ucapnya kemudian berlalu masuk ke kamarnya.


Sore harinya mereka pergi kepantai Kamala, Elang dan Ken menikmati pemandangan laut disana sementara Rea dan Arkan sibuk dengan sesi foto prewedding mereka.


Disela sang stylish dan fotografer mengarahkan gaya dan menata penampilan mereka, calon pengantin itu sesekali terlibat perbincangan.


Rea berkata hari ini dia menyerahkan surat pengunduran dirinya ke Agni, Arkan yang memang pernah memintanya berhenti bekerja bertanya-tanya kenapa seperti tiba-tiba dan tidak bercerita sebelumnya, gadis itu hanya menjawab ingin fokus ke pernikahan mereka dan ingin menjadi ibu rumah tangga saja kedepannya.


Arkan bahagia karena memang itu yang sebenarnya dia inginkan setelah Rea menjadi istrinya. Namun, ia tidak tau bahwa alasan sebenarnya dari keputusan calon istrinya resign adalah karena ingin menghindari sang pemilik hotel.

__ADS_1


"Jadi kemarin bukan tante Lidia yang menelpon?" tanya Arkan sambil menatap kearah kamera.


Rea tersenyum menganggukkan kepala, meletakkan sikunya di pundak sang kekasih sesuai arahan si fotografer.


Bibirnya tersenyum "Hem.. kandungan mama baik-baik saja, bahkan dokter sudah menjadwalkan operasi sesar untuknya bulan depan."


"Dan bulan depannya lagi kita akan menikah bukan?" bisik Arkan manja.


"Pasti, jika kamu tidak tiba-tiba memutuskan menikahi wanita lain lagi," sindir Rea.


Arkan melepaskan tangannya yang sedang memeluk pinggang kekasihnya, berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya dipinggang. Ia terlihat seperti akan marah membuat kru pemotretan menghentikan semua aktifitas mereka, bahkan Elang dan Kinanti yang duduk sambil melihat pemotretan mereka tiba-tiba berdiri melihat Arkan yang terlihat emosi.


"Apa kamu masih dendam padaku?" tanya Arkan.


Rea hanya tertawa karena tau bahwa calon suaminya itu sedang bercanda.


"Apa kamu ingin aku menciummu didepan umum? Disini kita bebas," lanjut Arkan masih dengan gesture marah.


"Coba saja kalau berani," tantang Rea.


Arkan terlihat membuang muka, seperti orang yang benar-benar sedang murka, tapi seketika tangannya meraih pinggang Rea, mencium bibir gadis itu bahkan melu.matnya. Sang fotografer bergerak cepat langsung mengambil foto mereka.


"Ah mereka sangat romantis, aku iri," ucap Ken sambil meletakkan dua tangannya dipipi.


Elang tersenyum mendengar ucapan gadis disebelahnya, dengan berani ia mendaratkan bibirnya di pipi Kinanti, kemudian berjalan meninggalkan gadis itu yang terdiam terpaku sambil memegangi bekas ciuman Elang di pipinya.


❤❤❤❤❤


Sementara dikediaman Andi semua orang terkejut dengan hadiah ulang tahun yang dikirim calon menantunya untuk anak sulung mereka, Rea membelikan sebuah mobil berlogo kuda jingkrak berwarna hitam keluaran terbaru untuk calon suaminya.


"Bahkan harga mobil ini bisa mendapatkan lima buah mobil yang akan kita beli untuk seserahan besok," ucap Andi ke Laras.


"Aku kan sudah bilang kita tanya saja Rea ingin dibelikan apa," jawab Laras.


"Bahkan untuk mahar saja calon menantumu itu hanya meminta seperangkat alat sholat dan uang senilai sembilan ratus sebelas ribu tiga ratus rupiah," lanjutnya.


"Kenapa tidak genap nominalnya?" tanya Andi penasaran.


"Arkan bilang Itu tanggal jadian mereka berdua."

__ADS_1


Laras dan Andi hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.


__ADS_2