
"Apa tidak ada Mall lain selain disini?"
Tanya Rea ke Mia saat mereka tengah menyusuri deretan toko di Mall yang akan mereka sewa untuk membuka cabang ke dua dari usaha jual beli perhiasan mereka.
"Mall ini terbilang cukup rame Re, dan mereka punya banyak member VIP bahkan VVIP yang royal, toko yang akan kita sewa menurutku letaknya strategis," jawab Mia.
"Jika strategis kenapa toko itu tutup dan pemiliknya memilih menyewakannya?"
Rea berhenti melangkah, membuat Mia terkejut memandang ke arah dirinya.
"Karena toko yang akan kita sewa menjual alat-alat kesehatan diantara toko-toko perhiasan, makanya aku bilang strategis karena toko kita akan berada diwilayah yang benar."
Rea tersenyum mendengar penuturan Mia, meskipun dalam hati dia agak tidak suka Mia memilih Mall itu, karena Ia tau benar siapa pemiliknya.
Setelah melihat toko yang akan mereka sewa keduanya lalu memilih pergi makan direstoran yang masih berada disana.
Disela obrolan ponsel Rea berdering, Mia meminta gadis didepannya untuk mengangkatnya, lalu ia sibuk sendiri dengan pesan diponselnya.
Lidia menelpon dan menanyakan kenapa sudah lebih dari sebulan anak perempuannya itu tidak ada kabar, bahkan oleh-oleh yang dibeli untuknya dari sang papa tiri juga belum dia ambil sampai sekarang.
"Apa kamu tidak kangen mama atau Ale? biasanya hampir tiap hari kamu kesini?" tanya Lidia.
"Maaf Ma, aku sedang sibuk belakangan ini, weekend jika memungkinkan aku akan kerumah mama," ucap Rea yang langsung mematikan telpon.
Setelah selesai makan Mia dan Rea memutuskan untuk pulang, saat keluar resto kedua wanita itu melihat Axel yang berjalan dengan beberapa orang dibelakangnya. Mia tersenyum ke arah laki-laki itu, sementara Rea langsung memilih berlalu tanpa memandang wajah kakak tirinya.
Axel berhenti didepan Mia untuk menyapa, tapi menyadari Rea sudah pergi meninggalkannya gadis itu hanya tersenyum menyapa Axel tanpa berbicara, berjalan cepat untuk mensejajari Rea.
"Kamu ada masalah sama Axel? sepertinya kamu marah saat melihatnya?" tanya Mia penasaran.
"Tidak, aku tidak ada masalah apa-apa," dusta Rea sambil terus berjalan keluar dari Mall itu.
Axel hanya bisa terdiam memandangi punggung kedua gadis itu menjauh.
❤❤❤❤❤
Saat weekend Rea benar datang kerumah mamanya bersama sang suami, mencoba bersikap biasa saat bertemu dengan Axel. Mereka juga duduk di satu meja saat makan siang.
__ADS_1
"Wajahmu sedikit pucat, apa kamu sakit Re?" tanya Jordan.
Gadis itu menghentikan gerakan sendoknya, tersenyum ke arah sang papa tiri "mungkin karena ga pake make up aja pa," jawab Rea.
"Belakangan entah kenapa aku malas mengenakan make up," lanjutnya.
"Apa kamu sudah kedatangan tamu bulan ini?" tanya Lidia.
Rea kaget, meletakkan sendoknya diatas piring, memandang kesamping melihat Arkan yang menatapnya dengan tatapan yang selalu sama, penuh cinta. Lalu Rea memalingkan wajahnya melihat Axel yang duduk didepannya, mata laki-laki itu seolah penuh tanda tanya.
"Belum," jawab Rea.
Semua orang tertawa, menduga kalau gadis itu tengah berbadan dua, hanya dirinya dan Axel saja yang tidak mengeluarkan suara.
"Coba beli testpack saat pulang nanti, mama doakan hasilnya garis dua," ucap Lidia.
Arkan menggenggam tangan Rea mendekatkan punggung tangan sang istri ke bibirnya, menciumnya penuh cinta didepan semua orang.
Saat perjalanan pulang Arkan menghentikan mobilnya didepan sebuah apotik, Rea hanya terdiam memandang papan nama toko obat itu, Arkan yang melihat istrinya terdiam memilih melepaskan sit belt nya.
"Biar aku saja yang beli," ucapnya sambil membuka pintu kemudian masuk ke apotik itu.
