Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 117


__ADS_3

Pagi hari saat sarapan Rea sudah terlihat biasa, ia melayani Arkan seolah tidak terjadi apa-apa, tapi ia masih tak banyak bicara seperti sebelumnya.


Axel juga terlihat menyantap sarapannya seperti biasa seolah-olah pembicaraannya dengan Rea semalam tak pernah terjadi. Namun, pertanyaan dari gadis itu membuat ia tersedak roti yang sudah hampir masuk ke dalam kerongkongannya.


"Apakah kamu butuh GM baru di Sky hotel Ax? aku dengar Mba Agny ditarik ke pusat," tanya Rea tiba-tiba.


Arkan terlihat menghentikan kegiatannya mengunyah roti di tangannya, menatap sang istri kemudian Axel.


"Aku pikir kamu akan fokus ke Bening dan Embun, bukankah kamu sudah punya bisnis? untuk apa bekerja lagi?" tanya Arkan.


Axel terlihat penasaran menunggu jawaban dari Rea, karena tegang sejenak ia sampai lupa untuk mengambil napas.


"Aku ingin menyibukkan diri untuk melupakan kepergian anak yang begitu aku kasihi," jawab Rea lugas.


Semua orang terlihat memandang Arkan, seolah menyuruh laki-laki itu untuk membiarkan apa yang istrinya inginkan, Arkan terdiam dan kembali menatap Axel.


"Terserah saja jika posisi itu masih kosong."


Rea lalu menatap Axel, menunggu jawaban dari laki-laki itu.


"Tentu saja, aku memang butuh seseorang untuk mengisi posisi itu," jawab Axel yang langsung menunduk untuk menghabiskan sarapannya.


"Baiklah aku akan mulai bekerja besok."


Arkan dan Axel kembali terkejut, namun lagi-lagi mereka tidak ingin menolak permintaan gadis yang sedang dalam keadaan tidak baik itu.


***


Dengan langkah pasti Rea masuk ke lobby Sky hotel, menyapa beberapa staff yang merupakan temannya dulu dan mulai bekerja. Ia berkata tidak ingin ada penyambutan khusus untuk dirinya karena ia ingin langsung melakukan tugasnya di hari pertama.


Entah mengapa Axel terlihat gelisah di ruangannya, laki-laki itu memutar kursinya, berdiri, menatap keluar jendela lalu kembali duduk, berjalan menuju pintu untuk keluar tapi seketika duduk kembali.


"Sial! umpatnya.


Axel semakin grogi saat pintu ruangannya diketuk, ia tahu pasti siapa yang akan masuk untuk menemuinya.


Benar saja Rea masuk ke dalam membawakan sebuah berkas yang sebenarnya bisa saja dilakukan oleh bawahannya.


"Apa hari pertamamu terasa aneh?" Axel mencoba bertanya kepada Rea, laki-laki itu terlihat salah tingkah.

__ADS_1


Rea terlihat tersenyum, mendekat ke arah Axel yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Pertanyaanmu yang aneh, biasanya orang akan menanyakan apakah hari pertamamu menyenangkan, tapi kamu bertanya apakah hari pertamaku terasa aneh."


Axel terlihat semakin salah tingkah dengan ucapan Rea.


"Hem aneh, karena sepertinya kamu masih tidak sadar apa hubungan kita sekarang," lanjut gadis itu.


Axel mengerjapkan matanya, jantungnya sudah berdetak tak karuan, bagaimana bisa dia merasa seperti ini hanya dengan mendengar ucapan gadis di hadapannya sekarang.


"Apa kamu tidak sadar bahwa bekerja disini adalah salah satu caraku untuk dekat denganmu," ucap Rea.


"Apa?" terkejut, Axel sampai terlihat seperti orang bingung.


"Apa kamu minta bukti pengesahan atas hubungan kita?" tanya Rea sambil berjalan mendekat ke arah Axel.


Gadis itu tanpa aba-aba mencium bibir Axel, sontak Ax membelalakkan matanya tak percaya.


"Ax katakanlah aku sudah gila, tapi aku benar-benar menginginkan ini."


Axel yang memang begitu mengharapkan gadis itu menjadi miliknya seolah tersihir dengan setiap kalimat yang Rea ucapkan. Ia merangkum pipi gadis itu dengan kedua tangannya, untuk sesaat manik mata mereka saling bersitatap, Axel menundukkan kepalanya, menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu, mencium bahkan mengulum bibir Rea.


"Kamu mungkin tidak akan percaya Re, tapi aku mencintaimu bahkan sampai saat ini perasaanku masih sama," bisik Axel setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Jadi maanfaatkan aku sepuasmu, aku tidak akan berharap lebih, bisa sedekat ini denganmu saja seolah masih menjadi mimpi bagiku." lanjutnya.


