
"Apa maksudnya sayang? siapa Noah sebenarnya?" Rea terlihat kebingungan menatap suami dan mertuanya yang saling melempar pandang.
Laras dan Andi memilih keluar dari sana, memberikan ruang kepada anak dan menantunya untuk berbicara berdua, sebagai orang tua mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anak mereka.
Arkan meminta istrinya untuk tenang, meraih tangan Rea agar mau duduk di sofa, ia lantas bertumpu pada lututnya didepan Rea, mengusap punggung tangan sang istri sebelum mengungkapkan salah satu rahasia terbesar dalam hidupnya.
Arkan menceritakan bahwa dia pernah terlibat cinta satu malam dengan seorang gadis bernama Samantha saat masih berada di Inggris, ia bersumpah kepada Rea bahwa dia hanya melakukan perbuatan itu satu kali. Ia juga bercerita bahwa Sam kemarin mendatanginya dan berkata Noah darah dagingnya, tapi Arkan berkata masih tidak bisa mempercayai hal itu, ia ingin melakukan tes DNA.
Rea melepaskan genggaman tangan Arkan, kemudian berdiri dari sofa, bibirnya kelu tenggorokannya seolah tercekat setelah mendengar ucapan suaminya. Lama gadis itu terdiam sampai sebuah pertanyaan dia lontarkan untuk mempertegas maksud Arkan.
"Berarti kamu pernah berselingkuh dibelakang ku? apa begitu maksudmu? dan Noah adalah anakmu dan wanita itu? begitukah?"
Arkan berdiri mencoba memegang tangan Rea kembali, namun gadis itu memundurkan badannya sambil menyembunyikan tanggannya ke balik pinggang agar jauh jangkauan sang suami.
"Jawab!" pinta Rea ke sang suami yang terlihat cemas.
"Kenapa diam? aku hanya ingin mendengar jawaban langsung dari mulutmu, apa kamu berselingkuh dengan wanita lain saat menjalin hubungan denganku dulu?" Rea masih mencoba berbicara dengan nada sedatar mungkin.
Arkan hanya menganggukkan kepala, menatap mata Rea penuh rasa bersalah "Maaf sayang, maaf kan aku," bisiknya.
"Aku sudah menduga pasti ada sesuatu karena kemarin sikapmu aneh, ternyata seperti ini, apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku Ar? apa?" Rea setengah berteriak, air mata membanjiri kedua pipinya.
Arkan yang tersadar bahwa sang istri tidak menggunakan panggilan sayang lagi kepadanya terlihat sedikit kecewa, ia masih mencoba menenangkan Rea dengan mengambil tangan gadis itu, namun Rea menepisnya dengan kasar.
"Apa kamu tidak bisa memaafkan aku? setidaknya berpikirlah bahwa posisi kita sama sekarang," ucap Arkan.
Rea tahu maksud perkataan Arkan, ia sadar bahwa dirinya juga telah ternodai dengan perbuatan Axel, bahkan sekarang dia mengandung anak laki-laki lain. Benar posisi mereka sama, tapi Rea masih tidak bisa menerima, bukankah dia diperkosa, sementara perbuatan Arkan dulu, ia yakin suaminya itu melakukannya dengan sadar.
__ADS_1
Bukankah awalnya Arkan berkata tidak mempermasalahkan dirinya yang telah terjamah tubuh laki-laki lain, tapi kenapa setelah masa lalunya terungkap tiba-tiba Arkan seolah membuat mereka berada di posisi yang sama. Rea benar-benar merasa sakit hati.
"Aku sudah pernah berkata ceraikan aku, aku tidak memintamu menerima diriku yang sudah disentuh laki-laki lain, kenapa? kenapa baru sekarang kamu ungkapkan perasaanmu bahwa kamu sebenarnya juga tidak bisa menerima itu?" wajah Rea terlihat merah menahan amarah dan perasaan sakit yang menjalar di hatinya.
"Aku minta maaf sayang, aku mohon maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung hal itu, aku menyesal Re, maafkan aku," ucap Arkan.
"Menyesal? apa yang kamu sesali? masih mempertahankan aku atau apa? Ar kamu bahkan melakukan itu dengan ibu Noah saat kita menjalin hubungan, kamu selingkuh." Rea terisak.
"Aku khilaf sayang, aku hanya manusia biasa," bisik Arkan.
"Iya, aku sadar kamu manusia biasa, Aku juga manusia biasa Ar, aku tidak bisa menerima kenyataan ini kemudian berpura-pura baik-baik saja, aku ga bisa." Rea berjalan untuk keluar dari ruangan itu, tapi tangannya dicekal oleh sang suami.
