Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 31


__ADS_3

“Rea”


Gadis itu menatap tidak percaya kearah laki-laki yang barusan menyebut namanya, laki-laki yang sekarang sudah berdiri dihadapannya.


“Elang” ucapnya pelan.


Elang mendekat ke arah gadis yang pernah dia sangkal sebagai adiknya itu. Rea juga berjalan mendekat, memastikan lagi apa benar yang dia lihat sekarang adalah orang dari masa lalunya.


“Benar ini kamu?” ucap Rea menatap lelaki didepannya , matanya terlihat berkaca-kaca.


“Hai,” Elang memandangi wajah Rea lekat .


Elang ingin memeluk tapi Rea mengulurkan tangannya, saat Elang mengulurkan tangan sekarang gadis iu yang ganti ingin memberikan pelukan kepadanya, membuat mereka menjadi salah tingkah sendiri, Elang menggaruk rambutnya yang tidak gatal, Rea sudah membuang muka tidak ingin kakaknya melihat wajahnya yang sedang malu karena juga sedang salah tingkah.


Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya, saat Rea menyambut tangannya, ia menarik gadis itu kedalam pelukannya.Rea sama sekali tidak bisa menolak pelukan kakaknya itu, dia malah membenamkan kepalanya disana, air matanya menetes.


“Jangan menangis!” pinta Elang saat mendengar suara isak tangis adiknya.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya didada kakaknya, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul, bahkan dia sendiri tidak bisa menjelaskan rasanya, bagaimanapun juga dia pernah mencintai kakaknya sebagai seorang laki-laki, bukan cinta adik kepada kakaknya, apalagi kepergian Elang yang begitu mendadak ke luar negeri membuat seperti ada sesuatu yang masih menggantung diantara mereka berdua.


Rea melepaskan pelukan Elang “apa kabar?” tanyanya.


“Baik, bagaimana denganmu?”


“Aku juga baik” tiba-tiba Rea sedikit merasa canggung mencoba menutupinya dengan pura-pura membenarkan tali tas dipundaknya.


Meskipun selama tujuh tahun tidak pernah bertemu sebenarnya mereka masih sering berbalas pesan, mereka benar-benar berhenti berkirim pesan saat Rea memberi tahu Elang bahwa dia menjalin hubungan yang lebih dari seorang teman dengan Arkan.


“Sedang apa disini?” Tanya Elang yang membuat Rea semakin salah tingkah.


“Aku kebetulan lewat” jawabnya.


Elang tersenyum menyadari Rea yang sedang salah tingkah.


“Lalu untuk apa kamu kemari?” Rea berharap mendengar alasan tak masuk akal juga dari bibir Elang.


“Ada barangku yang tertinggal di cucian” ucap Elang .


Rea sedikit kecewa karena alasan Elang terdengar sangat masuk akal.


“Tunggu sebentar!”


Elang terlihat berlari ke cucian mobil yang sudah tutup itu, Rea melirik jam tangannya sudah hampir jam 7 malam, sudah pasti dia akan terlambat untuk pesta Celine. Elang kembali berlari mendekat membawa sebuah paparbag ditangannya.


Mereka berdiri mematung untuk waktu yang lumayan lama, Rea merasa kakinya sudah pegal, ada harapan dihatinya supaya Elang mulai membuka pembicaraan atau setidaknya mengajaknya pergi dari sana.


Rea merasa kikuk, memegang pergelangan tangannya, memandangi jam tangan dengan gelisah.


“Apa kamu harus segera pergi? disini kamu tinggal dimana sekarang? Apa kamu kesini bersama Arkan?” Elang memecah keheningan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Rea melengkungkan bibirnya.


“Kamu bisa menanyakannya pelan-pelan satu-satu, aku punya banyak waktu” ucap Rea.


Elang tertawa “disini gelap, ayo kita pergi dari sini” ajaknya.


Rea tersenyum karena memang itu yang dia harapkan dari tadi, mereka berjalan menuju mobil Elang, Rea mengernyitkan dahinya melihat mobil berwarna merah yang dibuka kakaknya, berpikir jangan-jangan memang Elang yang dia lihat tadi siang dari dalam bus.

__ADS_1


Saat mesin mobil dinyalakan terdengar bunyi alarm, Elang kemudian melirik ke arah Rea, gadis itu belum memasang sit belt nya, ia hampir bergerak memasangkan sit belt adiknya, tapi gadis itu sudah menarik sabuk pengaman untuk dipasang ke badannya.


“Jadi mau kemana kita?” Tanya Elang.


“Ha?” Rea kaget karena sedang berpikir demi apa dia mau ikut masuk ke mobil laki-laki ini, meskipun Elang kakaknya tapi sudah lama mereka tidak bertemu.


“Ya sudah kita muter-muter aja,” Elang sudah membawa pergi mobilnya tanpa mendengar jawaban dari adiknya.


Rea hanya terdiam, masih tidak percaya sekarang dia sedang duduk bersama siapa.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku” suara Elang memecah keheningan.


“Pertanyaan yang mana? Pertanyaanmu banyak sekali” gadis itu tersenyum.