Sambil menunggu sang suami kembali, Rea membuka ponselnya, mengetik sebuah kata kandungan dihalaman peramban, lalu matanya mulai bergerak mengikuti geseran tangannya dilayar, ia masuk kesebuah toko online memesan sesuatu disana.
Rea menelpon Cindy meminta tolong untuk menerima paket yang dia titipkan kealamat rumahnya jika ada kurir yang datang. Gadis itu buru-buru memasukkan ponselnya saat Arkan masuk kembali kedalam mobil.
Arkan menyerahkan kantong plastik berwarna putih kepangkuan sang istri sambil tersenyum, Rea membuka kantong itu melihat berbagai macam merk testpack ada didalamnya.
"Kenapa beli banyak sekali?" tanya Rea heran.
"Aku bingung harus beli yang mana, jadi aku beli semuanya." jawab Arkan sambil membawa pergi mobilnya dari sana.
Rea benar-benar bingung, menatap wajah laki-laki yang dicintainya seperti telah berharap bahwa dirinya benar-benar hamil, tapi bagi Rea kebimbangan menyekap jiwanya, ia takut jika benar dia hamil dan itu bukan anak Arkan.
Axel terbaring di kamarnya, menutup matanya dengan sebelah lengan tangannya, hatinya juga bimbang diliputi perasaan bersalah yang begitu dalam.
Sampai dirumah Rea meminta sang suami masuk kedalam dulu, ia berkata ingin ke rumah Cindy untuk mengambil barang yang dia titipkan disana.
__ADS_1
Rea mengetuk pintu ruamah Cindy, temannya itu membukakan pintu menyuruhnya masuk kemudian mengambil paket miliknya yang dia titipkan tadi.
"Apa ini Re?" tanya Cindy sambil menyerahkan sebuah bungkusan kotak berwarna hitam ke Rea.
"Vitamin," jawab Rea.
"Apa di apotik tidak ada sampai kamu membelinya online?" tanya Cindy lagi.
Rea hanya ber "hem" tangannya berlari keperut temannya yang sudah terlihat membuncit karena sudah hamil enam bulan.
"Bagimana rasanya mengandung?" tanya Rea lirih.
"Maksudmu, bagaimana rasanya mengandung tanpa suami atau apa?" Cindy balik bertanya.
Rea terkejut, ia sama sekali tidak bermaksud menyindir temannya itu.
"Bukan Sin, menjadi calon ibu, bagaimana rasanya?" Rea membenarkan pertanyaannya.
"Bahagia, aku sangat bahagia Re, apalagi saat aku ajak berbicara dan ia menendang seperti tau aku ibunya." Cindy tersenyum sambil membelai perutnya.
Rea ikut membuat lengkungan dibibirnya, kemudian pergi dari sana. Didalam kamar Arkan sudah menunggunya, bertanya kenapa begitu lama. Istrinya hanya tertawa dan berkata ia mengobrol dulu dengan Cindy.
Saat hari berganti pagi, Rea duduk diatas closet begitu lama, menggenggam testpack digital ditangannya. Arkan membuka pintu kamar mandi melihat istrinya yang duduk terdiam, ia lalu berjongkok didepan Rea sambil berbisik mesra.
"Apa kamu takut jika hasilnya negatif?"
Rea menggeleng, Ia tengah terdiam dengan rasa was-was didalam hati hanya untuk menunggu hasilnya. Testpack itu mengeluarkan bunyi, lambang cinta dengan tulisan yes muncul dilayarnya.
Arkan tertawa bahagia, memeluk Rea yang sudah meneteskan air mata.
"Aku mencintaimu sayang," bisik Arkan penuh haru.
"Kenapa.... Kenapa aku merasa sama sekali tidak menginginkan anak ini?" bisik Rea dalam hati.
Arkan berkata akan keluar untuk membeli sarapan, meminta Rea beristirahat kembali karena ini hari minggu, wajah laki-laki itu berseri-seri, ia juga meminta sang istri untuk segera menelpon Ken meminta gadis itu untuk memeriksa dan memastikan apakah benar dirinya hamil.
Rea hanya menganggukkan kepala, entah kenapa ia merasa sangat bersalah. Perlahan ia membuka paket yang dia beli semalam saat suaminya sudah pergi, tangannya mengambil beberapa butir obat yang dia katakan adalah vitamin tanpa melihat dosis atau indikasi yang tertulis.
__ADS_1
Tak lama wajahnya pucat, keringat dingin membanjiri pelipisnya, ia merasa sakit diperutnya, tubuhnya terhuyung dan jatuh terkulai dilantai dingin kamar mandi.