
Rea' POV
Sekarang aku sadar bahwa aku benar-benar mencintainya, tanpa perlu dia katakan aku sadar dia melakukan ini demi diriku, berniat mengorbankan hidupnya demi kebebasanku, tapi keputusannya masih tidak bisa diterima oleh akal sehatku, sempat terpikir olehku jika tidak bisa memiliknya, akupun tidak ingin lagi hidup didunia ini, aku mencoba mengakhiri hidup dengan memakan buah yang jelas tubuhku tidak bisa menerimanya. Aku sempat berpikir untuk tidak melakukan tidakan bodoh itu, karena sadar masih banyak orang yang menyayangi diriku.
Tapi didetik terakhir saat aku ingin berpaling pergi tanpa melakukan niatku, fakta bahwa gadis itu membohongi semua orang termasuk diriku membuat aku berubah pikiran lagi, aku tidak ingin membiarkan gadis itu menang begitu saja, apalagi menyangkut hidup orang yang benar-benar aku cintai.
Tanganku bergetar memegang buah yang benar-benar bisa membuatku langsung collapse hanya dalam hitungan detik, aku memandang laki-laki yang aku cintai duduk disana, menjabat tangan orang yang sebentar lagi akan menjadi papa mertuanya. Sakit, sangat sakit bukankah harusnya ayahku yang duduk menjabat tangannya disana, dan seharusnya aku yang duduk disampingnya.
Aku berjalan dengan berani tanpa peduli orang-orang memandang diriku aneh, melahap buah terlarang untukku itu satu persatu, tidak apa-apa aku mati asalkan laki-laki itu tidak jatuh kedalam lubang neraka dunia, menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Aku yakin jika sampai aku pingsan didekatnya dia pasti langsung melepaskan tangan papa wanita itu.
Aku dengar seseorang meneriakkan namaku dan berkata jangan, benar saja samar aku melihat laki-laki yang pernah berkata menyukaiku seumur hidupnya itu berlari, melepas tangannya dari jabatan pria yang berkuasa di kota ini.
Arkan berdiri didepanku, wajahnya benar-benar terlihat cemas, aku ingin memperlihatkan video yang dikirim Elang barusan, video yang menunjukkan Selana berbohong bahwa sebenarnya dia tidak lumpuh, ini hanya tipuannya saja, dasar gadis gila, jika benar aku akan mati, pasti aku akan menunggunya diakhirat, akan aku cabik-cabik habis dirinya jika malaikat mengijinkan.
Aku hanya bisa berkata kepada laki-laki didepanku saat ini bahwa ini mungkin adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya, sebelum aku merasa semuanya gelap dan aku tidak mengingat apa-apa lagi.
❤❤❤❤❤
Air mata menetes dari sudut mata Rea yang masih belum sadarkan diri.
Sontak Lidia berteriak memanggil Laras yang sedari tadi menemaninya didalam kamar pasien Rea.
"Ras, kenapa dia, kenapa Rea menangis?" tanya Lidia kuatir padahal dokter berkata kondisi gadis itu stabil dan semua alat bantu sudah lepas dari tubuhnya.
Sontak Arkan yang juga sedang ada disana mendekat melihat gadis itu yang benar-benar menitikkan air mata.
"Cepat panggil dokter Ar!" perintah Laras panik padahal didekat ranjang pasien terdapat tombol emergency jika pasien butuh bantuan darurat.
Arkan berlari keluar kemudian kembali masuk bersama seorang dokter jaga dan perawat.
"Kenapa dia dok? Apa ada masalah?" tanya Arkan panik.
"Untuk pasien seharusnya sudah sadarkan diri dari kemarin, tapi ini sudah dua hari dan pasien masih belum sadar," ucap dokter.
"Apa ada masalah dok?" tanya Lidia kuatir.
"Kalau boleh tau apa pasien memiliki trauma psikologis?" tanya dokter.
Semua orang saling pandang bingung dengan pertanyaan dokter barusan.