“Baiklah akan aku tanyakan satu persatu,”


Elang membelokkan mobilnya ke sebuah jalan utama.


“Apa yang membawamu kemari?”


Rea melirik ke arah kakak laki-laki nya “sepertinya itu bukan bagian dari pertanyaanmu tadi?” ledek gadis iu.


“Ingatanmu cukup baik” Elang tersenyum ”baguslah setidaknya aku tau berarti kamu tidak melupakan aku selama ini.”


Rea hanya terdiam mendengar kalimat Elang barusan.


Bagaimana bisa aku melupakan kamu, jika dihatiku masih memendam rasa bersalah kepadamu.


“Ayo jawab Re, kenapa malah melamun.”


“Aku kesini karena acara temanku, dia akan menikah minggu depan dan mengadakan pesta lajang disini.”


“Tidak, ini acara khusus para gadis.”


“Apa kamu sudah tidak tinggal dirumahmu yang dulu?”


“Hem…. rumah di Bale Residance maksudmu? Sudah aku jual 4 tahun yang lalu.”


“Pantas aku tidak bisa menemukanmu disana.”


“Kenapa kamu jual? apa karena ingin menghapus semua masa lalumu disini?” ada nada mengejek sekaligus penasaran di pertanyaan Elang.


Rea mencebikkan bibirnya “ishhh bukan, aku jual untuk membeli sebuah apartement.”


“Apa kamu sudah tidak tinggal dengan om Farhan?” Elang melirik ke Arah Rea yang memandangnya dengan tatapan aneh “Ayah maksudku” Elang membetulkan penyebutan nama Farhan yang terlontar dari mulutnya barusan.


“Tidak, hanya kadang-kadang aku menginap disana, kalau aku mau. Ngomong-ngomong apa kamu tidak ingin bekerja di perusahaan ayah? aku tau ayah sudah memintamu berkali-kali,” lanjut Rea.


“Apa om Farhan em…. maksudku ayah bercerita?"


Rea menatap dengan pandangan aneh ke arah Elang, bagaimana mungkin dia terus-terusan salah mengucapkan kalimat sebutan untuk ayahnya sendiri.


“Iya , ayah beberapa kali meminta tolong aku untuk membujukmu,” Rea menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


“Tapi sepertinya kamu tidak pernah membujukku?”

__ADS_1


“Aku tau kamu tidak akan pernah mau kalau niatnya tidak datang dari dalam hatimu sendiri” Rea tersenyum “bukankah kamu itu keras kepala?”


Elang tersenyum mendengar ucapan adiknya “Aku berencana menerima tawaran ayah.”


“Serius?” gadis itu sedikit melonjak dari kursinya.


“Iya, asal kamu mau membujukku” Elang tersenyum menggoda.


“Baiklah, Mas Elang terima saja penawaran ayah untuk bekerja di salah satu perusahaannya oke”


“Mas?” Elang tertawa terbahak.


“Iya “mas” kamu kan kakakku.”


Seketika Elang diam sadar akan kenyataan yang sebenarnya masih ingin dia tolak.


“Atau kamu ingin aku panggil dengan sebutan seperti di film drama yang sering aku tonton” gadis itu meneggakkan kembali badannya dan menatap kea rah laki-laki disampingnya.


“Apa?” Elang menoleh kea rah Rea menghentikan mobilnya karena lampu menyala merah.


“Oppa” ucap Rea sama persis seperti di adegan drama yang sering dia lihat lengkap dengan nada yang dia buat-buat.


Sontak Elang tertawa kemudian mengacak-acak rambut Rea, mengelusnya sampai kebawah bagian yang bergelombang.


“Rambutmu bagus” puji Elang.


“Ini model terbaru” balas Rea.


Mereka mengobrol sepanjang jalan sampai Rea lupa akan tujuan kedatangannya ke sana adalah untuk acara pesta Celine.


Elang mengantar Rea kembali ke hotel tempat dia menginap, meskipun tidak mereka ungkapkan, dalam hati mereka berdua sama-sama bersyukur karena pertemuan pertama mereka setelah 7 tahun tidak membuat mereka berdua menjadi canggung, bagaimanapun juga mereka sudah sama-sama dewasa, bukan anak kecil yang setelah putus cinta lantas membenci satu sama lain, apalagi mereka kakak adik.


“Apa besok kamu bisa menyempatkan sedikit waktu disela acara temanmu?” tanya Elang.


Rea kaget karena sedang memikirkan sesuatu didalam kepalanya “Hem…., apa?


Elang tersenyum lalu mengulangi pertanyaannya “apa besok kamu ada waktu?”


“Besok aku kabari” jawab Rea singkat.


Elang kemudian pergi meninggalkan lobby hotel setelah melihat Rea masuk kedalam, laki-laki itu tersenyum senang, berbicara dalam hati dan menggigit bibir bawahnya.


“Apa yang kamu harapkan lang?”


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Terima kasih untuk sudah setia membaca cerita ini jangan lupa LIKE dan KOMEN 💕💕💕*


__ADS_2