Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 102


__ADS_3

"Benar kamu tidak bisa menemaniku melihat kondisi anak kita?"


Rea mencebik kesal menatap sang suami yang tengah membantunya melepas sit belt yang ia kenakan.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa menemaniku ikut kelas hamil, tapi masa kamu ga bisa menemani periksa juga." Rea kesal, ia merasakan mood nya sudah sangat berantakan bahkan di awal hari yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Aku akan menelpon Elang, dan memintanya untuk membatalkan rapat kalian hari ini," ancamnya.


Arkan menyentuh dagu sang istri, memalingkan paras ayu yang dikaguminya sejak dulu itu, wajah yang sekarang terlihat sangat masam karena dirinya yang tidak bisa menemani sang empunya untuk mengikuti kelas hamil dan check up kandungan.


"Apa kamu akan memanfaatkan posisimu sebagai adik atasanku untuk membuat suamimu bebas ijin sesuka hati? Aku juga harus menunjukkan professionalisme sayang."


Arkan mengecup kening Rea, matanya tertuju kepada laki-laki yang sudah berdiri didepan pintu menunggunya turun dari mobil.


"Hari ini aku biarkan Ax menemanimu, aku janji akan langsung menyusul selesai rapat oke," bujuk Arkan.


Rea hanya mengganggukkan kepala, memandangi mobil suaminya sampai keluar halaman rumah sang papa tiri.


Axel menyambut adik tirinya itu dengan senyuman, laki-laki itu terlihat santai menyandarkan lengannya ke kusen pintu, sedikit geli melihat wajah Rea yang cemberut.


Pagi tadi Arkan mengiriminya pesan, memintanya mengantar Rea ke kelas hamil dan periksa kandungan.


Rea menghentikan langkahnya tetap didepan Axel, memandang serius ke arah laki-laki itu.


"Ax, apa kamu mau menjadi investor?" tanya Rea.


Axel menyipitkan matanya, tidak mengerti dengan ucapan gadis yang pernah ia sebut tengah berbadan tiga itu.


"Mas Arkan pernah ingin membuat perusahaan sendiri, tapi sayangnya dia ditipu temannya puluhan milyar, setelah itu sepertinya dia takut mengejar impiannya mendirikan perusahaan sendiri."


Rea bercerita sambil masuk ke dalam rumah, Axel bak bodyguard berjalan di belakang gadis itu sambil melipat tangannya ke belakang.


"Jika dia memiliki perusahaan sendiri setidaknya dia tidak akan mengabaikan aku seperti sekarang hanya karena takut dimarahi atasan," gerutu Rea.


"Baiklah aku akan mencoba berbicara pada Arkan nanti," jawab Axel santai.


Laki-laki itu terkejut saat gadis yang berada di depannya tiba-tiba secara mendadak berhenti berjalan. Rea membalikkan badannya, bibirnya tersenyum dan matanya berbinar penuh harap menatap dirinya.


"Serius?" tanya Rea tak percaya.


Axel mengganggukkan kepala, "dua rius," candanya sambil menunjukkan telunjuk dan jari tengahnya.

__ADS_1


Rea menekuk dua jari tangan Axel yang ditunjukan kepadanya, membuatnya nyaris menggenggam tangan ayah dari salah satu bayinya itu sambil menyeringai lebar.


"Tapi jangan bilang mas Arkan kalau aku yang meminta dan memberitahu hal ini padamu OK!" rayunya.


Axel sedikit membungkukkan badannya, mengusap pucuk kepala Rea seperti seorang kakak ke adik kecilnya.


"Oke! Tenang saja," ucap Axel sambil mengedipkan sebelah matanya.


***


Axel hari itu nampak seperti suami siaga, ia duduk meluruskan kakinya diruang tunggu sambil bermain ponselnya saat Rea mengikuti kelas hamilnya.


"Sepertinya beberapa minggu yang lalu yang nemenin kesini bukan masnya itu kan mba?" tanya seorang perempuan yang merupakan teman kelas hamil Rea.


Gadis itu hanya tersenyum, menanggapi pertanyaan temannya itu dengan sebuah candaan.


"Gantengan yang mana menurut mba? yang kemarin apa yang ini," tanya Rea.


Temannya itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak seolah bingung harus memilih yang mana karena keduanya lebih ganteng dari suaminya.


Seusai dari kelas hamil Rea mengajak Axel pergi menikmati gelato di sebuah kedai, dengan seringai lebar gadis itu menikmati dua scope es krim dengan cone di tangannya, sementara Ax memilih memesan gelato menggunakan paper cup.