"Aku akan berusaha memberikan hatiku untukmu jika kamu mau bersabar Ax."


"Tentu!"


Kegilaan mereka berlanjut, Rea masih seperti biasa menjalani hari-harinya dengan mengurus keperluan Arkan, mengasuh Bening dan Embun, Ia mendapat kelonggaran dari Axel untuk bisa pulang lebih awal setiap harinya.


Hubungan mereka terjalin dengan apik, pergi untuk membawa anak mereka ke dokter atau membeli kebutuhan bayinya seolah menjadi alasan termudah untuk membuat mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


Satu bulan menjalin hubungan, mereka terlihat semakin dekat. Seolah sudah lupa dengan statusnya Rea menjadi lebih perhatian ke Axel.


Pagi itu seperti biasa mereka datang ke Sky hotel untuk bekerja, Axel yang melihat wanitanya tengah berbicara kepada staffnya terlihat memberikan kode kepada Rea untuk naik ke ruangannya. Gadis itu tersenyum lalu meninggalkan staffnya untuk mengekor kekasih rahasianya.


Baru saja Rea menutup pintu, Axel sudah menahannya dengan kedua lengan yang diluruskan disamping kepalanya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Rea tanpa bersuara.


"Morning kiss." Axel langsung menyambar bibir gadis itu, bukan hanya ciuman sekilas mereka bahkan saling membelit lidah masing-masing.


"Arkan akan pergi keluar kota selama tiga hari, apa kamu ingin liburan bersama Be dan Bu, tentu saja tanpa pengasuh mereka." bisik Axel ditelinga Rea menggoda sambil menyisipkan rambut gadis itu kebelakang telinga dengan jari telunjuknya.


Laki-laki itu bahkan sudah meminta orang untuk mengawasi semua kegiatan yang dilakukan suami kekasihnya.


"Aku tidak ingin ada yang curiga, datanglah saja kerumah, kita bisa menghabiskan waktu bersama dirumah."


Axel tersenyum, melepaskan tangannya dari pintu, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap bibir Rea yang terlihat basah karena ulahnya.


"Aku lupa kalau kita harus sembunyi-sembunyi."


"Apa kamu menyesal?" tanya Rea.


"Tidak sama sekali, tapi aku juga ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, aku tidak ingin munafik, jujur aku juga ingin perasaanku berbalas, meskipun awalnya aku bilang tak masalah untukmu memanfaatkanku tapi aku sadar, aku menjadi semakin serakah, saat kamu bersamaku seperti ini aku ingin kamu benar-benar hanya menjadi milikku."


Mereka hanya terdiam saling memandangi wajah satu sama lain seolah berusaha menyelami perasaan masing-masing, sampai ponsel Rea tiba-tiba bergetar, wajah gadis itu seketika berubah menjadi raut kesedihan melihat layar ponselnya yang menunjukkan panggilan masuk dari guru Noah.


***


"Apa mau aku temani masuk ke dalam?"


Rea menjawab pertanyaan Axel dengan gelengan kepala, ia menatap sendu keluar lingkungan sekolah Noah, beberapa jam yang lalu sang guru memintanya datang untuk mengambil barang-barang Noah yang masih berada di sekolah.


"Aku paling hanya sebentar, kamu bisa menunggu di sini," ucap Rea sambil melepaskan sit belt dari badannya.


"Mom, kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, kami merasa sangat terpukul dengan apa yang nenimpa Noah." Miss Angela sang guru terlihat sangat bersimpati.


"Jatuhnya Noah dari prosotan hanya kebetulan miss, Noah memang sudah memiliki tumor bahkan saya ibunya tidak mengetahui sama sekali." Rea menghela napasnya "mungkin Tuhan begitu menyayangi Noah maka dari itu Tuhan mengambilnya secepat ini," lirih Rea sambil memandangi kotak kardus yang diberikan miss Angela kepadanya.


Gadis itu berjalan gontai membawa barang Noah menuju mobil Axel, melihat kekasihnya mendekat laki-laki itu bergegas keluar dari mobil untuk membukakan pintu.


Sepanjang perjalanan kembali menuju tempat mereka bekerja, Rea hanya terdiam dan memilih melihat satu persatu isi dari kotak yang diberikan guru Noah kepadanya.


Ia menyentuh gelas dan sikat gigi milik mendiang anaknya, bibir merah mudanya terlihat tersenyum getir, tangan Rea lalu meraih sebuah kertas gambar yang menunjukkan dua orang yang sedang bergandengan tangan, gadis itu mulai tidak bisa membendung air matanya saat membaca coretan tangan Noah disana "Mama and me"


Rea menangis sampai kedua pundaknya bergetar, mendekap kertas gambar itu ke dadanya dengan air mata yang sudah menganak sungai. Sementara Axel hanya bisa terdiam dan sesekali menepuk pundak gadis itu untuk menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2