"Tidak dok, tapi memang beberapa minggu ini ada banyak masalah yang sedang dia pikirkan," jawab Lidia.
"Saya merasa pasien tidak ingin bangun," ucap dokter.
Semua orang tercengang mendengar ucapan dokter itu.
"Apa maksudnya dok?" tanya Laras panik.
"Kejadian seperti ini memang jarang terjadi, untuk beberapa kasus dari pasien yang tidak sadarkan diri, terkadang otak dan tubuhnya tidak mengalami sinkronisasi," ucap dokter.
Orang-orang menatap dokter itu penuh tanya
.
"Apa anda pernah dengar tentang sleep paralysis?"
Mereka semua menggeleng.
"Itu adalah sebuah keadaan dimana otak anda sudah tersadar, anda bisa mendengarkan bunyi-bunyi dan suara dari orang-orang sekitar, tapi tubuh anda tidak bisa di gerakan, bahkan untuk membuka mata anda tidak bisa."
"Jadi apa yang harus kami lakukan dok?" tanya Lidia yang sudah menangis terisak.
"Kita hanya bisa menunggu dan saya akan memberikan obat melalui infus, dan jika nanti pasien sadar, saya sarankan lebih baik pasien menemui psikiater."
Semua orang tercengang, dokter dan perawat keluar ruangan setelah memeriksa dan memberi obat untuk Rea.
__ADS_1
Laras menyentuh pundak Lidia mencoba menguatkan.
"Lid tadi Jordan bilang kamu belum makan lho, ayo kita cari makan dulu," ajak Laras sambil mengusap pundak Lidia.
"Loe pikir gue masih bisa makan ras, ngeliat anak gue kayak gini."
"Loe juga harus mikirin bayi di kandungan loe, itu juga anak loe Lid."
Lidia terdiam mendengar kata-kata Laras, lama wanita itu berpikir sampai mengganggukkan kepala menyetujui ajakan Laras, Lidia berdiri kemudian menepuk pundak Arkan.
"Tolong jaga Rea sebentar!" pintanya.
Arkan memegang tangan Lidia yang ada dipundaknya kemudian menganggukkan kepala.
Setelah Dua orang wanita itu keluar ruangan, Arkan mendekat duduk disamping ranjang Rea, menggenggam tangan gadis itu,merengkuhnya dengan kedua tangan lalu menciuminya.
"Aku salah Re, maafin aku,karena aku kamu sampai berbuat hal bodoh kayak gini."
Laki-laki itu menangis terisak.
"Kamu harus bangun Re, ada banyak hal yang ingin aku katakan ke kamu, aku juga masih belum menepati janjiku, maaf... maaf."
Suasana hening, hanya terdengar sesekali isak tangis dari Arkan.
❤❤❤❤❤
Dua jam kemudian suasana kamar mulai agak ramai dengan kehadiran beberapa orang dekat Rea, Arkan duduk bersandar pada sofa menatap Elang yang sedang duduk disamping ranjang Rea, disana juga ada mamanya, Lidia dan Farhan.
"Ar...," panggil Farhan.
Arkan meneggakkan punggungnya, menatap ke arah Farhan yang berdiri didekat ranjang Rea.
"Apa kamu masih berharap bisa kembali bersama dengan Rea?" pertanyaan Farhan seperti pisau tajam yang menghujam langsung ke dadanya.
"Jangan harap om masih memperbolehkan kamu berhubungan dengan Rea," ucap laki-laki itu tegas.
"Tindakanmu yang setuju menikahi anak gubernur dengan alasan agar Rea dibebaskan menurut om terlalu gegabah, dan om tidak bisa menerima itu."
Arkan hanya terdiam.
"Kamu tau kan om siapa? meskipun seluruh pengacara di kota ini menolak menjadi pengacara Rea karena ancaman keluarga gadis itu, om pasti akan berusaha mencari pengacara yang lain."
"Apa kamu pikir om akan masih mengijinkan kamu menikah dengan Rea setelah om tau kamu adalah laki-laki yang gegabah? tidak semudah itu."
