
Beberapa jam yang lalu Arkan terlibat perbincangan serius dengan wanita yang datang menemuinya bersama seorang anak kecil. Wanita berwajah bule itu merupakan kenalannya saat masih bekerja di Inggris bernama Samantha.
Arkan terlihat kebingungan mendengar pernyataan dari Sam, begitu panggilan akrab wanita itu. Dengan wajah tak percaya Arkan memandangi wajah Noah, anak laki-laki berumur tiga tahun yang Samantha katakan adalah darah dagingnya.
Masih merasa seperti mimpi Arkan menatap wajah Samantha dengan pandangan menusuk, menanyakan siapa yang memberinya informasi sampai bisa menemukannya di Indonesia.
Wanita itu hanya tertawa dan berkata tidak ingin membicarakan hal yang lain ataupun berdebat dengan Arkan, Ia hanya ingin memberikan Noah ke ayah kandungnya, alasan Sam karena laki-laki yang sekarang menjadi kekasihnya menolak anak itu, sementara orang tua Samantha juga tidak mengakui Noah sebagai cucu.
"Aku tidak mungkin membuangnya ke panti asuhan, dia masih punya ayah yang hidup berkecukupan," jelas Sam.
Samantha lalu meminta ijin pergi ke toilet, tanpa disadari Arkan perempuan itu pergi begitu saja meninggalkan anaknya.
Arkan kalut, ia sadar pernah selingkuh dibelakang Rea dengan melakukan cinta satu malam dengan Sam, dan setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi, Arkan pikir hal itu tidak akan menjadi masalah di kemudian hari seperti ini.
Arkan memandang wajah Noah, ia merasa tidak ada sama sekali kemiripan diwajah anak itu dengannya kecuali warna rambut. Ia bingung harus berbuat apa.
Ia ingin menyerahkan anak itu ke kedutaan besar, tapi urung karena Ia takut aib akan merusak nama baik keluarganya dan sang istri. Dengan langkah gontai Arkan membawa anak itu kerumahnya.
Arkan menceritakan semuanya ke Laras dan Andi, mamanya terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Arkan lalu memohon ke papanya agar Noah bisa ikut tinggal disana untuk sementara waktu, ia akan jujur ke sang istri tapi tidak sekarang, karena dia tau bagaimana kondisi kesehatan Rea.
Andi dan Laras hanya bisa memijat keningnya karena bingung. Marahpun keadaan yang tengah mereka hadapi bagai pepatah nasi telah menjadi bubur.
Rea sudah dari tadi menunggu suaminya pulang, meskipun sedikit kesal karena Arkan tidak mengangkat telponnya tadi siang ia tetap menyiapkan makanan untuk laki-laki itu.
Bel rumahnya berbunyi, dengan senyum yang mengembang dibibirnya Rea berjalan membukakan pintu, senyumnya seketika hilang saat bukan Arkan yang ia dapati berdiri disana melainkan Celine.
Wanita itu tahu bahwa Cindy sudah melahirkan anak Bara, dengan sedikit emosi Celine menyerahkan sebuah amplop untuk dititipkan ke Rea agar diberikan ke Cindy.
"Bara, Aku dan anakku akan pindah keluar negeri, tolong berikan itu ke Cindy, aku harap dia tidak akan mengganggu kehidupan kami lagi."
Hanya itu yang ingin disampaikan Celine, setelahnya wanita itu pergi tanpa mengucapkan kalimat lain.
Rea memandangi mobil Celine sampai keluar dari pagar rumahnya, bersamaan dengan itu mobil Arkan terlihat masuk kedalam, seringai senyum mengembang di bibir Rea lagi. Namun, ia sedikit heran melihat wajah sang suami yang terlihat tak seperti biasa.
Rea memeluk pinggang Arkan didepan pintu, menanyakan apa semua baik-baik saja. Suaminya hanya menganggukkan kepala dan berkata ingin segera pergi mandi. Sebuah belaian lembut mendarat dipipi Rea dari Arkan saat masuk kedalam rumah.
Setelah mandi bukannya turun kebawah untuk makan, Arkan malah memilih berdiam diri dikamar. Ia menyandarkan badannya disandaran ranjang sambil menyalakan TV didepannya. Pikirannya melayang memikirkan kejadian siang tadi.
"Sayang, apa kamu tidak mau makan?" pertanyaan Rea dari balik pintu menyadarkan Arkan dari lamunannya.
