
Rea duduk di sebuah bangku taman di depan sebuah danau buatan bersama Axel, wajahnya terlihat dirundung duka lagi, lara hatinya sebulan yang lalu seolah tersingkap kembali dengan barang-barang milik Noah yang baru saja diberikan sang guru kepadanya.
Axel menggeser posisinya untuk lebih dekat dengan gadis yang duduk di sebelah kirinya itu, dengan tangan kiri yang melingkar di pundak Rea perlahan Axel mengusap kepala gadis itu dan menyandarkan kepala Rea ke pundaknya.
"Jangan terlalu lama bersedih! jika merindukan Noah, kita bisa pergi ke makamnya."
"Ax," panggil Rea.
"Iya!"
Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap laki-laki di sampingnya dengan sorot penuh tanya.
"Kenapa kamu tidak mendekatiku saat pertama kali kita bertemu."
"Apa kamu masih mengingat ceritaku dulu?"
Rea mengangguk "tentu, kamu bilang melihatku sedang jogging dengan memakai earphone di taman komplek perumahanku saat aku masih SMA."
Axel tersenyum, mengarahkan pandangannya ke arah danau, tangannya menggenggam erat tangan Rea.
"Apa jika saat itu aku menyapa dan meminta berkenalan dengamu kamu akan menanggapinya dengan ramah?"
"Sepertinya tidak." Seulas senyum menghiasi bibir Rea setelah menjawab pertanyaan Axel.
Laki-laki itu membenturkan kepalanya pelan ke kepala Rea, kemudian tertawa melihat Rea mengaduh karena ulahnya.
"Saat itu aku menyukai Elang."
"Aku tau dia pasti sangat mencintaimu, dia sampai rela mengorbankan diri dengan menerima tusukan pisau yang diarahkan kepadamu saat pernikahan mama dulu."
Rea terdiam, bibirnya membentuk lengkungan tipis sambil menatap ke arah danau.
"Itu karena dia menyayangiku sebagai adiknya, begitupun sebaliknya."
Rea lalu berpaling untuk memandangi wajah Axel yang ternyata sudah menatap ke arahnya.
"Apa mungkin ternyata kamu juga hanya menyayangiku seperti kamu menyayangi Elang? Aku tau kamu sebenarnya tidak memiliki perasaan apa-apa ke aku Re," lirih Axel.
Mereka masih saling menatap, namun Rea hanya terdiam membisu sebelum memilih mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ax, bagaimana kalau kita pergi bersama dengan Be dan Bu ke villa papa Jordan? apa kamu mau?"
Sejenak Axel terdiam, menatap dalam ke mata kekasih gelapnya itu "Tentu, aku sangat ingin menghabiskan waktu bersama kalian," jawab Axel dengan mimik wajah penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Terima kasih." Rea tersenyum dan kembali menatap danau di hadapannya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Rea dan Arkan memandangi kedua bayi kembarnya yang sudah tertidur lelap, Be dan Bu sudah hampir berusia enam bulan, kedua bayi itu terlihat begitu menggemaskan karena pipi gembul mereka, tanpa mengucapkan satu patah katapun ke suaminya Rea pergi dari kamar si kembar.
Di dalam kamar mereka sendiri Arkan memeluk dari belakang pinggang sang istri yang tengah berdiri di depan lemari pakaiannya untuk mengganti baju, Ia merasa satu bulan ini sikap Rea sedikit berbeda kepadanya, Arkan berpikir mungkin istrinya masih marah, bahkan sebulan ini Rea sama sekali tidak pernah mengajaknya pergi ke rumah orang tuanya.
"Sayang, sudah lama kita tidak melakukan itu," bisiknya merayu "Aku akan pergi keluar kota tiga hari, tapi aku ragu apa kamu akan merindukanku."
Rea membalikkan badannya, mengusap pipi Arkan tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu, Ia berjalan ke ranjangnya merebahkan diri dengan posisi membelakangi suaminya.
Arkan mengikuti sang istri berbaring diatas ranjang, meringsek untuk memeluk tubuh Rea, menciumi rambut gadisnya dari belakang.
"Apa kamu lelah? apakah Ax memberimu banyak pekerjaan?"
"Hem.. ada event internasional yang akan memakai hotel kami," jawab Rea.
"Aku sudah memiliki perusahaan sendiri tapi kamu malah memilih bekerja, seharusnya kamu tinggal di rumah saja mengawasi Bening dan Embun."