"Mau kemana?" tanya Arkan.
"Pulang!" ketus Rea.
Rea bergeming melepaskan genggaman suaminya dari tangannya, meninggalkan Arkan begitu saja di ruangan itu.
Arkan menyusul istrinya yang masuk kedalam kamar, tanpa mengganti bajunya Rea mengambil tas dan cardigan dari lemari, ia menuruni anak tangga dengan tergesa.
"Re, berhenti!" untuk pertama kali Arkan membentak gadis yang dicintainya itu.
Rea terkejut mendengar teriakan Arkan, ia menghentikan langkahnya tapi hanya untuk membenarkan letak tali tas yang berada di pundaknya, Rea lalu berjalan kembali tanpa berbalik menatap ke arah suaminya.
"Aku suamimu Re, kalau kamu tidak mau mendengarkan omonganku, kamu durhaka dan itu dosa," Arkan berteriak untuk yang kedua kalinya.
Ucapan Arkan berhasil membuat Rea berbalik menatap ke arahnya, gadis itu mengusap air mata yang membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Minta pengacaramu untuk menemui pengacaraku, lebih cepat lebih baik," ucap Rea yang kemudian keluar dari rumah mertuanya membawa pergi mobilnya beserta luka yang mengaga di hatinya. Arkan hanya bisa memandangi mobil istrinya pergi, laki-laki itu memukul-mukul pintu rumah berkali-kali dengan kepalan tangannya.
***
Rea tidak kembali ke rumahnya, ia memilih tidur di sebuah hotel, tangannya meraih ponsel miliknya, ia sangat butuh seseorang sekarang, tapi bingung harus menghubungi siapa. Arkan berkali-kali menelponnya, tapi ia membiarkannya sampai panggilan itu terputus dengan sendirinya. Gadis itu lalu membuka sebuah aplikasi pemesanan tiket online, memasan sebuah tiket pesawat untuk dirinya.
Pagi harinya Rea pergi ke bandara, membeli satu stel baju dan langsung berganti pakaian disana. Menarik sejumlah uang dari mesin ATM agar tidak perlu memakai kartu kreditnya, ia seolah tidak ingin seseorang mengetahui keberadaannya terutama Arkan.
Rea mengusap perutnya saat duduk didalam pesawat yang membawanya pergi kesuatu tempat, gadis itu berbisik di dalam hatinya berjanji bahwa ia hanya akan memikirkan dua bayi didalam kandungannya.
Semantara itu Arkan yang kemarin langsung menyusul sang istri ke rumah terkejut tidak menemukan keberadaan Rea disana, telpon darinya juga sama sekali tidak diangkat sang istri, Arkan semalaman tidak bisa tidur memikirkan dimana Rea berada.
Pagi hari Arkan pergi ke rumah Jordan berharap mendapati istrinya ada disana, ternyata nihil ia malah mendapat berondongan pertanyaan dari sang mertua dan juga Axel. Tak ingin mengulangi kejadian yang sama Arkan memilih untuk tidak pergi ke rumah Farhan, ia menelpon Elang untuk menanyakan apakah Rea ada di rumah ayahnya, dan jawaban Elang membuat Arkan semakin bingung mencari dimana istrinya berada sekarang.
Elang yang curiga mencecar adik iparnya dengan banyak pertanyaan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, dan mau tidak mau Arkan terpaksa menceritakan kejadian yang sebenarnya ke sang ipar. Elang yang mendengar penjelasan suami adiknya terdiam kecewa, rasa khawatir lantas ikut merayapi hatinya memikirkan dimana keberadaan adiknya.
Rea membuka pintu villa Farhan yang baru saja menjadi miliknya, ia berjalan keluar untuk melihat pemandangan biru pantai yang menyejukkan mata.
Seorang penjaga villa yang terlihat sudah paruh baya menanyakan apa yang Rea butuhkan. Gadis itu memberikan sejumlah uang meminta untuk dibelikan baju, dan perlengkapan lainnya.
"Ni Putu Santika!" Panggil Rea ke wanita paruh baya tadi.
"Iya mba Rea," Jawabnya dengan sedikit menundukkan kepala.
"Bisakah Ni Putu menemani saya tidur disini untuk beberapa malam? saya sebenarnya takut sendirian," pinta Rea.
Wanita itu terlihat berpikir sebelum mengiyakan permintaan pemilik villa yang dia rawat, setelah Ni Putu Santika pergi Rea memandang ke arah pantai kembali, kepalanya mendongak ke arah langit, matanya menatap iri mengikuti kepakan sayap burung-burung yang terbang bebas di awan seolah tak memiliki beban.
__ADS_1