__ADS_1
Gadis itu mendekat dan duduk disebelah sang suami.
"Aku tadi siang menelponmu, tapi kamu sama sekali tidak mengangkat, kamu kemana?"
Arkan kaget mendengar pertanyaan Rea. Ia lalu meminta maaf dan beralasan dia ada meeting mendadak saat jam makan siang tadi.
"Bararti dari siang kamu belum makan, ya ampun sayang, ayo kita makan!" Rea menarik tangan sang suami untuk pergi ke ruang makan.
Dengan telaten Rea mengambilkan nasi dan lauk untuk Arkan sambil bercerita tentang Cindy yang melahirkan bayi laki-laki tadi pagi, Rea dengan senyuman lebar berkata bahwa bayi Cindy diberi nama Arga, dan sekarang masih berada dirumah sakit.
Arkan memandangi wajah Rea yang terus bercerita, sesekali ia merespon ucapan sang istri dengan senyuman. Namun, perasaan bersalah menggerogoti hatinya.
"Biar aku saja yang mencuci piring," pinta Arkan ke Rea saat melihat sang istri hampir mengenakan celemek anti air setelah makan.
Rea tersenyum, kemudian duduk dikursi makan, melihat punggung sang suami yang sibuk mencuci peralatan yang mereka gunakan tadi. Gadis itu lalu berdiri memeluk pinggang sang suami dari belakang.
"Syukurlah aku masih bisa memelukmu seperti ini, aku pikir akan terganjal perutku yang sudah mulai besar," ucapnya.
Arkan yang sudah menyelesaikan pekerjaannya berbalik menghadap sang istri kemudian mendaratkan ciuman di bibir Rea.
"Aku buatkan susu ya, setelah itu kita ke kamar," bisik Arkan.
Mereka duduk di ranjang, Rea terlihat sibuk membaca artikel lewat ponselnya sambil menyandarkan kepalanya didada Arkan. Laki-laki itu ikut melihat layar ponsel sambil membelai rambut Rea dan sesekali menciumi pucuk kepala gadis itu.
"Sayang, aku mau tanya sesuatu tapi kamu harus jawab jujur," ucap Arkan.
Rea hanya menganggukkan kepala sambil masih sibuk membaca artikel tentang kehamilan.
"Bagaimana jika aku selingkuh dibelakangmu?"
Pertanyaan Arkan membuat Rea langsung memalingkan wajahnya dari layar ponsel ke arah sang suami. Ia malah tertawa.
"Tidak mungkin, aku yakin betul selingkuh adalah hal paling mustahil yang akan kamu lakukan ke aku," ucap Rea.
Arkan menelan salivanya, menyunggingkan senyum untuk menyembunyikan rasa khawatir yang merayap dihatinya.
"Jika tiba-tiba aku melakukan kesalahan besar seperti memiliki anak dari wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arkan lagi.
Rea menegakkan badannya menatap ke arah Arkan yang tengah harap-harap cemas menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
"Apa jika aku menjawab aku akan meninggalkanmu, kamu juga akan melakukan hal sama?meninggalkan aku?"
Arkan merutuki ucapannya, seharusnya dia merangkai kalimat yang benar terlebih dulu sebelum bertanya ke Rea.
"Jika benar kamu memiliki anak dari wanita lain, apa aku harus melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan saat ini? menerima? bukankah sekarang aku juga sedang mengandung anak laki-laki lain?" jawab Rea.
Melihat mata sang istri yang berkaca-kaca Arkan merasa sangat bersalah, ia lalu memeluk tubuh Rea. Membisikkan kata maaf berkali-kali.
"Aku tau aku egois, kamu dengan rela menerima anak laki-laki lain, sementara jika benar kamu selingkuh mungkin aku tidak akan bisa menerima anakmu dari wanita lain," isak Rea.
Arkan mempererat pelukannya, sementara sang istri masih terus berbicara sambil menangis.
"Untuk sejenak aku merasakan bagaimana posisi Celine," racau Rea.
"Bahkan hanya membayangkannya saja terasa sakit," bisiknya dalam hati.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Baca Novel di Mangatoon dan Noveltoon gratis guys, so jangan lupa apresiasi Nasya dengan tekan LOVE ❤ LIKE👍 KOMEN 💋 bagi VOTE loin/koin kalian jika berkenan.
Add Favorite Novel ini juga ya
__ADS_1
LOVE YOU A TON