Axel hanya tersenyum, memasukkan satu sendok penuh es krim ke dalam mulutnya.


"Aku sama sekali tidak pernah pergi ke tempat seperti ini." Axel memutar kepalanya, melihat kebanyakan pengunjung di sana adalah anak muda bersama teman atau pacar mereka.


"Ax, apa kamu ingin aku kenalkan ke temanku? dia juga masih single, dan aku yakin dia pasti bisa menerima bubu, jangan sendirian lama-lama," ucap Rea.


Laki-laki yang di ajaknya berbicara terlihat hanya tersenyum simpul, meletakkan sendok es krimnya lalu memandang dirinya dengan tatapan serius.


"Terima kasih, tapi setidaknya aku ingin bubu mendapat kasih sayang darimu tanpa wanita lain sampai dia berusia dua tahun," ucap Axel.


"Lalu setelah dua tahun?" tanya Rea penasaran.


"Seperti yang pernah kamu sarankan, aku akan mencari ibu untuk Bubu."


Axel sedikit ragu mengucapkan kalimat itu, ia memandang Rea lekat, merasa tengah berdua saja dengan ibu dari bayinya laki-laki itu kembali bertanya.


"Sebenarnya Arkan pernah berkata bahwa dia akan menjadikan Bubu anak kalian, apa dia begitu ingin menjadikan Bubu anak kandungnya?"


Rea menganggukkan kepala dan menatap heran. "Bukankah sudah jelas sejak awal Ax, kami ingin Bubu memiliki status yang jelas dan satu-satunya jalan adalah membuat dia menjadi anak kami."

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku tidak ingin melepaskan anak itu menjadi anak kalian? maksudku tidak bisakah Bubu menjadi anakku dan anakmu?"


Rea terdiam, sebenarnya gadis itu tidak begitu paham dengan ucapan dan pertanyaan Axel kepadanya.


"Dia anakmu Ax jelas dia anakmu, dia juga anakku, tapi jujur aku tidak bisa menyebutnya anak kita, karena kamu tau pasti kalau aku dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi kita."


"Aku dan Mas Arkan hanya tidak ingin ada yang mempermasalahkan status Bubu di kemudian hari, aku tidak ingin anakku jadi bahan bully karena asal usulnya," lanjut Rea.


Axel hanya merespon dengan seulas senyum dan tanpa keduanya sadari seseorang di dekat tempat mereka duduk mendengar obrolan mereka sedari tadi.


***


"Apa mereka sehat?" tanya Axel saat melihat layar monitor dimana Ken tengah memeriksa kandungan Rea dengan alat USG.


"Sehat, apa kamu mau tau jenis kelaminnya?" tanya Kinanti.


"tentu, aku sangat penasaran," jawab Axel antusias, sementara Rea hanya tersenyum karena dia sudah tau.


"Jangan dokter Ken, jangan beritahu dia, biarkan dia penasaran," goda Rea.


Axel terlihat cemberut, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, tak lama setelahnya pintu ruangan periksa terbuka, Arkan yang baru saja menanyakan keberadaan mereka terlihat masuk dengan seringai lebar di wajahnya.


Melihat Arkan masuk, Ken lalu meminta perawat yang sedari tadi menemaninya di dalam untuk meninggalkan mereka berempat.


Arkan mendekat ke arah sang istri yang begitu bahagia melihat dirinya datang.


"Aku langsung kesini setelah rapat, aku tidak ketinggalan. kan?" tanyanya.


Rea mengangguk dan menggenggam erat tangan suaminya, sementara Ken kembali menanyakan apakah mereka ingin tahu jenis kelamin bayi mereka.


Axel memilih diam karena perkataan Rea tadi, namun seketika tersenyum saat Arkan meminta Ken untuk menyebutkan jenis kelamin anaknya.


"Sayang bukankah aku sudah memberi tahumu jenis kelamin anak kita? aku ingin membuat Ax penasaran," canda Rea.


Ken mengernyitkan dahi, karena dokter kandungan itu ingat betul belum pernah memberi tahu Rea jenis kelamin bayi yang dikandungnya.


"Aku periksa ke dokter lain Ken, sekitar tiga minggu yang lalu, sebelum aku kabur ke Bali," beber Rea.


Semua orang yang mendengar tertawa geli mendengar kata-kata kabur dari Rea.


Disisi lain Johan sudah mendapatkan banyak informasi untuk di sampaikan ke Adam. Laki-laki itu lantas menyusun rencana untuk membongkar aib orang yang sangat dirinya benci.

__ADS_1


__ADS_2