Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 53


__ADS_3

Rea keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, melihat Arkan yang duduk bersila diatas sofa sambil menenggak sekaleng bir, gadis itu berjalan mendekat sambil mencebikkan bibirnya.


"Ish..,kamu udah berani minum kayak gini didepanku?"


Arkan hanya tersenyum meletakkan minumannya dimeja kemudian menarik tangan gadis itu sampai terduduk disofa, meraih handuk dari tangan Rea dan dengan lembut membantu mengeringkan rambut kekasihnya itu.


"Perhatian banget sih," Rea terlihat senang mendapat perlakuan seperti itu dari calon suaminya.


"Kalau ga buru-buru dikeringin ntar kamu bisa masuk angin."


Arkan selesai mengeringkan rambut Rea, meletakkan handuk itu ke pangkuan kekasihnya yang sedang duduk memunggunginya, tangannya menyibakkan rambut gadis itu dan menempelkan bibirnya dileher jenjang kekasihnya, sontak Rea menggelenjing merasakan sensasi seperti tersengat karena perbuatan kekasihnya itu.


" Ish.. geli tau," hardiknya.


Laki-laki itu bergeming, dia menempelkan bibirnya dan kembali menekan leher kekasihnya sambil menyesap membuat gadis itu berbalik dan menepuk pahanya kesal.


"Merah," ucap Arkan tanpa dosa.


"Ah sayang, kamu ngapain sih? gimana kalau besok pagi ga hilang? kalau sampai orang lihat pasti dikira aku habis ngapa-ngapain," gerutu Rea sambil memegang lehernya didepan cermin didekat sana, melihat bekas merah yang di tinggalkan kekasihnya itu.


Arkan hanya tertawa kembali menenggak minumannya sampai habis kemudian berdiri membuang kaleng bir kosong itu ketempat sampah, ia menghampiri Rea yang masih berdiri sambil cemberut, melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.


"Maaf, pasti besok hilang tenang saja," ucapnya sambil mengusap lembut bekas yang dia buat dengan jarinya.


"Oh ya kenapa memintaku kesini, hem?" tanyanya sambil masih bergelayut manja pada tubuh kekasihnya, Arkan mengecupi pipi kekasihnya sambil sesekali tertawa melihat kelakuannya sendiri yang terpantul dari cermin didepan dirinya dan Rea.


"Kamu cantik banget sih? Calon istrinya siapa ha?" ucapnya lagi sambil membalikkan badan kekasihnya untuk menghadap ke arahnya.


"Calon suami laki-laki nakal ini," Rea mencoba mencubit perut sixpack Arkan gemas tapi karena susah ia memilih beralih mencubit lengan laki-laki itu.


Arkan mengaduh kemudian tertawa, masih bergelayut pada Rea yang berjalan untuk duduk disofa.


"Apa kamu sudah membooking tempat untuk makan malam minggu nanti?"


"Sudah, kenapa?"


"Aku berencana memberikan Elang dan Ken sebuah dinner romantis, jadi biar mereka yang memakai reservasi kita besok."


"Lalu kita ga jadi dinner donk?" tanya Arkan heran "Apa kamu memberi tahu mereka? Atau kamu mencoba menjebak mereka?"

__ADS_1


Rea tersenyum nakal, kekasihnya tau apa yang ada dipikiran gadis itu, kemudian menempelkan dahinya ke dahi Rea agak kasar.


"Sakit tau," pekik Rea sambil memegangi dahinya.


Arkan hanya tertawa melihat wajah Rea yang cemberut.


"Lalu minggu kita kemana?" tanya Arkan penasaran.


"Paginya kerumah mama yuk, terus sorenya kita jalan-jalan kulineran, gimana? Tapi bawa motor aja" bujuk Rea.


Arkan hanya mengangguk mengiyakan permintaan gadis itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sabtu pagi


Rea pulang dari gym kemudian mandi dan bergegas pergi ke rumah calon mertuanya, dia meminta Laras untuk mengajarinya memasak. Sampai di rumah calon mamanya gadis itu langsung masuk kedapur tanpa mencari atau menyapa Arkan.


Laras yang sudah menunggunya didapur terlihat heran kenapa calon menantunya itu tidak menemui anaknya dulu seperti biasanya.


"Aku bilang sama Mas Arkan hari ini mau me time tante, dia ga tau kalau me time yang aku maksud adalah kesini untuk belajar masak sama tante."