Rea membalikkan badannya untuk menatap Arkan, Ia pandangi wajah suaminya itu dalam-dalam, mencoba mencari tahu apakah masih ada cinta di hatinya untuk laki-laki yang sudah membuatnya sangat kecewa itu.
"Kenapa tidak menjawab?" Arkan membelai pipi istrinya lembut.
"Hem, katakan!"
"Setiap kali melihatmu aku masih saja teringat Noah, aku teringat keputusanmu dengan Sam yang merelakan dia pergi," ucapan Rea seolah menampar suaminya.
"Apa kamu membenciku sedalam itu? tidak bisakah kita meninggalkan kenangan itu cukup sampai di sini saja dan membuka lembaran baru," pinta Arkan.
"Sayangnya kenangan yang menyakitkan akan lebih sulit dilupakan dari pada kenangan bahagia." Rea menatap tajam mata suaminya.
Arkan terdiam membisu, tak ada kata yang bisa diucapkannya untuk membalas ucapan sang istri.
"Tidurlah, besok pagi akan aku siapkan pakaianmu sebelum berangkat." Rea tersenyum simpul lalu kembali membelakangi Arkan untuk tidur.
***
Rea sengaja memberikan libur kepada kedua pengasuh anaknya selama tiga hari, gadis itu terlihat sedang memasak sambil melihat Axel yang tengah duduk di lantai beralaskan karpet sibuk bermain dengan Bening dan Embun.
Ax terlihat mengajak kedua bayi kembar itu berbicara, Rea hanya tertawa melihat ketiganya sambil melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan. Gadis itu berencana membawa makanan sendiri ke villa Jordan selama mereka menginap.
Embun dan Bening terlihat sama-sama tengkurap, kedua bayi itu seolah merasa nyaman dengan tepukan lembut Axel pada punggung mereka, lama kelamaan kedua bayi itupun tertidur.
__ADS_1
Melihat Be dan Bu sudah tidur, Axel pelan-pelan berdiri menghampiri Rea, laki-laki itu langsung melingkarkan lengan tangannya ke pinggang Rea yang sibuk menata makanan ke dalam tas yang akan dia bawa.
"Pasti menyenangkan jika bisa seperti ini setiap hari." Axel meletakkan dagunya ke pundak Rea sambil mengambil satu potong kue di meja, menggigit kemudian menyodorkannya ke mulut ibu dari anaknya.
Rea berbalik, menyandarkan tubuhnya ke pantry, menatap wajah Axel yang baginya sekarang nampak lebih tampan dari Arkan.
"Apa kamu mau aku bawakan sarapan setiap pagi ke hotel?" tanyanya.
"Apa tidak merepotkan? bagaimana kalau sampai Arkan tau?"
"Aku akan bilang sarapan itu memang untukmu."
Rea membalikkan badannya lagi, menata kembali makanan ke dalam tas, Axel juga kembali bergelayut manja ke tubuhnya.
"Apa aku harus membeli sebuah rumah untuk kita tinggali?"
Rea menggelengkan kepalanya, bertanda tak setuju dengan ide Axel.
"Aku punya apartemen, tapi untuk sekarang posisinya masih aku sewakan, kita bisa memakainya kalau kamu memang ingin sebuah tempat rahasia untuk kita," beber Rea.
"Kapan masa sewanya habis?"
"Pertengahan tahun depan."
"Terlalu lama, aku beli rumah saja ya?" Bujuk Axel lagi.
Rea melepaskan pelukan Axel, menatap laki-laki yang sepertinya sudah mulai ingin sesuatu yang lebih dari dirinya.
"Kalau begitu beli saja sebuah apartemen, privasi kita lebih terjaga," ucap Rea sambil menyerahkan tas berisi makanan yang sudah Ia siapkan ke tangan Axel.
"Ayo kita berangkat sekarang sayang," ucapnya sambil menatap mata laki-laki yang sudah mulai berani manja kepadanya.
Axel tertawa mendengar ucapan Rea," Tunggu, coba ulangi! kamu memanggilku apa tadi."
"Sayang, kenapa? tidak suka?" jawab Rea enteng.
"Ulangi lagi!" Axel mulai merajuk.
Rea yang tengah menggendong Embun yang sudah bangun, terlihat memegang tangan mungil bayinya sambil menggerak-gerakannya ke arah Axel.
"Bilang sama papi, ga ada siaran ulang papi," candanya.
Axel hanya tertawa, mencium pipi Embun kemudian keluar untuk menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1