Farhan sudah hampir beranjak pergi dari rumah sakit setelah melihat kondisi anak gadisnya, laki-laki itu sudah membuka pintu kamar rawat anaknya tapi kemudian berhenti untuk berbicara lagi.
"Kecuali Rea masih menginginkan bersama kamu, kalau dia yang meminta om tidak mungkin menolaknya, tapi melihat apa yang kamu perbuat, om tidak yakin dia bisa menerima kamu kembali."
Hati Arkan menjadi ciut mendengar omongan Farhan, orang-orang disana pun sama, hanya mendengar omongan Farhan dan terdiam.
Elang terlihat bangun dari tempat nya, mendekat ke arah Arkan mencairkan suasana tegang yang tercipta disana.
"Kamu pasti belum makan, Ayo kita keluar makan," ajaknya.
Laras melihat ke arah anaknya "makan lah Ar, kamu dari kemarin belum makan," ucapnya.
Akhirnya Arkan bangun dan pergi ke kantin Rumah sakit bersama Elang.
❤❤❤❤❤
Saat di kantin Arkan terlihat hanya mengaduk-ngaduk makanannya dengan sendok.
"Kamu punya maag kan? kamu harus makan dengan benar!"
"Dari mana kamu tau?" tanya Arkan penasaran.
__ADS_1
"Rea lah siapa lagi, kamu tau dulu saat pacaran denganku dia malah lebih banyak membicarakan tentang kamu," cerita Elang.
Arkan hanya tersenyum simpul.
"Apa kamu sudah melihat video yang aku kirim?" tanya Elang.
Arkan meletakkan sendoknya
"Kamu dapat video itu dari mana?"
"Karmila."
Arkan terlihat heran, meskipun dulu dia pernah melihat Rea melawan Karmila saat SMA tapi dia tidak ingat nama wanita itu.
"Siapa dia?"
"Dulu saat kita duduk di kelas XI Karmila duduk dikelas XII, dia memusuhi Rea karena beberapa kali Rea berani melawannya, dan kamu tau ternyata dia yang dulu mencampurkan susu strawberry ke susu vanilla yang aku berikan ke Rea, sampai Rea masuk rumah sakit."
"Apa? "Arkan terlihat sangat terkejut.
"Karmila bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Selena, dia yang merekam itu semua, dan memberikannya kepadaku, katanya untuk menebus perbuatan salahnya dulu."
"Bodohnya aku tidak membuka file itu langsung, baru saat hari pernikahanmu aku buka, aku juga menyesal seharusnya yang terjadi pada Rea bisa aku cegah."
Elang menghela nafas, meletakkan sendoknya menyandarkan punggungnya dikursi.
"Tidak perlu disesali, dari awal semua ini memang salahku, aku terlalu gegabah, tapi jika dipikir lagi bagaimana bisa aku tidak langsung memutuskan seperti itu, semua pengacara yang kami hubungi menolak membela Rea, dan aku melihat memar dipipinya, aku yakin dia di bully didalam penjara, aku takut sesuatu terjadi padanya, aku pikir semua orang yang panik juga akan bertindak ceroboh seperti aku," Arkan mengehela napasnya kasar.
"Aku berencana menikahi Selena kemudian tak lama menceraikannya," ucap Arkan.
"Jika kamu melakukan itu apa kamu yakin Rea masih mau kembali padamu?" tanya Elang penasaran.
"Entahlah, aku tidak berpikir sejauh itu, yang aku yakini dia sangat mencintaiku."
"Apa kamu sedang pamer?"
Arkan tersenyum, HP dikantongnya tiba-tiba berbunyi, ternyata mamanya yang menelpon.
"Ada apa ma?" tanya Arkan sedikit panik.
"Rea sadar."
Arkan memberitahu Elang yang duduk didepannya kemudian mereka tergesa kembali menuju kamar Rea.
-
-
-
-
-
-
-
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa
LIKE 👍
KOMEN 💋
__ADS_1
ADD FAVORITE 💖
VOTE 🌟🌟🌟🌟