Laras menyodorkan tiga siung bawang putih ke calon menantunya, gadis itu terlihat bingung kemudian pembantu dirumah itu mengajarinya terlebih dulu, gadis itu mengangguk paham lalu mulai memegang pisau sendiri dan mengupasnya. Saat mereka tengah asyik dari arah luar Aryan masuk merengek kepada mamanya kalau dia lapar, terang saja Laras berteriak dan mengomel ke anak itu.


"Ya Ampun Aryan kamu tadi kan baru sarapan udah lapar lagi? Pantes badan kamu kayak toren air, diet ngapa sih, kalau kamu gendut kayak gitu kamu pasti susah banget dapat cewek nanti, liat aja tu kakak kamu yang ganteng atletis aja ngejar-ngejar mba Rea bertahun-tahun," cerocos Laras.


Rea hanya tertawa mendengar kalimat calon mertuanya, sementara Aryan terlihat santai membuka kulkas mengambil sebuah telur dan meletakkannya didekat mamanya.


"Ceplokin ma, lumayan masih ada sisa nasi Mas Arkan," ucapnya.


Laras hampir mengetok kepala anak itu dengan wortel yang sedang ia pegang, sebelum Aryan dengan cepat kabur keluar dapur.


"Aku tunggu dimeja makan ma," teriak Aryan dari luar.


Laras berjalan mengejar anaknya gemas, saat pembantu ingin mengambil telur itu Rea meraihnya terlebih dulu.


"Emang Non bisa?" tanya wanita paruh baya itu.


"Bisa Bi tenang aja cuma ceplok telur kan," ucapnya jumawa.

__ADS_1


Rea meletakkan penggorengan diatas kompor menuangkan minyak kemudian menyalakan api, dengan bantuan garpu dia memecah telur itu masuk ke penggorengan tapi tiba-tiba "Pletak...Pletak...Pletok"


"BLEETOK"


Telur itu meletup-letup diatas penggorengan dan cipratan minyaknya sampai mengenai dahi Rea, gadis itu berteriak sambil memegang spatula.


"Aggghhhh.... Bi tolong bi," teriaknya meminta bantuan pembantu Laras.


Wanita itu dengan sigap mematikan kompor terlebih dulu, sementara Rea sudah meringkuk menjauh seperti orang yang mau dipukuli.


Arkan yang turun dari kamarnya sontak ikut berlari melihat mamanya dan Aryan yang tergesa menuju dapur, ia melebarkan matanya melihat ada gadis yang meringkuk didekat kulkas sambil memegang spatula, setelah diperhatikan lagi ternyata gadis itu adalah calon istrinya.


"Mba Rea kenapa?" tanya Aryan.


"Kamu kenapa Re?" Laras juga terlihat heran.


Laras kemudian melihat pembantunya yang sedang melanjutkan apa yang Rea kerjakan tadi.


"Yah mba Rea goreng telur aja ga bisa ya?" ledek Aryan.


Rea menatap sebal calon adik Iparnya itu, kemudian wajahnya memerah malu melihat Arkan yang berdiri sambil menatap heran ke arahnya, menutupi mulut dengan tangannya, badannya bergetar menahan tawa tapi akhirnya laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.


"Jadi ini me time yang kamu maksud?" tanya Arkan sambil mengoleskan salep ke dahi Rea yang terkena cipratan telur tadi.


"Hem.. Iya, aku ga pengen kamu tau eh..malah gini jadinya," ucapnya agak kesal.


"Kamu juga aneh, gimana aku ga bakal tau kalau kamu belajar masaknya dirumahku."


Gadis itu menggelembungkan pipinya, sebuah ciuman mendarat di bibirnya dari sang calon suami.


"Ikut aku aja yuk ketemu teman aku, tapi buat bahas bisnis sih semoga kamu ga bosen," ajak Arkan.


Gadis itu mengangguk, menerima ajakan kekasihnya.


Sebelum pergi Rea berpamitan ke Laras dan pembantunya yang masih didapur, wanita itu tersenyum melihat calon menantunya dan sedikit menggodanya.


"Lha ga jadi belajar masak ini?"


Rea menggelengkan kepala kemudian mencium punggung tangan wanita itu.

__ADS_1


"Aku trauma tante, besok aja ya kalau udah mood lagi," ucapnya polos.


__ADS_2